Serang, lpmsigma.com – Ruang aula Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten riuh oleh lautan manusia. Alunan musik prosesi menggema, mengiringi langkah para wisudawan. Panitia tampak sibuk memastikan acara berjalan sesuai rencana, Sabtu (11/04/26).
Di atas podium, jajaran pimpinan kampus menjadi pusat perhatian. Prosesi pemindahan tali toga berlangsung khidmat. Raut bahagia dan senyum bangga terpancar dari wajah para orang tua saat nama anak mereka dipanggil satu per satu.
Kamera-kamera menangkap momen itu tanpa henti. Namun perlahan, sorotan mulai bergeser. Aula yang semula padat berangsur lengang. Langkah kaki meninggalkan ruangan, menyisakan kursi-kursi kosong dan panggung yang kehilangan riuhnya.
Suasana perayaan memudar, digantikan pemandangan yang kontras. Di sela barisan kursi, botol plastik berserakan. Bungkus camilan dan tisu bekas tergeletak kusut, sebagian terinjak hingga tak berbentuk.
Pemandangan serupa tampak di halaman kampus. Rerumputan yang sejak pagi menyambut kedatangan tamu kini menanggung sisa-sisa euforia. Jejak perayaan berubah menjadi jejak kelalaian.
Di balik kemeriahan itu, ada sosok yang kerap luput dari perhatian. Saat wisudawan pulang membawa kebanggaan, para petugas kebersihan justru memulai pekerjaan mereka.
Erik Fardiansyah menjadi salah satunya. Selain sebagai pengawas taman, ia turut bertanggung jawab menjaga kebersihan selama acara. Sejak pagi, ia bersama rekan-rekannya memantau kondisi lingkungan secara berkala demi kenyamanan tamu.
Namun, setelah acara usai, pekerjaan mereka menjadi lebih berat. Sampah yang meningkat hingga dua kali lipat membuat mereka harus bekerja ekstra. Untuk membersihkan area halaman saja, dibutuhkan waktu hingga dua hari.
Erik menggambarkan kondisi yang mereka hadapi.
“Yang di halaman, sampahnya ke mana-mana. Ada yang sampai ke selokan, ada juga di rumput. Itu kadang kami butuh dua hari untuk membersihkannya.”
Ia juga mengungkapkan perasaan sedih saat area yang telah dibersihkan kembali kotor. Bahkan, tanaman yang dirawat dengan telaten kerap rusak karena terinjak.
“Kalau soal sampah, kembali lagi ke masing-masing. Tapi seharusnya kita bisa sama-sama menjaga lingkungan. Kadang taman juga ikut terinjak.”
Erik tidak menuntut hal besar. Ia berharap ada kepedulian dari mahasiswa untuk ikut mengingatkan keluarga dan kerabat.
Dengan harapan sederhana, ia menyampaikan.
“Setidaknya mahasiswa bisa ikut mengedukasi keluarga yang datang, supaya membuang sampah pada tempatnya.”
Di sisi lain, kesadaran juga datang dari orang tua wisudawan. Soedikin menilai persoalan sampah dapat diminimalkan jika ada dorongan lebih tegas dari pihak kampus.
Dengan nada reflektif, ia menyampaikan.
“Sebenarnya ini soal kesadaran diri. Tapi akan lebih baik kalau ada petunjuk dari kampus, misalnya larangan membuang sampah sembarangan agar taman tetap terjaga.”
Ia juga menekankan langkah sederhana yang bisa dilakukan sejak dari rumah.
Dengan nada mengingatkan, ia menambahkan.
“Kita biasanya bawa makanan dari rumah. Sebaiknya juga membawa kantong sendiri untuk menampung sampah.”
Reporter: Nurhasanah
Editor: Ayunda



