BerandaLiputan KhususFeatureDi Balik Toga Emas dan Hiruk-Pikuk Wisuda

Di Balik Toga Emas dan Hiruk-Pikuk Wisuda

Serang, lpmsigma.com – Hari wisuda sarjana ke-43 dan pascasarjana ke-29 Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten bukan sekadar momen kebanggaan bagi para lulusan. Sebanyak 750 wisudawan resmi menyandang gelar, dengan 11 di antaranya dinobatkan sebagai lulusan terbaik, dua dari program pascasarjana dan sembilan dari sarjana, Sabtu (8/8/26).

1

Sebanyak 750 wisudawan program sarjana dan pascasarjana, sebelas diantaranya merupakan wisudawan terbaik. Serang, Sabtu (8/8/26).

Namun, di balik kemilau toga dan riuhnya pelukan keluarga, terdapat dua sisi yang saling berdampingan, perjuangan panjang para wisudawan terbaik dan denyut ekonomi yang turut meramaikan kampus.

Amin Hidayat tak pernah menyangka akan berdiri di puncak kelas doktoralnya. Di usianya yang tak lagi muda, pria berprofesi sebagai pegawai negeri ini justru membuktikan bahwa belajar tak mengenal batas waktu. Ia berhasil menyelesaikan program S3 dengan predikat wisudawan terbaik di Program Studi Doktor Manajemen Pendidikan Islam (MPI).

“Ya, senanglah, saya senang. Dan saya tidak tahu kalau saya termasuk orang yang dipilih sebagai wisudawan terbaik,” ujarnya dengan rendah hati.

2

Sebanyak sebelas wisudawan terbaik program sarjana dan pascasarjana menerima bantuan pendidikan berupa uang tunai. Serang, Sabtu (8/8/26).

Putra seorang petani kecil dan guru pengajian di kampung ini mengaku kuliah S1 dengan biaya sendiri, sedangkan S2-nya penuh beasiswa dari negara. Meski harus membagi waktu antara pekerjaan dan studi, ia tak pernah mengeluh, bahkan rela menginap di kantor demi mengatur jadwal kuliah yang hanya digelar pada Jumat sore dan Sabtu.

“Motivasi saya yang paling pasti adalah semangat diri, semangat jiwa kita. Yang pertama bahwa kita harus mampu. Masa orang lain mampu, kita tidak?” tegasnya.

Amin juga tak pernah melupakan pesan orang tuanya. Suaranya sedikit bergetar saat mengingat masa kecil, matanya tampak menerawang jauh. Ia masih ingat betul pesan abah dan emaknya bahwa ia harus terus belajar, meskipun keadaan serba kekurangan.

“Saya masih ingat dengan pesan abah dan emak saya. Orang tua saya berpesan bahwa saya harus belajar terus, walaupun kita tidak mampu,” kenangnya sambil menahan haru.

3

Momen sakral pergeseran tali toga menandai perubahan mahasiswa menjadi doktor. Di balik senyum dan toga emasnya, tersimpan perjuangan dan keyakinan bahwa usia bukanlah halangan untuk meraih mimpi. Serang, Sabtu (8/8/26).

Kini, dengan toga emas melingkar di lehernya, ia membuktikan bahwa gelar bukanlah soal usia, melainkan seberapa besar keyakinan bahwa kita bisa. Ia menggenapi pesan itu bukan sekadar dengan kata-kata, tetapi dengan perjuangan nyata yang tak kenal lelah.

Berbeda dengan Amin, Arifah Nailah baru memulai segalanya. Gadis asal jurusan Perbankan Syariah ini mengaku dirinya adalah mahasiswa “kupu-kupu”, kuliah pulang, kuliah pulang. Namun, di balik kesederhanaannya, ia berhasil lulus dalam 8 semester dengan predikat membanggakan.

“Impian terbesar saya adalah ingin menjadi dosen. Jadi, tekadnya memang kuat untuk S1, S2, tetap semangat,” ungkap Arifah dengan mata berbinar.

Meski aktif di organisasi diluar perkuliahan, magang di Bank BSI, KKN tematik halal, hingga berbagai Bootcamp Excel, Data Analysis, dan Digital Marketing bersertifikat BNSP, Arifah tetap mampu menjaga keseimbangan akademiknya.

“Walaupun menyeimbangkannya, untuk malam harinya setelah organisasi, itu biasanya saya mengulang pelajaran di kelas lagi. Jadi, sebenarnya tidak begitu berat, jadi tetap bisa seimbang,” jelasnya.

4

Kesan dan pesan yang disampaikan oleh wisudawan terbaik pertama dari program sarjana. Serang, Sabtu (8/8/26).

Rahasianya sederhana, konsistensi. “Saya selalu mengerjakan tugas dengan tepat waktu, terus mengulang pelajaran atau materi di hari Sabtu atau Minggu. Saya juga selalu konsisten,” katanya.

Arifah berpesan kepada seluruh mahasiswa agar tak pernah merasa salah jurusan. “Semua ilmu yang kita dapat itu pasti ada hikmahnya, walaupun itu bukan jurusan yang kita inginkan. Nikmati prosesnya saja,” tuturnya.

Tak hanya Arifah, Rizqy Aulia Azzahro seorang gadis yang kehilangan ayahnya sejak kecil juga tak menyurutkan semangatnya. Gadis asal Rangkasbitung ini berhasil menyelesaikan studinya dengan predikat wisudawan terbaik Fakultas Adab dan Humaniora, yang kini telah diterima di Program Magister Bahasa dan Sastra Arab UIN Jakarta.

“Dikarenakan saya sudah tidak memiliki ayah dari kecil. Dan saya melihat bahwa perjuangan bunda saya itu sangatlah besar. Jadi, saya ingin membalas semua pengorbanan yang beliau berikan,” ujar Rizqy dengan suara bergetar.

Perjuangannya tak main-main. Dari semester 1 hingga 4, ia harus pulang-pergi Rangkasbitung-Serang setiap hari, perjalanan dua jam bolak-balik. Di semester 5 hingga 7, ia mengontrak dan menyambi mengajar les privat dari rumah ke rumah.

“Kalau strategi belajar, saya tidak suka yang lama-lama. Saya cukup memahaminya, kemudian saya terapkan dalam otak saya,” ungkapnya.

Rizqy mengaku pernah hampir menyerah karena perjalanan yang ditempuh untuk ke kampus itu cukup jauh.

“Saya pernah sebenarnya merasa ingin menyerah karena, ya, saya capek bolak-balik dari Rangkas ke Serang. Tapi, saya semangat lagi karena saya ingat perjuangan orang tua saya, terutama bunda saya,” kenangnya.

Kini, di samping melanjutkan S2, Rizqy juga mengembangkan bisnis les privatnya yang telah memiliki 20 anak didik.

“Satu kata yang menggambarkan perjuangan saya adalah pengorbanan dari orang tua saya,” pungkasnya.

Reporter: Delis
Editor: Frida

- Advertisment -
Jasa Iklan SiGMA

BACA JUGA