Kampus Islam, Masjidnya Di Mana?

0
19 views

Sejak awal sejarah Islam, ilmu pengetahuan hampir selalu tumbuh beriringan dengan masjid. Tempat ibadah tidak hanya menjadi ruang spiritual, tetapi juga ruang belajar, berdiskusi, dan membentuk karakter. Karena itu, ketika sebuah kampus berkembang tanpa kehadiran masjid yang memadai, muncul pertanyaan tentang bagaimana ruang spiritual ditempatkan dalam kehidupan akademik.

Situasi ini terlihat di lingkungan UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Aktivitas mahasiswa kini lebih banyak berlangsung di kawasan kampus dua. Gedung perkuliahan, ruang organisasi, dan berbagai kegiatan akademik terpusat di sana. Namun kawasan tersebut belum memiliki masjid utama yang dapat menampung kebutuhan ibadah sivitas akademika.

Ketiadaan masjid di pusat aktivitas mahasiswa bukan sekadar persoalan fasilitas. Hal ini berkaitan dengan hadir atau tidaknya ruang spiritual dalam kehidupan kampus. Dalam tradisi Islam, pendidikan tidak hanya berorientasi pada ilmu, tetapi juga pada pembentukan etika dan kesadaran moral.

Sejarah pendidikan Islam menunjukkan bahwa banyak lembaga keilmuan lahir dari lingkungan masjid. Al-Azhar di Kairo, misalnya, berawal dari masjid yang kemudian berkembang menjadi pusat pembelajaran Islam berpengaruh. Tradisi serupa juga terlihat pada al-Qarawiyyin di Maroko yang tumbuh dari masjid dan menjadi pusat kegiatan ilmiah masyarakat.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa masjid bukan sekadar bangunan tambahan. Masjid menjadi ruang yang mempertemukan aktivitas akademik dengan kehidupan spiritual. Dari interaksi di ruang itulah lahir tradisi diskusi, pertukaran gagasan, dan pembentukan karakter.

Di lingkungan kampus, masjid juga berfungsi sebagai ruang sosial. Mahasiswa dapat berdiskusi setelah salat, merancang kegiatan organisasi, atau sekadar bertukar pikiran. Percakapan sederhana semacam itu sering melahirkan ide yang berkembang menjadi gerakan intelektual.

Tanpa masjid, kampus berpotensi kehilangan titik berkumpul yang menjadi identitas spiritual bersama. Mahasiswa memang tetap dapat beribadah di tempat lain, tetapi tidak memiliki ruang yang menyatukan kehidupan akademik dan spiritual dalam satu lingkungan.

Dalam konteks ini, keberadaan masjid di kawasan kampus dua menjadi kebutuhan yang semakin terasa. Ketika sebagian besar aktivitas mahasiswa berlangsung di sana, ruang ibadah yang memadai seharusnya ikut hadir di tengah kehidupan kampus.

Pada akhirnya, kampus Islam tidak hanya diukur dari jumlah gedung dan fasilitas akademiknya. Kampus juga dinilai dari bagaimana nilai-nilai spiritual hidup di dalamnya. Sejarah peradaban Islam menunjukkan bahwa masjid dan ilmu pengetahuan selalu berjalan bersama, membentuk lingkungan pendidikan yang utuh.

Penulis: Nabila Alsabila
Editor: Frida