Erupsi gunung berapi tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan masyarakat. Abu vulkanik yang dihasilkan dari erupsi mengandung partikel yang dapat mengganggu saluran pernapasan dan memicu berbagai masalah kesehatan, terutama bagi kelompok rentan.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, erupsi Gunung Anak Krakatau pada 4 September 2026 menyebabkan sebaran abu vulkanik di sejumlah wilayah, yakni Lampung, Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Hingga 6 September 2026, tercatat 16.759 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara kumulatif di 23 kabupaten/kota terdampak.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 3.771 kasus terjadi pada kelompok usia 0–5 tahun atau balita, sedangkan 12.988 kasus terjadi pada kelompok usia di atas lima tahun. Tren peningkatan kasus ISPA terutama terlihat di Banten, Lampung, dan Jawa Barat. Sementara itu, belum ditemukan pola peningkatan kasus pneumonia yang seragam di seluruh wilayah terdampak.
Mengapa Abu Vulkanik Perlu Diwaspadai?
Abu vulkanik dapat mengandung partikel halus, termasuk PM2,5, yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru. Paparan partikel tersebut dapat memicu peradangan dan gangguan pada sistem pernapasan.
Kelompok yang lebih rentan terhadap dampak paparan abu vulkanik meliputi anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, penderita asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), serta pekerja yang banyak beraktivitas di luar ruangan.
5M Hadapi Paparan Abu Vulkanik
1. Memakai masker
Gunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan untuk membantu mengurangi paparan abu vulkanik pada saluran pernapasan.
2. Menutup sumber air dan ruangan
Tutup pintu, jendela, dan sumber air bersih di rumah untuk mencegah masuknya atau terkontaminasinya abu vulkanik.
3. Membatasi aktivitas di luar ruangan
Kurangi aktivitas di luar ruangan jika tidak mendesak, terutama ketika paparan abu vulkanik masih terjadi.
4. Membersihkan abu dengan aman
Hindari menyapu abu vulkanik dalam kondisi kering karena dapat membuat partikel kembali beterbangan. Bersihkan abu dengan cara yang meminimalkan penyebaran partikelnya.
5. Memantau informasi resmi
Ikuti informasi dan arahan dari instansi resmi seperti BMKG, BNPB, dan BPBD. Hindari menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Sebaran abu vulkanik memerlukan kewaspadaan, terutama bagi kelompok yang lebih rentan. Dengan membatasi paparan, menerapkan langkah perlindungan, dan mengikuti informasi dari sumber resmi, masyarakat dapat mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat abu vulkanik.
Penulis: Delis
Editor: Frida
