Penulis: Ibon – UKM Tikom STKIP Syekh Mansyur
Pandeglang — Kondisi jalan kabupaten di Kecamatan Cimanuk dan Patia, Kabupaten Pandeglang, masih menjadi persoalan serius bagi masyarakat. Puluhan kilometer ruas jalan dilaporkan mengalami kerusakan berat, berlubang, licin, dan tidak layak dilalui. Kerusakan yang telah berlangsung bertahun-tahun ini tidak hanya menghambat mobilitas warga, tetapi juga berdampak langsung pada keselamatan, ekonomi, pendidikan, dan akses layanan kesehatan.
Pantauan di lapangan menunjukkan sejumlah ruas jalan dipenuhi lubang dengan permukaan tanah dan batu yang mudah lepas, terutama saat musim hujan. Kondisi tersebut membuat jalan licin dan rawan kecelakaan bagi pengendara roda dua maupun roda empat. Menurut Warga, kerusakan jalan semakin parah ketika hujan turun karena genangan air menutup lubang dan membuat permukaan jalan tidak terlihat.

Foto: Wawancara Bersama Iwan Warga Pria Desa Kadodol kecamatan Cimanuk 18/11/2025 (Ibon)
Iwan (40), warga Desa Kadudodol, Kecamatan Cimanuk mengatakan, kondisi jalan di wilayahnya sudah lama dikeluhkan masyarakat. Menurutnya, kerusakan jalan sangat membahayakan pengguna jalan, terutama saat hujan deras.
“Kalau hujan, jalan licin dan penuh lubang. Mau ke pasar saja susah. Banyak kendaraan tergelincir karena batu-batunya lepas dan tanahnya lembek,” kata Iwan saat ditemui di bengkel tempatnya bekerja, Sabtu, 18 November 2025.
Iwan menambahkan, kerusakan jalan berdampak langsung pada pendapatan masyarakat. Sebagian besar warga Kadudodol menggantungkan hidup dari sektor pertanian, namun hasil panen kerap sulit dijual karena akses jalan yang buruk.
“Harga sayur atau buah kadang turun 20 sampai 30 persen karena pembeli enggan masuk ke desa. Aksesnya susah dan berisiko,” ujarnya.
Selain mempengaruhi ekonomi, kondisi jalan juga berdampak pada aktivitas harian warga. Waktu tempuh dari desa menuju pusat kecamatan atau pasar menjadi lebih lama, terutama saat hujan deras. Hal tersebut membuat aktivitas masyarakat terhambat dan biaya transportasi meningkat.

Foto: Jalan Rusak Di Desa Kadodol kecamatan Cimanuk 18/11/2025 (Ibon)
Keluhan serupa disampaikan Maskur (50), warga Desa Kadudodol lainnya. Ia menilai perbaikan jalan yang dilakukan selama ini belum menyentuh akar persoalan karena hanya bersifat sementara.
“Perbaikan yang ada cuma tambal sulam. Setelah hujan, rusak lagi. Jalan makin licin dan rawan kecelakaan. Pemerintah desa ingin membantu, tapi anggarannya terbatas. Yang kami butuhkan perbaikan total, bukan perbaikan sebagian,” katanya.

Foto: Wawancara Bersama Maskur Warga Pria Desa Kadodol kecamatan Cimanuk 18/11/2025 (Ibon)
Menurut Maskur, kondisi jalan yang rusak juga berdampak pada keselamatan anak-anak sekolah dan warga lanjut usia yang setiap hari melintasi jalan tersebut. Ia berharap pemerintah kabupaten dapat segera mengambil langkah konkret untuk melakukan pembangunan menyeluruh.
Keluhan Warga Perempuan di Patia

Foto: Wawancara Bersama Jannah Warga Desa Simpangtiga kecamatan Patia 28/11/2025 (Ibon)
Di Kecamatan Patia, keluhan serupa juga banyak disampaikan oleh warga, khususnya perempuan yang setiap hari bergantung pada akses jalan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Jannah (40), seorang ibu rumah tangga asal Desa Simpang Tiga, mengaku harus melewati jalan rusak hampir setiap hari untuk berbelanja ke pasar dan mengantar anak ke sekolah.
“Kalau hujan, jalannya licin dan sangat berbahaya. Banyak yang terpeleset karena lubangnya dalam. Kami sering khawatir kalau harus lewat,” ujarnya.
Warga perempuan lainnya, Imas, menyoroti dampak jalan rusak terhadap akses layanan kesehatan. Menurutnya, kondisi jalan yang parah sangat menyulitkan warga ketika membutuhkan pertolongan medis dengan segera.
“Yang paling kami khawatirkan itu kalau ada ibu hamil atau orang sakit yang harus dibawa ke puskesmas. Jalan rusak seperti ini bisa menghambat penanganan,” katanya.
Respon Pemerintah Desa
Kepala Desa Kadudodol, Ahmad Ripai, membenarkan bahwa kondisi jalan di wilayahnya sangat memprihatinkan. Ia mengatakan, warga bersama pemerintah desa telah berupaya melakukan perbaikan secara swadaya untuk mengurangi risiko kecelakaan.
“Warga sudah berinisiatif menyumbang sirtu dan tenaga untuk memperbaiki sebagian ruas jalan. Tapi kerusakannya panjang dan tidak bisa diselesaikan hanya dengan swadaya,” ujarnya.

Foto: Wawancara Bersama Rilai Kepala Desa Kadodol kecamatan Cimanuk 18/11/2025 (Ibon)
Menurut Ripai, ruas jalan tersebut merupakan akses vital bagi masyarakat karena menghubungkan desa dengan sekolah, puskesmas pembantu, dan pusat aktivitas ekonomi. Ia berharap pemerintah kabupaten dapat segera memberikan perhatian serius terhadap kondisi tersebut.

Foto: Wawancara Bersama Yudi Suryadi Prangkat Desa Simpangtiga kecamatan Patia 28/11/2025 (Ibon)
Di Kecamatan Patia, perangkat Desa Simpang Tiga, Yudi Suryadi, menyampaikan bahwa sejak desa tersebut berdiri pada 2012, pembangunan jalan kabupaten belum pernah dilakukan secara maksimal.
“Jalan rusak parah sejak awal. Ini akses utama ke pasar, ke Panimbang, dan ke Labuan. Tapi sampai sekarang belum pernah ada pembangunan dari kabupaten,” kata Yudi.
Ia menambahkan, kerusakan jalan membuat distribusi hasil pertanian warga menjadi sulit. Kondisi tersebut berdampak langsung pada kesejahteraan petani.
“Pembeli sering menawar murah karena akses susah. Petani rugi besar,” ujarnya.
Keterangan Kecamatan

Foto: Wawancara Bersama Ahmad Rifai,i, camat kecamatan Cimanuk 18/11/2025 (Ibon)
Camat Cimanuk, Ahmad Rifa’i (55), menjelaskan bahwa masih terdapat sekitar 17 kilometer jalan kabupaten di wilayahnya yang belum terbangun. Ruas tersebut antara lain Jalan Batu Bantar menuju Kecamatan Banjar di Desa Kadudodol, Jalan Cibuntuk– Cipucang sepanjang lebih dari 4 kilometer, serta jalan dari Rocek menuju Kecamatan Kaduhejo.
“Perencanaan sudah ada dan survei dari PUPR juga sudah dilakukan. Namun, pembangunan tertunda karena adanya efisiensi anggaran dari pemerintah pusat,” katanya.

Foto: Wawancara Bersama Atang, sekretaris Camat kecamatan Cimanuk (Ibon)
Sekretaris Camat Patia, Atang, menambahkan bahwa banyak ruas jalan kabupaten di wilayah Patia belum tersentuh perbaikan. Menurutnya, pemerintah desa tidak berani menganggarkan perbaikan karena status jalan merupakan kewenangan pemerintah kabupaten.
“Pemerintah desa sebenarnya ingin membangun, tapi status jalan milik kabupaten membuat desa tidak berani menganggarkan. Selain itu, Patia juga rawan banjir sehingga kerusakan jalan semakin parah setiap musim hujan,” ujarnya.
Data dan Penjelasan dari PUPR Pandeglang
Untuk memastikan kondisi tersebut, Tim Liputan Tikom juga melakukan penelusuran terhadap dokumen resmi Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Pandeglang. Berdasarkan hasil wawancara dan penelusuran dokumen, perencanaan perbaikan ruas ruas jalan kabupaten telah melalui proses pendataan dan pengusulan teknis. Data tersebut tercantum dalam Dokumen Data Dasar Prasarana Jalan (DD-1) Tahun 2025 milik PUPR Kabupaten Pandeglang.
Dalam dokumen DD-1 Tahun 2025, seluruh ruas jalan yang tercantum berstatus jalan kabupaten. Dokumen tersebut memuat data teknis meliputi nama ruas jalan, kecamatan yang dilalui, panjang ruas berdasarkan data administrasi dan hasil survei lapangan, lebar jalan, jenis perkerasan, serta kondisi jalan berdasarkan penilaian teknis. Data ini menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam menyusun perencanaan dan pengusulan anggaran perbaikan jalan.
Hasil penelusuran dokumen menunjukkan bahwa sejumlah ruas jalan kabupaten di Pandeglang masih berada dalam kondisi belum optimal dan telah masuk dalam daftar pendataan serta usulan penanganan. Namun demikian, meskipun data teknis dan survei
lapangan telah tersedia secara tertulis, pelaksanaan perbaikan belum dapat direalisasikan pada tahun anggaran berjalan.

Foto: Wawancara Bersama Yudi Pramono Fungsional Bina Marga PUPR Pandeglang 25/11/2025 (Ibon)
Fungsional Bina Marga PUPR Kabupaten Pandeglang, Yudi Pramono, menjelaskan bahwa total panjang jalan kabupaten di Pandeglang mencapai sekitar 700 kilometer, dengan sekitar 60–70 persen berada dalam kondisi baik hingga sedang.
“Penentuan prioritas perbaikan jalan dilakukan berdasarkan kondisi kerusakan di lapangan dan usulan dari desa serta kecamatan,” ujarnya.
Menurut Yudi, usulan perbaikan dari desa dan kecamatan, termasuk untuk wilayah Cimanuk dan Patia, telah diajukan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK). Namun, realisasinya belum dapat dilakukan.
“Usulan perbaikan sudah masuk melalui DAK. DAK jalan untuk Pandeglang sekitar Rp17 miliar, tapi belum semuanya diterima karena adanya efisiensi anggaran dari pemerintah pusat,” kata Yudi.
Ia menegaskan bahwa kapasitas fiskal Kabupaten Pandeglang berada pada level terbawah di Provinsi Banten. Kondisi tersebut membuat pemerintah kabupaten mengalami keterbatasan dalam merealisasikan pembangunan infrastruktur jika hanya mengandalkan APBD.
“Kalau hanya mengandalkan APBD kabupaten, banyak pembangunan tidak bisa dijalankan, termasuk perbaikan jalan yang menjadi prioritas,” katanya.
Yudi juga menjelaskan bahwa ruas jalan yang rusak di Cimanuk dan Patia merupakan jalan kabupaten, sehingga tanggung jawab pemeliharaan dan pembangunannya berada di tangan pemerintah kabupaten.
“Jalan yang kami tangani di Cimanuk dan Patia sepenuhnya kewenangan kabupaten. Kendala utama kami saat ini adalah anggaran dan kemampuan fiskal daerah,” jelasnya.
Selain itu, pihak PUPR Kabupaten Pandeglang menyebutkan rencana alokasi anggaran perbaikan jalan dari pemerintah pusat yang semula diperkirakan mencapai sekitar Rp60 miliar ditarik kembali sebagai bagian dari kebijakan efisiensi anggaran nasional. Kondisi tersebut berdampak langsung pada tertundanya sejumlah rencana perbaikan jalan di daerah.
Dampak dan Harapan Warga

Foto: Jalan Rusak kecamatan Patia Kabupaten Pandeglang 28/11/2025 (Ibon)
Kerusakan jalan berdampak langsung pada berbagai aspek kehidupan warga, mulai dari keselamatan hingga pelayanan dasar. Warga melaporkan adanya kecelakaan ringan hingga sedang akibat jalan licin dan berlubang, meskipun belum ada data resmi yang tercatat.
Selain itu, sektor ekonomi terdampak karena distribusi hasil pertanian terhambat dan harga jual menurun. Anak-anak juga kesulitan menuju sekolah karena akses jalan tidak aman, sementara layanan kesehatan terganggu ketika warga membutuhkan penanganan cepat.
“Kami hanya berharap ada perbaikan menyeluruh. Jalan yang layak akan sangat membantu ekonomi, pendidikan, dan kesehatan warga,” kata Iwan.
Jannah menambahkan, “Kami ingin merasakan jalan yang layak dan aman seperti daerah lain.”
Kerusakan jalan di Cimanuk dan Patia bukan hanya persoalan teknis, tetapi menyangkut kualitas hidup masyarakat. Keterbatasan anggaran dan kebijakan efisiensi dari pusat menjadi kendala utama pemerintah daerah. Meski demikian, warga berharap pemerintah kabupaten dapat segera memberikan perhatian serius agar aksesibilitas, keselamatan, dan produktivitas ekonomi masyarakat tidak terus terhambat.
Reporter: Ibon



