BerandaKilas BalikSejarah Angklung Buhun: Warisan Leluhur Masyarakat Baduy

Sejarah Angklung Buhun: Warisan Leluhur Masyarakat Baduy

Di tengah pesatnya perkembangan musik modern, masih ada alunan bambu yang terus bergema di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten. Bagi masyarakat Baduy, bunyi itu bukan sekadar irama, melainkan bagian dari warisan leluhur yang telah hidup selama berabad-abad. Alat musik tersebut dikenal sebagai Angklung Buhun, sebuah kesenian tradisional yang menyatu dengan sejarah, adat, dan kehidupan masyarakat Baduy.

Menurut jurnal “Sejarah Penggunaan Angklung Buhun dalam Praktik Bertani di Lingkungan Masyarakat Baduy” karya Zahra Maulidya Hanifah dan Arif Permana Putra. Menjelaskan bahwa Angklung Buhun bukan hanya alat musik tradisional, tetapi juga memiliki nilai spiritual, budaya, dan sejarah yang melekat dalam kehidupan masyarakat Baduy.

Sejarah Angklung Buhun sendiri tidak dapat dipisahkan dari terbentuknya masyarakat Baduy. Angklung ini dipercaya telah ada sejak sekitar abad ke-16 dan muncul hampir bersamaan dengan lahirnya komunitas Baduy. Sejak saat itu, Angklung Buhun menjadi simbol penting dalam menjaga identitas masyarakat adat yang hingga kini tetap memegang teguh tradisi leluhurnya.

Pada masa itu, Angklung Buhun bukanlah alat hiburan seperti yang banyak dijumpai sekarang. Kehadirannya justru menjadi bagian dari ritual pertanian yang sakral. Masyarakat Baduy memainkan angklung dalam upacara Ngaseuk, yakni prosesi penanaman padi sebagai bentuk penghormatan kepada alam dan ungkapan syukur kepada Sang Pencipta. Mereka meyakini bahwa irama Angklung yang mengiringi doa dapat membawa keberkahan serta hasil panen yang melimpah.

Kemudian, Angklung Buhun berkembang sebagai simbol harmoni antara manusia, alam, dan kepercayaan. Dalam setiap pelaksanaannya, para pemain berdiri membentuk lingkaran, sementara seorang pawang atau kuncen memimpin jalannya ritual melalui doa dan sesajen. Angklung yang dimainkan pun memiliki ciri khas, yaitu dihiasi batang padi atau dedaunan sebagai lambang hubungan erat masyarakat Baduy dengan alam yang menjadi sumber kehidupan mereka.

Tidak hanya cara memainkannya yang sarat makna, proses pembuatannya pun masih mempertahankan teknik tradisional. Angklung Buhun dibuat dari bambu pilihan yang dipotong dan diraut menggunakan tangan. Seluruh bagiannya disatukan dengan ikatan rotan tanpa menggunakan paku maupun lem. Cara tersebut diwariskan secara turun-temurun sebagai bentuk penghormatan terhadap pengetahuan leluhur yang telah bertahan selama ratusan tahun.

Memasuki era modern, berbagai perubahan mulai menguji keberlangsungan tradisi ini. Perubahan sistem pertanian, berkurangnya pewarisan budaya kepada generasi muda, hingga pengaruh budaya luar menjadi tantangan dalam pelestarian Angklung Buhun. Meski demikian, masyarakat Baduy, terutama Baduy Dalam, tetap berupaya mempertahankan tradisi tersebut dengan memegang teguh aturan adat dan membatasi pengaruh modernisasi dalam kehidupan mereka.

Kini, Angklung Buhun tidak hanya dikenal sebagai alat musik tradisional, tetapi juga sebagai warisan budaya yang mencerminkan cara masyarakat Baduy memandang kehidupan. Di balik bunyi bambunya tersimpan nilai tentang rasa syukur, penghormatan terhadap alam, dan komitmen menjaga amanat leluhur. Selama tradisi itu terus dirawat oleh generasi penerus, Angklung Buhun akan tetap menjadi saksi hidup perjalanan sejarah masyarakat Baduy sekaligus bagian dari kekayaan budaya Banten yang patut dijaga.

Penulis: Mg_Ratu
Editor: Nurhasanah

- Advertisment -
Jasa Iklan SiGMA

BACA JUGA