BerandaKilas BalikJejak Banten Girang: Awal Kejayaan Banten Sebelum Kesultanan Berdiri

Jejak Banten Girang: Awal Kejayaan Banten Sebelum Kesultanan Berdiri

Banten selama ini lebih dikenal melalui kejayaan Kesultanan Banten yang berkembang sebagai pusat perdagangan internasional pada abad ke-16. Namun, jauh sebelum kesultanan berdiri, wilayah ini telah memiliki pusat pemerintahan dan perdagangan yang dikenal sebagai Banten Girang. Keberadaannya menjadi bukti bahwa Banten telah memainkan peran penting dalam jaringan perdagangan maritim Nusantara sejak berabad-abad sebelumnya.

Menurut jurnal Kerajaan Banten Girang dan Formasi Perdagangan Rempah di Selat Sunda Abad X-XVI karya Gregorius Andika Ariwibowo, menjelaskan bahwa Banten Girang diperkirakan mulai berkembang sekitar abad ke-10 Masehi. Pada masa awal, kawasan ini diduga berada di bawah pengaruh Sriwijaya sebelum kemudian berkembang menjadi wilayah penting di bagian barat Pulau Jawa. Letaknya yang strategis di sekitar Selat Sunda membuat Banten Girang menjadi persinggahan para pedagang dari berbagai daerah. Selain berada di jalur pelayaran internasional, Banten Girang juga dilalui Sungai Cibanten yang menjadi jalur transportasi utama pada masa itu. Sungai tersebut memudahkan distribusi barang dari pedalaman menuju pesisir maupun sebaliknya, sehingga mendorong berkembangnya aktivitas perdagangan sekaligus pertukaran budaya antara masyarakat lokal dengan para pedagang asing.

Ramainya aktivitas perdagangan di Banten Girang dibuktikan melalui berbagai temuan arkeologi. Penelitian menemukan keramik asal Tiongkok dari abad ke-11 hingga ke-14 yang menunjukkan adanya hubungan dagang dengan dunia luar. Temuan tersebut menjadi salah satu bukti bahwa Banten Girang telah terhubung dengan jaringan perdagangan internasional sejak masa awal perkembangannya.

Salah satu komoditas utama yang diperdagangkan dari Banten Girang adalah lada hitam. Pada masa itu, lada memiliki nilai ekonomi yang tinggi karena banyak digunakan sebagai bumbu masakan, obat-obatan, hingga bahan pengawet makanan. Perdagangan rempah inilah yang kemudian menjadikan Banten dikenal sebagai salah satu daerah penghasil lada berkualitas di Nusantara.

Kontinuitas peran Banten Girang sebagai pusat perdagangan dan permukiman ini kemudian berlanjut pada masa berikutnya. Menurut jurnal Mendobrak Dominasi Sejarah: Upaya Laboratorium Banten Girang (LBG) dalam Mengenalkan Kembali Sejarah Pra-Islam dan Tinggalannya di Banten karya Nilam Gita Perdana, menjelaskan bahwa sejarah Banten selama ini lebih banyak dikenal melalui masa Kesultanan Banten. Padahal, sebelum agama Islam berkembang, Banten telah memiliki kerajaan bercorak Hindu-Buddha, yaitu Banten Girang. Dalam tradisi masyarakat Banten dikenal kisah Prabu Pucuk Umun sebagai penguasa Banten Girang sebelum ditaklukkan oleh Maulana Hasanuddin, meski kisah tersebut memiliki berbagai versi dan menjadi bagian dari tradisi lisan masyarakat.

Setelah beralihnya kekuasaan, pusat pemerintahan dipindahkan dari Banten Girang ke Surosowan pada 8 Oktober 1526 atau bertepatan dengan 1 Muharram 933 Hijriah. Hasil penggalian arkeologi di Situs Banten Girang menunjukkan bahwa Kesultanan Banten merupakan kelanjutan dari pusat perdagangan dan pemukiman yang telah berkembang pada masa sebelumnya. Dengan demikian, fondasi ekonomi dan budaya yang dibangun sejak masa Banten Girang menjadi dasar bagi perkembangan Kesultanan Banten di kemudian hari.

Saat ini wilayah Banten Girang menjadi cagar budaya yang dilindungi dan menjadi lokasi wisata ziarah serta petilasan bersejarah. Letaknya berada di Kampung Talaya, Desa Sempu, Kecamatan Serang, Kota Serang.

Banten Girang bukan sekadar masa lalu yang terkubur, ia adalah akar yang membentuk identitas Banten sejak lama. Keberadaannya mengingatkan kita bahwa sebelum dikenal sebagai pusat Kesultanan, Banten sudah lebih dulu tumbuh sebagai wilayah penting dalam sejarah dan perdagangan di Selat Sunda.

Penulis: Mg_Ida
Editor: Nurhasanah

- Advertisment -
Jasa Iklan SiGMA

BACA JUGA