BerandaNarasi KritisKetimpangan yang Sering Terjadi Saat Perayaan Kemerdekaan

Ketimpangan yang Sering Terjadi Saat Perayaan Kemerdekaan

Ada pemandangan yang hampir selalu muncul setiap peringatan 17 Agustus. Peserta upacara berdiri berbaris di lapangan, berhadapan dengan matahari sejak rangkaian acara dimulai. Di sisi lain, sejumlah pejabat dan tamu undangan duduk di tempat yang lebih teduh, bahkan terkadang berada di dalam ruangan.

Pemandangan itu sebenarnya bukan hal baru. Sejak di bangku sekolah, hal serupa mudah ditemukan. Peserta berdiri di bawah panas, sementara orang-orang yang berada di posisi tertentu mendapatkan tempat yang lebih nyaman. Karena sudah terlalu sering terjadi, keadaan tersebut akhirnya dianggap hal yang biasa.

Tapi, mengapa hal tersebut selalu terjadi?

Tentu ada alasan teknis mengapa pejabat atau tamu undangan ditempatkan di tempat tertentu. Mereka bisa saja membutuhkan tempat duduk, memiliki tugas dalam rangkaian acara, atau memang ada pertimbangan lain dari panitia. Persoalannya bukan tentang siapa yang boleh duduk atau siapa yang harus berdiri. Yang perlu diperhatikan adalah pola yang terus berulang: posisi seseorang dalam struktur acara seolah ikut menentukan seberapa nyaman ia menjalani seremoni yang sama.

Di saat yang bersamaan, upacara 17 Agustus selalu membawa pesan tentang perjuangan, pengorbanan, persatuan, dan kemerdekaan. Pidato-pidato dibacakan untuk mengingat kembali orang-orang yang berjuang agar bangsa ini dapat merasakan kemerdekaan. Namun, pesan tersebut terasa janggal ketika dalam ruang yang sama masih terlihat perbedaan kenyamanan yang begitu jelas.

Indonesia menempatkan Pancasila sebagai dasar negara dan pedoman dalam kehidupan bersama. Nilai kemanusiaan, persatuan, serta keadilan sosial yang terkandung di dalamnya semestinya tidak berhenti sebagai materi pidato setiap peringatan kemerdekaan. Nilai tersebut perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam hal sederhana, seperti bagaimana sebuah upacara diselenggarakan dan bagaimana setiap orang yang hadir diperlakukan.

Tidak ada yang mempermasalahkan tempat teduh semata. Berdiri di bawah matahari selama beberapa jam juga bukan bentuk ketidakadilan terbesar yang ada di masyarakat. Namun hal kecil seperti ini tetap layak diperhatikan, karena dapat menunjukkan bagaimana sebuah kebiasaan memperlakukan orang berdasarkan posisi jabatan dianggap wajar. Ketika sesuatu terus dilakukan tanpa pernah dipertanyakan, lama-kelamaan perbedaan perlakuan tersebut menjadi bagian dari kebiasaan.

Bukan berarti semua orang harus berdiri di bawah matahari atau pejabat dan tamu undangan tidak boleh mendapatkan tempat yang nyaman. Kenyamanan tetap dapat diberikan sesuai kebutuhan dan tanggung jawab masing-masing. Namun, kenyamanan seharusnya tidak menjadi simbol yang semakin memperlebar jarak antara mereka yang memiliki jabatan dan peserta yang berdiri di lapangan.

Peringatan kemerdekaan semestinya menjadi kesempatan untuk memperlihatkan bahwa nilai perjuangan masih hidup dalam kehidupan hari ini. Upacara tetap berlangsung tertib tanpa menciptakan jarak yang menimbulkan ketimpangan. Setiap orang yang hadir juga berhak mendapatkan perlakuan yang layak, terlepas dari posisi dan jabatannya.

Pada akhirnya, upacara 17 Agustus bukan hanya tentang mengenang perjuangan para pendahulu, tetapi juga tentang bagaimana nilai yang diperjuangkan tersebut diteruskan. Jika Indonesia menjunjung tinggi Pancasila sebagai dasar kehidupan bernegara, maka nilai kemanusiaan, persatuan, dan keadilan sosial seharusnya tidak hanya terdengar dari podium. Nilai-nilai tersebut perlu terasa di lapangan, terutama cara kita memperlakukan satu sama lain.

Penulis: Indah
Editor: Ahmad

- Advertisment -
Jasa Iklan SiGMA

BACA JUGA