Serang, lpmsigma.com – Menteri Agama Republik Indonesia resmi membuka Kuliah Kerja Nyata (KUKERTA) Nusantara 2026 yang diikuti 45 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di Aula Auditorium Lantai 3 Gedung Rektorat Kampus 2 Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Rabu (15/7/2026).
Dalam sambutannya, Menteri Agama, Nasaruddin Umar mengatakan masyarakat modern perlu belajar dari masyarakat tradisional dalam menjaga hubungan yang harmonis dengan alam. Menurutnya, nilai-nilai yang masih dipertahankan masyarakat adat menjadi pelajaran penting di tengah perkembangan zaman.
“Sudah saatnya masyarakat modern itu meniru masyarakat tradisional. Dalam buku The Secret Nature karya Karen Armstrong dikutip bagaimana masyarakat Indonesia itu bersahabat dengan alam. Indonesia dulu tidak perlu mikroskop, laboratorium, fisika, kimia, atau penelitian yang mahal,” ujarnya.
Sementara itu, Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Ishom, menjelaskan pemilihan tema KUKERTA Nusantara tahun ini didasarkan pada nilai-nilai kehidupan masyarakat Baduy yang mampu menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan tradisi. Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi ruang belajar yang penting bagi mahasiswa selama menjalankan pengabdian.
“Kita sengaja memilih tema Merawat Ekoteologi karena pada dasarnya orang Baduy memiliki nilai-nilai ekoteologis yang luar biasa, yang nanti menjadi pembelajaran penting bagi mahasiswa,” ujarnya.
Kepala Pusat Moderasi Beragama LP2M UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Salim, menegaskan setiap kelompok tetap mengacu pada tema ekoteologi, tetapi program kerja yang disusun harus menyesuaikan kebutuhan masyarakat di desa masing-masing.
“Yang terpenting adalah peserta KKN memberikan kontribusi bagi masyarakat sesuai dengan kebutuhan mereka, bukan kebutuhan kita. Kehadiran mereka bukan hanya sekadar berada di tempat tersebut, tetapi juga ikut andil memberikan manfaat secara langsung,” katanya.
Salah satu peserta KUKERTA Nusantara asal UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Bayu, mengungkapkan kelompoknya telah menyiapkan konsep pengabdian menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) dan Asset Based Community Development (ABCD). Menurutnya, kedua metode tersebut akan memudahkan mahasiswa berbaur dengan masyarakat sekaligus mengidentifikasi potensi desa sehingga program yang dijalankan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
“Kami menggunakan dua metode utama, yaitu Participatory Action Research (PAR) dan Asset Based Community Development (ABCD). Melalui metode tersebut kami ingin lebih mudah berbaur dengan masyarakat sekaligus mengidentifikasi potensi desa, baik potensi sosial, wisata, maupun potensi lainnya. Jadi, program yang kami jalankan nantinya benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat,” tutupnya.
Reporter: Mg_Dzaki
Editor: Frida
