BerandaSiGMAPEDIAPeople Pleaser: Antara Empati dan Mengorbankan Diri Sendiri

People Pleaser: Antara Empati dan Mengorbankan Diri Sendiri

SiGMAnia, pernahkah kamu merasa ingin selalu membuat orang lain puas dengan dirimu? Sesederhana karena ingin membuat hatinya merasa bahagia? Pasti kalian pernah merasa sulit untuk mengatakan “tidak” karena takut mengecewakan dirinya.

Jika kalian pernah mengalaminya, biasanya kondisi seperti ini disebut sebagai people pleaser. Dikutip dari jurnal “Pengalaman Menjadi People Pleaser Pada Individu Dengan Karakter Agreeableness Tinggi” karya Denada Yuliza, dkk. People Pleaser merupakan perasaan seseorang yang selalu ingin menyenangkan orang lain dengan cara yang berlebihan, bahkan dengan mengorbankan dirinya sendiri. Biasanya terjadi di saat ingin membantu orang lain dan mendapatkan hal positif di lingkungan.

Seseorang dengan kecenderungan people pleaser umumnya merasa sulit mengatakan “tidak”, agar tidak mengecewakan orang lain, serta lebih mengutamakan kepentingan orang lain dibandingkan dirinya sendiri. Mereka juga cenderung mencari penerimaan sosial dan merasa harga dirinya bergantung pada penilaian orang lain.

Selain itu, dikutip dari jurnal “Implikasi Kesehatan Mental dari Perilaku Menyenangkan Orang Lain: Sifat Psikometrik Dan Profil Laten Dari Kuesioner Perilaku Menyenangkan Orang Lain versi Tiongkok” karya Xiaoxue Kuang, dkk. Menjelaskan bahwa perilaku people pleaser menunjukkan bahwa perilaku ini terdiri atas tiga aspek utama, yaitu pola pikir, perilaku, dan perasaan. Selain itu, mereka lebih rentan mengalami kecemasan, kesepian, penghindaran sosial, kelelahan emosional, serta kesulitan menilai kebutuhan dirinya sendiri. Temuan ini menunjukkan bahwa perilaku menyenangkan orang lain secara berlebihan dapat berdampak negatif terhadap kesehatan psikologis seseorang.

Perilaku ini umumnya didorong oleh kebutuhan untuk memperoleh persetujuan (need for social approval). Penelitian Millham dan Kellogg (1980) menjelaskan bahwa individu dengan kebutuhan tinggi akan penerimaan sosial cenderung mengubah perilaku, pendapat, bahkan keputusan pribadinya agar diterima oleh lingkungan. Mereka sering kali lebih mementingkan penilaian orang lain dibandingkan keyakinan atau keinginan dirinya sendiri. Kondisi tersebut membuat seseorang rentan kehilangan jati diri dan mengalami tekanan psikologis ketika tidak memperoleh pengakuan yang diharapkan.

Selain itu, seseorang yang memiliki sifat people pleaser umumnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1. Sulit mengatakan “tidak” terhadap permintaan orang lain.
2. Suka membantu orang lain.
3. Sulit menolak permintaan.
4. Takut mengecewakan orang lain.
5. Menghindari konflik.
6. Lebih mementingkan kebutuhan orang lain daripada diri sendiri.

Faktor Penyebabnya antara lain, yaitu:
1. Kepribadian agreeableness yang tinggi.
2. Rasa empati yang besar.
3. Keinginan diterima oleh lingkungan.
4. Pengaruh keluarga, pola asuh, dan lingkungan sosial.

Lantas, bagaimana cara mengurangi kebiasaan menjadi people pleaser. Berdasarkan berbagai temuan psikologi, beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

1. Belajar mengatakan “tidak” ketika permintaan orang lain melebihi kemampuan diri.
2. Menetapkan batasan (personal boundaries) yang sehat dalam hubungan sosial.
3. Menghargai kebutuhan, waktu, dan kesehatan mental diri sendiri.
4. Tidak menjadikan penerimaan orang lain sebagai satu-satunya ukuran harga diri.
5. Melatih kemampuan mengungkapkan pendapat dan perasaan secara jujur serta asertif.
6. Berkonsultasi dengan psikolog apabila kecenderungan people pleasing mulai mengganggu aktivitas sehari-hari maupun kesehatan mental.

Peduli terhadap orang lain memang merupakan sikap yang baik. Namun, membantu orang lain tidak seharusnya membuat seseorang mengabaikan dirinya sendiri. Hubungan sosial yang sehat tercipta ketika seseorang mampu menolong orang lain tanpa kehilangan hak untuk menjaga kebutuhan, batasan dan kesejahteraan dirinya.

Penulis: Mg_Astia
Editor: Naufal

- Advertisment -
Jasa Iklan SiGMA

BACA JUGA