Beranda blog Halaman 27

RUU TNI: Wacana Kembalinya Orba?

0

Rencana revisi Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia (TNI) bukan sekadar perubahan administratif, melainkan alarm keras bagi demokrasi di Indonesia. Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengusulkan untuk menambah jumlah kementerian dan lembaga yang bisa ditempati prajurit TNI aktif dari 10 menjadi 15. Ini bukan sekadar angka ini adalah perluasan kekuasaan militer yang semakin agresif menancapkan pengaruhnya di ranah sipil.

Kita tidak sedang berbicara tentang sekadar penyesuaian aturan, tetapi tentang kemunduran demokrasi yang mengingatkan kita pada era Orde Baru. Dengan bertambahnya pos baru seperti BNPB, BNPT, Keamanan Laut, Kejaksaan Agung, dan Kementerian Kelautan dan Perikanan, semakin jelas bahwa TNI tidak puas hanya berada dalam ranah pertahanan. Mereka ingin kembali mengendalikan pemerintahan sipil, sesuatu yang dulu menjadi ciri khas rezim otoriter Soeharto.

Sejarah Kelam Keterlibatan Militer di Pemerintahan

Mari kita mundur ke masa lalu. Pada era Orde Baru, konsep Dwifungsi ABRI menjadi tameng utama militer untuk masuk ke dalam pemerintahan sipil. Militer bukan hanya bertugas menjaga keamanan negara, tetapi juga diberikan peran aktif dalam politik, ekonomi, dan pemerintahan daerah.

Hasilnya? Militer menjadi alat utama penindasan terhadap rakyat. Dengan dalih stabilitas nasional, mereka mengontrol pemilihan umum, menekan kebebasan sipil, dan membungkam kritik terhadap pemerintah. Contohnya, pada Pemilu 1971, Kopkamtib (Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban) dikerahkan untuk memastikan kemenangan Golkar. Mereka menyaring dan mendiskualifikasi sekitar 20% calon legislatif dengan alasan politik, memastikan hanya orang-orang yang “sejalan” dengan pemerintah yang bisa ikut serta dalam pemilu.

Tak hanya itu, militer juga mendominasi pemerintahan daerah. Pada 1969, sekitar 70% gubernur provinsi dan lebih dari setengah bupati berasal dari kalangan perwira militer aktif (Sumber). Dengan kata lain, sipil hanya menjadi pelengkap dalam sistem pemerintahan yang didominasi oleh militer.

Mengapa Revisi UU TNI Berbahaya?
Dengan semua fakta sejarah ini, bagaimana mungkin kita bisa percaya bahwa revisi UU TNI ini tidak memiliki agenda tersembunyi? Penempatan TNI aktif dalam jabatan sipil bukan hanya sekadar “efisiensi birokrasi” seperti yang mereka gembar-gemborkan, melainkan strategi untuk mengembalikan dominasi militer dalam pemerintahan.

Coba pikirkan, mengapa Kejaksaan Agung tiba-tiba menjadi salah satu lembaga yang bisa ditempati oleh TNI aktif? Bukankah ini membahayakan independensi hukum? Apa jadinya jika aparat penegak hukum memiliki loyalitas ganda kepada negara atau kepada militer? Ini adalah potensi ancaman besar bagi keadilan hukum di Indonesia.

Kemudian, penempatan TNI di BNPB dan BNPT, dua lembaga yang memiliki peran krusial dalam menangani bencana dan terorisme. Apa artinya ini? Militerisasi penanganan bencana dan keamanan dalam negeri. Jangan kaget jika ke depannya, setiap bencana akan dikelola dengan pendekatan militeristik alih-alih pendekatan sipil yang lebih humanis dan berbasis komunitas.

Belum lagi Kementerian Kelautan dan Perikanan. Apa urusan TNI dalam kebijakan perikanan? Apakah ke depan kita akan melihat militer ikut campur dalam pengelolaan sumber daya laut, yang berpotensi membuka jalan bagi kepentingan bisnis dan oligarki di dalam tubuh TNI?

Jangan Biarkan Sejarah Berulang!

Revisi UU TNI ini bukan sekadar perubahan teknis. Ini adalah upaya sistematis untuk mengembalikan dominasi militer dalam pemerintahan. Sejarah telah membuktikan bahwa keterlibatan militer dalam pemerintahan sipil selalu berujung pada otoritarianisme, pengekangan kebebasan, dan penyalahgunaan kekuasaan.

Jika kita membiarkan ini terjadi, jangan heran jika dalam beberapa tahun ke depan, kita kembali melihat perwira-perwira TNI duduk di kursi eksekutif, legislatif, hingga yudikatif, mengulang skenario Orde Baru yang selama ini kita tolak.

Jangan biarkan sejarah berulang. Jangan biarkan demokrasi kembali dikendalikan oleh seragam loreng. RUU TNI harus ditolak.

Penulis: Najib

Dari Keterbatasan Menuju Harapan, Representasi Cerebral Palsy dalam Film “Big World”

0

Film Big World adalah sebuah drama inspiratif, yang mengisahkan perjalanan hidup seorang pemuda dengan cerebral palsy dalam menghadapi berbagai tantangan fisik dan  sosial. Kisah tersebut bukan hanya menggambarkan bagaimana seorang individu dengan kondisi ini menjalani kehidupan sehari-hari, tetapi jika melihatkan dampak psikologis dan sosial dari penyakit ini terhadap dirinya dan keluarganya.

Cerebral palsy (CP) adalah sekumpulan gangguan perkembangan motorik yang disebabkan oleh kerusakan pada otak yang belum matang, biasanya terjadi sebelum, selama, atau segera setelah kelahiran. Menurut penelitian dalam Journal of Pediatric Neurology, CP dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis, diantaranya spastik, ataksik, dan diskinetik, dengn gejala yang meliputi kelemahan otot, gangguan keseimbangan, hingga kesulitan berbicara dan mengontrol gerakan tubuh.

Dalam film Big World, karakter utama yang menderita cerebral palsy dihadapkan dengan berbagai tantangan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Gerakan tubuhnya yang terbatas, sering kali membuatnya kesulitan berinteraksi secara sosial dan menggapai impiannya. Namun, melalui dukungan keluarga dan kegigihannya, ia berusaha membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan halangan untuk meraih kebahagiaan dan kesuksesan.

Dukungan sosial memberi peranan penting bagi individu penderita cerebral palsy. Berdasarkan studi dalam Disability and Rehabilitation Journal, Individu dengan CP yang mendapat dukungan emosional dan sosial dari keluarga serta komunitas cenderung memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Film Big World menggambarkan bagaimana tokoh utama menerima dukungan penuh dari neneknya, yang menjadi motivasi terbesar baginya untuk terus berjuang.

Selain itu, penelitian dalam Journal of Developmental and Physical Disabilities menyebutkan bahwa, terapi fisik dan pelatihan keterampilan motorik sangat penting untuk meningkatkan kemandirian individu dengan CP. Tokoh dalam film ini menunjukkan perjuangan dalam meningkatkan keterampilan fisiknya agar bisa berkontribusi dalam masyarakat, yang mencerminkan pentingnya akses terhadap rehabilitasi medis dan pendidikan inklusif bagi penderita CP.

Film Big World berhasil menghadirkan representasi yang realistis mengenai kehidupan individu dengan Cerebral palsy. Dengan akting yang autentik dan penggambaran yang menyentuh, film ini membuka wawasan masyarakat tentang tantangan yang dihadapi oleh penyandang disabilitas. Dalam kajian psikologis disabilitas, representasi yang tepat dalam media membantu meningkatkan kesadaran dan empati publik terhadap kondisi ini.

Penelitian dalam Journal of Media Psychology menunjukan bahwa film dan media mempunyai peran signifikan dalam membentuk persepsi masyarakat tentang disabilitas. Dengan menampilkan karakter utama yang kuat dan inspiratif, Big World mengajak penonton untuk melihat potensi dan perjuangan individu dengan cerebral palsy, bukan hanya keterbatasannya.

Film Big World tidak hanya menyentuh sisi emosional penonton, tetapi juga memberikan pemahaman mendalam tentang cerebral palsy. Melalui kajian akademik, dapat disimpulkan bahwa kondisi ini membutuhkan perhatian khusus dalam aspek medis, sosial, dan psikologis. Dukungan dari keluarga dan masyarakat, serta akses terhadap rehabilitasi yang tepat, dapat membantu individu dengan cerebral palsy mencapai kemandirian serta kualitas hidup yang jauh lebih baik. Dengan demikian, film ini menjadi pengingat bahwa setiap individu, tidak terlepas dari keterbatasannya, memiliki hak untuk bermimpi dan berjuang meraih kehidupan yang jauh lebih baik.

Penulis: Paiz
Editor: Lydia

Mengenal 16 Tipe Kepribadian MBTI di Kampus: Kamu yang Mana?

0

Pernah merasa lebih nyaman bekerja sendiri dibandingkan dalam kelompok? Atau justru kamu tipe yang selalu jadi pusat perhatian di kelas? Ternyata, cara kita belajar, bersosialisasi dan mengambil keputusan, banyak dipengaruhi oleh kepribadian kita. Salah satu tes yang paling populer dalam memahami kepribadian adalah Myers-Briggs Type Indicator (MBTI).

Mengutip jurnal Menara Ilmu yang berjudul, “Peran Tes Kepribadian MBTI dalam Proses Konseling: Meningkatkan Pemahaman dan Pengembangan Diri Individu” karya Zubaidah dkk., tes MBTI pertama kali dikembangkan pada 1940-an oleh psikolog Isabel Myers dan ibunya, Katherine Briggs. Tes ini didasarkan pada teori Carl Jung yang membagi manusia ke dalam kategori introvert dan ekstrovert, konsep yang masih relevan hingga saat ini.

Dengan MBTI, seseorang bisa mengetahui tipe kepribadiannya berdasarkan empat dimensi utama, seperti Extrovert (E) vs. Introvert (I), Sensing (S) vs. Intuition (N), Thinking (T) vs. Feeling (F), serta Judging (J) vs. Perceiving (P). Kombinasi dari keempat aspek ini menghasilkan 16 tipe kepribadian unik yang bisa mencerminkan bagaimana seseorang berpikir, bertindak, dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar, termasuk dalam kehidupan kampus!

Penasaran tipe kepribadianmu dan bagaimana perannya dalam dunia perkuliahan? Simak ulasannya berikut ini!

1. ISTP (Introvert, Sensing, Thinking, Perceiving) – Si Problem Solver

Tipe ISTP sering dijuluki sebagai “Si Mekanik” atau “Si Pengrajin” karena memiliki kemampuan memecahkan masalah serta beradaptasi dengan situasi penuh tantangan. Mereka berpikir realistis dan logis serta lebih suka bekerja secara mandiri.

Di kampus, mahasiswa ISTP biasanya jago dalam mata kuliah teknis dan praktikal. Mereka lebih suka mengutak-atik mesin di laboratorium teknik, sibuk dengan proyek kreatif, atau menjadi andalan teman-temannya dalam hal troubleshooting laptop dan gadget.

2. ISTJ (Introvert, Sensing, Thinking, Judging) – Si Perencana yang Terorganisir

Orang dengan tipe ISTJ dikenal sebagai sosok yang serius, bertanggung jawab, dan dapat diandalkan. Mereka menjalani hidup dengan keteraturan dan perencanaan yang matang.

Mahasiswa ISTJ biasanya datang paling awal ke kelas, selalu mencatat dengan rapi, dan tidak pernah melewatkan deadline tugas. Mereka juga membuat jadwal ujian jauh-jauh hari dan selalu membawa agenda untuk mencatat hal-hal penting.

3. ISFP (Introvert, Sensing, Feeling, Perceiving) – Si Seniman

ISFP memiliki kepedulian tinggi terhadap orang lain, bersemangat, serta kreatif. Mereka biasanya berbakat di bidang seni dan mengekspresikan diri melalui karya-karya yang mereka ciptakan.

Di kampus, ISFP sering kita temukan di sudut-sudut perpustakaan dengan headphone di telinga, sibuk menggambar atau menulis puisi. Mereka lebih suka mengekspresikan perasaan melalui seni daripada berbicara panjang lebar dalam diskusi kelas.

4. ISFJ (Introvert, Sensing, Feeling, Judging) – Si Pelindung

Tipe ISFJ dikenal penuh perhatian dan mampu memberikan ketenangan bagi orang di sekitarnya. Mereka cenderung peduli dan bertanggung jawab terhadap kesejahteraan orang lain.

Mahasiswa ISFJ sering menjadi sosok yang siap membantu teman-teman memahami materi kuliah.

5. INTP (Introvert, Intuitive, Thinking, Perceiving) – Si Pemikir

INTP memiliki wawasan luas dan kemampuan analitis yang tajam. Mereka tertarik pada pemecahan masalah dan selalu berusaha memahami sesuatu secara mendalam sebelum mengambil keputusan.

Di kampus, INTP sering dicap sebagai mahasiswa dengan teori-teori unik dan suka berdebat dengan dosen mengenai konsep baru yang tidak diajarkan di kelas.

6. INFJ (Introvert, Intuitive, Feeling, Judging) – Si Penasihat

INFJ merupakan tipe kepribadian langka yang suportif, empati tinggi, serta gemar membantu orang lain.

Sebagai mahasiswa yang reflektif dan visioner, INFJ sering menjadi tempat curhat teman-temannya. Mereka juga aktif dalam kegiatan advokasi atau kemanusiaan.

7. INTJ (Introvert, Intuitive, Thinking, Judging) – Si Ahli Strategi

INTJ adalah individu yang analitis, logis, dan kreatif. Dengan kemampuan berpikir strategis, mereka dapat merancang rencana matang dalam mencapai tujuan tertentu.

Mahasiswa INTJ tidak suka berbasa-basi dan lebih fokus pada rencana jangka panjang untuk meraih prestasi akademik.

8. INFP (Introvert, Intuitive, Feeling, Perceiving) – Si Mediator

INFP dikenal memiliki kepekaan dan empati tinggi, sering berperan sebagai penengah dalam suatu konflik.

Di kampus, mereka sering mengeksplorasi makna kehidupan dan memilih bidang studi yang memungkinkan mereka mengekspresikan idealisme.

Ekstrovert di Kampus: Pemimpin dan Penggerak

9. ESTP (Extrovert, Sensing, Thinking, Perceiving) – Si Pembujuk

ESTP adalah mahasiswa gaul yang jago public speaking. Mereka suka tantangan, aktif dalam organisasi, dan percaya diri saat berbicara di depan banyak orang.

10. ESTJ (Extrovert, Sensing, Thinking, Judging) – Si Pengarah yang Tegas

Mahasiswa ESTJ sering menjabat sebagai ketua organisasi kampus atau koordinator suatu acara. Mereka memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat dan berorientasi pada hasil.

11. ESFP (Extrovert, Sensing, Feeling, Perceiving) – Si Penghibur

ESFP adalah mahasiswa paling seru di kampus. Mereka sering menjadi MC di berbagai acara dan suka berbagi kebahagiaan dengan orang lain.

12. ESFJ (Extrovert, Sensing, Feeling, Judging) – Si Pengasuh

Mahasiswa ESFJ tidak tahan melihat temannya kesulitan. Mereka sering menjadi panitia kepedulian sosial di kampus dan gemar mengadakan acara yang menyatukan banyak orang.

13. ENFP (Extrovert, Intuitive, Feeling, Perceiving) – Si Motivator

ENFP selalu punya ide-ide inovatif dan penuh energi. Mereka aktif dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler dan sering menjadi inisiator proyek kreatif.

14. ENFJ (Extrovert, Intuitive, Feeling, Judging) – Si Protagonis

Mahasiswa ENFJ mudah bergaul dan punya visi besar. Mereka sering menjadi mentor atau inspirator bagi teman-temannya dan mampu memotivasi orang lain.

15. ENTP (Extrovert, Intuitive, Thinking, Perceiving) – Si Pendebat

Mahasiswa ENTP suka berdebat dan mempertanyakan banyak hal, bukan untuk menang, tetapi karena mereka menikmati proses berpikir kritis.

16. ENTJ (Extrovert, Intuitive, Thinking, Judging) – Si Komandan

ENTJ adalah mahasiswa yang selalu punya target. Mereka tahu apa yang mereka inginkan dan akan melakukan segala cara untuk mencapainya.

Mengetahui tipe MBTI bukan hanya sekadar mengikuti tren, tetapi juga bisa membantu kamu memahami kelebihan dan kekurangan diri sendiri. Dengan memahami karakteristik masing-masing tipe, kamu bisa lebih mudah menentukan gaya belajar yang efektif, memilih aktivitas yang sesuai, hingga merancang masa depan yang lebih terarah.

Jika belum tahu tipe MBTI-mu, coba lakukan tes dan lihat hasilnya! Siapa tahu, kamu bisa lebih memahami dirimu sendiri dan menemukan cara terbaik untuk berkembang selama di kampus. Jadi, kamu termasuk tipe yang mana?

Penulis : Frida
Editor : Naila

Fun Fact: War Takjil Gratis Sudah ada Sejak Zaman Nabi!

0

Setiap bulan Ramadan, ada satu fenomena unik yang selalu dinantikan banyak orang, yaitu “Berburu Takjil Gratis” kini yang biasa di sebut dengan istilah “War Takjil Gratis”. Fenomena ini terjadi menjelang berbuka puasa, saat orang-orang berburu takjil gratis yang dibagikan oleh berbagai komunitas, masjid, atau orang dermawan.

Ternyata, berburu takjil gratis bukan hal baru, lho! Tradisi ini sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad. Rasulullah sangat menganjurkan umatnya untuk berbagi makanan berbuka kepada sesama. Dalam hadis riwayat Tirmidzi, beliau bersabda:

“Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikit pun.”

Menurut jurnal International Conference on Muslim Society and Thought yang ditulis oleh Vela Qotrun Nada, tradisi berbagi makanan berbuka sudah menjadi bagian dari budaya Islam sejak masa Nabi Muhammad. Pada waktu itu, makanan seperti kurma, roti, dan air sering dibagikan di masjid atau rumah-rumah para sahabat. Khalifah Utsman bin Affan bahkan membangun sumur dan menyediakan makanan bagi mereka yang kurang mampu.

Saat ini, fenomena “War Takjil Gratis” semakin berkembang dan menjadi bagian dari kebersamaan di bulan Ramadan. Orang-orang rela datang lebih awal dan memilih lokasi strategis agar tidak kehabisan takjil yang dibagikan secara gratis. Makanan yang tersedia pun beragam, mulai dari kurma, kolak, es buah, hingga nasi kotak.

Seiring berkembangnya media sosial, fenomena ini makin viral, terutama di TikTok. Banyak video yang mengabadikan momen-momen unik dan seru dari para pemburu takjil. Dalam jurnal Bisnis dan Komunikasi Digital oleh Siti Aminah, konten “War Takjil Ramadan” di TikTok membantu memperkuat rasa toleransi antarumat beragama.

Selain itu, jurnal Sosial Budaya Islam Kontemporer yang ditulis oleh Ridho Egi Adi Saputra, menyebutkan bahwa fenomena berburu takjil gratis juga mencerminkan solidaritas sosial dalam kehidupan masyarakat urban. Kegiatan ini mempererat hubungan antarwarga dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya berbagi di tengah perbedaan sosial ekonomi.

Di balik keseruannya, “War Takjil Gratis” mencerminkan nilai berbagi dan solidaritas. Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang kebersamaan serta membantu sesama. Fenomena ini menjadi bukti bahwa kebaikan bisa datang dari mana saja dan untuk siapa saja.

Jadi, kalau Sigmania berkesempatan ikut “War Takjil Gratis”, jangan lupa menikmati keseruannya dengan tetap menjaga sikap dan berbagi dengan mereka yang lebih membutuhkan.

Penulis: Davina
Editor: Lydia

Rencana Pengeluaran Masyarakat Di Bulan Ramadhan

0

Berdasarkan survei Jakpat tahun 2025, mayoritas masyarakat merencanakan pengeluaran terbesar selama Ramadan untuk kebutuhan ibadah dan kebersamaan. Sebanyak 82% responden mengalokasikan dana untuk zakat, infak, dan sedekah, diikuti oleh kebutuhan makanan untuk Ramadan dan Idulfitri sebanyak (75%), serta acara buka puasa bersama sebanyak (66%).

Belanja untuk persiapan Idulfitri juga menjadi fokus, dengan 62% responden mengutamakan belanja pakaian atau perlengkapan lainnya. Selain itu, pengeluaran untuk kebutuhan lain, seperti pulang kampung sebanyak (37%), hampers sebanyak (31%), liburan keluarga sebanyak (31%), dan uang tunai sebagai ampau lebaran sebanyak (29%) turut melengkapi daftar prioritas.

Untuk mendukung kebutuhan ini, 69% responden mengandalkan gaji sebagai sumber utama pendanaan, disusul oleh tunjangan hari raya (THR) sebesar 52%, tabungan (49%), dan hanya 7% yang menggunakan pinjaman.

WhatsApp Image 2025 03 10 at 11.34.36 1e110e81

WhatsApp Image 2025 03 10 at 11.34.36 0512024c

WhatsApp Image 2025 03 10 at 11.34.37 02490aa3

Cahaya Ramadan di Pinggir Jalan

0

Bagian awal: Ketika Rezeki Datang Tanpa Terduga

Di bawah trotoar kotor, tempat kami terasing, hidup berjalan tanpa kepastian. Kami mungkin seperti seonggok lintah yang tak pernah benar-benar dianggap ada, terpinggir juga terkucilkan. Di kota metropolitan yang gemerlap ini, deru kendaraan lebih nyaring dari suara tangisan, dan cahaya lampu dari gedung-gedung tinggi lebih terang dari kepedulian.

Trotoar menjadi tempat beristirahat, jembatan layang menjadi atap, dan dinginnya malam sering kali menjadi selimut paling akrab. Orang-orang berlalu dengan wajah terburu-buru, tenggelam dalam kesibukan, seolah dunia kami hanyalah bayang-bayang yang tak layak dipedulikan. Ketidakadilan adalah bagian dari hidup kami. Pedagang kaki lima diusir tanpa alasan, anak-anak kecil terjaga hingga larut demi membantu orang tua mereka, sementara para pekerja pulang dengan langkah gontai setelah seharian mencari nafkah. Kami adalah mereka yang tak dianggap, yang kerap dipandang sebelah mata.

Aku berdiri di perempatan jalan, cat silver yang melapisi kulitku mulai mengering, gatal, dan terasa panas. Di antara mereka, aku hanyalah seorang bocah sepuluh tahun yang melumuri tubuh dengan cat, demi beberapa lembar uang receh. Aku adalah manusia silver, patung hidup di pinggir jalan, diam membisu saat lampu merah menyala, berharap ada tangan-tangan dermawan yang melemparkan sedikit rezeki ke dalam kaleng kecil di tanganku. Beberapa orang melirikku dengan tatapan iba, sementara yang lain memilih mengabaikanku, seolah aku tak lebih dari bagian jalanan yang kotor.

Namaku Rama. Sejak ibuku meninggal tiga bulan lalu, aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Rumah kontrakan kami sudah diambil pemiliknya, dan aku terpaksa tidur di emperan toko atau kolong jembatan. Kadang aku lapar, lelah, tetapi aku tidak punya pilihan. Ramadan kali ini terasa begitu berat dan menyiksa.

Ketika azan Maghrib berkumandang, aku menepi ke trotoar. Di tanganku hanya ada setengah botol air mineral bekas yang kudapat dari seorang pejalan kaki tadi siang. Tak ada kurma, tak ada nasi, hanya air putih untuk membatalkan puasaku. Aku meneguknya perlahan, menahan perih di perutku yang sudah kosong sejak dua hari lalu. Bahkan aku tidak sahur, hanya bertahan dengan air bekas orang-orang minum.

Tiba-tiba, seorang lelaki tua mendekat. Ia membawa gerobak kecil berisi nasi bungkus. Wajahnya penuh kerutan, tetapi matanya teduh dan bersahabat.
“Nak, sudah berbuka?” tanyanya lembut.

Aku menunduk. “Sudah, Pak…” jawabku pelan, meskipun kenyataannya aku hanya minum air.

Lelaki itu tersenyum dan menyodorkan sebungkus nasi. “Makanlah. Ini untukmu.”

Aku terkejut. “Tapi saya nggak punya uang, Pak.”

Ia menggeleng pelan. “Nak, Rasulullah SAW bersabda, ‘Tidaklah berkurang harta karena sedekah, dan Allah tidak menambah bagi seorang hamba yang memberi maaf, kecuali kemuliaan.’ (HR. Muslim). Makanlah, Nak. Tak perlu membayar apa pun.”

Tanganku gemetar saat menerima nasi itu. Aku menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Terima kasih, Pak…” kataku lirih.

Malam itu, untuk pertama kalinya aku bisa makan untuk mengisi perut kosongku yang dua hari ini belum kuisi. Setiap suapan nasi yang masuk ke mulutku terasa seperti keberkahan. Sejenak, aku lupa tentang kesepian, tentang dinginnya trotoar, dan tentang bagaimana aku menghadapi hari esok. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku merasa dipedulikan.

Bersambung………….

Penulis: Frida
Editor: Lydia

Rendaman Air Kurma, Minuman Peningkat Energi Sejak Zaman Nabi

0

SiGMAnia, mungkin beberapa di antara kalian masih belum tahu, bahwa di bulan Ramadan ini ada sebuah minuman yang dipercaya dapat meningkatkan energi dan memberikan banyak manfaat bagi tubuh. Minuman ini kerap dikonsumsi saat sahur untuk membantu menjaga stamina sepanjang hari. Ya, minuman tersebut adalah rendaman air kurma, yang ternyata sudah dikenal sejak zaman Nabi Muhammad SAW dengan nama Nabidh.

Rendaman air kurma atau Nabidh adalah minuman tradisional dari Jazirah Arab yang telah ada sejak abad ke-7. Minuman ini berasal dari kebiasaan masyarakat Arab yang hidup di wilayah panas dan kering, di mana kurma menjadi salah satu makanan pokok kaya energi. Dengan cara merendam beberapa butir kurma dalam air selama beberapa jam atau semalaman, sari kurma akan larut dan menghasilkan minuman manis alami yang bernutrisi tinggi. Minuman ini cocok untuk melepas dahaga, memulihkan tenaga, serta menjaga kebugaran tubuh, terutama dalam menghadapi cuaca ekstrem dan kekurangan cairan.

Dalam hadis riwayat Muslim, disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW membuat Nabidh dengan merendam kurma dalam air dan meminumnya pada pagi hari setelah perendaman semalaman. Namun, beliau juga memberikan batasan bahwa perendaman tidak boleh dilakukan terlalu lama, hingga menimbulkan fermentasi, karena dapat menghasilkan kadar alkohol yang tinggi.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal “Identifikasi Kadar Alkohol Air Rendaman Kurma Madinah (Ajwa) dengan Variasi Masa Rendaman 12 Jam, 24 Jam, dan 36 Jam” oleh Noor Wahyu Miransyah, dkk., mengungkap bahwa, proses fermentasi selama perendaman dapat menyebabkan terbentuknya alkohol. Hal ini terjadi karena kandungan gula dalam kurma yang terurai menjadi karbon dioksida dan etanol. Oleh karena itu, disarankan untuk merendam kurma dalam waktu yang sesuai agar tetap aman dikonsumsi.

Rendaman air kurma dikenal memiliki berbagai manfaat kesehatan, di antaranya:
– Menjaga fungsi pencernaan yang sehat
– Melawan radikal bebas dengan kandungan antioksidannya
– Memulihkan tubuh setelah beraktivitas atau berolahraga
– Menyehatkan kulit dengan kandungan mineral seperti kalium dan magnesium

Hingga kini, tradisi merendam kurma tetap dilestarikan, terutama saat bulan Ramadan. Minuman ini tidak hanya praktis dan menyegarkan, tetapi juga sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW serta memberikan manfaat nyata bagi tubuh.

Jadi, SiGMAnia tertarik mencoba rendaman air kurma untuk sahur nanti?

Penulis : Ayunda
Editor : Naila

Warga Cibetus Dicegat Saat Hendak Aksi di POLDA

0

Serang, lpmsigma.com – Warga Cibetus kembali menggelar aksi membela warga yang ditangkap polisi dengan dugaan pelanggaran prosedur. Namun, saat hendak melakukan aksi di depan Markas Polisi Daerah (POLDA), mereka dicegat oleh aparat di perempatan menuju POLDA pada Kamis (06/03).

Hal itu diungkapkan oleh Lukman, salah satu koordinator lapangan. Ia menyebutkan bahwa polisi mencegat aksi tersebut, sehingga warga terpaksa melakukan aksi di perempatan jalan arah menuju POLDA.

“Saat kami ingin melakukan aksi, polisi sudah mencegat di perempatan,” ungkapnya.

Ia juga menyayangkan bahwa agenda aksi tidak berjalan sesuai rencana karena lokasi yang tidak sesuai dengan kesepakatan awal. Oleh karena itu, ia akan mendiskusikan kembali agenda tersebut di lain waktu atau di lokasi yang berbeda.

“Ada dua agenda, yaitu istighosah bersama dan kultum atau ceramah. Karena kondisi seperti ini, mungkin konsepnya akan kami susun ulang,” tambahnya.

Di tempat yang sama, warga Cibetus lainnya, Muniroh, mengungkapkan bahwa polisi masih melakukan intimidasi terhadap warga, sehingga menimbulkan ketakutan di kalangan mereka.

“Terakhir, dua hari yang lalu, beberapa polisi mendatangi rumah warga. Itu membuat warga ketakutan,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa polisi datang ke rumah warga, memfoto lingkungan sekitar, dan mencari waktu ketika kondisi sedang sepi.

“Mereka datang diam-diam, memfoto, dan mencari rumah yang sepi. Di kampung kami, kebetulan banyak rumah tanpa laki-laki,” pungkasnya.

Reporter: Najib

Asal-usul Shalat Tarawih dan Makna di Baliknya

0

Ramadhan adalah bulan penuh berkah dan ampunan. Umat Muslim berlomba-lomba memperbanyak ibadah di bulan ini, salah satunya dengan menunaikan shalat tarawih di malam hari. Namun, mengapa shalat malam Ramadhan disebut Tarawih? Ternyata, ada makna mendalam di balik nama ini yang lebih dari sekadar ibadah rutin.

Menurut jurnal Studi Ilmu Keagamaan Islam yang ditulis oleh Ahmad Sihabuddin Mubarok, shalat tarawih berasal dari kata tarawiha dalam bahasa Arab, yang berarti “beristirahat sejenak”. Shalat ini dinamakan Tarawih karena pada masa Nabi Muhammad SAW, para sahabat sering beristirahat sejenak di antara rakaat-rakaat shalat saat bulan Ramadhan. Makna dari shalat Tarawih adalah untuk menambah nilai ibadah dan ketakwaan kepada Allah SWT, serta menjadi kesempatan besar bagi umat Islam untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya.

Pada zaman Rasulullah SAW, shalat malam di bulan Ramadhan awalnya disebut Qiyam Ramadhan Rasulullah menunaikannya secara berjamaah beberapa kali, lalu menghentikannya karena khawatir umat menganggapnya wajib. Setelah Rasulullah wafat, di era Khalifah Umar bin Khattab, shalat ini kembali dihidupkan secara berjamaah dan mulai dikenal dengan nama Tarawih.

Dalam buku Sejarah Tarawih yang ditulis oleh Ahmad Zarkasih, Lc., munculnya istilah Tarawih sebagai sebutan untuk shalat sunah malam Ramadhan memiliki beberapa kemungkinan. Salah satunya adalah peristiwa di masa Khalifah Umar bin Khattab, seperti yang diriwayatkan oleh Imam al-Marwadzi dalam Kitab Qiyam Ramadhan.

Pada masa itu, Umar bin Khattab memerintahkan Ubai bin Ka’ab untuk menjadi imam Qiyam Ramadhan dengan bacaan 5 sampai 6 ayat di setiap rakaat. Shalat ini kemudian disebut Tarawih karena dalam pelaksanaannya, imam memberikan banyak tarwiih (istirahat) bagi makmum setiap selesai dua rakaat.

Jika shalat dikerjakan dengan 18 rakaat, maka terdapat 9 kali istirahat. Jika dikerjakan dengan 20 rakaat, jumlah istirahat menjadi 10 kali. Apalagi jika ditambah dengan 3 rakaat witir (2 rakaat ditambah 1), jumlah tarwiih bisa mencapai 12 kali. Inilah yang membuat shalat ini dikenal dengan istilah Tarawih.

Shalat Tarawih bukan sekadar rutinitas, tetapi juga momentum untuk meningkatkan kualitas ibadah dan meraih pahala sebanyak-banyaknya di bulan Ramadhan. Semoga kita bisa menjalankannya dengan penuh keikhlasan dan mendapatkan ridha Allah SWT. Aamiin.

Penulis : Davina
Editor : Lydia

Kleptomania Tingkat Dewa, Penyakit yang Mengakar di Kalangan Penguasa

0

Ada sekelompok orang, yang tampaknya memiliki kesulitan luar biasa untuk menahan diri dari mengambil sesuatu yang bukan haknya. Bukan karena mereka kekurangan, bukan pula karena mereka butuh. Ini murni dorongan, kebiasaan, dan mungkin penyakit yang sudah terlalu lama dibiarkan tumbuh subur.

Jika penderita kleptomania pada umumnya mencuri karena dorongan psikologis yang tak bisa mereka kendalikan, para pejabat korupsi justru menikmatinya. Mereka tidak hanya sekadar mencuri, tetapi merancang skema yang membuatnya terlihat legal. Dari penggelembungan anggaran, rekayasa proyek, hingga menyusun regulasi untuk melindungi kepentingan pribadi, semua dilakukan dengan cermat, rapi, dan penuh perhitungan.

Kas negara bagi mereka bukan sekadar anggaran untuk rakyat, tapi ladang yang selalu siap dipanen. Setiap proyek, setiap celah hukum, merupakan peluang untuk memuaskan keserakahan yang tak pernah benar-benar terpuaskan.

Jika kleptomania biasa bisa diobati dengan terapi perilaku, bagaimana dengan kleptomania yang sudah menjalar hingga ke sistem birokrasi? Mungkinkah ada vaksin anti-korupsi, atau kita harus belajar hidup berdampingan dengan penyakit ini?

Fenomena ini bukan lagi sekadar gangguan psikologis individu, tetapi sudah menjadi sistem yang mengakar. Jika kleptomania biasa terjadi secara impulsif, kleptomania tingkat dewa dilakukan dengan penuh kesadaran. Mereka membangun jaringan, memanfaatkan celah hukum, dan mengontrol mekanisme pengawasan agar tetap aman. Apa yang dimulai dari penggelembungan kecil dalam anggaran, perlahan-lahan berkembang menjadi penyelewengan berskala masif menguasai proyek-proyek infrastruktur, mengatur kebijakan energi, hingga bermain dalam sektor keuangan negara.

Tahun 2025 menjadi saksi bagaimana penyakit ini terus berkembang tanpa hambatan. Salah satu skandal terbesar yang mencuat adalah dugaan korupsi dalam proyek kilang minyak Pertamina, yang nilainya mencapai kuadriliun rupiah, angka yang begitu besar hingga sulit untuk dibayangkan. Selain itu, kasus korupsi di Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) mengungkap bagaimana “uang zakat” dijadikan tameng untuk menarik fee ilegal, menyebabkan kerugian negara sebesar Rp. 11,7 triliun. Tak ketinggalan, penyelewengan minyak curah dalam program minyak goreng bersubsidi “Minyak Kita” semakin memperlihatkan betapa korupsi bukan lagi sekedar tindakan individu, melainkan sudah menjadi pola kerja yang sistematis.

Dari perspektif psikologi, perilaku ini bisa dijelaskan melalui Teori Fraud Triangle yang dikembangkan oleh Donald Cressey. Ada tiga faktor utama yang mendorong seseorang melakukan korupsi yaitu karena adanya tekanan, kesempatan, dan rasionalisasi. Tekanan muncul dari tuntutan gaya hidup dan kebutuhan politik. Kesempatan hadir karena lemahnya sistem pengawasan yang bisa dimanipulasi. Sementara rasionalisasi menjadi tameng moral, menjadikan para pelaku merasa apa yang mereka lakukan adalah sesuatu yang wajar.

Lebih jauh, penelitian “Analisis Neuropsikologik Terhadap Pelaku Tindak Pidana Korupsi” oleh Boniy Taufiqurrahman (2019) menunjukkan bahwa korupsi dapat memicu _dopamine rush_, sensasi euforia yang serupa dengan kecanduan judi atau narkoba. Semakin tinggi jabatan, semakin tinggi pula kemungkinan korupsi.

Serotonin pada otak mengatur setiap perilaku seseorang, pada konteks koruptor, telah terjadi kerusakan pada hormon tersebut. Bagian limbik mengatur perilaku dan motivasi. Adanya chance menyebabkan orang melakukan korupsi. Pada bagian gage frontal terjadi kerusakan dan menyebabkan kehilangan perilaku serta aspek moralitas. Hal itu juga sejalan dengan seberapa sering mereka berhasil lolos, semakin sulit untuk berhenti. Akibatnya, perilaku ini terus berulang, berkembang, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Ironisnya, meskipun reformasi birokrasi lebih sering digembar-gemborkan, hal tersebut hanya jadi jargon politik ketimbang solusi nyata. Hukuman bagi pelaku korupsi tetap ringan. Banyak yang masih bisa menikmati hidup mewah setelah keluar dari penjara, bahkan beberapa kembali menduduki jabatan strategis.

Pendidikan antikorupsi pun terbukti belum cukup efektif untuk mengubah mentalitas generasi penerus. Sementara itu, masyarakat pun dihadapkan pada dilema: terus melawan meskipun sistem tidak mendukung, atau sekadar menjadi penonton yang semakin kehilangan harapan.

Jika tidak ada perubahan fundamental, kleptomania tingkat dewa akan tetap menjadi wabah dalam birokrasi dan pemerintahan. Mungkin pertanyaannya sekarang bukan lagi bagaimana memberantas korupsi, tetapi berapa lama lagi kita bisa bertahan hidup di tengah sistem yang seperti ini?

Penulis : Naila
Editor : Lydia