BerandaNEWSInklusivitas UIN Banten Jadi Sorotan dalam Diskusi Publik Milad SiGMA

Inklusivitas UIN Banten Jadi Sorotan dalam Diskusi Publik Milad SiGMA

Serang, lpmsigma.com – Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) SiGMA menggelar diskusi publik bertajuk “64 Tahun UIN Banten, Sudahkah Jadi Kampus Inklusif?” di pelataran Fakultas Dakwah, Kamis (22/10/26). Kegiatan ini menjadi salah satu agenda dalam rangka memperingati milad LPM SiGMA.

Pimpinan Umum LPM SiGMA, Ahmad, menjelaskan bahwa tema inklusivitas diangkat karena masih adanya persoalan demokrasi dan pemenuhan hak mahasiswa di UIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten, terutama terkait fasilitas bagi mahasiswa difabel.

“Kampus itu seharusnya menjadi inklusif, sedangkan UIN Banten masih kurang inklusif. Karena melihat persoalan demokrasi dan persoalan fasilitas, terutama bagi mahasiswa difabel. Masih banyak fakultas yang belum memenuhi fasilitas untuk mahasiswa difabel,” jelasnya.

Senada dengan hal tersebut, Wakil Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN SMH Banten, Fajar, menilai bahwa usia kampus yang telah mencapai 64 tahun seharusnya menjadi momentum untuk mengevaluasi pemenuhan hak mahasiswa, termasuk akses terhadap fasilitas kampus dan ruang demokrasi.

“Dengan apa yang hari ini kita rasakan, UIN Banten sebenarnya belum inklusif, masih eksklusif dan terbatas, hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menikmati fasilitas sedangkan ada sebagian orang yang belum menerima manfaat atau merasakannya,” ujarnya.

Sementara itu, dosen Pascasarjana UIN SMH Banten sekaligus Ketua Dewan Pendidikan Kota Cilegon, Syaeful Bahri, menyampaikan sejumlah rekomendasi untuk mendorong terwujudnya lingkungan kampus yang inklusif. Ia menekankan perlunya audit inklusivitas, forum dialog mahasiswa secara berkala, serta sistem aspirasi dan pengaduan yang aktif dan transparan.

“Rekomendasi saya, pertama lakukan audit inklusivitas. Kedua, buat forum dialog mahasiswa secara berkala. Ketiga, bangun sistem aspirasi dan pengaduan yang aktif dan transparan. Jangan sampai inklusivitas kampus itu hanya sekadar jargon,” pungkasnya.

Reporter: Lis
Editor: Frida

- Advertisment -
Jasa Iklan SiGMA

BACA JUGA