Beranda blog Halaman 11

Kuota Wisuda Penuh Lebih Cepat Dari yang Dijadwalkan

0

Serang, lpmsigma.com — Pendaftaran wisuda Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten, periode Desember 2025 ditutup lebih awal dari jadwal yang tercantum di laman resmi kampus. Semula pendaftaran dijadwalkan hingga 31 Oktober 2025, namun sistem sudah dinonaktifkan sebelum waktu tersebut karena kuota peserta telah terpenuhi Kamis, (30/09/25).

Riyadi, selaku bagian akademik rektorat, menjelaskan bahwa penutupan dilakukan karena jumlah pendaftar telah melebihi kapasitas yang disediakan.

“Dari awal edaran, kuota kita hanya 1.000 dan sekarang sudah lebih dari itu, jadi tidak bisa diterima lagi. Tempatnya juga harus mempertimbangkan kenyamanan. Idealnya hanya 750–800 peserta karena banyak orang tua yang ingin masuk ke lokasi wisuda,” jelasnya saat dikonfirmasi.

Ia menambahkan, penambahan kuota masih menunggu keputusan dari pihak rektor.

“Kecuali ada kebijakan rektor untuk menambah peserta, tapi risikonya orang tua tidak bisa ikut masuk karena keterbatasan tempat. Kami khawatir akan muncul gejolak kalau orang tua tidak diperbolehkan masuk,” tambahnya.

Namun, sejumlah mahasiswa menilai keputusan tersebut kurang transparan.
Wicak, mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) semester 9, mengaku kecewa karena sudah berupaya menyelesaikan sidang munaqasyah agar bisa mengikuti wisuda tahun ini, namun tetap tidak bisa mendaftar.

“Saya sangat sedih karena sudah mengejar sidang supaya bisa wisuda tahun ini, tapi ternyata kuotanya sudah penuh. Seharusnya pihak rektorat memberikan data pasti berapa yang sudah daftar dan berapa yang diterima. Tidak ada transparansi data sama sekali,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa informasi mengenai jumlah pendaftar tidak pernah diumumkan secara resmi.

“Teman saya sempat ke rektorat dan katanya pendaftar sudah 1.200 orang, tapi tidak ada informasi resmi di website kampus. Seharusnya diumumkan agar mahasiswa tidak bingung,” tambahnya.

Sementara itu, Awa, mahasiswa KPI lainnya, menilai bahwa alasan efisiensi dan keterbatasan tempat bisa dimaklumi, tetapi kampus perlu memperbaiki sistem penyebaran informasi.

“Mahasiswa bisa saja memahami alasan efisiensi, tapi masalahnya komunikasi dari pihak kampus kurang jelas. Banyak yang jarang ke kampus jadi tertinggal informasi,” ujarnya.

Ia berharap sistem pendaftaran wisuda ke depan dapat dilakukan secara daring dengan pembaruan data yang dapat dipantau langsung oleh mahasiswa.

“Kalau bisa dibuat sistem pendaftaran online dengan kuota yang terpantau real-time, supaya mahasiswa tahu sisa kuotanya dan tidak ada kesan tiba-tiba penuh,” pungkasnya.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak akademik UIN SMH Banten belum memberikan konfirmasi resmi terkait kemungkinan penambahan kuota maupun kebijakan lanjutan atas penutupan pendaftaran wisuda tersebut.

Reporter: Hida
Editor: Naila

NINA Mandek, 35 Mahasiswa SPI Batal Wisuda karena SK Akreditasi

0

Serang, lpmsigma.com – Setelah sebelumnya mahasiswa Program Studi Hukum Ekonomi Syariah (HES) Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten mengalami keterlambatan penerbitan Nomor Induk Nasional Akademik (NINA), permasalahan serupa kini menimpa Program Studi Sejarah Peradaban Islam (SPI). Sebanyak 35 mahasiswa SPI batal mengikuti wisuda periode Desember 2025 akibat penerbitan NINA yang terhambat karena Surat Keputusan (SK) perpanjangan akreditasi prodi belum terbit, Rabu (29/10/2025).

Hilda, mahasiswi semester 11, mengaku kecewa karena keterlambatan NINA membuat mereka kehilangan kesempatan untuk lulus tepat waktu.

“Keterlambatan NINA ini sangat merugikan bagi kami yang sudah lulus sejak bulan April. Seharusnya kami bisa ikut wisuda di gelombang pertama pada bulan Juli, tetapi sampai wisuda periode Desember belum ada kejelasan,” ujarnya.

Ia berharap pihak akademik dan prodi dapat segera memperbaiki sistem agar tidak terus menunda hak kelulusan mahasiswa.

“Kami mendesak pihak akademik dan prodi untuk segera memperbaiki hambatan ini. Hak kami untuk lulus tepat waktu seharusnya bisa segera terpenuhi,” tambahnya.

Sementara itu, Meli, salah satu mahasiswa SPI yang juga terdampak, menyampaikan rasa kecewa karena gagal mengikuti wisuda sebanyak dua kali berturut-turut.

“Kami sudah menyelesaikan sidang dan semua berkas administrasi, tapi gagal wisuda dua kali, pada Juli dan Desember 2025. Kami berharap pihak akademik, prodi, dan dekanat lebih sigap agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi,” tegasnya.

Menanggapi hal itu, operator akademik Prodi SPI, Erom Suudatul, menjelaskan bahwa keterlambatan penerbitan NINA disebabkan kendala administrasi internal di tingkat prodi, terutama terkait SK perpanjangan akreditasi yang belum keluar.

“NINA belum bisa diproses karena SK perpanjangan akreditasi Prodi SPI belum keluar. Tanpa SK itu, sistem tidak dapat memproses NINA,” jelasnya.

Erom menambahkan, pihak prodi sudah memulai proses sejak awal tahun 2025. Namun meski SK sementara telah diterbitkan, pemesanan NINA di sistem pusat masih menunggu antrean.

“Prodi sudah mengurus sejak awal tahun. SK sementara juga sudah keluar, tetapi proses pemesanan NINA masih mengantri di sistem,” pungkasnya.

Reporter: Umi Kulsum
Editor: Naila

Mosi Tidak Percaya! Integritas Ketua SEMA-U Dipertanyakan

0

Tulisan yang dikirim oleh: Ariq – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam

Dalam beberapa waktu terakhir, Senat Mahasiswa (SEMA) Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten menjadi sorotan publik kampus. Lembaga yang seharusnya menjalankan fungsi legislasi dan pengawasan terhadap roda pemerintahan mahasiswa, dinilai gagal memainkan perannya secara optimal.

Sebagai lembaga yang memiliki kewenangan dalam mengatur peraturan dan perundang-undangan internal kampus, SEMA-U diharapkan mampu menjadi wadah aspirasi mahasiswa serta menjamin terlaksananya sistem kelembagaan yang demokratis dan transparan. Namun, sejumlah pihak menilai bahwa lembaga tersebut justru belum sepenuhnya berperan sesuai dengan amanat Undang-Undang Keluarga Besar Mahasiswa (UU KBM) UIN SMH Banten.

Kritik muncul karena adanya tindakan yang tidak seharusnya dilakukan oleh ketua SEMA-U, bahwa ia memanfaatkan momentum kelembagaan serta jabatanya untuk kepentingan individu dan latar belakang oraganisasi eksternal yang diikuti. Lebih dari itu, keterlibatan organisasi eksternal kampus dalam urusan kebijakan internal juga menimbulkan pertanyaan terkait batas kewenangan dan integritas lembaga legislatif mahasiswa, Ketua SEMA-U bersama Ketua Organisasi Eksternal nya menawarkan solusi kepada ormawa FEBI terkait permasalahan yang ada dalam ruang lingkup ormawa FEBI, mereka mengatakan “kami meminta 5 orang kader dari setiap masing masing ormawa untuk mengikuti pengkaderan tepatnya tanggal 17-19 oktober 2025, dan menjanjikan bahwasanya ormawa FEBI aman dari permasalahan tersebut,” ujar Ketua SEMA-U.

Ormawa FEBI menolak terkait tawaran tersebut, karena sudah tidak sesuai dengan fungsi dari SEMA-U yang sudah melibatkan urusan internal kampus dengan organisasi eksternal kampus .

Situasi ini menimbulkan keresahan di kalangan mahasiswa yang menilai bahwa fungsi pengawasan dan legislasi SEMA-U seharusnya dijalankan secara independen dan berlandaskan pada aturan yang berlaku. Pertanyaan pun muncul di tengah publik kampus, apakah SEMA-U sedang mengalami krisis fungsi kelembagaan, atau ada kepentingan tertentu yang mempengaruhi arah kebijakan mereka?

Tentunya, mahasiswa mengharapkan agar SEMA-U dapat segera melakukan evaluasi menyeluruh, dan memberikan sanksi yang objektif atas tindakan yang mencederai moral dan nama baik ormawa internal legislatif Universitas, agar kembali kepada fungsi utamanya sebagai lembaga legislatif mahasiswa, serta memastikan setiap kebijakan dan keputusan yang diambil tetap sesuai pada UU KBM yang telah dibuat dan berpihak pada kepentingan bersama, bukan pada kepentingan personal maupun pihak eksternal.

Multikulturalisme dan Diskriminasi

0

Keberagaman di kampus adalah cerminan mini dari masyarakat luas. Setiap individu membawa latar, budaya, dan nilai yang berbeda-namun memiliki tujuan yang sama: belajar dan berkembang.

Buletin edisi terbaru kali ini mengangkat tema “Multikulturalisme dan Diskriminasi”, sebagai ruang refleksi untuk memahami pentingnya saling menghargai di tengah perbedaan.

Mari bersama menciptakan lingkungan akademik yang berlandaskan toleransi, kesetaraan, dan persaudaraan.

Yuk baca dan unduh buletinnya sekarang!!!

Saat Jempol Mengalahkan Pikiran: Potret Krisis Literasi di Era Digital

0

Kru magang LPM SiGMA pada tahun ini kembali menghadirkan Buletin SiKAP bertemakan “Saat Jempol Mengalahkan Pikiran: Potret Krisis Literasi di Era Digital”.

Perkembangan digital yang begitu pesat telah membawa perubahan besar terhadap cara masyarakat, dalam mengakses informasi. Jika dulu krisis literasi hanya diukur dari kemampuan membaca dan menulis, kini tantangannya jauh lebih kompleks mencakup literasi digital, literasi media, hingga literasi informasi.

Namun, kemudahan akses tidak selalu sejalan dengan peningkatan kualitas literasi. Berdasarkan data hasil survei yang dilakukan oleh Program For International Student Assessment (PISA) yang dirilis Organization For Economic CO-operation and Development (OECD) pada 2024, di mana Indonesia menduduki ranking ke-70 dari 80 negara. Artinya, Indonesia menjadi 10 negara terbawah yang memiliki tingkat literasi rendah.

Melalui buletin ini menegaskan pentingnya membangun budaya baca yang berakar pada nilai moral, spiritual, dan intelektual. Serta mengajak kita semua untuk kembali merefleksikan: Apakah jempol kita masih berpikir sebelum bertindak?
Dan sejauh mana literasi kita mampu menjadi benteng dari derasnya arus informasi digital?

Yuk baca dan unduh buletinnya sekarang!

Wakil Ketua DEMA-U Anggap Kinerja Ketuanya Cukup Baik

0

Serang, lpmsigma.com – Di tengah sorotan mahasiswa terhadap kinerja Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas (DEMA-U) periode 2025 yang kurang terlihat, Wakil Ketua DEMA-U justru memberikan penilaian berbeda. Ia menganggap kinerja ketuanya berjalan cukup baik dan menunjukkan komitmen dalam menjalankan roda pemerintahan mahasiswa.

Wakil DEMA-U, Misbah Alamsyah. mengatakan bahwa Ketua DEMA-U telah berperan aktif dalam proses perencanaan program, pengambilan keputusan, hingga koordinasi lintas bidang. Menurutnya, meski ada beberapa kekurangan, Ketua DEMA-U tetap mengutamakan musyawarah dalam setiap kebijakan.

“Kinerja Ketua DEMA-U cukup baik, dengan komitmen tinggi dalam menjalankan roda pemerintahan mahasiswa, mulai dari perencanaan program, pengambilan keputusan, hingga koordinasi lintas bidang. Meskipun pada kenyataannya masih ada kekurangan, beliau selalu mengutamakan musyawarah dalam setiap kebijakan,” tuturnya, ketika diwawancarai kru LPM SiGMA (16/10/25).

Misbah menilai kritik mahasiswa yang belakangan muncul merupakan bentuk kepedulian terhadap lembaga, bukan semata-mata bentuk penolakan. Ia menjelaskan bahwa tidak semua program kerja, khususnya yang bersifat advokasi, dapat langsung dirasakan hasilnya oleh mahasiswa.

“Kami terima kritik sebagai bahan evaluasi. Memang tidak semua program advokasi langsung terlihat hasilnya. Namun kami sudah melakukan langkah nyata seperti, mengadvokasi penurunan UKT untuk mahasiswa baru yang terkendala finansial. Hasilnya mungkin tidak banyak diketahui publik, tapi upaya itu ada,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Senat Mahasiswa Universitas (SEMA-U) UIN SMH Banten, Rizki Alamsyah, memiliki pandangan berbeda. Ia menilai kinerja Ketua DEMA-U belum berjalan optimal karena banyak program kerja yang tidak terealisasi dan kontribusi nyata terhadap mahasiswa masih minim.

“Kalau melihat kinerja Ketua DEMA-U secara keseluruhan, banyak program kerja yang tidak kunjung dilaksanakan, dan kepemimpinan periode ini dinilai masih kurang memberikan kontribusi nyata bagi kalangan mahasiswa,” ungkapnya.

Rizki berharap agar Ketua dan Wakil Ketua DEMA-U lebih aktif menjalin komunikasi dengan seluruh elemen mahasiswa. Meski kepemimpinan telah berada di tengah jalan, upaya perbaikan masih dapat dilakukan.

“Untuk Ketua dan Wakil Ketua DEMA-U, perlu lebih banyak menjalin komunikasi dengan seluruh elemen mahasiswa agar kontribusinya terasa. Meski jabatan telah di tengah jalan, evaluasi dan perbaikan tetap perlu dilakukan agar kesalahan serupa tidak terulang di periode berikutnya,” tutupnya.

Reporter: Delis
Editor: Enjat

Mahasiswa HES Keluhkan Keterlambatan NINA yang Menghambat Pendaftaran Wisuda

0

Serang, lpmsigma.com – Mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah (HES) Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten keluhkan keterlambatan penerbitan Nomor Induk Nasional Akademik (NINA) sejak Juni lalu. Akibatnya mereka terhambat untuk mendaftar wisuda periode Desember 2025 Kamis, (23/10/25).

Salah satu mahasiswa HES yang enggan disebutkan namanya mengatakan, NINA belum juga keluar semenjak sidang munaqasyah pada Juni lalu. Sementara itu, mahasiswa dari jurusan lain seperti Hukum Tata Negara (HTN) dan Hukum Keluarga Islam (HKI) sudah menerima NINA lebih dulu.

“NINA belum keluar setelah sidang bulan Juni itu padahal jurusan HTN dan HKI sudah keluar,” tuturnya.

Ia juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap pihak akademik maupun jurusan yang dinilai tidak memberikan solusi yang konkret selain mahasiswa untuk terus menunggu.

“Pihak akademik cuma ngasih solusi untuk menunggu, padahal dari Juni kita sudah menunggu lama,” ungkapnya.

Menurutnya, keterlambatan tersebut berdampak besar pada proses pendaftaran wisuda yang sudah dekat.

“Ngefek banget, kita gak bisa daftar wisuda. Sedangkan berkas-berkas lain udah di siapkan, kaya foto buat wisuda, bayar wakaf semua sudah lengkap tinggal menunggu NINA doang,” tambahnya.

Hal senada disampaikan oleh mahasiswa lain, Ujang. Secara ideal, NINA akan keluar setelah pihak kampus mengajukan data ke Kementrian, namun untuk jurusan HES sempet tertunda.

“NINA belum keluar, idealnya NINA keluar setelah pihak kampus mengajukan ke Kementerian. Sayangnya pihak kampus lambat mengajukan,” jelasnya.

Menggapi hal tersebut, Asep selaku operator PDDIKTI HES menyampaikan bahwa keterlambatan NINA terjadi karena adanya kendala teknis dari pusat, sehingga harus bergunta-ganti cara dan menyesuaikan lagi dengan cara baru untuk memesan NINA ditambah lagi pihak jurusan disibukkan dengan kegiatan akreditasi.

“NINA terlambat terbit karena sistem dari pusat mengalami kendala teknis ditambah ada kegiatan akreditasi,” ujarnya.

Asep menambahkan bahwa meskipun NINA sudah dipesan sejak lama, nomor tersebut baru terbit semalam sebelum berita ini ditulis.

“Pemesanan sudah lama, baru semalam NINA nya keluar,” pungkasnya.

Reporter: Enjat

Kinerja Ketua DEMA-U Dipertanyakan, Mahasiswa Nilai Tak Ada Peran Nyata

0

Serang, lpmsigma.com – Kinerja dan peran Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas (DEMA-U) UIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten Periode tahun 2025 menuai sorotan. Sejumlah mahasiswa menilai lembaga eksekutif tertinggi di tingkat universitas tidak optimal dalam menyuarakan aspirasi dan menjalankan program kerja yang berdampak langsung pada mahasiswa, Rabu (22/10/2025).

Keluhan tersebut tidak hanya berkaitan dengan ketidakhadiran fisik ketua DEMA-U, tetapi juga tidak jelasnya mekanisme penyerapan aspirasi. Banyak mahasiswa, terutama mahasiswa baru, mengaku kebingungan dalam menyampaikan keluhannya. Padahal, sebagai lembaga eksekutif tertinggi di tingkat universitas, DEMA-U seharusnya menjadi wadah utama bagi mahasiswa untuk berinteraksi dan beraspirasi.

Muhammad, salah satu mahasiswa UIN Banten, menyatakan kinerja Ketua DEMA-U dinilai tidak terlihat selama masa jabatannya.

“Selama menjabat, kinerja Ketua DEMA-U tidak terlihat. Bahkan, kehadirannya sebagai representasi suara mahasiswa pun tidak ada dalam menanggapi berbagai isu kampus,” ujarnya.

Ia menambahkan, sejauh ini justru Wakil DEMA-U lah yang lebih aktif dibandingkan Ketua DEMA-U nya.

“Sejauh ini, saya tidak melihat kinerja Ketua DEMA-U. Yang selalu terlihat justru Wakilnya. Akibatnya, suara mahasiswa belum benar-benar tersampaikan,” tuturnya.

Hal senada disampaikan Bonsu, selaku mahasiswa lainnya. Ia menilai tidak adanya tugas pokok dan fungsi yang jelas dari kinerja Ketua DEMA-U membuat mahasiswa kebingungan dalam menyalurkan aspirasi.

“Tidak ada tugas pokok dan fungsi yang jelas dari kinerja mereka yang dibutuhkan mahasiswa saat ini untuk menyerap aspirasi. Banyak mahasiswa baru yang kebingungan menyuarakan keluhannya karena Ketua DEMA-U dan jajarannya jarang turun langsung ke lapangan,” ujarnya.

Sementara itu, Farid, selaku Sekretaris Jenderal Forum Silaturahmi Organisasi Eksternal (FSOE), menilai harapan terhadap perbaikan kinerja Ketua DEMA-U kini semakin kecil, karena masa jabatannya yang hampir berakhir.

“Sudah tidak ada harapan, karena sekarang sudah bulan Oktober dan mereka lengser di bulan Desember, hanya ada waktu satu bulan untuk mereka bisa menyelasaikan masalah yang ada pada mahasiswa,” pungkasnya.

Reporter: Delis
Editor: Enjat

Mahasiswa Keluhkan Jam Operasional Perpustakaan Fakultas yang Terbatas

0

Serang, lpmsigma.com – Jam operasional perpustakaan Fakultas Dakwah (FADA) dan Fakultas Syariah UIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten mendapat sorotan dari mahasiswa. Banyak yang mengeluhkan waktu buka perpustakaan yang tidak konsisten, sehingga menyulitkan mereka memanfaatkan fasilitas untuk belajar dan mengerjakan tugas, Rabu (22/10/25).

Pandu, mahasiswa semester tiga Fakultas Dakwah, mengungkapkan kekecewaannya terhadap jam operasional yang tidak menentu.

“Kacau banget sih, perpustakaan kadang buka kadang enggak. Bahkan minggu-minggu kemarin sempat tidak buka sama sekali karena enggak ada penjaga atau pengawasnya mungkin,” ujarnya.

Keluhan serupa datang dari Dinda, mahasiswa tingkat akhir Fakultas Syariah. Ia menilai pengelolaan perpustakaan yang diserahkan kepada mahasiswa aktif menjadi salah satu penyebab jadwal operasional tidak berjalan semestinya.

“Yang menjaga mahasiswa semester lima kuliah lagi padat-padat nya, sementara yang semester tujuh kebanyakan sedang magang. Padahal jam operasionalnya dari pagi sampai sore, akhirnya perpustakaan sering tutup,” tuturnya.

Menanggapi hal tersebut, Alvin, penjaga perpustakaan Fakultas Dakwah, menjelaskan bahwa pengelolaan perpustakaan baru saja berganti kepengurusan, sehingga operasional belum berjalan normal.

“Kami baru berganti kepala pengurus, dan masih mencari relawan untuk menjaga perpustakaan. Saat ini memang belum sepenuhnya berjalan normal karena petugasnya terbatas,” jelasnya.

Kondisi serupa juga terjadi di Fakultas Syariah, Riansyah selaku penjaga perpustakaan mengkonfirmasi memang masih kekurangan tenaga tetap untuk mengelola perpustakaan secara penuh.

“Yang menjaga perpus hanya dua orang saja, saya dan juga kakak tingkat semester tujuh, itu pun kini ia sedang melaksanakan magang selama dua bulan, jadi saya yang jaga sendiri,” pungkasnya.

Reporter : Nurhasanah
Editor : Naila

UIN Banten Warnai Hari Santri dengan Santunan Anak Yatim

0

Serang, lpmsigma.com – Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten menggelar santunan anak yatim yang berlangsung di Gedung Rektorat Rabu, (22/10/25).

Rektor UIN SMH Banten, Muhammad Ishom, menjelaskan bahwa kegiatan santunan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri sekaligus bertepatan dengan momentum Dies Natalis UIN SMH Banten.

“Acara santunan ini sebenarnya merupakan rangkaian dari peringatan Hari Santri dan momentumnya bertepatan pula dengan acara Dies Natalis kampus,” jelasnya.

Ia menambahkan, kegiatan ini diikuti oleh 50 peserta yang mengutamakan masyarakat lingkungan kampus sperti warga Adamui dan Curug, karena memang dana nya terbatas murni hasil donasi dari dosen dan tenaga kependidikan (Tendik) tanpa memotong anggaran dari pemerintah.

“Pesertanya nya lima puluh orang dan kita mengutamakan masyarakat lingkungan kampus, sebab dari anggaran pun cukup terbatas,” tambahnya.

Rektor berharap kegiatan sosial seperti ini dapat menjadi agenda rutin kampus, meskipun tidak selalu bertepatan dengan peringatan hari besar.

“Harapan saya, kegiatan seperti ini bisa rutin dilaksanakan meskipun tidak sedang memperingati hari-hari tertentu,” ungkapnya.

Ditempat yang sama Suadah, salah satu orang tua yang menerima santunan, mengaku bersyukur dan terharu atas bantuan yang diterimanya.

“Alhamdulillah saya merasa bersyukur, terharu dan senang anak saya bisa mendapat bantuan santunan dari UIN, semoga kedepannya lebih banyak masyarakat yang bisa merasakan manfaat seperti ini,” ujarnya.

Hal senada disampaikan oleh Aminah, penerima santunan lainnya, yang merasa terbantu dengan kegiatan tersebut.

“Tentunya saya merasa bersyukur dan terbantu dengan adanya santunan ini,” pungkasnya.

Reporter: Enjat