Tanpa kita sadari perubahan jaman yang begitu pesat mengubah metode pembayaran menjadi lebih praktis. Jika dahulu kita sering berbelanja menggunakan uang kertas secara fisik, sekarang lebih mudah dengan menggunakan cashless atau pembayaran digital. Cukup tempel, scan QRIS, atau klik satu tombol di aplikasi e-wallet, transaksi pun selesai dalam hitungan detik.
Fenomena ini disebut cashless society atau fenomena masyarakat yang memanfaatkan pembayaran digital saat melakukan transaksi keuangan, sehingga penggunaan uang tunai minim terjadi. Munculnya konsep cashless society juga didasari oleh fakta yang mengungkapkan bahwa jika penggunaan uang tunai secara fisik dalam transaksi membutuhkan biaya-biaya yang tidak sedikit, terutama dalam kaitannya penerbitan uang fisik, perputaran dan pendistribusian, perawatan serta penggantian uang yang rusak/usang.
Dikutip dari Jurnal “Dampak Cashless dan Cardless Society Bagi Kaum Milenial” karya Hermaya Ompusunggu, menjelaskan bahwa Bank Indonesia (BI) meluncurkan Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) pada 2014 untuk mendorong transaksi digital demi sistem keuangan yang lebih aman dan efisien. Sejak itu, pertumbuhan pembayaran digital di Indonesia melaju kencang, didukung oleh QRIS, NFC, dan berbagai aplikasi e-wallet seperti OVO, GoPay dan DANA yang mempermudah masyarakat bertransaksi tanpa perlu membawa uang fisik.
Hasilnya, cashless bukan lagi sekadar opsi, melainkan bagian dari gaya hidup. Riset yang dilakukan pada Gen Z di Tasikmalaya bahkan menemukan bahwa penggunaan sistem cashless berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku konsumtif mereka dengan koefisien regresi sebesar 0,638 artinya semakin sering seseorang bertransaksi cashless, semakin tinggi pula kecenderungan mereka untuk berbelanja.
Dampak Positif Cashless Society yaitu: kemudahan akses. Kemudahan dalam penggunaan uang digital mampu memberikan keuntungan bagi pengguna yaitu sebagai media pembayaran sehingga proses pembayaran dapat berlangsung dengan mudah dan lebih cepat karena tidak memerlukan kembalian sehingga dapat meminimalisir antrean panjang. Dampak positif cashless society memang terasa nyata. Transaksi jadi lebih cepat, praktis, dan mudah dipantau. Studi tentang penggunaan uang elektronik di dunia pendidikan mencatat bahwa pembayaran digital oleh siswa justru bisa terawasi lebih baik oleh orang tua karena adanya rekaman transaksi yang jelas dan tercatat rapih.
Dampak Negatif Cashless Society yaitu:
Dikutip dari Jurnal “Dampak Positif dan Negatif Penggunaan Uang Elektronik di Dunia Pendidikan” karya Suryanto Sosrowidigdo, menyatakan bahwa kekurangan dari penggunaan uang elektronik adalah dari aspek keamanan, konsumtif dan penurunan interaksi.
Menurut Wijaya & Mulyandi (2021) dalam penelitiannya yang berjudul “Tren Penggunaan Uang Elektronik Terhadap Generasi Milenial” menyatakan bahwa:
1. Penggunaan uang elektronik memiliki resiko keamanan yang dapat menyebabkan terjadinya kesalahan ketepatan kerja, misal adanya mutasi saldo yang tidak tepat.
2. Penggunaan uang elektronik juga dapat meningkatkan perilaku konsumtif. Perilaku konsumtif didasarkan pada faktor keinginan bukan faktor kebutuhan.
3. Penggunaan pembayaran non tunai dapat menyebabkan pengeluaran konsumsi seseorang meningkat karena memiliki kemudahan akses, promo maupun diskon dan kecepatan transaksi yang menggiurkan pengguna.
4. Uang elektronik juga memiliki pengaruh yang dapat menyebabkan berkurangnya interaksi antar manusia, hal ini dikarenakan di era saat ini untuk membeli barang ataupun melakukan transaksi dapat dilakukan secara online, sehingga dapat diakses kapan pun, di mana pun, serta dengan proses yang cepat tanpa harus bertatap muka secara langsung.
Tantangan Besar dalam Cashless Society
Ada dua tantangan besar yang mulai terasa di tengah masyarakat, yaitu keamanan data dan kontrol diri dalam berbelanja.
1. Soal keamanan, ketergantungan pada infrastruktur digital membuat sistem pembayaran rentan terhadap gangguan. Seperti bergantung pada jaringan komunikasi yang handal, koneksi internet yang stabil, pasokan listrik, serta perangkat seperti mesin EDC, ATM, dan smartphone
2. Soal kontrol diri, ini justru yang paling terasa dalam keseharian. Ketika uang berubah jadi angka di layar, rasa “sayang mengeluarkan uang” yang biasanya muncul saat memegang uang tunai jadi hilang. Studi soal QRIS menemukan bahwa pengguna berpotensi menjadi lebih konsumtif karena banyaknya penawaran promosi dan cashback yang mendorong mereka mengikuti gaya hidup yang serba dinamis dan impulsif. Temuan dari riset terhadap Gen Z Tasikmalaya juga menegaskan hal serupa, yaitu kemudahan akses pembayaran cashless justru menjadi salah satu faktor pendorong meningkatnya perilaku konsumtif mahasiswa.
Melihat dua sisi ini, cashless society sebenarnya bukan sesuatu yang harus dihindari karena memiliki manfaat terlalu besar untuk diabaikan. Tantangannya justru ada pada bagaimana masyarakat menyeimbangkan kemudahan itu dengan kewaspadaan terhadap keamanan data dan kesadaran dalam mengelola pengeluaran.
Penulis: Mg_Dini
Editor: Naufal
