Bagian terakhir: Kala Takbir Berkumandang, Janji-Nya Tak Pernah Ingkar
Memasuki malam ke-28 Ramadan, masjid dipenuhi oleh orang-orang yang ingin menjemput keberkahan. Aku masih sibuk mencatat data asnaf ketika seorang pria paruh baya dengan pakaian lusuh masuk dengan langkah ragu. Di tangannya tergenggam karpet tua yang digulung rapi.
“Permisi, Nak. Apa di sini menerima zakat mal dalam bentuk barang berharga?” tanyanya lirih.
Aku segera bangkit dan menyambutnya dengan senyum hangat.
“Biasanya dalam bentuk uang atau beras, Pak. Tapi silakan duduk dulu. Mungkin saya bisa bantu.”
Pria itu memperkenalkan diri sebagai Pak Salim. Dengan suara bergetar, ia bercerita bahwa ia ingin berzakat, tetapi tidak memiliki uang tunai. Upahnya sebagai buruh panggul habis untuk pengobatan istrinya yang sakit menahun. Satu-satunya yang ia miliki hanyalah karpet peninggalan orang tuanya yang masih layak jual.
“Saya malu, Nak. Tapi saya ingin merasakan nikmatnya memberi di akhir Ramadan ini. Hanya ini harta berharga yang saya punya,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Aku tertegun. Di saat aku merasa sudah banyak berkorban dengan sisa tabunganku tempo hari, Pak Salim justru ingin memberikan harta terakhirnya. Pemandangan itu seakan menyadarkanku tentang arti ketulusan yang sebenarnya.
“Pak Salim, simpan saja karpet ini. Niat Bapak sudah Allah catat,” kataku pelan.
Tanpa ragu, kuambil sebagian isi amplop pemberian Pak Haji beberapa hari lalu dan kumasukkan ke dalam kotak zakat atas nama Pak Salim.
Pak Salim menatapku penuh keheranan.
“Kenapa kamu melakukan ini, Nak?”
Aku tersenyum.
“Pak, Rasulullah pernah bersabda, ‘Sedekah tidak akan mengurangi harta. Allah akan menambah kemuliaan bagi orang yang memberi maaf, dan mengangkat derajat orang yang merendahkan diri karena-Nya.'”
Pak Salim memelukku erat. Isaknya pecah, diiringi doa-doa tulus yang meluncur dari bibirnya. Doa yang terasa begitu dalam, seolah menembus langit.
Dua malam berlalu dengan cepat.
Akhirnya, senja terakhir Ramadan pun tiba. Matahari perlahan tenggelam, meninggalkan semburat jingga di langit. Dari menara masjid, suara bedug mulai terdengar, disusul gema takbir yang menggetarkan hati.
“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…”
Dadaku bergetar. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh juga.
Di tengah gema takbir, Pak Haji menghampiriku di serambi masjid. Ia menepuk bahuku dan menatapku dalam.
“Rendra, kerja kerasmu selama sepuluh hari ini luar biasa. Semua rapi dan transparan. Tapi yang paling saya ingat adalah caramu melayani orang, seperti Pak Salim waktu itu.”
“Alhamdulillah, semua berkat bimbingan Bapak,” jawabku pelan.
Pak Haji kemudian duduk di sampingku.
“Begini, Nak. Saya memiliki yayasan sosial dan unit usaha yang sedang berkembang. Saya membutuhkan seseorang yang bukan hanya mampu mengelola administrasi, tetapi juga memiliki kejujuran dan kepedulian. Setelah melihatmu, saya yakin kamu orangnya.”
Aku terdiam. Jantungku berdegup kencang. Tawaran ini terasa seperti jawaban atas segala kegelisahan yang pernah kurasakan.
“Pak Haji serius? Saya merasa masih banyak kekurangan,” ucapku ragu.
Pak Haji tersenyum.
“Allah yang memantaskanmu, Nak. Terimalah. Mulai setelah lebaran nanti, kamu bisa bergabung dengan kami.”
Tenggorokanku tercekat. Rasa syukur memenuhi dada.
Aku teringat firman Allah,
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
(QS. At-Talaq: 2–3)
Malam semakin larut, tetapi semangat di masjid justru semakin terasa hangat. Pak Haji menyerahkan sebuah bungkusan berisi bingkisan lebaran dan sisa upah yang dijanjikannya.
“Terima kasih, Rendra. Besok adalah hari kemenangan. Rayakan bersama keluargamu dengan hati yang lapang,” ujarnya tulus.
Dalam perjalanan menuju kontrakan, gema takbir terus bersahutan di langit malam. Aku menengadah dan berbisik pelan,
“Terima kasih, ya Allah, atas cahaya di sepuluh malam terakhir ini.”
Esok, matahari Syawal akan terbit, membawa harapan baru. Dan aku kini benar-benar percaya, pertolongan Allah selalu datang, bahkan dari arah yang tidak pernah kita sangka.
Penulis: Hida
Editor: Frida



