Journaling Edisi Ramadan
Meski sudah berpuasa selama seminggu, hari ini rasanya berbeda. Sejak matahari terbit sampai menjelang senja, waktuku penuh dengan berbagai aktivitas.
Pagi itu, tepat pukul 08.30, aku berangkat ke kantor Banten TV untuk liputan bersama para crew dan teman-teman BAKAT. Begitu sampai, aku langsung diajak masuk ke mobil untuk berangkat ke kantor DPRD Provinsi Banten. Kami akan meliput Dialog Publik dan Liputan Khusus.
Saat pertama kali masuk ke ruangan Wakil Ketua DPRD Banten, aku dan teman-teman saling berbisik, “Wah, ruangannya megah banget ya. Rapi, wangi, barang-barangnya juga pasti mahal.” Padahal kita gak pernah tahu, mereka membeli ini semua menggunakan uang rakyat yang mana.
Tak lama kemudian, acara Dialog Publik pun dimulai. Kami mendengarkan setiap jawaban yang disampaikan oleh Pak Wakil, mulai dari soal ekonomi yang naik-turun, infrastruktur yang belum merata, sampai rencana mudik tahun ini. Waktu terasa cepat sekali, dan acara pun berakhir. Kami segera pindah ke aula rapat untuk meliput sidang paripurna penyampaian hasil reses pimpinan dan anggota DPRD Provinsi Banten, masa persidangan ke-II tahun sidang 2025–2026.
Saat sidang berlangsung, aku mendapat tugas menulis hard news. Bukan hal baru sebenarnya, tapi kali ini rasanya lain. Membuat berita untuk Banten TV terasa jauh lebih menantang daripada di organisasi pers kampus. Aku tetap berusaha sebaik mungkin, mencoba belajar dari setiap hal baru yang datang.
Begitu laporan selesai disampaikan, aku bersama Kak Riki dan Kak Doni langsung berlari ke depan aula untuk mewawancarai Wakil Gubernur dan Ketua DPRD. Ini pertama kalinya aku mewawancarai orang-orang penting, dan rasanya gugup luar biasa. Tapi rasa takut itu akhirnya bisa aku kalahkan.
Setelah wawancara selesai, aku langsung menggarap naskah karena tenggat pengumpulan tulisan adalah pukul lima sore. Begitu tugas di Banten TV selesai, aku berpindah ke Masjid Ats-Tsauroh, Kota Serang, untuk tugas berikutnya: membuat video reportase. Di sana aku bertemu teman-teman redaksi SiGMA. Senang rasanya, karena kami bisa bukber setelah sekian lama.
Di area festival bazar Ramadan, suasananya ramai. Banyak pedagang menjual berbagai makanan dan minuman, dari yang ringan sampai berat. Saat azan magrib terdengar, kami pun langsung berbuka dengan makanan yang kami beli. Satu tegukan air yang masuk ke tenggorokan rasanya luar biasa nikmat. Ternyata, rasa haus selama puasa jauh lebih berat daripada rasa lapar.
Disitu aku tersadar, puasa bukan perihal soal menahan makan dan minum, tapi juga tentang belajar sabar. Sabar menunggu waktu berbuka, sabar menjalani hari yang padat, sabar menghadapi segala rasa lelah. Aku jadi teringat sebuah hadis yang pernah kupelajari waktu tsanawiyah: As-shabru yu’iinu ‘ala kulli ‘amalin, yang artinya “Kesabaran menolong segala pekerjaan.”
Hadis itu benar-benar terasa maknanya hari ini. Walau tubuh lelah, aku belajar bahwa kesabaran bisa membuat segalanya lebih ringan. Karena pada akhirnya, kesabaran bukan sekadar menahan diri, tapi juga bentuk cinta kita kepada Allah SWT.
Penulis: Diroya
Editor: Frida



