Di Tengah Sunyinya Kampus Ketika Kawan Ditahan dan Gerakan Kehilangan Arah

0
51 views

Tulisan yang dikirim oleh Syahid – Program Studi Hukum Tata Negara

Selasa, 14 April 2026, menjadi penanda penting bagi wajah gerakan mahasiswa UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Sidang perdana terhadap tiga mahasiswa yang sebelumnya ditahan telah berlangsung. Ini bukan sekadar peristiwa hukum, tetapi juga ujian nyata bagi solidaritas mahasiswa.

Kampus hari ini tampak berjalan seperti biasa. Aktivitas akademik tetap berlangsung, ruang kelas tetap terisi, dan sebagian besar mahasiswa menjalani rutinitasnya. Namun, ketenangan itu tidak bisa dibaca sebagai keadaan yang baik-baik saja. Di balik situasi yang terlihat normal, sebagian mahasiswa tetap bergerak mengawal isu, menyuarakan dukungan, dan menjaga solidaritas bagi kawan-kawan yang menghadapi proses hukum. Sayangnya, gerakan itu masih berjalan sendiri-sendiri dan belum menjadi kekuatan bersama. Akibatnya, banyak mahasiswa belum memahami persoalan secara utuh. Ada yang diam, belum tergerak, atau tidak merasa ini sebagai tanggung jawab bersama. Di titik ini, persoalan utama muncul: bukan ketiadaan gerakan, melainkan hilangnya daya himpun.

Kondisi ini tidak lepas dari mandeknya organisasi mahasiswa internal. Hingga kini, struktur eksekutif dan legislatif belum terbentuk melalui proses pemilihan yang sah. Akibatnya, organisasi internal kampus saat ini belum memiliki legitimasi dan daya gerak yang cukup kuat dalam mengonsolidasikan gerakan mahasiswa. Tidak ada arah yang tegas maupun komando yang mampu menyatukan langkah. Ketiadaan kepemimpinan definitif membuat gerakan berjalan tanpa pusat; konsolidasi melemah, koordinasi terputus, dan gerakan kolektif terfragmentasi. Masing-masing bergerak sendiri tanpa kekuatan yang cukup untuk memberi tekanan, terutama dalam mengawal tiga mahasiswa yang sedang menjalani proses hukum.

Dalam situasi ini, solidaritas seharusnya menjadi garis depan gerakan mahasiswa. Namun, yang terlihat belum maksimal, bukan karena tidak peduli, melainkan karena tidak terorganisir.

Situasi semakin diperparah oleh fokus mahasiswa yang terpecah. Energi gerakan terseret ke berbagai kepentingan, termasuk dinamika internal seperti pemilihan mahasiswa yang tak kunjung selesai. Akibatnya, fokus terhadap isu utama melemah. Padahal, penangkapan mahasiswa seharusnya menjadi refleksi keras bagi gerakan itu sendiri. Demonstrasi memang bagian dari tradisi perjuangan mahasiswa dan ruangnya dijamin, tetapi pelaksanaannya tidak pernah sederhana. Tanpa kesiapan dan kontrol yang matang, aksi mudah kehilangan arah dan menjauh dari substansi. Meski begitu, persoalan teknis di lapangan tidak boleh dijadikan alasan untuk menjauh dari solidaritas. Di sinilah gerakan mahasiswa diuji: tetap sebagai kekuatan kolektif atau tercerai-berai dalam kepentingan masing-masing.

Hari ini, yang dibutuhkan bukan sekadar diskusi atau pernyataan sikap, melainkan konsolidasi nyata. Mahasiswa harus menyatukan barisan untuk mengawal proses hukum yang berjalan. Pendampingan, advokasi, dan penyebaran informasi tidak bisa lagi setengah-setengah. Di saat yang sama, penyelesaian pemilihan mahasiswa tidak boleh terus berlarut. Regenerasi kepemimpinan bukan sekadar agenda formal, tetapi fondasi untuk menghidupkan kembali arah gerakan yang mulai kehilangan pijakan.

Kampus boleh terlihat tenang, tetapi ketenangan itu berpotensi menutup kepekaan. Ketika ada kawan yang menghadapi proses hukum dan organisasi belum berjalan sebagaimana mestinya, diam bukan lagi sikap netral, melainkan bagian dari masalah. Hari ini, keberpihakan diuji, tetap nyaman dalam situasi semu atau berani berdiri bersama dalam solidaritas.