Serang, lpmsigma.com – Sejumlah mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Halal UIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten, mengeluhkan pelaksanaan program yang dinilai belum berjalan optimal. Mereka menyoroti minimnya pembekalan, ketidakjelasan mekanisme pendampingan, hingga perubahan jadwal yang berulang, Selasa (14/07/26).
Salah satu peserta KKN Tematik Halal, Abi Rabsanjani, mengatakan peserta harus mempelajari penggunaan sistem Online Single Submission (OSS) dan Sistem Informasi Halal (SIHALAL) secara mandiri. Menurutnya, kondisi tersebut semakin menyulitkan karena sistem yang digunakan kerap mengalami kendala teknis, sementara jadwal pelaksanaan program terus berubah.
“Mahasiswa dipaksa mempelajari OSS dan SIHALAL secara otodidak. Banyak kendala di website masing-masing, sementara jadwal pelaksanaan, pelepasan, hingga berakhirnya KKN Tematik Halal juga terus berubah,” ujarnya.
Abi juga menilai Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) belum memiliki pemahaman yang memadai mengenai penggunaan sistem SIHALAL. Akibatnya, mahasiswa lebih banyak bergantung kepada admin pelaksana program yang jumlahnya terbatas.
“Sementara admin KKN Tematik Halal jumlahnya sangat terbatas. Dari beberapa admin yang ada, hanya satu orang yang benar-benar memahami proses sertifikasi halal secara menyeluruh,” tambahnya.
Keluhan serupa disampaikan peserta KKN Tematik Halal lainnya, Fuji. Ia menilai pelaksanaan program masih menyisakan berbagai persoalan, mulai dari pembekalan yang belum menjangkau seluruh peserta, kompetensi pembimbing yang dipertanyakan, peran Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) yang dinilai belum optimal, hingga informasi yang kerap berubah.
“Baru malam ini LP2M menginformasikan di WhatsApp Group mengenai pelepasan KKN. Namun, informasi yang disampaikan hanya terkait pelepasan KKN Reguler dan KKN Nusantara, sementara tidak ada sama sekali penjelasan mengenai KKN Tematik Halal. Menurut saya itu sangat janggal, karena kami juga merupakan peserta KKN,” ujarnya.
Fuji juga mempertanyakan kesiapan penyelenggara dalam menangani lebih dari 200 peserta KKN Tematik Halal. Menurutnya, apabila kapasitas pendampingan memang terbatas, hal tersebut seharusnya dipertimbangkan sejak awal.
“Kalau memang sejak awal tidak siap mendampingi peserta sebanyak itu, mengapa tidak dilakukan seleksi, sehingga jumlah peserta disesuaikan dengan kapasitas yang ada?” katanya.
Sementara itu, salah seorang peserta yang meminta identitasnya disamarkan, M, mengaku belum memahami alur penerbitan Nomor Induk Berusaha (NIB) hingga sertifikat halal karena pelatihan yang diberikan lebih banyak berupa penyampaian materi tanpa praktik langsung.
“Jujur, saya belum paham dari proses pembuatan NIB sampai terbitnya sertifikat halal. Saya lebih mudah memahami kalau langsung praktik, sedangkan pelatihan hanya diikuti sekitar 40 orang dari lebih dari 200 peserta,” ujarnya.
Ia mengaku sempat kehilangan motivasi mengikuti program, karena banyaknya persoalan yang belum terselesaikan.
“Awalnya saya sudah setengah hati mengikuti KKN Tematik Halal. Banyak sekali masalah yang belum selesai, ditambah penanggung jawab keluar dari grup. Hal itu membuat saya kehilangan semangat untuk mulai memahami proses sertifikasi halal,” tambahnya.
Menanggapi persoalan tersebut, Pendamping Proses Produk Halal (PPH), Zahwa, mengaku turut terkejut atas kabar mundurnya Ketua Lembaga Pendamping Proses Produk Halal (LP3H), yang menjadi penyelenggara program. Ia mengatakan akan mencari informasi lebih lanjut, mengenai keberlanjutan pelaksanaan program tersebut.
“Saya juga sama-sama kaget kenapa Pak Asef keluar. Nanti saya akan berbicara terlebih dahulu dengan Pak Asef mengenai alasan dan bagaimana arah program ini selanjutnya,” katanya.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak LP2M UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten maupun LP3H, belum memberikan keterangan resmi terkait berbagai keluhan mahasiswa mengenai pelaksanaan KKN Tematik Halal. Reporter telah berupaya meminta konfirmasi kepada pihak terkait, namun belum memperoleh tanggapan.
Reporter: Ikhda
Editor: Indah
