Serang, lpmsigma.com – Prosesi khidmat wisuda di dalam Aula Pusat Kegiatan Mahasiswa selalu menyisakan cerita unik di luar gedung. Di pelataran parkir, area taman, hingga koridor kantin, suasana tak kalah semarak oleh hiruk-pikuk sanak saudara yang menyambut para sarjana baru. Keramaian tersebut sekaligus menjadi ladang rezeki bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta menjadi tantangan tersendiri bagi petugas lapangan. Sabtu, (08/08/2026).
Banyaknya wisudawan yang berlalu-lalang menjadi pemandangan yang membuat siapa pun ikut tersenyum. Momen wisudawan bersama orang tua dan keluarga terlihat di berbagai sudut kampus, mengabadikan potret kelulusan sekaligus merayakan rasa syukur setelah melewati masa perkuliahan.

Namun, di balik senyum sumringah para wisudawan yang terlihat hari itu, tersimpan cerita panjang tentang peluh dan perjuangan yang jarang terlihat. Salah satunya dirasakan oleh Mita, mahasiswa Program Studi Asuransi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI).
Bagi Mita, mencapai titik wisuda bukanlah hal yang mudah. Ia harus menjalani perkuliahan sembari bekerja. Masa studinya pun berlangsung hampir enam tahun karena ia merupakan mahasiswa angkatan 2020.
Mita kembali mengenang perjalanan studinya. Sejak semester lima, ia sempat memilih untuk tinggal di kos di Serang. Namun, setelah menyelesaikan masa magang, ia memutuskan untuk tidak lagi menetap di Serang dan memilih pulang-pergi dari rumahnya di Tangerang menuju kampus di Serang.
Perjalanan jauh dan melelahkan tersebut semakin terasa berat ketika ia memasuki tahap penyelesaian tugas akhir.
“Karena kuliah sambil kerja, jadi ngerjain skripsinya sambil kerja dan ngejar-ngejar dosen. Apalagi rumahku di Tangerang ke Serang cukup jauh, berdebu, panas, semua pokoknya. Terus prosesnya juga cukup panjang di awal, kayak nunggu pengumuman ACC judul, sempro, terus dosennya susah dihubungi,” ujarnya ketika bercerita.
Rasa lelah secara fisik dan mental kerap membuat Mita berada di titik terendah. Setelah energi terkuras oleh pekerjaan, ia masih harus mengejar jadwal bimbingan dan menyelesaikan berbagai revisi tugas akhir.
“Pulang-pulang, keluar dari ruangan langsung pening banget kepala. Oh, ternyata revisinya masih banyak banget,” kata Mita.
Di tengah situasi yang sulit tersebut, dukungan dari orang tuanya menjadi support system utama yang terus menguatkan langkahnya. Kedua orang tua Mita tidak pernah menuntut atau membandingkan pencapaiannya dengan teman-temannya. Sebaliknya, mereka justru meminta Mita untuk berhenti bekerja sementara agar dapat lebih fokus menyelesaikan tugas akhirnya.
“Jadi kita selalu ngasih support. Kadang saya sampai tanya ke orang-orang, soalnya dulu ada saudara yang putus asa pas skripsian. Saya juga sharing ke mana-mana, bagaimana harus jalannya, jangan sampai gagal dalam skripsinya, ngasih motivasi ke anak agar tetap semangat,” kenang Anton, ayah Mita.
Buah dari kesabaran dan motivasi tanpa henti itu akhirnya terbayar. Melihat putrinya berdiri mengenakan toga kebanggaan, rasa haru dan syukur tak dapat disembunyikan dari wajah Anton.
“Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah SWT, kami sekeluarga hari ini bisa menyaksikan anak kami diwisuda. Setelah menempa ilmu di sini sekian tahun, hari ini puncaknya anak kami wisuda,” tutur Anton penuh rasa syukur.

Tak jauh dari riuhnya momen foto keluarga dan selebrasi wisuda, sudut-sudut pelataran hingga koridor kantin dipenuhi sanak saudara yang melepas lelah. Keramaian tersebut juga menjadi ladang berkah bagi para pelaku UMKM yang memanfaatkan momen wisuda untuk menawarkan dagangannya.
Salah satunya Tika, penjual fresh flower yang datang jauh-jauh dari Bandung dan tiba di lokasi sejak pukul 04.00 WIB.
Tika sengaja membawa usahanya ke Serang karena melihat tingginya potensi penjualan fresh flower, yang menurutnya masih jarang dijajakan di kawasan kampus. Ia mulai membuka lapak sekitar pukul 05.00 WIB dengan menawarkan berbagai pilihan buket, mulai dari buket bunga, uang, hingga boneka.
“Tapi kalau fresh flower biasanya keluarga-keluarga aja, tapi teman tertentu juga ada yang nggak terlalu suka fresh flower,” kata Ibu Tika.

Meski lapak penjual bunga dan jajanan tampak meriah, roda keramaian di pelataran kampus tidak akan berjalan lancar tanpa kehadiran para petugas yang bekerja di balik layar. Ketika wisudawan dan keluarga sibuk berfoto atau bersantai di kantin, para petugas dengan sigap bergerak menjaga keamanan dan kenyamanan pengunjung.

Tarmidi, salah satu petugas keamanan yang bersiaga pada hari itu, menceritakan bagaimana pengamanan dikerahkan untuk menjaga ketertiban selama prosesi wisuda. Mengondisikan puluhan personel di sejumlah titik, mulai dari Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PUSGIWA) hingga pos gerbang utama, menjadi tantangan tersendiri.
“Yang dijaga tempat utama wisuda sama pos depan. Sejauh ini, alhamdulillah lancar, aman, tertib. Kita juga mengerahkan kurang lebih 30 personel,” ceritanya.
Para petugas juga harus membagi fokus antara mengarahkan arus kendaraan, menata parkir mobil dan motor agar tidak menimbulkan kemacetan, hingga menertibkan pedagang yang berjualan hingga meluber ke bahu jalan. Berkat kesigapan tim di lapangan, keramaian pada hari itu tetap berlangsung lancar, aman, dan kondusif.
Tantangan tak hanya berkaitan dengan kendaraan dan kerumunan orang. Di sudut lain, riuhnya ribuan pengunjung berbanding terbalik dengan persoalan sampah dan kebutuhan penataan ruang. Di situlah peran tim kebersihan seperti Erik dan rekan-rekannya diuji.

Untuk meringankan beban pada hari-H wisuda, Erik dan timnya melakukan persiapan sejak jauh-jauh hari. Tiga hari hingga satu minggu sebelum kegiatan, mereka mulai menyiapkan berbagai kebutuhan, mulai dari properti dan kursi dalam jumlah besar hingga mensterilkan area halaman luar.
“Jadi jauh-jauh hari kita udah standby, bukan pas hari-H-nya aja. Sekarang juga kita pakai Standar Operasional Prosedur (SOP), jadi alhamdulillah anak-anak lebih fokus di titiknya masing-masing. Biarpun pengunjung nggak bisa dikontrol jumlahnya, minimal masalah sampahnya jauh lebih teratasi dan terkontrol,” kata Erik saat menjelaskan kerja timnya.
Di balik khidmatnya prosesi wisuda, pelataran kampus menyimpan cerita yang tak kalah penting. Ada perjuangan panjang para wisudawan, harapan keluarga, para pelaku UMKM yang mencari rezeki, hingga petugas keamanan dan kebersihan yang memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan tertib.
Wisuda akhirnya bukan hanya tentang toga, ijazah, dan gelar yang disandang. Di baliknya, ada banyak tangan dan cerita yang turut membuat hari istimewa itu berjalan.
Reporter: Hida
Editor: Frida
