Hari terus berlalu,
dan kamu terus tumbuh,
penuh dengan kesibukan
yang telah kamu labuhkan
sebagai jalan hidup yang kamu tempuh.
Namun, terkadang
perjalanan tak selalu mudah.
Ada rintangan yang datang,
ada luka yang tertinggal,
selama kamu memilih untuk terus berjalan.
Batu kerikil memenuhi jalan,
badai angin menerpa tubuhmu,
menjadi rintangan di sepanjang perjalananmu.
Namun, kamu tetap mengabaikannya,
memilih untuk terus melangkah,
meski berkali-kali jatuh dan terluka.
Hingga di tengah perjalanan,
badai hujan dan petir menggelegar,
suaranya bersahutan,
jauh lebih bising dari sebelumnya.
Namun, kamu masih memaksa melanjutkan perjalanan.
Demi mencapai tujuan,
kamu rela membiarkan tubuhmu babak belur.
Padahal, mungkin badai itu bukan sekadar rintangan,
melainkan sebuah tanda
bahwa kamu perlu berhenti sejenak.
Bukan berarti menyerah pada inginmu,
sebab yang paling tahu keadaanmu
hanyalah dirimu.
Ragamu bukanlah mesin
yang mampu bergerak tanpa batas.
Ia pun membutuhkan ruang untuk bernapas,
secangkir tenang untuk menenangkan cemas,
dan waktu untuk berdamai dengan lelah.
Sebab, rehat sejenak bukan berarti menyerah.
Ia adalah cara untuk memeluk lelah,
mengobati luka yang belum sempat sembuh,
sebelum kembali melangkah
mengejar arah yang pernah kamu tuju.
Nanti, ketika badai telah reda
dan jiwamu kembali pulih,
kamu bisa melanjutkan perjalananmu,
dengan langkah yang lebih utuh,
dengan hati yang lebih teduh,
dan kaki yang tak lagi tertatih.
Penulis: Hida
Editor: Frida
