Tiga Puluh Hari Mengetuk Pintu Langit

0
6 views

Bagian Awal: Kembalinya Harapan di Tengah Kehilangan

Matahari telah lama tenggelam ketika aku berdiri di dekat jendela kontrakan yang berhadapan langsung dengan jalanan. Langit malam yang gelap, karena bintang enggan hadir, menemani sepiku. Aku menatap jalanan itu dengan sendu, membiarkan pikiranku tenggelam dalam kesedihan yang tak pernah kuterima.

Kehilangan pekerjaan secara mendadak, tumpukan tagihan yang menggunung, serta membayangkan tatapan kecewa dari orang-orang tersayang menjadi melodi sumbang, yang menemaniku setiap hari. Aku merasa seperti debu yang berterbangan di jalan, ada, namun tak seorang pun mau melihatnya.

Suara klakson dari kejauhan sesekali memecah lamunanku, mengingatkan bahwa kota ini terus berdenyut, tanpa peduli ada satu nyawa yang sedang terpuruk dalam rasa sepinya. Aku memegang kusen jendela yang kayunya mulai lapuk, sementara mataku mengikuti siluet orang-orang berlalu-lalang di bawah lampu jalan.

Namaku Rendra. Aku berusia dua puluh tujuh tahun, dan hidupku terasa seperti sedang menonton film yang salah. Film tentang kegagalan yang tak pernah ada di benakku, akan menjadi kenyataan.

Dua bulan yang lalu, aku masih menjadi karyawan di sebuah kantor administrasi pabrik di pinggiran Jakarta. Gaji yang setidaknya cukup untuk bertahan, kontrakan kecil yang hanya kuhuni sendiri, dan harapan yang cukup untuk bermimpi. Lalu datanglah PHK tanpa aba-aba, seperti tamu yang tak diundang, yang merusak pesta, sehingga membuat semua yang direncanakan gagal.

Setelah menghabiskan waktu kurang lebih satu jam, menatap jalanan yang semakin sepi, akhirnya aku melangkah pergi dari depan jendela. Kakiku terasa berat, seperti membawa beban tak kasatmata. Aku duduk di tepi kasur. Tak lama, ponselku bergetar. Ternyata pesan dari ibu.

“Rendra, bagaimana kabarmu?”

“Alhamdulillah, Bu, aku baik-baik saja. Ibu bagaimana kabarnya?” Tak mungkin aku menjelaskan apa yang terjadi pada ibuku.

Pesan itu menggantung di layar ponselku. Cahayanya terasa menyilaukan di tengah kamarku yang remang. Aku menarik napas panjang. Hatiku terasa remuk. Kebohongan yang baru saja ku katakan, terasa seperti batu besar yang menyumbat dadaku. Di sini aku, seorang yang hampir terusir dari kontrakan, sedang berpura-pura baik-baik saja di depan wanita yang kusayang.

“Ibu sehat, Nak. Syukurlah kalau kamu baik. Pesan ibu, kamu jangan lupa jaga kesehatan, ya. Sebentar lagi sudah masuk bulan puasa. Kalau ada rezeki lebih, jangan lupa sedekah, ya, Nak. Itu yang akan menolong kita nantinya.”

Aku terdiam. Jariku kaku di atas papan ketik. Sedekah? Untuk makan besok saja aku harus memutar otak berkali-kali. Bagaimana aku bisa memberi orang lain? Namun kalimat ibu seolah tamparan lembut yang menyadarkanku. Selama ini aku hanya sibuk mengemis pada keadaan, meratapi pintu-pintu yang tertutup. Aku lupa bahwa ada Dzat Allah yang menggenggam kunci segala pintu.

Tak lama setelah itu, terdengar suara ketukan di pintu. Ternyata Pak RT, membawa kantong plastik putih.

“Ren, tadi istri saya masak lebih. Katanya buat kamu juga,” ujarnya dengan senyum kecil.

Aku sempat tertegun. “Wah, terima kasih banyak, Pak.”

Pak RT menepuk pundakku pelan. “Sama-sama, Ren. Oh iya, kamu masih kerja di pabrik itu? Kok sore-sore sering di rumah?”

Aku menelan ludah, mencari alasan. “Lagi…, lagi ambil cuti, Pak.”

“Oalah, ya sudah. Tapi jangan kelamaan cuti ya, Ren. Kota ini enggak ramah sama orang yang berhenti jalan,” katanya sambil tertawa kecil, lalu berpamitan.
“Mari, Ren. Selamat menjalankan ibadah puasa, ya!”
“Iya, Pak. Mari.”

Aku menutup pintu dan menatap kantong plastik itu. Ternyata di dalamnya ada beras, telur, gula, dan minyak. Di saat aku merasa seperti debu yang tak terlihat, Allah mengirimkan Pak RT yang melihatku.

“Baru saja aku meragukan-Mu,” bisikku lirih, “tapi Kau jawab keraguanku secepat ini.”

Malam itu, di kamar yang biasanya berisi keluhan, aku membuka kantong plastik itu sekali lagi. Ada rasa hangat yang pelan-pelan menyingkirkan sesakku. Pandanganku lalu tertuju pada buku catatan kusam, di atas meja, buku lama yang dulu sering kubawa ke pengajian. Kubuka halamannya satu per satu.

“Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi)

Kubalik lagi satu halaman.
“Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang itu sedikit pun.” (HR. Tirmidzi)

Aku terdiam lama. Mungkin ini caranya Allah memanggilku kembali.
Malam itu aku berjanji, Ramadan ini aku ingin mencoba melakukan satu kebaikan kecil setiap hari, meski mungkin tak ada yang tahu.

Penulis: Hida
Editor: Frida