Sepasang kaki yang biasa menapaki tanah itu kini mulai kehilangan jejaknya. Perlahan, setiap harinya ia mulai kehilangan ritme. Derap langkahnya terasa canggung, asing, dan jauh. Beberapa kali terdengar seperti berputar arah, beberapa kali kudengar ia berhenti di tempat yang tak seharusnya. Namun, perjalanannya tetap berlanjut. Meski terjeda seperti koma, setidaknya ia tak berhenti seperti titik.
Tubuhnya mulai mengguncang. Entah apa yang dirasakannya, tetapi ia terlihat tak bertenaga. Bahkan jemarinya tampak tak kuat memegang gagang pintu. Kulihat pintu itu tetap tertutup, tak kunjung dibukanya. Namun, ia bersikeras membukanya, berharap sesuatu di dalam sana dapat menerimanya.
Di hari-hari yang mungkin terlihat indah, senja membentang bak lukisan surgawi. Tetapi bagi sebagian orang, senja mungkin merupakan akhir dari segala yang ingin disudahi. Barangkali, di tempat yang jauh di sana, sebagian orang menunggu malam untuk bercerita.
Seseorang berharap angan dan angin merupakan hal yang sama, tetapi jelas keduanya berbeda. Langkahnya kian memberat. Kulihat dirinya semakin kehilangan tenaga. Entah apa yang sedang dihadapinya, tetapi jelas ia tak terlihat baik.
“Ah, gini lagi, ya? Kok bisa, ya? Kok gagal lagi, ya?” kudengar ia menggerutu.
Entah apa yang dimaksud, tetapi jelas aku tahu itu bukan hal baik. Raut wajahnya tak menunjukkan sesuatu yang memuaskan.
Kuharap ia baik, ucapku dalam hati.
Hari-hari berikutnya, tubuhnya tampak semakin lemas, raut wajahnya semakin suram. Hatiku berkata, “Berapa malam yang ia lewati tanpa tidur?”
Namun, apa peduliku?
Setidaknya ia masih di sini, ucapku lagi dalam hati.
Malam itu cuaca terasa dingin. Tak ada hujan, hanya angin biasa. Tetapi kurasa suhunya berbeda, tak seperti biasanya. Bahkan, ini kali pertama kurasakan. Semilir angin menerpa wajahku, di bawah rindangnya pohon dan gemerlap lampu kota.
Kupikir tempat ini terlihat strategis. Banyak orang berlalu-lalang di sini.
Aku suka tempat ini, ucapku dalam hati.
Namun, jauh di seberang jalan, ekor mataku menangkap sesuatu.
Hitam, gelap, dan besar.
“Oh, dia lagi,” ucapku saat itu.
Tak ada kebingungan, hanya sedikit rasa kaget. Namun, aku mewajarkannya. Mungkin ia tahu tempat ini. Mungkin ia juga senang dengan tempat ini.
Kulihat ia mendekat, lalu menghilang di balik rindangnya pepohonan. Aku tak tertegun. Kubarkan ia pergi, kupikir itu memang inginnya, kesenangannya. Tak kukejar, meski ada sesuatu dalam diriku yang berkata bahwa seharusnya aku melakukan sesuatu.
Beberapa orang mulai mendekat. Entah membicarakan apa. Pikirku, mungkin mereka mulai menyukainya.
Rindangnya pepohonan mendekap malam dengan erat. Dalam hati aku berkata, “Cocok.”
Tetapi memangnya aku ini apa?
Kuharap di kehidupan lain ia mampu menjadikan dirinya kupu-kupu: terbang tinggi, indah, dan jauh di sana. Mungkin kebebasan akan segera menemuinya. Mungkin warnanya tak lagi hitam dan besar. Mungkin warnanya pancarona.
Kuharap ia baik.
Harapan terakhirku, semoga melambung tinggi sampai kepadanya.
Hari itu, ia menjadi nama yang ramai disebut. Orang-orang datang membawa doa, menyebut Tuhan, dan memohon agar segala yang telah terjadi mendapatkan ampunan.
Kupikir berlebihan.
Jika memang ini duka, kenapa tak dari dulu ia mampu diberikan rasa suka? Mengapa dunia yang fana membuatnya tak terlena?
Lalu, salah siapa?
——————-
Tulisan ini dihadirkan sebagai pengingat bahwa September juga diperingati sebagai Suicide Prevention Awareness Month atau Bulan Kesadaran Pencegahan Bunuh Diri. Melalui karya ini, penulis mengajak pembaca untuk lebih peka terhadap orang-orang di sekitar yang mungkin sedang menghadapi pergulatan yang tidak terlihat.
Mereka ada dan nyata, mungkin kamu tidak merasakannya. Lalu hiduplah selamanya, bukan selama yang kamu mau. Tetapi selama yang tuhan izinkan dan berikan.
Penulis: Nabel
Editor: Indah
