Serang, lpmsigma.com – Berbulan-bulan berlalu, Koordinator Umum (Kordum) Forum Silaturahmi Organisasi Eksternal (FSOE) UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Alif, masih menjadi tahanan aparat kepolisian, pasca demonstrasi yang dilakukannya pada bulan Agustus lalu, Sabtu (14/03/26).
Tanpa alat komunikasi yang memadai, ia tetap memberikan kabar lewat secarik kertas, pada orang terdekat yang ia percayai.
Dalam surat yang ia tulis pada Rabu, 25 Februari 2026, dari balik jeruji dan ruang sempit yang gelap, Alif menuliskan harapan. Ia meyakini pikirannya tak bisa dibatasi.
“Segala perjalanan serta lika-liku yang sudah saya lalui, sampai hari ini Rabu 25 Februari 2026, saya menulis surat ini dari balik jeruji besi, ruang sempit dan gelap yang membatasi tubuh kami tetapi tidak pernah mampu membatasi pikiran dan keyakinan kami,” tulisnya pada sebuah kertas dengan pena yang diisi tinta penuh keyakinan.
Bulan terus berlalu, tanpa kabar dan penuh rindu, ia turut menuliskan pesan untuk kedua orang tua yang disayanginya. Pesan penuh maaf dituliskannya, karena mungkin tahun ini ia tidak merayakan idul fitri dengan orang tuanya.
“Untuk yang aku sayangi ayah ibu kabarnya gimana? Semoga selalu sehat dan baik ya, maaf Alif belum bisa pulang dan nanti belum bisa lebaran di rumah, ayah sama ibu sabar ya:),” tulisnya pada surat dan diakhiri sebuah emote icon senyum yang mungkin sebagai harapan, semoga ayah dan ibunya bisa tetap tersenyum membaca kabar darinya.
Selain itu, ia turut menginformasikan keadaan yang tengah ia alami saat ini. Keadaan yang pastinya tak pernah ia inginkan, namun harus ia lawan dengan fisik yang kuat meski batinnya seakan mulai semakin sesak.
“Alhamdulillah aku baik dari segi fisik, tapi batinku sangatlah sedih tidak bisa bercengkerama ria dengan kawan² apalagi orangtuaku. Disaat puasa mungkin sampai lebaran tiba, aku hanya ditemani sepi & gelap.
Tapi aku percaya, jeruji besi tidak akan pernah lebih kuat dari kebenaran dan aku penuh rasa tanya, apa iya kita bisa ditangkap karena mencintai negeri ini dan berharap kemanusiaan dan keadilan terwujud?,” ungkapnya pada secarik kertas dengan penuh tanya dan sepi yang menemani.
Pesan demi pesan ia sampaikan untuk kawan seperjuangannya, berharap agar mereka tidak berhenti menyuarakan yang dirasa benar, karena menurutnya suara-suara itu denyut terakhir yang sedang diuji.
“Kepada saudaraku kawan seperjuangan
Jangan pernah berhenti bersuara karena suara kalian denyut terakhir yang sedang diuji, jika suara itu dibungkam maka yang tersisa hanyalah ketakutan,” ungkapnya di balik jeruji.
Tibalah kita dipesan terakhir yang disampaikannya, pesan pilu dari ia yang kini masih mencari keadilan, dan tetap percaya dengan segala keteguhan.
“Di balik jeruji besi, tinta berubah menjadi darah dan air mata, merangkai manifesto tentang keteguhan yang tak kunjung usai,” tutupnya pada kertas yang ia tulis dengan penuh harap dan keteguhan.
Sebelumnya, Alif diamankan aparat kepolisian pada 27 Desember 2025 sekitar pukul 01.00 dini hari. Delapan anggota kepolisian dari Polresta Serang mendatangi kediamannya di Tangerang Selatan untuk meminta keterangan sebagai saksi. Namun sejak saat itu, ia tak kunjung kembali ke rumah hingga kini.
Reporter: Nabel
Editor: Indah



