Bubarkan Saja DEMA U dan SEMA U

0
183 views

Penulis ingin jujur sejak awal. Penulis sudah lelah mengikuti kabar DEMA U dan SEMA U yang belakangan ini lebih sering tidak terdengar sama sekali. Awalnya penulis mengira ketua Dema U ditinggalkan oleh sebagian besar anggotanya yang tengah sibuk sidang akhir. Namun, kabar yang beredar justru menyebutkan bahwa ketuanya pun ikut menjalani sidang. Entah mana yang benar, yang jelas hingga hari ini penulis tidak lagi melihat satu pun aktivitas, bahkan sekedar unggahan di WhatsApp, dalam tiga bulan terakhir.

DEMA U seolah menghilang tanpa pamit, yang sempat pamit justru admin instagramnya, yang sudah muak dengan ketuanya sendiri. Sementara itu, SEMA U memilih diam tanpa penjelasan. Sidang Umum entah di mana, Paripurna entah kapan, dan Pemilihan Umum Mahasiswa bahkan sudah tidak pantas disebut rencana. Lebih tepat jika disebut sebagai wacana yang dibicarakan di grup obrolan, lalu mati sebelum sempat dilahirkan. Di titik ini, penulis sampai bertanya-tanya, ini organisasi mahasiswa atau akun media sosial yang lupa kata sandinya?

Penulis ingin sekali husnudzon. Sungguh. Penulis bahkan sempat membela dalam hati. Mungkin mereka sedang sibuk, mungkin lagi menyusun sesuatu yang benar, mungkin sedang menyiapkan momentum yang tepat. Namun, husnudzon pun ada batasnya. Dan batas itu jebol ketika tidak ada satu pun penjelasan yang disampaikan ke publik mahasiswa. Tidak ada kabar, tidak ada klarifikasi, tidak ada tanda-tanda merasa perlu bertanggung jawab. Di titik ini, kecurigaan pun muncul, jangan-jangan DEMA U dan SEMA U memang lebih menarik sebagai tempat cari gengsi, jabatan, dan urusan anggaran, ketimbang sebagai ruang kerja dan pengabdian. Bisa jadi ini cuma prasangka penulis, tapi untuk tetap berbaik sangka pun penulis sudah kehabisan alasan.

Di tengah kejengkelan itu, penulis teringat satu momen yang kini terasa ironis. Saat pelantikan pengurus tahun lalu, di hadapan Rektor dan Wakil Rektor III, disampaikan bahwa secara administrasi dan keorganisasian, rapat kerja UKM seharusnya dilaksanakan setelah pelantikan agar sesuai dengan SK Rektor dan tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari. Kalimat itu dulu terdengar sebagai pegangan untuk setahun ke depan. Hari ini, rasanya hanya tinggal janji tanpa realisasi.

Akibatnya, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) seperti terkena ghosting. Mereka menunggu, menahan kegiatan dan menyesuaikan diri dengan aturan. Namun yang diterima bukan kepastian, melainkan penundaan demi penundaan. SK Rektor tak kunjung turun dan UKM diminta bersabar, seolah kesabaran adalah satu-satunya kompetensi yang wajib dimiliki mahasiswa organisasi.

Menunggu SEMA U bergerak itu rasanya seperti menunggu keong mati. Yang tersisa cuma cangkangnya, diam, kosong dan tidak bergerak ke mana-mana. Anehnya, cangkang itu tetap diletakkan di tengah jalan dan mahasiswa diminta untuk menunggu. Semester berganti, waktu terus berjalan, tapi mahasiswa justru diminta menyesuaikan diri dengan lembaga yang tak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Penulis sampai bingung, ini sedang menunggu proses atau sedang diajari untuk pasrah.

DEMA U pun tidak lebih membantu. Sebagai lembaga eksekutif mahasiswa tingkat universitas, keberadaannya lebih sering terdengar sebagai nama, bukan sebagai peran. Penulis tidak melihat langkah, tidak mendengar sikap, dan tidak merasakan kehadiran. Yang terasa justru kekosongan yang dibiarkan terlalu lama hingga akhirnya dianggap wajar.

Di kondisi seperti ini, penulis menilai pihak Akademik dan Kemahasiswaan tidak seharusnya ikut berlindung di balik alasan prosedural. Jika lembaga mahasiswa tidak berjalan, kampus semestinya turun tangan. Pelantikan UKM yang telah sah tidak perlu menunggu Pemilihan Umum Mau yang tidak jelas kapan ada. SK Rektor seharusnya jadi alat bantu administrasi, bukan justru menjadi penghambat aktivitas mahasiswa

Penulis tidak sedang membutuhkan simbol, tidak pula jargon demokrasi, apalagi struktur organisasi yang tampak rapi di atas kertas tapi kosong di lapangan. Penulis, dan mungkin banyak mahasiswa lainnya, hanya membutuhkan organisasi yang mau dan mampu bekerja. Dan selama DEMA U terus menghilang serta SEMA U terus memilih diam, maka menurut penulis, satu kalimat yang terasa paling jujur untuk disampaikan adalah bubarkan saja.

Penulis: Najib
Editor: Enjat