Cerbung Edisi Ramadan
Bagian Dua: Rezeki Datang Berlipat Saat Tangan Terulur Membantu Sesama
Hari pertama Ramadan. Perutku terasa perih menahan lapar, tetapi kakiku tetap melangkah keluar rumah.
Di sebuah persimpangan, aku melihat Mak Siti kesusahan menarik gerobak nasi uduknya yang terperosok ke lubang kecil di pinggir jalan.
“Mari, Mak, saya bantu dorong,” ujarku sambil segera meraih sisi gerobaknya.
“Eh, Nak Rendra? Jangan, nanti bajumu kotor!” seru Mak Siti panik.
Aku tersenyum tipis. “Tidak apa-apa, Mak. Kebetulan lagi senggang. Satu, dua, tiga!”
Dengan sedikit tenaga, gerobak itu akhirnya terangkat keluar dari lubang. Mak Siti menghela napas lega sambil menyeka keringat di dahinya.
“Mak, saya pesan satu bungkus nasi uduk, ya.”
Wajah Mak Siti langsung berbinar. “Alhamdulillah, Nak. Sekali ini rezeki datang, yang lain kadang ikut menyusul tanpa diduga.” Ia membungkus nasi uduk hangat lalu menyerahkannya kepadaku. “Ini buat kamu. Gratis.”
Aku tersentak. “Wah, jangan, Mak. Saya bayar saja.”
Namun Mak Siti menggeleng. “Nak, ini juga rezeki dari Allah. Kamu sudah bantu saya, jadi ini untuk kamu.”
Aku akhirnya menerima bungkusan itu. “Baiklah, Mak. Terima kasih.”
Dengan hati yang terasa lebih ringan, aku melanjutkan langkah sambil menggenggam plastik nasi uduk yang masih hangat. Entah kenapa, rasanya hari ini sedikit berbeda.
Saat melewati depan masjid, pandanganku tertumbuk pada seorang anak kecil yang berdiri sambil memegang perutnya. Di sampingnya, setumpuk koran masih tersusun rapi, belum ada yang terjual.
Aku menghampirinya.
“Belum laku, Dek?” tanyaku ketika ia kembali menawarkan korannya.
Anak itu menggeleng lesu. “Sepi, Kak. Sekarang orang-orang baca berita di HP.”
“Namamu siapa?”
“Udin, Kak.”
“Kamu puasa?”
Ia mengangguk pelan. “Alhamdulillah puasa, Kak. Tapi bingung nanti buka pakai apa. Belum ada yang beli koran sama sekali.”
Aku terdiam sesaat, lalu membuka dompet dan mengeluarkan uang yang tersisa.
“Udin, berapa harga korannya?”
“Lima ribu, Kak.”
Aku menyerahkan uang sepuluh ribu. “Saya beli satu.”
Mata Udin langsung berbinar. “Wah, terima kasih, Kak! Ini kembaliannya.”
Aku menggeleng sambil menyodorkan nasi uduk dari Mak Siti.
“Tidak usah. Ini juga ada nasi uduk buat kamu. Semangat jualannya, ya.”
Udin menerimanya dengan wajah bahagia. “Terima kasih banyak, Kak! Semangat juga!”
Aku kembali melanjutkan perjalanan.
Tak jauh dari rumah, kulihat pemilik kontrakan, Bu Haji Mina, sedang mengomel di depan gerbang.
“Aduh, mana sudah mau buka puasa! Ini kunci kenapa tidak mau mutar!” keluhnya kesal.
Aku mendekat. “Boleh saya coba bantu, Bu Haji?”
“Oh, Rendra! Iya, tolongin. Suami saya lagi di luar kota.”
Aku memeriksa kunci gerbang yang macet itu dan memutarnya perlahan. Setelah beberapa kali dicoba, terdengar bunyi kecil. Klik. Gerbang akhirnya terbuka.
“Ya Allah, untung ada kamu, Ren! Terima kasih banyak, Nak,” kata Bu Haji lega. Ia lalu menatapku lebih dekat. “Ren, kamu pucat sekali. Kamu puasa?”
“Alhamdulillah, Bu, saya puasa,” jawabku sambil tersenyum.
“Tunggu sebentar!”
Bu Haji masuk ke dalam rumah, lalu kembali membawa sebuah rantang.
“Ini kolak pisang. Tadinya mau saya antar ke masjid, tapi karena kamu sudah bantu saya, ini buat kamu saja. Jangan ditolak, ini rezeki orang puasa.”
Aku terpaku sejenak. Hari ini aku hanya melakukan beberapa kebaikan kecil, tetapi Allah seakan membalasnya berkali-kali lipat lewat tangan-tangan yang tak terduga.
Ketika azan Magrib akhirnya berkumandang, aku berbuka dengan kolak pemberian Bu Haji.
Sambil menyantapnya, aku teringat sebuah hadis yang pernah ibu sampaikan kepadaku, “Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (Hadis Riwayat Muslim).
Malam itu, nasihat itu terasa begitu nyata.
Kini aku mulai percaya bahwa Allah tidak pernah membiarkan hamba-Nya berjalan sendirian.
Penulis: Hida
Editor: Frida



