BerandaNarasi KritisAfiliasi Dema-U UIN Banten dengan BEM SI: Aspirasi atau Eksistensi?

Afiliasi Dema-U UIN Banten dengan BEM SI: Aspirasi atau Eksistensi?

Keputusan Dewan Eksekutif Mahasiswa tingkat Universitas (Dema-U) UIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten untuk bergabung dengan Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) semestinya tidak berhenti pada persoalan afiliasi, legitimasi, atau sekadar mencantumkan nama kampus dalam gerakan nasional. Keterlibatan tersebut justru perlu dipertanyakan: atas dasar apa Dema-U memilih terafiliasi dan sejauh mana keanggotaan itu berkaitan dengan kepentingan mahasiswa UIN SMH Banten?

Menjadi bagian dari jaringan nasional tentu dapat memperluas ruang gerak organisasi. Nama Dema-U dapat hadir dalam forum nasional, mengikuti konsolidasi, hingga terlibat dalam berbagai agenda gerakan mahasiswa. Namun, keberadaan dalam jaringan tersebut tidak cukup jika hanya berhenti pada struktur dan simbol. Pertanyaan yang lebih penting adalah, apa substansi yang dibawa Dema-U melalui afiliasi tersebut? Apakah garis perjuangannya benar-benar sejalan dengan persoalan mahasiswa UIN SMH Banten, atau justru sekadar menjadi ruang untuk menunjukkan eksistensi organisasi?

Ketua Dema-U UIN Banten bahkan terpilih menjadi Koordinator BEM SI Wilayah Se-Banten. Posisi tersebut semestinya tidak hanya menjadi capaian struktural, tetapi juga membawa tanggung jawab yang lebih besar dalam menyuarakan kepentingan mahasiswa. Sebab, jika orientasi afiliasi hanya berhenti pada peningkatan eksistensi, gerakan tersebut berisiko menjadi simbolisme belaka. Dema-U hadir dalam struktur gerakan nasional, tetapi belum tentu hadir dalam substansi persoalan mahasiswa di kampusnya sendiri.

Padahal, gerakan mahasiswa semestinya berangkat dari kemampuan membaca realitas di lingkungannya sendiri. Bagaimana sebuah organisasi dapat berbicara lantang mengenai persoalan nasional jika persoalan internal kampus yang menyangkut kepentingan mahasiswa belum mendapatkan perhatian yang memadai?

Gerakan mahasiswa tidak semestinya diukur dari seberapa besar nama organisasi muncul dalam forum nasional atau seberapa banyak dokumentasi konsolidasi tersebar di media sosial. Yang lebih penting adalah keberanian untuk bersuara ketika kepentingan mahasiswa dipertaruhkan, mengkritik ketika kritik memiliki konsekuensi, serta konsisten memperjuangkan hak mahasiswa dan masyarakat yang termarjinalkan.

Pada akhirnya, mahasiswa berhak mempertanyakan arah afiliasi tersebut. Apakah keterlibatan Dema-U dalam BEM SI benar-benar menjadi jalan untuk memperluas perjuangan dan membawa aspirasi mahasiswa UIN SMH Banten, atau hanya menjadi cara lain untuk memperkuat eksistensi organisasi?

Penulis: Ahmad
Editor: Indah

- Advertisment -
Jasa Iklan SiGMA

BACA JUGA