Beranda blog Halaman 26

Bazar Ramadhan di Masjid At-Tsaurah Ramai, Pedagang Keluhkan Penurunan Pendapatan

0

Serang, lpmsigma.com – Bazar kuliner Ramadhan di Masjid At-Tsaurah kembali menjadi pusat perhatian masyarakat. Setiap sore, puluhan pedagang menawarkan aneka makanan dan minuman khas berbuka puasa, sementara ratusan pengunjung memadati area bazar untuk berburu takjil dan hidangan berbuka.

Salah satu pengunjung, Fitri, mengaku senang berbelanja di bazar ini karena banyaknya pilihan makanan yang tersedia. Menurutnya, keberagaman kuliner di bazar ini memudahkan warga dalam mencari hidangan berbuka.

“Saya suka datang ke bazar ini karena pilihannya banyak, jadi tidak perlu repot mencari makanan ke tempat lain. Biasanya, saya sering membeli dimsum,” ujarnya.

Sementara itu, Ibu Vina selaku pedagang Chicken Crispy, mengungkapkan bahwa ia telah mengikuti bazar ini sejak 2023. Namun, ia menyebutkan bahwa pendapatannya tahun ini mengalami penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Saya sudah ikut bazar ini sejak 2023. Tapi, dibandingkan dua tahun lalu, pendapatan saya menurun. Mungkin karena jumlah pedagang bertambah dan di tempat lain juga banyak bazar serupa,” katanya.

Meski demikian, ia bersyukur karena tidak mengalami kendala berarti selama berjualan. Namun, ia menyoroti perubahan dalam penempatan pedagang yang tidak sesuai dengan kesepakatan awal.

“Alhamdulillah, sejauh ini tidak ada kendala. Hanya saja, pemetaan posisi pedagang kemarin tidak sesuai dengan permintaan awal,” tuturnya.

Reporter: Davina
Editor: Naila

Kantor Tempo Diteror Kepala Babi

0

Jakarta, lpmsigma.com – Pada Rabu, 19 Maret 2025, sekitar pukul 16.15 WIB, satuan pengamanan kantor Tempo menerima sebuah paket mencurigakan. Paket berbentuk kotak kardus itu dilapisi styrofoam dan ditujukan kepada “Cica.” Di lingkungan Tempo, “Cica” merupakan panggilan untuk Francisca Christy Rosana, wartawan desk politik sekaligus host siniar Bocor Alus Politik.

Keesokan harinya, Kamis, 20 Maret 2025, sekitar pukul 15.00 WIB, Cica baru menerima paket tersebut setelah kembali dari liputan bersama Hussein Abri Yusuf Muda Dongoran. Mendapat informasi adanya kiriman atas namanya, ia membawa kotak itu ke dalam kantor.

Saat kotak dibuka, Hussein langsung mencium bau busuk. Begitu styrofoam di dalamnya terbuka, tampak jelas isi paket tersebut sebuah kepala babi dengan kedua telinganya terpotong. Cica, Hussein, dan beberapa wartawan lainnya segera membawa kotak itu keluar gedung untuk memastikan isinya.

Pemimpin Redaksi Tempo, Setri Yasra, menilai kejadian ini sebagai bentuk teror terhadap kebebasan pers. “Kami sedang menyiapkan langkah-langkah selanjutnya sebagai respons atas kejadian ini,” ujar Setri.

Tempo saat ini tengah menelusuri lebih lanjut insiden ini dan mempertimbangkan langkah hukum yang akan diambil.

Reporter: Najib

Tradisi I’tikaf di Sepuluh Malam Terakhir Ramadan

0

Memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan, umat Islam di seluruh dunia semakin bersemangat dalam meningkatkan ibadah mereka, salah satunya dengan melaksanakan i’tikaf.

Apa Itu I’tikaf?

I’tikaf adalah ibadah yang dilakukan dengan berdiam diri di masjid, fokus beribadah kepada Allah SWT melalui shalat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, serta ibadah lainnya. Tujuan utama i’tikaf ialah untuk memperbanyak ibadah, melatih diri untuk menjauh dari kehidupan duniawi, serta memfokuskan diri dalam berinteraksi dengan Allah SWT.

Secara bahasa, i’tikaf berasal dari kata Arab “ʿakafa-ya’kufu-‘akfan” yang berarti menetap atau berdiam diri. Dalam konteks ibadah, i’tikaf adalah aktivitas menetap di masjid dengan niat beribadah, mendekatkan diri kepada Allah, dan menjauhkan diri dari kesibukan duniawi. I’tikaf merupakan ibadah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW untuk meningkatkan hubungan spiritual dengan Allah SWT. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa Rasulullah SAW selalu melaksanakan i’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadan untuk mencari Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.

I’tikaf dianjurkan baik bagi laki-laki maupun perempuan, dengan tetap memperhatikan adab dan tata cara yang sesuai. Ibadah ini menjadi kesempatan emas bagi setiap Muslim untuk meningkatkan keimanan dan memperoleh ampunan dari Allah SWT di penghujung Ramadan.

Selain itu, dalam jurnal “I’tikaf Sebagai Meditasi Islam” yang ditulis oleh Naelul Muna dkk, dijelaskan bahwa i’tikaf dapat berfungsi sebagai bentuk meditasi spiritual yang meningkatkan ketenangan jiwa dan ketakwaan. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa i’tikaf memiliki dampak positif terhadap fokus beribadah, ketenangan mental, dan kedisiplinan dalam menjalankan ajaran Islam.

Berikut adalah beberapa manfaat lain yang terdapat dalam i’tikaf:

1. Memupuk dan meningkatkan rasa cinta kasih kepada sesama makhluk

I’tikaf membantu seseorang mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah dan refleksi diri, serta meningkatkan rasa kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama.

2. Meningkatkan kecerdasan rohani

Kecerdasan rohani adalah pemahaman yang mendalam tentang makna hidup, nilai-nilai spiritual dan hubungan manusia dengan Tuhan.

3. Mencapai ketenangan jiwa

Melalui ibadah, meditasi, atau refleksi, seseorang dapat merasakan kedamaian batin, terlepas dari kegelisahan duniawi, dan merasa lebih dekat dengan Tuhan.

4. Mengendalikan hawa nafsu dan ego

Dengan lebih banyak beribadah dan merenungkan kehidupan, seseorang dapat belajar mengendalikan dorongan negatif, seperti amarah, keserakahan, dan kesombongan, yang dapat mengganggu kedamaian batin.

5. Mengobati berbagai macam penyakit jiwa

Aktivitas spiritual dapat berfungsi sebagai terapi alami untuk membantu mengurangi stres, kecemasan dan depresi, serta memberikan ketenangan pikiran dan harapan dalam menghadapi masalah hidup.

I’tikaf bukan sekadar ibadah sunnah, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkuat spiritualitas dan kedekatan dengan Allah SWT. Dengan melaksanakan i’tikaf, seorang Muslim dapat lebih fokus dalam beribadah, menjauhi gangguan duniawi, dan merasakan ketenangan yang mendalam.

Oleh karena itu, penting bagi umat Islam untuk menghidupkan kembali tradisi ini, terutama pada sepuluh malam terakhir Ramadan, sebagai momen untuk meraih keberkahan dan ampunan dari Allah SWT.

Penulis: Ayunda
Editor: Lydia

Acara Nyenyore Rumah Dunia, Bahas Buku yang Akan Difilmkan

0

Serang, lpmsigma.com – Rumah Dunia kembali menggelar kegiatan pekan Nyenyore dan Kado Lebaran dengan tema Menata Hati dengan Literasi, pada Rabu (19/03). Kegiatan ini akan berlangsung selama satu pekan kedepan, dengan membahas karya Ade Ubaidil berupa buku berjudul “Perangkap Pikiran Beni Kahar” yang akan diadaptasi menjadi sebuah film.

Rudi Rustiadi, selaku Presiden Rumah Dunia menjelaskan kegiatan ini dilaksanakan secara rutin di bulan ramadan, tujuan dari kegiatan ini untuk mengisi kegiatan-kegiatan positif yang berkaitan dengan literasi.

“Acara ini dilaksanakan secara rutin setiap bulan ramadan untuk mengisi kegiatan-kegiatan positif yang berkaitan dengan literasi,” jelasnya.

Ditempat yang sama, RG Kedung Kaban sebagai sutradara film menuturkan bahwa dalam proses pembuatan film yang berawal dari sebuah novel atau cerpen itu akan di bedah terlebih dahulu secara berulang-ulang kali.

“Ketika sebuah karya buku atau cerpen akan dijadikan sebuah film, pertama kita membedah buku atau cerpen tersebut secara berkali-kali, karena ada perbedaan antara karya sebuah film dengan karya buku.” tuturnya

Ia juga menambahkan, dalam pembuatan film dipengaruhi oleh anggaran, karena dengan anggaran yang cukup akan mempermudah mengembangkan film sesuai dengan sumber aslinya.

“Pembuatan film dari novel atau cerpen itu proses yang kompleks, budget yang memadai memungkinkan kita untuk memilih tokoh serta menggunakan teknologi-teknologi yang sesuai dengan yang ada di Novelnya,” tambahnya.

Reporter: Hakim
Editor: Lydia

Dianggap Berbahaya? Ini Dia Alasan Masyarakat Harus Melek akan Dwifungsi TNI

0

DPR RI dan pemerintah mendapat kritik tajam karena dianggap tergesa-gesa dalam membahas revisi Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (RUU TNI). Pembahasan revisi ini dilakukan secara tertutup, sehingga menimbulkan banyak pertanyaan, terutama mengenai sumber anggaran yang digunakan. Hal ini menjadi sorotan, karena terjadi di tengah upaya pemerintah untuk melakukan efisiensi anggaran.

Keputusan untuk mempercepat pembahasan revisi ini menuai protes dari masyarakat sipil, terutama dari para pegiat reformasi sektor keamanan. Mereka khawatir revisi ini dapat membuka kembali peluang bagi TNI untuk menjalankan peran ganda dalam pemerintahan, yang dikenal sebagai Dwifungsi TNI.

Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Dwifungsi TNI? Mengapa hal ini menjadi polemik?

Menurut Mohammad Mohtar Mas’oed dalam bukunya yang berjudul “Ilmu Hubungan Internasional: Disiplin dan Metodologi (1990)”, Dwifungsi TNI adalah konsep yang memberikan peran ganda kepada Tentara Nasional Indonesia (TNI), yaitu sebagai alat pertahanan negara sekaligus memiliki peran dalam kehidupan sosial dan politik.

Konsep ini pernah diterapkan pada era Orde Baru, di mana TNI (saat itu ABRI) tidak hanya bertugas menjaga keamanan negara, tetapi juga aktif dalam pemerintahan, birokrasi, dan ekonomi. Namun, banyak pihak menilai bahwa dwifungsi ini berbahaya karena berpotensi merusak demokrasi dan supremasi sipil.

Konsep Dwifungsi TNI muncul pada masa Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto. Dwifungsi ini didasarkan pada doktrin bahwa militer memiliki tanggung jawab tidak hanya dalam bidang pertahanan, tetapi juga dalam pembangunan nasional. Dalam praktiknya, militer terlibat dalam berbagai sektor pemerintahan, dari tingkat pusat hingga daerah, termasuk mengisi posisi dalam legislatif dan eksekutif.

Dengan dalih stabilitas nasional, banyak jabatan politik dan administratif diisi oleh perwira militer aktif. Hal ini membuat TNI memiliki pengaruh besar dalam berbagai kebijakan, yang sering kali mengorbankan prinsip demokrasi dan hak asasi manusia.

Mengapa Dwifungsi TNI Disebut Berbahaya?

Konsep dwifungsi ini dinilai berbahaya karena beberapa alasan berikut:

1. Melemahkan Supremasi Sipil
Dalam sistem demokrasi, militer seharusnya berada di bawah kendali pemerintahan sipil. Namun, dengan adanya dwifungsi, militer justru memiliki kekuatan politik yang besar, sehingga melemahkan kontrol sipil terhadap angkatan bersenjata.

2. Pelanggaran HAM dan Otoritarianisme
Ketika militer memiliki peran dalam politik, mereka cenderung menggunakan pendekatan keamanan untuk menyelesaikan masalah sosial dan politik. Pada masa Orde Baru, hal ini menyebabkan banyak kasus pelanggaran HAM, seperti penculikan aktivis, represi terhadap kebebasan berpendapat, dan tindakan kekerasan terhadap masyarakat sipil.

3. Korupsi dan Penyalahgunaan Kekuasaan
Keterlibatan militer dalam birokrasi dan bisnis negara membuka peluang korupsi. Banyak perusahaan dan badan usaha yang dikendalikan oleh militer, yang sering kali beroperasi tanpa transparansi dan akuntabilitas yang memadai.

4. Menghambat Reformasi Demokrasi
Setelah reformasi 1998, salah satu agenda utama adalah menghapus dwifungsi TNI untuk memastikan demokrasi berjalan dengan baik. Namun, jika konsep ini kembali diterapkan, maka hal itu bisa menghambat kemajuan demokrasi dan membawa Indonesia kembali ke era otoritarianisme.

Sejak reformasi 1998, peran TNI dalam politik mulai dibatasi. TNI tidak lagi memiliki perwakilan di DPR, dan militer dilarang terlibat dalam urusan politik praktis. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, muncul kekhawatiran bahwa militer kembali dilibatkan dalam sektor-sektor sipil, seperti jabatan di kementerian dan pemerintahan daerah.

Beberapa kebijakan yang memberi ruang lebih besar bagi TNI di luar bidang pertahanan dianggap sebagai bentuk “dwifungsi gaya baru”. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa TNI akan kembali berperan dalam ranah sipil seperti pada era Orde Baru.

Dwifungsi TNI memang pernah menjadi bagian dari sejarah politik Indonesia, tetapi konsep ini dianggap berbahaya karena dapat merusak demokrasi, melemahkan supremasi sipil, dan meningkatkan risiko penyalahgunaan kekuasaan. Reformasi telah menghapus peran politik militer, dan seharusnya hal ini tetap dijaga agar Indonesia tetap berada di jalur demokrasi yang sehat.

Jika militer kembali diberi peran di luar bidang pertahanan, kita perlu waspada agar tidak mengulangi kesalahan masa lalu. Demokrasi yang sehat membutuhkan pemisahan yang jelas antara militer dan pemerintahan sipil, demi memastikan kebebasan, keadilan, dan supremasi hukum tetap terjaga.

Penulis: Frida
Editor: Lydia

5 Tradisi Unik Perayaan Malam Nuzulul Qur’an di Indonesia

0

Setiap daerah memiliki tradisi unik dalam merayakan malam Nuzulul Qur’an, sebuah peristiwa bersejarah dalam Islam yang menandai turunnya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW.

Menurut buku Ulumul Qur’an: Sebuah Pengantar yang ditulis oleh Dr. Abu Anwar, M.Ag., Nuzulul Qur’an merupakan peristiwa penting dalam peradaban Islam yang terjadi di bulan suci Ramadan. Perayaan ini bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga bentuk pelestarian budaya dan penguatan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan masyarakat.

Di berbagai daerah di Indonesia, malam Nuzulul Qur’an diperingati dengan tradisi khas masing-masing. Berikut beberapa di antaranya:

1. Tradisi Maleman (Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Barat)
Di Jawa Timur, Bali, dan Lombok, malam Nuzulul Qur’an dirayakan dengan tradisi Maleman. Tradisi ini melibatkan pembuatan kue serabi yang kemudian dibagikan kepada masyarakat sekitar. Di Bali, masyarakat membuat tumpeng dan membawanya ke masjid atau musala terdekat sebagai wujud syukur dan kebersamaan.

2. Tradisi Malam Pitu Likur (Lampung)
Di Lampung, perayaan malam Nuzulul Qur’an dikenal dengan tradisi Malam Pitu Likur. Tradisi ini ditandai dengan pemasangan obor besar yang terbuat dari susunan batok kelapa. Selain itu, masyarakat juga menyiapkan hidangan khas seperti kuah beulangong. Pada malam ke-27 Ramadan, lampu-lampu minyak dinyalakan di halaman rumah dan masjid, melambangkan cahaya Al-Qur’an yang menerangi hati.

3. Tradisi Khatam Al-Qur’an dan Sorban Berjalan (Jawa Timur)
Tradisi ini dilakukan dengan mengarak sorban yang dianggap sakral oleh masyarakat setempat. Sorban tersebut dibawa berkeliling, dan setiap orang yang dilewati akan memberikan sumbangan seikhlasnya di atas sorban tersebut. Tradisi ini mencerminkan semangat berbagi dan kepedulian sosial.

4. Tradisi Kuah Beulangong (Aceh dan Sumatera Utara)
Di Aceh, malam Nuzulul Qur’an dirayakan dengan tradisi Kuah Beulangong. Masyarakat bergotong royong memasak hidangan berbahan dasar daging sapi atau kambing yang dicampur dengan nangka muda dan bumbu rempah khas Aceh. Setelah matang, hidangan ini dinikmati bersama sebagai bentuk kebersamaan dan rasa syukur.

5. Tradisi Seribu Tumpeng (Solo, Jawa Tengah)
Di Solo, perayaan malam Nuzulul Qur’an dikenal dengan Tradisi Seribu Tumpeng atau Maleman Sriwedari. Pada malam ke-21 Ramadan, seribu tumpeng diarak dari Keraton Kasunanan Surakarta menuju Joglo Sriwedari. Arak-arakan ini melambangkan sambutan para sahabat Nabi Muhammad SAW saat menerima wahyu pertama. Setelah tiba di lokasi, tumpeng-tumpeng tersebut dibagikan dan dinikmati bersama sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.

Malam Nuzulul Qur’an bukan sekadar peringatan sejarah, tetapi juga momentum bagi umat Islam untuk semakin mendekatkan diri kepada Al-Qur’an. Melalui berbagai tradisi yang diwariskan, masyarakat Indonesia menunjukkan bahwa nilai-nilai kebersamaan, rasa syukur, dan semangat berbagi tetap hidup dan terus dijaga dalam kehidupan sehari-hari.

Penulis : Davina
Editor : Lydia

Keutamaan Nuzulul Quran: Malam Penuh Berkah yang Lebih Baik dari Seribu Bulan

0

Malam Nuzulul Quran adalah malam istimewa saat Al-Qur’an pertama kali diturunkan. Ketahui keutamaannya dan amalan yang dianjurkan agar mendapatkan berkah lebih baik dari seribu bulan.

Apa Itu Nuzulul Quran?
Nuzulul Quran adalah peristiwa turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril. Kejadian ini terjadi pada malam Lailatul Qadar di bulan Ramadhan, sebagaimana disebutkan dalam Surat Al-Qadr ayat 3:
“Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan”

Berarti, bahwa setiap ibadah yang dilakukan pada malam Nuzulul Quran memiliki pahala yang berlipat ganda, bahkan lebih baik daripada ibadah yang dilakukan selama seribu bulan.

Keutamaan Malam Nuzulul Quran

1. Malam Penuh Keberkahan
Allah SWT menyebut malam ini sebagai malam yang diberkahi dalam Surat Ad-Dukhan ayat 3: “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi, dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.”

2. Turunnya Petunjuk Hidup
Al-Qur’an diturunkan sebagai pedoman bagi umat manusia, sebagaimana dalam Surat Al-Baqarah ayat 185:
“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia serta penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).”

3. Malaikat Turun ke Bumi
Pada malam ini, malaikat turun membawa keberkahan dan ketentuan Allah, sebagaimana dalam Surat Al-Qadr ayat 4:
“Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.”

Amalan yang Dianjurkan pada Malam Nuzulul Quran

Agar mendapatkan keberkahan malam yang lebih baik dari seribu bulan, umat Islam dianjurkan untuk melakukan amalan berikut:

1. Membaca dan Mentadaburi Al-Qur’an

Pada malam ini, Rasulullah SAW sering membaca Surat Al-Baqarah, Surat An-Nisa, dan Surat Ali Imran, karena mengandung banyak hikmah dan petunjuk hidup.

2. Mengerjakan Salat Malam

Qiyamul lail atau salat tahajud menjadi salah satu amalan utama yang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT.

3. Memperbanyak Doa dan Dzikir

Malam ini adalah waktu mustajab untuk berdoa, memohon ampunan, serta meminta keberkahan dari Allah SWT.

4. Bersedekah dan Berbuat Kebaikan

Sedekah di bulan Ramadhan, terutama pada malam Nuzulul Quran, memiliki keutamaan luar biasa dalam meraih pahala yang berlipat ganda.

Malam Nuzulul Quran adalah malam penuh berkah yang lebih baik dari seribu bulan. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan ibadah, membaca serta mengamalkan Al-Qur’an, dan memperkuat keimanan. Dengan begitu, kita dapat meraih rahmat serta ampunan Allah SWT dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup yang hakiki.

Semoga kita semua termasuk orang-orang yang mendapatkan keberkahan dari malam yang mulia ini. Aamiin.

Penulis : Ayunda
Editor : Naila

Cahaya Ramadan di Pinggir Jalan

0

Bagian Dua: Derita di Balik Senyum

Aku mengunyah suapan terakhir nasi bungkus itu, dengan hati yang masih diliputi haru. Hangatnya makanan menyusup hingga ke jiwaku, seolah memberi pelipur dari dinginnya kehidupan yang menelanku tanpa belas kasihan. Lelaki tua itu menatapku dengan senyum lembut sebelum beranjak, kembali mendorong gerobaknya yang penuh dengan nasi bungkus untuk dibagikan kepada mereka yang bernasib serupa denganku.

Aku ingin berterima kasih lebih banyak, tetapi kata-kata tersangkut di tenggorokanku. Hatiku terasa hangat, tapi juga nyeri. Aku rindu sentuhan ibu. Aku rindu bagaimana ia dulu menyelipkan sepotong roti ke tanganku saat sahur, meskipun dirinya sendiri hanya minum air putih. Namun, kini semua hanyalah kenangan yang tak akan pernah kembali.

Malam semakin larut. Aku berjalan ke bawah jembatan layang, tempat biasa aku membaringkan tubuh. Angin malam menusuk kulitku, membuat tubuhku menggigil. Aku menarik lutut ke dada, mencoba menghangatkan diri. Di seberang jalan, seorang anak kecil yang lebih muda dariku duduk bersandar di dinding, memeluk perutnya yang lapar. Wajahnya tirus, matanya kosong, seakan dunia telah mengambil semua yang ia miliki.

Aku merogoh sisa nasi bungkusku. Separuh masih tersisa. Hatiku berdebar, tetapi sesuatu dalam diriku mendorongku untuk bangkit. Aku berjalan ke arahnya dan mengulurkan bungkus itu.

“Kamu lapar?” tanyaku.

Anak itu menatapku ragu, seakan takut ini hanya tipuan.

“Makanlah,” lanjutku. “Aku masih kenyang.”

Tanpa banyak bicara, ia menerima nasi itu dan langsung menyuapkannya ke mulut dengan lahap. Aku menelan ludah, menekan kembali rasa laparku sendiri. Setidaknya, aku masih lebih kuat darinya.

“Namaku Rama,” kataku setelah beberapa saat.

Anak itu mengangkat wajahnya yang kotor. “Aku Elang.” Katanya dengan banyak sisa nasi disekitar mulutnya, ia makan dengan tergesa. Wah berapa hari anak ini tidak makan, pikirku sebelum duduk disampingnya.

Kami duduk berdampingan, berbagi keheningan. Aku memandang ke langit, mencari bintang yang mungkin bisa memberiku harapan. Tapi yang kulihat hanyalah awan pekat yang menggantung di langit, seperti nasibku yang tak jelas.

Keesokan harinya, aku kembali ke perempatan, kembali menjadi patung hidup di tengah hiruk-pikuk kota. Keringat bercampur dengan cat silver di tubuhku, membuatnya lengket dan semakin gatal. Aku berdiri membisu, hanya bisa mengedip dan bernapas. Lampu merah menyala, dan aku mulai bergerak pelan, meniru gerakan robot seperti yang biasa kulakukan.

Beberapa orang melemparkan receh ke kalengku, sebagian hanya melirik tanpa minat. Tiba-tiba, seorang pria berjas rapi mendekat. Aku menunduk, berharap ia akan memberiku uang. Tapi yang terjadi justru sebaliknya.

“Cepat pergi dari sini! Kalian mengganggu ketertiban!” bentaknya.

Aku tersentak.

“Tapi, Pak… saya hanya—”

Pria itu tak memberi kesempatan. Dengan satu tendangan, ia menjatuhkan kalengku, membuat koin-koin receh berhamburan di trotoar.

“Pergi!”

Hatiku terluka. Aku bergegas memunguti uang recehku, tetapi orang-orang hanya berjalan melewatiku, menginjaknya tanpa peduli. Tanganku gemetar. Aku ingin menangis, tapi air mataku terlalu mahal untuk dibuang sia-sia.

Aku berlari dari sana, meninggalkan kaleng yang masih terguling. Aku tidak ingin menarik perhatian lebih banyak lagi.

Elang menungguku di bawah jembatan, wajahnya kusut. “Kenapa?” tanyanya saat melihat wajahku yang memerah menahan marah dan sedih.

Aku tidak menjawab. Aku hanya duduk dan menatap kosong ke jalanan.

“Rama,” suara Elang bergetar, “aku ingin pulang.”

Aku menoleh. “Kamu punya rumah?”

Elang mengangguk. “Dulu. Tapi ibu sudah tiada, ayah pergi entah ke mana. Aku takut sendiri.”

Aku menelan ludah. Aku ingin berkata bahwa aku juga takut. Aku ingin mengatakan bahwa aku juga rindu rumah, rindu seseorang yang memelukku dan berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi aku tahu, dunia kami tidak memberi tempat untuk kelemahan.

Elang menunduk, menggenggam bajunya yang lusuh. “Kalau aku mati, apakah aku akan bertemu ibu lagi?” tanyanya pelan.

Dadaku terasa sesak. “Jangan bilang begitu, Elang…”

Ia tidak menjawab. Hanya diam, menatap malam yang semakin pekat.

Di kejauhan, suara azan maghrib menggema. Aku memejamkan mata, mengingat satu nasihat yang pernah kudengar dari ibu semasa beliau masih hidup. Ibu pernah berkata, “Siapa yang menghilangkan satu kesusahan dari seorang di dunia, Insyaallah, Allah akan balas dengan kebaikkan dan meringankan bebannya, kamu harus menjadi seperti itu yah, Rama. selalu berbuat baik dengan sesama.” Ucap Ibu kala itu dengan mengutip hadis Riwayat Muslim yang beliau dengar dari sebuah acara pengajian.

Aku ingin meyakini bahwa hari esok akan lebih baik. Aku ingin percaya bahwa Allah tidak akan meninggalkan kami. Namun, malam ini, di bawah jembatan yang dingin, aku merasa, keyakinan itu terasa begitu jauh.

Bersambung……

Penulis: Frida
Editor: Enjat

Qunutan: Tradisi Unik Masyarakat Banten Pada Malam 15 Ramadhan

0

Bulan Ramadhan bukan hanya menjadi momen ibadah dan pengendalian diri, tetapi juga kaya akan tradisi yang diwariskan turun-temurun di berbagai daerah di Indonesia. Salah satu tradisi yang masih terjaga hingga kini adalah Qunutan atau dikenal juga dengan sebutan Ngupat. Biasanya, tradisi ini digelar pada malam ke-15 Ramadhan sebagai ungkapan rasa syukur serta guna mempererat kebersamaan antarwarga.

Qunutan atau Ngupat adalah tradisi yang dilaksanakan pada pertengahan bulan Ramadhan, tepatnya pada malam ke-15. Dalam tradisi ini, masyarakat biasanya membuat ketupat untuk dibawa ke masjid menjelang waktu magrib. Tradisi yang dilakukan masyarakat Banten ini, sudah ada sejak masa Kesultanan Banten dan masih terus dilestarikan hingga Ramadhan 2025.

Tradisi ini, melambangkan rasa syukur umat Islam atas pencapaian menjalani puasa Ramadhan selama setengah bulan. Dalam jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia Sejahtera, yang ditulis oleh Muchlas Hakho Bahri, terdapat beberapa fakta unik tentang tradisi Qunutan masyarakat Banten:

1. Sebagai Wujud Rasa Syukur kepada Allah SWT

Masyarakat Banten melaksanakan tradisi Qunutan, sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah atas kesempatan yang diberikan untuk menjalankan ibadah puasa hingga pertengahan bulan. Rasa syukur ini diwujudkan melalui doa bersama dan pembagian makanan kepada sesama.

2. Momen untuk Bersedekah

Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah di mana pahala dilipatgandakan. Oleh karena itu, momen menjelang pertengahan Ramadhan sering dimanfaatkan untuk bersedekah, terutama kepada mereka yang membutuhkan.

3. Menyambut Malam Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadar

Dilansir dari Banten Raya, Tradisi Qunutan juga dikaitkan dengan peringatan malam Nuzulul Qur’an yang jatuh pada malam ke-17 Ramadhan. Pada malam tersebut, umat Islam memperingati turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril. Selain itu, bulan Ramadhan juga dikenal dengan malam Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Oleh karena itu, masyarakat Banten mengadakan doa bersama atau ngariung di masjid sambil membawa ketupat sebagai simbol kebersamaan.

4. Menggambarkan Perjuangan dan Kebersamaan

Membuat ketupat bukan perkara mudah. Bungkus ketupat yang terbuat dari janur kuning harus dianyam dengan keterampilan khusus. Selain itu, janur harus dipetik dari pohon kelapa yang tinggi, lalu ketupat direbus selama 5 hingga 8 jam sampai matang sempurna. Proses ini mencerminkan perjuangan dan kerja keras yang akhirnya menghasilkan sesuatu yang nikmat.

5. Tersedia Beragam Jenis Makanan

Tradisi Qunutan selalu identik dengan berbagai makanan khas. Salah satu yang paling populer adalah ketupat, yang di Banten lebih dikenal dengan sebutan “kupat”. Kupat menjadi simbol utama dalam perayaan ini dan selalu hadir dalam berbagai hidangan yang disajikan.

Tradisi Qunutan bukan sekadar rutinitas tahunan, tapi juga menjadi momen yang penuh makna bagi masyarakat Banten. Lebih dari sekadar membuat ketupat, tradisi ini mengajarkan tentang rasa syukur, kebersamaan, serta pentingnya berbagi dengan sesama.

Penulis : Davina
Editor : Lydia

Takjil di Ujung Senja

0

Di jalanan yang padat dan riuh,
Waktu melaju, adzan hampir tiba.
Langit senja berkilau jingga,
Menyaksikan manusia berlomba bukan untuk menang, bukan untuk berkuasa,
Tapi untuk memberi, dan berbagi.

Ramadan bukan sekadar lapar dan dahaga,
Tapi tentang menahan, tentang berbagi rasa.
Lihatlah di sudut jalanan kecil itu,
Seorang dermawan menyisihkan rezeki untuk yang butuh.

Di trotoar yang sempit, tangan-tangan menadah, senyum tulus di wajah-wajah lelah.
Bukan hanya perut yang butuh terisi,
Tapi hati yang haus kasih dan kepedulian.
Sebungkus kolak, sekotak nasi,
segelas teh hangat yang penuh arti.

Di antara mereka ada yang tak terlihat,
Seorang ibu dengan anak di pangkuan,
Seorang paru baya dengan tatapan kosong,
Seorang pejuang yang tak bersuara.
Mereka tak berebut, tak meminta,
hanya berharap dalam diam.

Lalu adzan berkumandang,
Semua berlalu dalam keheningan.
Seteguk air, sesuap manis,
dan hati yang tiba-tiba penuh.
Bukan karena kenyang,
Tapi karena menang.

Penulis: Ayunda
Editor: Lydia