Serang, lpmsigma.com – Pelemahan nilai tukar rupiah mulai menekan sektor riil dan pedagang kecil di tengah meningkatnya harga kebutuhan pokok serta melemahnya daya beli masyarakat, Kamis (21/05/26). Kondisi ini dirasakan pelaku usaha mikro dan konsumen rumah tangga, seiring lonjakan harga komoditas global yang memicu kebijakan moneter ketat.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), Ma’moen, menjelaskan bahwa kebijakan moneter tidak hanya memengaruhi pasar uang, tetapi juga pasar barang. Ketika rupiah melemah, masyarakat membutuhkan lebih banyak uang untuk memperoleh barang dan jasa, terutama dalam perdagangan impor.
“Kebijakan moneter berdampak pada pasar uang sekaligus pasar barang. Ketika nilai rupiah melemah, dibutuhkan lebih banyak uang untuk mendapatkan barang atau jasa, khususnya dalam konteks impor,” ujarnya saat diwawancarai, pada Selasa (19/05/26).
Ia menambahkan, lonjakan harga minyak dunia turut membebani impor Indonesia sehingga meningkatkan permintaan terhadap dolar AS. Kondisi tersebut mendorong penguatan dolar sekaligus melemahkan rupiah.
“Karena Indonesia masih mengimpor minyak, kenaikan harga membuat kebutuhan dolar meningkat. Permintaan dolar yang tinggi menyebabkan nilainya menguat, sementara rupiah melemah karena banyaknya dana keluar untuk impor,” katanya.
Menurutnya, kebijakan suku bunga tinggi yang diterapkan Bank Indonesia memang mampu menarik investasi berbasis rupiah di sektor moneter. Namun, di sisi lain, kebijakan tersebut berdampak kurang baik bagi sektor riil.
“Ketika suku bunga naik, masyarakat cenderung berinvestasi dalam rupiah. Secara makro, ini efektif di sektor moneter, tetapi di sektor riil dampaknya kurang baik,” jelasnya.
Di sisi lain, seorang pedagang sayur keliling, Euis, mengaku pelemahan rupiah yang diikuti kenaikan harga membuat daya beli masyarakat menurun.
“Iya, naiknya lumayan jauh. Nilai rupiah sekarang terasa besar, tapi tidak bisa membeli banyak. Ibu-ibu mengeluh karena kebutuhan banyak, sementara penghasilan tidak ada,” ungkapnya saat diwawancari, pada Rabu (21/05/26).
Ia juga menambahkan, meskipun harga tempe relatif stabil, para pengrajin mulai kesulitan karena kenaikan biaya produksi yang menekan keuntungan.
“Harga tempe masih stabil, tapi pengrajin kewalahan karena modal naik dan keuntungan menipis. Tempe juga tidak tahan lama, jadi kalau pembeli berkurang bisa terbuang,” tambahnya.
Ia berharap nilai rupiah dapat segera stabil, agar beban masyarakat berkurang dan lapangan pekerjaan lebih terbuka.
“Mudah-mudahan rupiah bisa stabil supaya orang tidak terus mengeluh dan bisa punya pekerjaan. Sekarang banyak yang menganggur, kebutuhan banyak tapi penghasilan tidak ada,” pungkasnya.
Reporter: Diroya
Editor: Frida



