BerandaNEWSMinim Fasilitas Jalan, Mahasiswa UIN SMH Banten Berjibaku Saat Menyebrang

Minim Fasilitas Jalan, Mahasiswa UIN SMH Banten Berjibaku Saat Menyebrang

Serang, lpmsigma.com – Sejumlah mahasiswa pejalan kaki di Kampus 2 UIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten mengaku resah karena belum tersedianya fasilitas penyeberangan yang aman di Jalan Syekh Moh. Nawawi Al-Bantani, kawasan Palima, Selasa (06/10/26). Kondisi tersebut dirasakan terutama saat jam sibuk kuliah dan kerja ketika arus kendaraan di jalur lintas provinsi cukup padat.

Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), Nabila, merupakan salah satu mahasiswa pulang-pergi (PP) yang setiap hari harus menyeberang jalan di depan Kampus 2 UIN Banten untuk menggunakan angkutan umum. Ia mengaku harus menunggu kondisi lalu lintas memungkinkan sebelum menyeberang.

Pada awal perkuliahan, Nabila mengaku kerap merasa takut ketika harus menyeberang jalan raya di depan kampus. Namun, seiring waktu, ia mulai terbiasa karena menurutnya pengendara akan memberikan ruang ketika ia memberi aba-aba dengan tangan.

“Agak susah, aku tiap balik kuliah nyebrang, enggak ngitungin waktunya cuma enggak lama sih, tapi kalau lagi rame lama,” kata Nabila.

Ia juga menceritakan pengalamannya ketika harus menyeberang saat arus lalu lintas sedang padat. Menurutnya, mahasiswa terkadang harus berhenti di tengah jalan untuk menunggu kendaraan melintas sebelum melanjutkan penyeberangan.

“Jadi kadang pas kita mau nyebrang, itu tiba-tiba ada mobil yang melaju kencang banget, akhirnya kita harus berhenti di tengah-tengah jalan kan, baru lanjut jalan lagi,” ujarnya.

Menurut Nabila, keberadaan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) dapat membantu mahasiswa menyeberang dengan lebih aman sekaligus mengurangi risiko kecelakaan.

“Kalau ada JPO lebih bagus. Jadinya kan lebih mudah ya. Terus juga mungkin lebih meminimalisir risiko. Lebih enak juga nyebrangnya,” tuturnya.

Hal serupa disampaikan oleh mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fina. Ia mengaku merasa khawatir ketika harus menyeberang karena kondisi jalan yang lebar dan arus kendaraan yang cukup ramai.

“Aku jujur deg-degan ya, soalnya kan jalannya besar banget, terus juga bingung sama aku enggak bisa nyebrang jalan,” ujarnya.

Menurut Fina, fasilitas penyeberangan akan memudahkan mahasiswa, terutama mereka yang tidak menggunakan kendaraan pribadi dan harus menyeberang untuk mengakses transportasi umum.

“Soalnya itu lebih memudahkan kita yang mau nyebrang. Apalagi anak-anak kampus, terutama yang orang enggak bisa nyebrang,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua DEMA UIN SMH Banten, Syahid, menilai kondisi jalan utama di depan Kampus 2 perlu didukung fasilitas keselamatan lalu lintas. Ia menyatakan dukungannya terhadap pengadaan fasilitas penyeberangan bagi mahasiswa.

“Ditambah di kampus UIN mahasiswanya lumayan banyak, tidak semua mahasiswa ini menggunakan motor atau mobil. Ada juga sebagian yang menggunakan kendaraan umum, baik yang dari arah Palima atau sebaliknya. Jadi, perlu adanya JPO ini merupakan kebutuhan besar,” ujarnya.

Meski demikian, Syahid, mengakui DEMA UIN SMH Banten belum pernah mengajukan usulan terkait fasilitas penyeberangan tersebut kepada pihak rektorat. Menurutnya, belum adanya aduan tertulis dari mahasiswa menjadi salah satu alasan usulan tersebut belum disampaikan kepada pihak birokrasi kampus.

Ia mengatakan, aduan mengenai kebutuhan fasilitas penyeberangan dapat menjadi bahan untuk mendorong pengadaan fasilitas tersebut melalui pihak terkait, termasuk Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR).

“Belum pernah, tapi kalau dirasa dibutuhkan kita untuk mendata dan untuk mendorong hal ini ke pihak-pihak terkait. Misalnya PUPR atau bisa kerja sama antara kampus dan PUPR. Nanti akan kita dorong, tapi tanpa data pun kita sepakat,” jelasnya.

Reporter: Hida
Editor: Frida

- Advertisment -
Jasa Iklan SiGMA

BACA JUGA