Cahaya matahari yang tertutup awan mendung tidak mematahkan semangat orang-orang untuk tetap beraktivitas di pagi hari. Termasuk saya yang melakukan perjalanan dari rumah menuju Kantor Pusat Pemerintah Provinsi Banten (KP3B), untuk melihat keramaian acara peringatan Hari Pers Nasional tepatnya di halaman Masjid al-Bantani, Roder Utama, Senin (9/02/2026).
Sebagai seorang mahasiswi yang baru saja menapakkan kaki di organisasi jurnalistik, acara ini bukan sekadar perayaan tahunan. Acara ini justru menjadi pintu pertama bagi saya untuk melihat wajah pers Indonesia dari jarak yang begitu dekat.
Di sepanjang perjalanan, banner-banner HPN berjajar rapi. Di sisi lain, pameran kriya khas Banten, termasuk kerajinan dari Suku Baduy menarik perhatian pengunjung yang berlalu lalang. Setelah memarkirkan sepeda motor di dekat danau, saya melangkah menuju pusat keramaian untuk mulai melihat-lihat bagaimana acara tersebut berlangsung.
Ribuan tamu undangan memenuhi halaman masjid. Batik dengan beragam motif mendominasi. Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dari berbagai daerah hadir termasuk dari Kalimantan Selatan, Jambi, Riau, hingga wartawan dari negara tetangga seperti Malaysia pun turut hadir untuk memeriahkan acara tersebut.

Di sela keramaian itu, petugas kebersihan tampak sigap menjaga area halaman masjid agar tetap bersih, sebuah peran kecil berdampak besar yang kerap luput dari sorotan kamera. Serang, Senin (9/2/2026)
Acara HPN 2026 tersebut bukan hanya ajang untuk menambah relasi, tetapi juga untuk menjalin silaturahmi. Wartawan senior bercengkerama, bertukar cerita liputan, sementara media-media besar sibuk melakukan siaran langsung. Saya yang baru saja terjun ke dunia jurnalisme, merasa sangat terkesan ketika melihat media besar melakukan siaran live report secara langsung.
Suasana semakin meriah dengan adanya bazar Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Stand makanan, minuman, aksesoris, hingga batik khas Cirebon berjejer rapi. Pedagang asongan pun tak kalah sigap menawarkan dagangan, menyelipkan perjuangan ekonomi di tengah gegap gempita perayaan pers yang tengah berlangsung hari itu.

Ketika tiba di halaman masjid Al-Bantani, saya melihat stand – stand bazar dari makanan, pakaian, bahkan aksesoris yang berjejer turut memeriahkan Hari Pers Nasional (HPN). Senin, (9/2/2026)

Saya melihat, pedagang asongan, yang tetap semangat mencari nafkah di tengah keramaian para wartawan yang hadir dari seluruh penjuru Indonesia. Senin, (9/2/2026)
Sambil menunggu kedatangan tamu undangan yang lain, saya melihat mereka saling mengobrol, berswafoto, bahkan ada yang sampai membuat lingkaran sambil minum kopi untuk menambah pengetahuan serta relasi mereka dalam dunia jurnalis.
Menjelang akhir acara, kerumunan mendadak semakin ramai. Gubernur Banten, Andra Soni, terlihat keluar dari tempat acara. Seketika, wartawan nasional menyerbu. Mikrofon terangkat, kamera menyala, dan tubuh-tubuh saling berdesakan. Di tengah kekacauan kecil itu, seorang wartawan tampak terinjak dan tersenggol, sebuah potret nyata akan kerasnya dinamika di balik berita yang esok hari kita baca dengan tenang.
Hari terus berjalan dan sekitar pukul setengah sebelas pagi, halaman Masjid Al-Bantani mulai lengang. Para wartawan beranjak pulang ke daerah masing-masing, membawa cerita, liputan, dan pengalaman. Saya pun melangkah pergi, melanjutkan perjalanan ke kampus dengan perasaan yang diselimuti rasa senang.
Reporter: Fathul Hidayah
Editor: Frida



