Tulisan yang dikirim oleh Ize – Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam
Ada sesuatu yang selama ini terasa janggal di tubuh Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) AFI (Aqidah dan Filsafat Islam). Hal ini mungkin dianggap biasa oleh sebagian pihak, tetapi bagi kami justru menjadi tanda bahwa arah organisasi perlahan mengalami pergeseran, terutama dalam hal independensi.
Dalam tiga tahun terakhir, estafet kepemimpinan HMPS AFI tampak berjalan dalam pola yang berulang. Nama boleh berganti, periode boleh berakhir, tetapi pengaruh yang muncul terlihat masih berkaitan dengan kelompok yang sama, yang sering diidentikkan dengan partai kampus.
Kami, angkatan 2024, sejak awal mencoba menawarkan pendekatan yang berbeda. Sebuah gagasan sederhana bahwa HMPS seharusnya kembali menjadi ruang bersama bagi seluruh mahasiswa, bukan menjadi wadah yang terkesan dekat dengan kepentingan kelompok tertentu. Kami berharap kepemimpinan dapat lahir dari kesadaran internal keluarga besar AFI, dengan meminimalkan keterlibatan pihak-pihak di luar struktur organisasi.
Atas dasar itu, kami sepakat menempuh jalan aklamasi. Bukan karena menghindari proses demokrasi, melainkan sebagai upaya menjaga kesepakatan bersama serta meminimalkan potensi konflik yang sejak awal dirasakan memiliki kepentingan lain. Kami percaya bahwa, melalui cara ini, HMPS berpeluang dipimpin oleh sosok yang benar-benar merepresentasikan keluarga AFI secara utuh.
Namun, keputusan tersebut tidak dapat dilanjutkan.
Alasan yang disampaikan bersifat administratif dan berkaitan dengan mekanisme yang berlaku. Meski demikian, kami melihat bahwa persoalan ini tidak semata terletak pada aspek prosedural, tetapi juga berkaitan dengan dinamika yang lebih luas, dalam proses penentuan kepemimpinan.
Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah latar belakang calon yang kami dorong, yang tidak memiliki keterkaitan dengan partai kampus. Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana independensi, dalam proses tersebut dapat terjaga.
Pada titik ini, kami melihat adanya kecenderungan pola yang berulang dalam dinamika organisasi. Independensi yang diharapkan hadir dalam tubuh HMPS, justru terasa belum sepenuhnya terwujud. Mahasiswa yang berupaya menjaga netralitas organisasi pun, kerap berada pada posisi yang tidak mudah.
Tulisan ini tidak dilandasi oleh kebencian, melainkan oleh kepedulian terhadap keluarga besar HMPS AFI. Ini adalah bentuk kegelisahan dari kami yang masih meyakini bahwa, organisasi mahasiswa seharusnya menjadi ruang belajar dan bertumbuh bersama, bukan sekadar arena tarik-menarik pengaruh.
Harapan kami sederhana: HMPS dapat kembali menjadi milik seluruh mahasiswa AFI, serta berjalan dengan prinsip independensi yang lebih kuat dan inklusif.



