Bagi banyak warga, melintasi Jalan Raya di Pasar Kemis bukan lagi sekadar perjalanan harian. Setiap kali lewat, ada rasa was-was: apakah hari ini bisa sampai tujuan dengan selamat?
Lubang besar di banyak titik, aspal bergelombang, ditambah kendaraan berat yang hilir mudik tanpa jeda. Dalam kondisi seperti ini, sedikit saja kehilangan keseimbangan bisa berakhir tragis.
Sepanjang Februari 2026, empat pengendara motor meninggal dunia akibat kecelakaan di jalan tersebut di wilayah Kabupaten Tangerang. Polisi menyebut kerusakan jalan sebagai salah satu faktor penyebab kecelakaan fatal. Empat nyawa bukan angka kecil. Di balik angka itu ada keluarga yang kehilangan dan duka yang tidak bisa dihitung.
Ironisnya, kondisi jalan ini bukan hal baru. Video dan foto kerusakan sudah lama beredar di media sosial. Lubang-lubang besar terlihat jelas, seolah menjadi jebakan yang menunggu korban berikutnya.
Informasi mengenai rencana perbaikan sempat disampaikan melalui akun Instagram @abouttng, yang menyebut perbaikan jalan telah masuk anggaran pemeliharaan. Namun bagi masyarakat, kabar tersebut terasa datang setelah korban berjatuhan dan perubahan nyata di lapangan belum terlihat.
Polisi bahkan menelusuri kemungkinan adanya kelalaian penyelenggara jalan, menegaskan bahwa kecelakaan bukan semata kesalahan pengendara.
Di saat yang sama, muncul kabar bahwa Andra Soni meraih penghargaan sebagai kepala daerah responsif tahun 2025. Namun, bagi warga yang setiap hari melewati jalan rusak, predikat “responsif” terasa jauh dari kenyataan.
Tragedi Pasar Kemis akhirnya bukan sekadar data kecelakaan. Ini gambaran jarak antara kebijakan dan kondisi di lapangan.
Perbaikan menyeluruh, tenggat waktu yang jelas, audit rutin titik rawan, transparansi anggaran, serta pengawasan kendaraan berat bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak.
Penulis: Ikhda
Editor: Frida



