Inilah Alasan Ramadan Menjadi Bulan yang Istimewa

0
4 views

Setiap tahun, umat Muslim di seluruh dunia menyambut datangnya bulan Ramadan dengan penuh suka cita. Bulan kesembilan dalam kalender Hijriah ini selalu dinanti karena keistimewaannya yang tak dimiliki bulan lain. Ramadan hadir sebagai bulan penuh keberkahan yang menyentuh dimensi spiritual, moral, dan sosial umat Islam.

Ramadan dikenal sebagai syahrun mubarakun (bulan penuh berkah) dan syahrun azhim (bulan agung). Dalam banyak riwayat disebutkan, saat Ramadan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Keistimewaan ini bukan hanya karena turunnya Al-Qur’an, tetapi juga karena Ramadan menjadi momentum penyucian jiwa dan pembentukan pribadi yang lebih baik.

Menurut jurnal Ramadhan Bulan yang Mulia karya Cindy Dikara dkk., Ramadan adalah madrasah rohani yang mendidik umat untuk sabar, ikhlas, dan peduli terhadap sesama. Pandangan ini sejalan dengan penjelasan para ulama bahwa Ramadan melatih manusia mengendalikan hawa nafsu dan menumbuhkan empati sosial melalui ibadah dan kepedulian.

Secara etimologis, kata “Ramadan” berasal dari ramidha yang berarti panas terik. Menurut Ibnu Mandzur, makna ini melambangkan proses pembakaran dosa dan pelunakan hati yang keras. Karena itu, Ramadan dipandang sebagai masa pemurnian diri agar hati manusia kembali bersih dan lembut.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 185 bahwa Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk dan pembeda antara yang hak dan batil. Dalam Tafsir Ibn Katsir dijelaskan, Allah memuliakan Ramadan karena menjadi waktu turunnya wahyu, bahkan kitab-kitab samawi lain juga diturunkan pada bulan ini.

Sejarah Islam mencatat peristiwa besar di bulan Ramadan, seperti Perang Badar dan pembebasan Kota Makkah. Kedua peristiwa ini menunjukkan bahwa Ramadan bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga bulan kemenangan dan pembentukan peradaban Islam. Di dalamnya juga terdapat malam Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan, sebagai anugerah istimewa bagi umat Nabi Muhammad SAW.

Dalam hadis qudsi disebutkan, “Setiap amalan anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Ayat lain menegaskan, “Diwajibkan atas kamu berpuasa agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah: 183). Kedua teks ini menegaskan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar, melainkan latihan spiritual untuk membentuk ketakwaan.

Ramadan akhirnya menjadi momen pembinaan rohani sekaligus sosial. Melalui puasa, zakat, dan sedekah, umat belajar memahami penderitaan sesama. Inilah hakikat Ramadan, ini bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi kesempatan memperbaiki diri, membersihkan hati, dan meneguhkan kembali ketakwaan.

Penulis: Delis
Editor: Frida