QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) adalah sistem pembayaran berbasis kode QR yang dikembangkan Bank Indonesia (BI) untuk memfasilitasi transaksi pembayaran di Indonesia.
Hasil penelitian menggunakan angket ini diisi oleh 153 mahasiswa UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Mayoritas berusia di bawah 20 tahun dan duduk di semester 2–3. Hasil menunjukkan bahwa QRIS telah menjadi metode transaksi utama di kalangan mahasiswa. Sebanyak 69,3% atau 106 responden mengaku selalu menggunakan QRIS setiap kali bertransaksi, dengan pemanfaatan terbesar untuk kebutuhan jajan/makan (83,7%), belanja daring (54,2%), tagihan/pulsa (33,3%), dan transportasi (27,5%).

Gambar 1. Frekuensi penggunaan QRIS dalam transaksi mahasiswa

Gambar 2. Penggunaan QRIS berdasarkan jenis transaksi
Persepsi terhadap Kemudahan dan Risiko Konsumtif
Kemudahan menjadi alasan dominan penggunaan QRIS, yaitu 70,6% responden setuju atau sangat setuju bahwa QRIS mempercepat transaksi mereka. Sebaliknya, indikasi risiko perilaku konsumtif tidak dominan hanya 34,6% yang merasa mudah tergoda membeli hal tidak perlu, dan hanya 26,8% yang merasa kesulitan mengontrol keuangan, sementara mayoritas jawaban pada kedua isu tersebut bersifat netral. Secara umum, 60,8% responden menilai QRIS memberi dampak positif bagi mereka sebagai mahasiswa.

Gambar 3. Distribusi persepsi mahasiswa terhadap QRIS
Risiko yang Dipersepsikan dan Strategi Pengendalian
Kesadaran atas risiko tetap ada, tercermin dari jawaban terbuka yang paling banyak menyebut perilaku boros/konsumtif (26,1%) dan kekhawatiran penipuan lewat kode QR (9,2%). Namun risiko ini tampak diimbangi oleh strategi kendali diri yang sudah diterapkan mahasiswa, seperti membedakan kebutuhan dan keinginan (16,3%), menetapkan batas pengeluaran (11,1%), serta rutin memeriksa riwayat transaksi (11,7%).
Kemudahan transaksi dipersepsikan mahasiswa jauh lebih kuat dibanding risiko perilaku konsumtif yang ditimbulkan QRIS. Risiko konsumtif memang diakui, tetapi belum dianggap sebagai ancaman serius karena diimbangi oleh kesadaran dan strategi pengendalian pengeluaran yang telah dibangun mahasiswa secara mandiri.
