BerandaNEWSDugaan Insentif Polisi Membayangi Ketua Dema UIN Banten

Dugaan Insentif Polisi Membayangi Ketua Dema UIN Banten

Serang, lpmsigma.com – Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas (Dema-U) UIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten, Muhammad Syahid terseret dugaan penerimaan insentif setelah menghadiri pertemuan dengan Kepala Kepolisian Resor Kota (Kapolresta) Serang Kota di kantor Polresta Serang Kota, mulanya dugaan muncul dari akun instagram @memebemsebanten yang diunggah pada Senin, 28 September 2026.

Pada unggahan tersebut menyebutkan Koordinator BEM Banten Bersatu, Ketua Dema UIN SMH Banten yang sekaligus Koordinator Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Banten hingga foto yang memunculkan keduanya bersama pihak kepolisian.

Dalam unggahan itupun menuliskan kalimat “Baru juga pamflet seruan konsolidasi dan nobar film masa sudah menghadap-menghadap coklat lagi aja. Mana pimpinan BEM tidak diajak, memang kalo soal duit presiden-presiden ini paling jago” sebut dalam akun tersebut.

Setelah postingan itu beredar di media sosial (medsos), LPM SiGMA menemui Ketua Dema-U UIN SMH Banten, Muhammad Syahid. Ia menyangkal atas dugaan penerimaan uang insentif tersebut dan berada di lokasi hanya sebagai bendahara BEM Banten.

“Saya di situ hadir sebagai bendahara BEM Banten. yang beredar cair-cair gitu, di situ saya tidak menerima sepeserpun, dan tidak menerima arahan apapun,” ungkapnya saat diwawancarai pada Selasa, 29 September 2026.

Syahid mengatakan dirinya sempat menolak ajakan pertemuan karena sedang memiliki agenda kegiatan Maulid Nabi di kampus. Ia juga mengaku tidak mengetahui pembahasan pertemuan sebelumnya karena hanya diminta memberikan masukan kepada Polresta Serang Kota.

“Sempat menolak juga buat ajakan itu, karena lagi ada kegiatan. Dan itupun enggak tahu sebelumnya bahas tentang apa. Karena di situ hanya diminta masukan ajah untuk polresta,” jelasnya.

Kami juga mewawancarai Ketua Umum Senat Mahasiswa Universitas (Sema-U) UIN SMH Banten sebagai lembaga pengawas Dema U, Taosyekh Nawawi menyebutkan bahwa pihaknya sudah memberikan teguran. Menurutnya, gerakan yang telah dibangun dengan susah payah dapat kehilangan kepercayaan apabila kepemimpinan Dema-U tidak berjalan sebagaimana mestinya.

“Sudah menegur. Kita sudah susah payah membuat gerakan. Siapa pun yang memimpin, kalau seperti ini, tidak akan ada yang percaya kepada Dema-U,” ucapnya saat diwawancarai via telepon, Kamis (01/10/26).

Bagaimana pendapat mahasiswa UIN SMH Banten?

LPM SiGMA meminta tanggapan terkait dugaan tersebut kepada salah satu mahasiswa jurusan Hukum Tatanegara yang juga aktif dalam berbagai organisasi intra, ekstra kampus dan aktivis mahasiswa dalam beberapa tahun kebelakang, Tarpi Setiawan.

Ia mengatakan pertemuan tersebut tidak menjadi persoalan apabila hanya dilakukan dalam rangka silaturahim. Namun, ia menilai pertemuan tersebut perlu dipertanyakan apabila berkaitan dengan upaya meredam gerakan mahasiswa.

“Kalau pertemuan itu dalam rangka silaturahim, sah-sah saja. Namun harus malu jika tuan rumah berdiskusi dengan maling,” ujarnya saat diwawancarai, Rabu (30/09/26).

Tarpi juga menilai akan menjadi persoalan apabila pertemuan tersebut bertujuan meredam aksi mahasiswa. Menurutnya, sikap tersebut tidak sejalan dengan posisi mahasiswa yang menyuarakan kritik terhadap kekuasaan.

“Jikalau pertemuan itu untuk meredam aksi, tentu sangat memalukan. Bohong, jika di jalanan teriak melawan kekuasaan, tapi di sisi lain sampai berselingkuh dengan kekuasaan,” tambahnya.

Tarpi juga mempertanyakan kemungkinan adanya penerimaan uang, meskipun tidak diberikan secara langsung kepada ketua Dema-U tersebut.

“Mungkin memang dia tidak menerima uang secara langsung. Tapi kita tak pernah tahu, entah koleganya, seniornya atau mungkin perantaranya yang menerima amplop,” tutupnya.

Reporter: Ahmad

Editor: Indah

- Advertisment -
Jasa Iklan SiGMA

BACA JUGA