Jalan Rusak Parah di Cimanuk dan Patia, Warga Mendesak Pembangunan Segera

0
27 views
Foto: Jalan Rusak Di kecamatan Cimanuk dan Patia. 18/11/2025 - 28/11/2025 (Ibon)

Penulis: Ibon – UKM Tikom STKIP Syekh Mansyur

Pandeglang — Kondisi jalan kabupaten di Kecamatan Cimanuk dan Patia, Kabupaten  Pandeglang, masih menjadi persoalan serius bagi masyarakat. Puluhan kilometer ruas  jalan dilaporkan mengalami kerusakan berat, berlubang, licin, dan tidak layak dilalui.  Kerusakan yang telah berlangsung bertahun-tahun ini tidak hanya menghambat mobilitas  warga, tetapi juga berdampak langsung pada keselamatan, ekonomi, pendidikan, dan  akses layanan kesehatan. 

Pantauan di lapangan menunjukkan sejumlah ruas jalan dipenuhi lubang dengan  permukaan tanah dan batu yang mudah lepas, terutama saat musim hujan. Kondisi  tersebut membuat jalan licin dan rawan kecelakaan bagi pengendara roda dua maupun  roda empat. Menurut Warga, kerusakan jalan semakin parah ketika hujan turun  karena genangan air menutup lubang dan membuat permukaan jalan tidak terlihat. 

ibon

Foto: Wawancara Bersama Iwan Warga Pria Desa Kadodol kecamatan Cimanuk 18/11/2025 (Ibon)

Iwan (40), warga Desa Kadudodol, Kecamatan Cimanuk mengatakan, kondisi  jalan di wilayahnya sudah lama dikeluhkan masyarakat. Menurutnya, kerusakan jalan  sangat membahayakan pengguna jalan, terutama saat hujan deras. 

“Kalau hujan, jalan licin dan penuh lubang. Mau ke pasar saja susah. Banyak kendaraan  tergelincir karena batu-batunya lepas dan tanahnya lembek,” kata Iwan saat ditemui di  bengkel tempatnya bekerja, Sabtu, 18 November 2025. 

Iwan menambahkan, kerusakan jalan berdampak langsung pada pendapatan  masyarakat. Sebagian besar warga Kadudodol menggantungkan hidup dari sektor  pertanian, namun hasil panen kerap sulit dijual karena akses jalan yang buruk. 

“Harga sayur atau buah kadang turun 20 sampai 30 persen karena pembeli enggan  masuk ke desa. Aksesnya susah dan berisiko,” ujarnya. 

Selain mempengaruhi ekonomi, kondisi jalan juga berdampak pada aktivitas harian warga.  Waktu tempuh dari desa menuju pusat kecamatan atau pasar menjadi lebih lama, terutama saat hujan deras. Hal tersebut membuat aktivitas masyarakat terhambat dan  biaya transportasi meningkat. 

Jalan Kadodol

Foto: Jalan Rusak Di  Desa Kadodol kecamatan Cimanuk 18/11/2025 (Ibon)

Keluhan serupa disampaikan Maskur (50), warga Desa Kadudodol lainnya. Ia menilai  perbaikan jalan yang dilakukan selama ini belum menyentuh akar persoalan karena  hanya bersifat sementara. 

“Perbaikan yang ada cuma tambal sulam. Setelah hujan, rusak lagi. Jalan makin licin dan  rawan kecelakaan. Pemerintah desa ingin membantu, tapi anggarannya terbatas. Yang  kami butuhkan perbaikan total, bukan perbaikan sebagian,” katanya. 

Ibon1

Foto: Wawancara Bersama Maskur Warga Pria Desa Kadodol kecamatan Cimanuk 18/11/2025 (Ibon)

Menurut Maskur, kondisi jalan yang rusak juga berdampak pada keselamatan anak-anak  sekolah dan warga lanjut usia yang setiap hari melintasi jalan tersebut. Ia berharap  pemerintah kabupaten dapat segera mengambil langkah konkret untuk melakukan  pembangunan menyeluruh. 

Keluhan Warga Perempuan di Patia 

Ibon2

Foto: Wawancara Bersama Jannah Warga Desa Simpangtiga kecamatan Patia 28/11/2025 (Ibon)

Di Kecamatan Patia, keluhan serupa juga banyak disampaikan oleh warga, khususnya  perempuan yang setiap hari bergantung pada akses jalan untuk memenuhi kebutuhan  keluarga. Jannah (40), seorang ibu rumah tangga asal Desa Simpang Tiga, mengaku  harus melewati jalan rusak hampir setiap hari untuk berbelanja ke pasar dan mengantar  anak ke sekolah. 

“Kalau hujan, jalannya licin dan sangat berbahaya. Banyak yang terpeleset karena  lubangnya dalam. Kami sering khawatir kalau harus lewat,” ujarnya. 

Warga perempuan lainnya, Imas, menyoroti dampak jalan rusak terhadap akses layanan  kesehatan. Menurutnya, kondisi jalan yang parah sangat menyulitkan warga ketika  membutuhkan pertolongan medis dengan segera. 

“Yang paling kami khawatirkan itu kalau ada ibu hamil atau orang sakit yang harus dibawa  ke puskesmas. Jalan rusak seperti ini bisa menghambat penanganan,” katanya.

Respon Pemerintah Desa 

Kepala Desa Kadudodol, Ahmad Ripai, membenarkan bahwa kondisi jalan di wilayahnya  sangat memprihatinkan. Ia mengatakan, warga bersama pemerintah desa telah  berupaya melakukan perbaikan secara swadaya untuk mengurangi risiko kecelakaan. 

“Warga sudah berinisiatif menyumbang sirtu dan tenaga untuk memperbaiki sebagian  ruas jalan. Tapi kerusakannya panjang dan tidak bisa diselesaikan hanya dengan  swadaya,” ujarnya. 

Ibon3

Foto: Wawancara Bersama Rilai Kepala Desa Kadodol kecamatan Cimanuk 18/11/2025 (Ibon)

Menurut Ripai, ruas jalan tersebut merupakan akses vital bagi masyarakat karena  menghubungkan desa dengan sekolah, puskesmas pembantu, dan pusat aktivitas  ekonomi. Ia berharap pemerintah kabupaten dapat segera memberikan perhatian serius  terhadap kondisi tersebut. 

Ibon4

Foto: Wawancara Bersama Yudi Suryadi Prangkat Desa Simpangtiga kecamatan Patia 28/11/2025 (Ibon)

Di Kecamatan Patia, perangkat Desa Simpang Tiga, Yudi Suryadi, menyampaikan  bahwa sejak desa tersebut berdiri pada 2012, pembangunan jalan kabupaten belum  pernah dilakukan secara maksimal. 

“Jalan rusak parah sejak awal. Ini akses utama ke pasar, ke Panimbang, dan ke Labuan.  Tapi sampai sekarang belum pernah ada pembangunan dari kabupaten,” kata Yudi. 

Ia menambahkan, kerusakan jalan membuat distribusi hasil pertanian warga menjadi  sulit. Kondisi tersebut berdampak langsung pada kesejahteraan petani. 

“Pembeli sering menawar murah karena akses susah. Petani rugi besar,” ujarnya. 

Keterangan Kecamatan 

Ibon5

Foto: Wawancara Bersama Ahmad Rifai,i, camat kecamatan Cimanuk 18/11/2025 (Ibon)

Camat Cimanuk, Ahmad Rifa’i (55), menjelaskan bahwa masih terdapat sekitar 17  kilometer jalan kabupaten di wilayahnya yang belum terbangun. Ruas tersebut antara  lain Jalan Batu Bantar menuju Kecamatan Banjar di Desa Kadudodol, Jalan Cibuntuk– Cipucang sepanjang lebih dari 4 kilometer, serta jalan dari Rocek menuju Kecamatan  Kaduhejo.

“Perencanaan sudah ada dan survei dari PUPR juga sudah dilakukan. Namun,  pembangunan tertunda karena adanya efisiensi anggaran dari pemerintah pusat,”  katanya. 

Ibon6

Foto: Wawancara Bersama Atang, sekretaris Camat kecamatan Cimanuk  (Ibon)

Sekretaris Camat Patia, Atang, menambahkan bahwa banyak ruas jalan kabupaten di  wilayah Patia belum tersentuh perbaikan. Menurutnya, pemerintah desa tidak berani  menganggarkan perbaikan karena status jalan merupakan kewenangan pemerintah  kabupaten. 

“Pemerintah desa sebenarnya ingin membangun, tapi status jalan milik kabupaten  membuat desa tidak berani menganggarkan. Selain itu, Patia juga rawan banjir sehingga  kerusakan jalan semakin parah setiap musim hujan,” ujarnya. 

Data dan Penjelasan dari PUPR Pandeglang 

Untuk memastikan kondisi tersebut, Tim Liputan Tikom juga melakukan penelusuran terhadap dokumen resmi Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Pandeglang. Berdasarkan hasil wawancara dan penelusuran dokumen, perencanaan perbaikan ruas ruas jalan kabupaten telah melalui proses pendataan dan pengusulan teknis. Data  tersebut tercantum dalam Dokumen Data Dasar Prasarana Jalan (DD-1) Tahun 2025 milik PUPR Kabupaten Pandeglang. 

Dalam dokumen DD-1 Tahun 2025, seluruh ruas jalan yang tercantum berstatus jalan  kabupaten. Dokumen tersebut memuat data teknis meliputi nama ruas jalan, kecamatan  yang dilalui, panjang ruas berdasarkan data administrasi dan hasil survei lapangan, lebar  jalan, jenis perkerasan, serta kondisi jalan berdasarkan penilaian teknis. Data ini menjadi  dasar bagi pemerintah daerah dalam menyusun perencanaan dan pengusulan anggaran  perbaikan jalan. 

Hasil penelusuran dokumen menunjukkan bahwa sejumlah ruas jalan kabupaten di  Pandeglang masih berada dalam kondisi belum optimal dan telah masuk dalam daftar  pendataan serta usulan penanganan. Namun demikian, meskipun data teknis dan survei 

lapangan telah tersedia secara tertulis, pelaksanaan perbaikan belum dapat  direalisasikan pada tahun anggaran berjalan. 

Ibon7

Foto: Wawancara Bersama Yudi Pramono Fungsional Bina Marga PUPR Pandeglang 25/11/2025 (Ibon)

Fungsional Bina Marga PUPR Kabupaten Pandeglang, Yudi Pramono, menjelaskan  bahwa total panjang jalan kabupaten di Pandeglang mencapai sekitar 700 kilometer,  dengan sekitar 60–70 persen berada dalam kondisi baik hingga sedang. 

“Penentuan prioritas perbaikan jalan dilakukan berdasarkan kondisi kerusakan di  lapangan dan usulan dari desa serta kecamatan,” ujarnya. 

Menurut Yudi, usulan perbaikan dari desa dan kecamatan, termasuk untuk wilayah  Cimanuk dan Patia, telah diajukan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK). Namun,  realisasinya belum dapat dilakukan. 

“Usulan perbaikan sudah masuk melalui DAK. DAK jalan untuk Pandeglang sekitar Rp17  miliar, tapi belum semuanya diterima karena adanya efisiensi anggaran dari pemerintah  pusat,” kata Yudi. 

Ia menegaskan bahwa kapasitas fiskal Kabupaten Pandeglang berada pada level  terbawah di Provinsi Banten. Kondisi tersebut membuat pemerintah kabupaten  mengalami keterbatasan dalam merealisasikan pembangunan infrastruktur jika hanya  mengandalkan APBD. 

“Kalau hanya mengandalkan APBD kabupaten, banyak pembangunan tidak bisa  dijalankan, termasuk perbaikan jalan yang menjadi prioritas,” katanya. 

Yudi juga menjelaskan bahwa ruas jalan yang rusak di Cimanuk dan Patia merupakan  jalan kabupaten, sehingga tanggung jawab pemeliharaan dan pembangunannya berada  di tangan pemerintah kabupaten. 

“Jalan yang kami tangani di Cimanuk dan Patia sepenuhnya kewenangan kabupaten.  Kendala utama kami saat ini adalah anggaran dan kemampuan fiskal daerah,” jelasnya.

Selain itu, pihak PUPR Kabupaten Pandeglang menyebutkan rencana alokasi anggaran  perbaikan jalan dari pemerintah pusat yang semula diperkirakan mencapai sekitar Rp60  miliar ditarik kembali sebagai bagian dari kebijakan efisiensi anggaran nasional. Kondisi  tersebut berdampak langsung pada tertundanya sejumlah rencana perbaikan jalan di  daerah. 

Dampak dan Harapan Warga 

Jalan Rusak1

Foto:  Jalan Rusak kecamatan Patia Kabupaten Pandeglang 28/11/2025 (Ibon)

Kerusakan jalan berdampak langsung pada berbagai aspek kehidupan warga, mulai dari  keselamatan hingga pelayanan dasar. Warga melaporkan adanya kecelakaan ringan  hingga sedang akibat jalan licin dan berlubang, meskipun belum ada data resmi yang  tercatat. 

Selain itu, sektor ekonomi terdampak karena distribusi hasil pertanian terhambat dan  harga jual menurun. Anak-anak juga kesulitan menuju sekolah karena akses jalan tidak  aman, sementara layanan kesehatan terganggu ketika warga membutuhkan  penanganan cepat. 

“Kami hanya berharap ada perbaikan menyeluruh. Jalan yang layak akan sangat  membantu ekonomi, pendidikan, dan kesehatan warga,” kata Iwan. 

Jannah menambahkan, “Kami ingin merasakan jalan yang layak dan aman seperti  daerah lain.” 

Kerusakan jalan di Cimanuk dan Patia bukan hanya persoalan teknis, tetapi menyangkut  kualitas hidup masyarakat. Keterbatasan anggaran dan kebijakan efisiensi dari pusat  menjadi kendala utama pemerintah daerah. Meski demikian, warga berharap pemerintah  kabupaten dapat segera memberikan perhatian serius agar aksesibilitas, keselamatan,  dan produktivitas ekonomi masyarakat tidak terus terhambat.

Reporter: Ibon