Alif Muhamad Rifda, salah satu tahanan politik Kota Serang, pasca demonstrasi Agustus.
Di balik jeruji besi, cahaya yang selalu melambat masuk menumbuhkan cakrawala pemikiran. Biarlah surat saya menjadi jembatan yang merambat masuk, melintasi jeruji, dan sebagai detak jantung perjalanan yang dalam tiap baris kalimatnya tercermin kesaksian dari saya, masyarakat kecil yang memilih setia pada nurani meski harus dibayar dengan kebebasan.
Saya bukan tokoh atau yang ditokohkan, dan juga bukan seorang pahlawan. Saya hanya rakyat biasa, rakyat kecil yang tidak punya apa-apa, tidak punya kuasa ataupun harta berlimpah.
Rasanya tidak adil saya ditangkap, karena para pemerintah dan aparatlah yang membuat ulah melalui kebijakan pemerintah yang merugikan rakyat, sampai kesewenang-wenangan aparat melakukan kekerasan, bahkan sampai kematian. Berapa banyak pejabat yang terjerat kasus korupsi dengan nilai yang sangat fantastis, tetapi mereka kebal hukum.

Saya hanya masyarakat kecil yang mengikuti hati nurani dan melakukan aksi demonstrasi yang berujung ricuh, karena rasa marah dan muak terhadap pemerintah dan aparat. Karena itu, saya ditangkap.
Dan saya merasa tidak adil sekali. Mereka yang merampas hak rakyat, mereka yang membunuh rakyat, mereka yang memiskinkan rakyat, sedangkan saya dihukum karena melakukan protes terhadap kebejatan mereka. Saya merasa ini tidak sebanding dengan apa yang telah mereka perbuat.
Kawan, jangan takut dengan apa yang menimpa kami. Itu bisa menimpa kalian juga. Jika ketidakadilan terus dinormalisasi, maka teruslah bersolidaritas dan terus bersuara, bersuara tentang kebenaran.
Surat ini ditulis di hari Lebaran. Sedih yang sangat memuncak dan air mata yang terus berlinang di saat suara takbir terus bergema.



