Cerbung Edisi Ramadan
Bagian Tiga: Cahaya di Sepuluh Malam Terakhir Ramadan
Hari-hari terus berlalu. Tabunganku benar-benar habis, tak tersisa sedikit pun. Namun anehnya, hatiku tidak lagi dipenuhi kekhawatiran. Setiap kali perutku keroncongan, bayangan senyum orang-orang yang pernah kubantu justru menjadi energi yang menguatkan langkahku.
Malam ini, setelah salat tarawih, aku duduk termenung di selasar masjid. Aku menatap langit yang bertabur bintang, sebagian tertutup awan tipis. Angin malam berembus pelan, membawa lantunan ayat suci Al-Qur’an dari dalam masjid.
Tiba-tiba pundakku ditepuk perlahan. Aku menoleh dan melihat Pak Haji, ketua pengurus masjid yang biasanya jarang terlihat.
“Rendra, belum pulang? Kok melamun saja di sini?” sapa Pak Haji sambil duduk di sampingku.
Aku tersenyum tipis, berusaha menutupi kegelisahan di hati.
“Ah, tidak apa-apa, Pak Haji. Saya hanya sedang menikmati angin malam sambil mendengarkan lantunan ayat suci dari dalam masjid.”
Pak Haji menatapku beberapa saat, seolah sedang memikirkan sesuatu.
“Maaf kalau saya lancang bertanya, Ren. Apa kamu masih bekerja di kantor administrasi?”
Aku yang semula menatap ke depan langsung menoleh kepadanya.
“Tidak apa-apa, Pak. Kebetulan saya sudah tidak bekerja di sana lagi,” jawabku dengan nada pelan.
Pak Haji mengangguk perlahan, lalu berkata dengan suara tenang.
“Begini, Nak. Kami di kepengurusan masjid sedang kewalahan mengurus administrasi zakat dan bantuan sosial untuk sepuluh malam terakhir Ramadan. Saya teringat kamu. Kamu bersedia membantu?”
Aku terkejut. Tawaran itu datang begitu tiba-tiba. Namun ketika melihat senyum hangat Pak Haji, keraguan di hatiku perlahan menghilang.
“Saya bersedia, Pak Haji. InsyaAllah saya siap membantu,” jawabku mantap.
Pak Haji tampak lega. Ia merogoh saku bajunya lalu mengeluarkan sebuah amplop cokelat kecil dan menyelipkannya ke tanganku.
“Ini titipan dari pengurus masjid. Anggap saja uang saku di awal supaya kamu lebih semangat. Sisanya nanti setelah tugasmu selesai di malam takbiran.”
Tanganku gemetar saat menerima amplop itu.
“Tapi, Pak Haji, ini terlalu banyak untuk sekadar membantu administrasi,” kataku ragu.
Pak Haji tertawa kecil sambil menepuk bahuku.
“Jangan sungkan, Rendra. Rezeki itu punya jalannya sendiri. Kamu sudah banyak membantu orang lain dengan tulus. Sekarang biarkan Allah membalasnya melalui tangan kami.”
Aku terdiam. Tenggorokanku terasa tercekat oleh rasa syukur. Ternyata benar, ketika kita membantu orang lain, Allah selalu membuka jalan untuk membantu kita.
Dalam perjalanan pulang, aku kembali teringat sebuah hadis yang pernah kudengar beberapa hari lalu.
“Barangsiapa melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, maka Allah akan melapangkan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan orang yang kesulitan, maka Allah akan memudahkan baginya urusan di dunia dan akhirat.”
(HR. Muslim No. 2699)
Malam itu, di bawah langit yang temaram, aku pulang dengan langkah yang lebih ringan. Senyum kecil terukir di bibirku. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hatiku benar-benar merasa tenang.
Penulis: Hida
Editor: Frida



