Beranda blog Halaman 25

DATA PEMUDIK TAHUN 2016-2025

0

SUMBER: Pusat Data Kontan

https://pusatdata.kontan.co.id/infografik/83/Jumlah-Pemudik-2016-2025

Setiap tahun, menjelang hari raya idulfitri, jutaan manusia berbondong-bondong melakukan perjalanan mudik untuk bertemu keluarga serta merayakan momen-momen penting bersama di kampung halaman. Tradisi ini tidak hanya momen silaturahmi, tetapi juga sebuah fenomena sosial. Jumlah pemudik dari tahun 2016 hingga 2025 menunjukkan fluktuasi yang signifikan, mencerminkan dinamika sosial serta kebijakan yang berlaku di Indonesia.

Picture1

                                            Sumber: Pusat data kontan

Data ini menggambarkan fluktuasi jumlah pemudik di Indonesia dari tahun 2016 hingga tahun 2025, pada tahun 2016 hingga 2019, jumlah pemudik masih relatif stabil, berkisar antara 18,30 juta orang hingga 19,50 juta orang. Penurunan drastis terjadi pada tahun 2020 dan 2021, masing-masing jumlah pemudik hanya mencapai 0,29 juta orang dan 1,50 juta orang, penurunan ini diakibatkan oleh larangan mudik dari pemerintah dikarenakan masa pandemi COVID-19 pada kala itu. Pada tahun 2022 jumlah pemudik perlahan meningkat menjadi 8,50 juta orang. Puncaknya pada tahun 2023, jumlah pemudik meningkat secara drastis dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, yaitu mencapai 123,80 juta orang. Kemudian naik lagi pada tahun 2024, jumlah pemudik mencapai 193,60 juta orang. Namun untuk tahun 2025, hasil survei terbaru dari Kementerian Perhubungan (Menhub) yang bekerja sama dengan Litbang Kompas menunjukkan jumlah pemudik mengalami penurunan menjadi 146,48 juta orang atau penurunan sebesar 24,34%.

Faktor-faktor yang menjadi pendorong lonjakan pemudik:

  1. Pelonggaran aturan perjalanan: Tidak adanya pembatasan perjalanan seperti yang terjadi pada masa pandemi Covid-19.
  2. Peningkatan infrastruktur transportasi: Pembangunan dan peningkatan jalan tol turut mempermudah masayarakat untuk mudik.
  3. Mudik Gratis: Program mudik gratis juga menjadi faktor masyarakat untuk melakukan mudik.
  4. Pemulihan Ekonomi: Pemulihan ekonomi setelah masa pandemi turut berkontribusi terhadap peningkatan pemudik karena daya beli yang meningkat.

Cahaya Ramadan di Pinggir Jalan

0

Bagian Empat: Kesempatan di Akhir Kemenangan

Angin dini hari membelai wajah kami saat lelaki tua itu mengulurkan tangannya. Di matanya, ada kelembutan yang tak pernah kami temukan di jalanan. Namun, hatiku tetap diliputi keraguan. Bertahun-tahun hidup dalam gelap, membuat cahaya terasa asing. Apakah benar ada orang sebaik ini? Apakah kami layak menerima kebaikan?

Aku menoleh ke arah Elang. Bocah itu menggigit bibirnya, menatap tangan lelaki tua itu, seperti seorang pengelana yang ragu menyentuh sumber air. Lalu, dengan ragu-ragu, ia menggenggamnya. Aku tahu, Elang memilih percaya. Tapi aku?

Lelaki tua itu tidak memaksa. Ia hanya tersenyum dan berkata, “Ramadan adalah bulan kesempatan, Nak. Kesempatan untuk kembali, kesempatan untuk berubah. Allah selalu memberi jalan pulang bagi siapa pun yang mau melangkah.”

Aku memejamkan mata. Kata “pulang” terasa asing bagiku. Rumah adalah ilusi yang tak pernah kukenal. Namun, apakah aku akan selamanya menggelandang dalam ketidakpastian? Apakah aku akan terus menutup pintu kesempatan?

Langit mulai berubah warna. Ufuk timur merona jingga. Aku menarik napas panjang, lalu mengulurkan tanganku, bukan hanya untuk lelaki tua itu, tetapi juga untuk diriku sendiri. Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku memilih percaya.

Kami berjalan meninggalkan masjid, meninggalkan trotoar, tempat kami selama ini bertahan. Tak ada yang tahu bagaimana hari esok. Namun, malam ini aku belajar satu hal: selama masih ada secercah cahaya, jalan pulang selalu ada.

Dan Ramadan ini, kami diberi kesempatan untuk menemukannya.

Ketika langkah kami semakin menjauh dari jalanan, rasa asing menyergap dadaku. Apakah ini benar keputusan yang tepat? Namun, genggaman Elang di tanganku terasa erat, seolah memberi keyakinan bahwa kami telah memilih jalan yang benar.

Lelaki tua itu membawa kami ke sebuah rumah kecil di ujung gang. Rumah sederhana dengan lampu temaram yang memancarkan kehangatan. “Kalian tidak perlu takut,” katanya, “Allah selalu punya rencana untuk setiap hambanya.” Kata-kata itu menggema dalam hatiku, mengikis sedikit demi sedikit ketakutan yang selama ini membelenggu.

Di ambang pintu rumah itu, aku menghela napas panjang. Mungkin ini awal dari sesuatu yang baru. Mungkin, Ramadan kali ini benar-benar menjadi titik balik dalam hidup kami. Aku melangkah masuk, meninggalkan masa lalu dan untuk pertama kalinya, menatap masa depan dengan secercah harapan.

Hari-hari berlalu. Kami mulai terbiasa dengan kehidupan baru. Elang membantu lelaki tua itu di warung kecilnya, sementara aku mulai belajar membaca dan menulis dari beberapa buku yang ia pinjamkan. Ramadan semakin mendekati akhir dan untuk pertama kalinya dalam hidup, aku merasa memiliki tempat untuk kembali.

Malam takbiran tiba. Suara takbir menggema dari segala penjuru, membelah malam dengan lantunan yang menyentuh kalbu. Aku dan Elang duduk di depan rumah, menatap langit yang dipenuhi cahaya lampu dan kembang api di kejauhan. “Besok kita akan salat eid, Kak?” tanya Elang pelan.

Aku menoleh padanya, lalu tersenyum. “Iya, kita akan salat bersama. Kita akan memulai lembaran baru.”

Elang menyandarkan kepalanya di bahuku. Aku menatap ke depan, ke jalanan yang dulu kami anggap satu-satunya rumah. Kini, aku sadar, rumah bukan sekadar tempat berteduh. Rumah adalah tempat di mana hati merasa aman, di mana cahaya selalu ada untuk mereka yang mau melangkah.

Dan malam ini, aku tahu, aku telah menemukan rumahku.

TAMAT

Penulis: Frida
Editor: Lydia

Ngariung: Tradisi Masyarakat Sunda yang Ajarkan Kebersamaan dalam Spiritual

0

Masyarakat Sunda, memiliki berbagai tradisi yang erat kaitannya dengan kebersamaan dan musyawarah. Salah satunya adalah Riungan, yaitu kegiatan berkumpul yang bertujuan untuk membahas berbagai hal, baik dalam lingkup keluarga maupun pemerintahan adat. Riungan bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan untuk mempererat silaturahmi, serta melestarikan nilai-nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Di sisi lain, ada juga tradisi Ngariung, yang lebih berfokus pada aspek keagamaan dan spiritual. Ngariung merupakan tradisi unik masyarakat Banten yang diisi dengan doa bersama, shalawat, serta pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an sebagai ungkapan rasa syukur. Biasanya, ngariung dilakukan untuk memperingati momen-momen penting, seperti hari kemerdekaan, kelahiran bayi, akikah, dan acara lainnya.

Secara etimologis, kata ngariung berasal dari dua unsur bahasa Sunda, yaitu “nga” yang berarti melakukan suatu kegiatan, dan “riung” yang berarti berkumpul dalam satu kelompok. Ngariung biasanya dilakukan di tempat yang dianggap bersih dan suci, seperti masjid, musholla atau rumah warga yang menjadi tuan rumah acara.

Menurut jurnal Keislaman dan Ilmu Pendidikan yang ditulis oleh Suntiyah dkk, ngariung atau selametan merupakan tradisi berkumpul, yang melibatkan seluruh kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, khususnya kaum laki-laki, untuk berdoa bersama. Salah satu bentuk ngariung yang masih lestari adalah tradisi Panjang Mulud Nabi, yaitu perayaan yang diadakan dalam rangka memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad.

Dalam pelaksanaan Panjang Mulud Nabi, makanan yang telah didoakan akan dibagikan kepada masyarakat sekitar. Tujuan dari pembagian makanan ini adalah agar seluruh warga, termasuk mereka yang kurang mampu, dapat menikmati hidangan yang mungkin jarang mereka miliki. Makanan tersebut dibagikan secara acak dan tidak selalu merata, tetapi tetap mencerminkan semangat kebersamaan dan berbagi.

Ngariung memiliki dampak yang signifikan dalam kehidupan masyarakat Sunda, baik dari segi spiritual maupun sosial. Dari sisi spiritual, tradisi ini menjadi sarana untuk mempererat hubungan dengan leluhur serta memperdalam rasa kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Ngariung juga diyakini memberikan ketenangan batin dan keyakinan bahwa doa-doa yang dipanjatkan akan didengar dan dikabulkan oleh Tuhan.

Dari aspek sosial, ngariung berperan sebagai ajang untuk mempererat hubungan antaranggota masyarakat. Melalui kegiatan ini, warga saling mendukung, berdoa bersama, dan memperkuat solidaritas. Kehadiran seluruh lapisan masyarakat dalam ngariung mencerminkan nilai gotong royong dan kebersamaan yang menjadi ciri khas budaya Sunda.

Seiring perkembangan zaman, tradisi ngariung tetap bertahan, karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya masih relevan dan dihargai oleh masyarakat. Hingga kini, ngariung tetap dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, wujud kepedulian sosial, serta sarana untuk memohon perlindungan dan keberkahan dari Tuhan.

Meskipun mengalami penyesuaian dengan perubahan zaman, esensi dari ngariung tetap sama mempererat hubungan sosial, berbagi kebahagiaan, dan menjaga nilai-nilai kearifan lokal yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Penulis : Davina
Editor : Lydia

Unik! Negara Ini Cuma Punya Waktu Satu Jam untuk Puasa?

0

Saat ini kita sudah menjalani hampir satu bulan puasa, tapi tahukah kalian SiGMAnia bahwa ternyata ada salah satu wilayah di muka bumi ini yang melangsungkan puasa hanya selama satu jam dalam satu hari. Emang ada?

Mari kita cek faktanya!

Seorang WNI melalui akun X @ommi_siregar, membagikan pengalamannya yang melaksanakan puasa hanya dalam 1 jam saja. Pengalaman tersebut ia dapatkan ketika berada di Murmansk, Rusia.

Hal ini di sebabkan karena letak geografis Murmansk yang berada di dekat Kutub Utara. Bahkan uniknya lagi, di bulan Desember matahari tidak terbit sama sekali selama seharian penuh.

Daerah Murmansk memang mengalami fenomena malam kutub atau polar night ketika musim dingin, yang artinya matahari tidak terbit sama sekali selama sebulan penuh.

Murmansk sendiri memiliki waktu shalat yang berdekatan seperti subuh, isya, dan magrib. Ketiga waktu solat tersebut dilaksanakan dalam satu waktu. Bahkan menurutnya pada beberapa sumber dan tanggal yang berbeda menyatakan bahwa shalat dzuhur dan ashar hanya berbeda 10 menit saja untuk waktu pelaksanaanya.

Nah SiGMAnia, karena letak geografisnya maka dari itulah Murmansk memiliki waktu shalat yang berdekatan dan puasa yang singkat, hal ini disebabkan oleh durasi waktu siang hari yang sangat singkat dan dapat berpengaruh kepada waktu ibadah.

Penulis: Nabel
Editor: Lydia

Waktu yang Pas untuk Berolahraga Saat Berpuasa, Simak Penjelasannya

0

Lebaran hanya tinggal beberapa hari lagi, setelah itu datanglah waktu untuk mudik, aktivitas yang mengharuskan tubuh siap menjalani perjalanan jauh. Meskipun berpuasa, menjaga kebugaran tubuh tetap penting untuk mempersiapkan diri, terutama menghadapi aktivitas lebaran yang padat.

Olahraga saat puasa sebenarnya bisa dilakukan, asalkan memilih waktu yang tepat. Salah satu waktu yang sangat dianjurkan adalah sebelum berbuka puasa. Pada saat ini, kadar gula darah berada dalam kondisi rendah, yang memungkinkan tubuh untuk lebih mudah membakar lemak sebagai sumber energi. Aktivitas ringan seperti jalan kaki atau jogging santai bisa menjadi pilihan yang efektif. Selain itu, olahraga sebelum berbuka juga membantu meningkatkan sensitivitas insulin tubuh, yang memungkinkan tubuh untuk menggunakan gula darah dengan lebih efisien setelah berbuka puasa.

Dikutip dari Jurnal berjudul “Pandangan Mahasiswa Terhadap Olahraga di Bulan Ramadhan” yang ditulis oleh Muhammad Rizky Kurniawan, dkk bahwa, walau olahraga sebelum berbuka memberikan banyak manfaat, durasi dan intensitas olahraga perlu diperhatikan agar tubuh tidak terlalu kelelahan. Cukup 20-30 menit dengan intensitas ringan sudah cukup efektif. Waktu lainnya yang juga baik untuk berolahraga adalah setelah berbuka puasa. Setelah berbuka, tubuh sudah mendapatkan asupan makanan dan cairan yang diperlukan, sehingga lebih siap untuk melakukan aktivitas fisik dengan energi yang lebih banyak. Berolahraga setelah berbuka juga membantu tubuh mengembalikan stamina dan menghindari risiko dehidrasi, yang sering terjadi jika berolahraga saat perut kosong.

Setelah berbuka, jenis olahraga bisa ditingkatkan, seperti bersepeda atau latihan kekuatan ringan, karena tubuh sudah mendapatkan pasokan energi dari makanan yang dikonsumsi. Namun, sebaiknya hindari olahraga yang terlalu berat, agar tubuh tetap dalam kondisi prima dan tidak terlalu lelah.

Selain memilih waktu yang tepat untuk berolahraga, menjaga tubuh tetap sehat dan bugar menjelang mudik juga sangat penting. Mudik lebaran sering kali melibatkan perjalanan panjang, yang bisa membuat tubuh mudah lelah. Oleh karena itu, berolahraga secara rutin selama bulan puasa dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh dan mencegah kelelahan saat mudik. Dengan tubuh yang kuat, perjalanan panjang pun bisa lebih mudah dijalani tanpa merasa cepat lelah.

Dilansir dari Kementerian Kesehatan, tips makan saat sahur dengan makanan tinggi serat dan hindari makanan berminyak, berbuka puasa secara bertahap dimulai dengan air putih dan makanan manis, hindari makan berlebihan saat malam, tetap beraktivitas fisik minimal 30 menit, dan menjaga pola tidur dengan tidak begadang terlalu larut. Dengan mengikuti tips ini, tubuh akan tetap bugar dan siap menjalankan ibadah dengan baik.

Dengan menjaga kebugaran tubuh selama bulan puasa dan memilih waktu olahraga yang tepat, puasa dan mudik bisa dijalani dengan penuh energi tanpa mengorbankan kesehatan. Olahraga sebelum atau setelah berbuka merupakan pilihan yang aman dan efektif untuk mempersiapkan tubuh agar tetap bugar selama Ramadan dan menjelang perjalanan mudik lebaran.

Penulis: Indah
Editor: Lydia

Transformasi Metabolisme Tubuh Selama Puasa

0

Puasa, terutama yang dilakukan selama bulan Ramadhan, memberikan dampak signifikan pada tubuh kita. Selama sebulan berpuasa, tubuh melakukan penyesuaian metabolisme, mulai dari perubahan pola makan hingga pengelolaan energi. Menurut jurnal “Pengaruh Puasa pada Kesehatan Tubuh, Kesehatan Mental, dan Prestasi Belajar”, puasa dapat meningkatkan sensitivitas insulin yang mengatur kadar gula darah, mengurangi peradangan, serta membantu mengontrol berat badan. Meski demikian, efek positif tersebut bergantung pada cara puasa dilakukan, terutama dalam pola makan yang sehat dan teratur.

Selama bulan puasa, tubuh kita mengubah cara mengolah energi. Ketika tidak ada asupan makanan dan minuman, tubuh akan mulai menggunakan cadangan energi berupa glikogen dan lemak untuk bertahan. Proses ini dapat meningkatkan metabolisme tubuh, yang berfungsi untuk mengatur berat badan dan mendukung kesehatan jantung. Puasa juga memberi kesempatan bagi tubuh untuk melakukan detoksifikasi, mengurangi beban pada sistem pencernaan, serta memperbaiki keseimbangan hormon.

Namun, perubahan pola makan yang drastis setelah Ramadhan atau saat Lebaran bisa mengganggu efek positif tersebut. Makan berlebihan yang tinggi gula atau lemak setelah berpuasa dapat mengganggu metabolisme tubuh dan merusak hasil positif yang sudah dicapai selama puasa. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menekankan pentingnya menjaga pola makan yang seimbang setelah Ramadhan untuk memastikan tubuh tetap sehat dan metabolisme tetap berfungsi optimal.

Selain itu, perubahan drastis dalam pola makan setelah Ramadhan juga dapat menyebabkan gangguan pencernaan. Sistem pencernaan yang telah beradaptasi dengan pola makan terbatas selama puasa, mungkin akan “terkejut” jika langsung diberikan makanan berat atau berlemak. Oleh karena itu, disarankan untuk memperkenalkan makanan secara bertahap dan menghindari konsumsi berlebihan yang bisa menyebabkan masalah pencernaan seperti perut kembung atau mulas.

Kementerian Kesehatan (KEMENKES) juga menyarankan agar masyarakat tetap memperhatikan pola makan sehat meskipun tidak sedang berpuasa. Diet yang kaya akan buah, sayur, protein sehat, dan menghindari makanan olahan atau tinggi gula tetap menjadi kunci utama dalam menjaga metabolisme tubuh yang sehat. Kemenkes juga merekomendasikan agar pola makan seimbang dilengkapi dengan olahraga ringan untuk menjaga kebugaran dan kesehatan tubuh.

Selain makan yang sehat, tidur yang cukup juga menjadi faktor penting untuk mendukung kesehatan tubuh setelah Ramadhan. Kualitas tidur yang buruk dapat mengganggu metabolisme tubuh, memperlambat proses pemulihan, dan memengaruhi keseimbangan hormon. Oleh karena itu, penting untuk kembali ke pola tidur yang teratur dan cukup setelah bulan puasa untuk menjaga keseimbangan tubuh.

Secara keseluruhan, dampak puasa terhadap metabolisme tubuh dapat sangat positif jika dilakukan dengan bijak. Namun, menjaga keseimbangan antara pola makan sehat, aktivitas fisik, dan kualitas tidur setelah Ramadhan sangat penting untuk mempertahankan hasil yang telah dicapai selama bulan puasa. Dengan pendekatan yang tepat, tubuh dapat tetap sehat dan bugar setelah Ramadhan berakhir, serta menghindari dampak negatif yang dapat timbul jika pola makan dan gaya hidup berubah secara drastis.

Penulis: Indah
Editor: Lydia

Warna diujung Kehidupan

0

Di atas botol, warna bertanya,
Tentang asal, rasa, atau tanda semata?
Biru, putih, hijau, merah, dan lainnya
Masing-masing menyimpan sebuah rahasia.

Biru, sejuk seperti langit terbuka,
Seolah dari gunung yang tinggi,
Mengalir jernih dari mata air,
Membawa kesejukan yang abadi.

Putih, sederhana dan murni,
Menjanjikan kemurnian sejati,
Disaring rapi, disiapkan hati-hati,
Agar tiap tetesnya bersih di nadi.

Hijau, bagaikan nafas alam,
Seperti embun di pagi kelam,
Menjanjikan kesegaran alami,
Dari sumber yang dijaga rapi.

Merah berani menantang dahaga,
Mungkin berperisa, mungkin berbeda,
Membawa cita rasa yang unik,
Dalam tiap tegukan yang mengalir.

Namun, apakah warna itu yang utama?
Bukan warna yang menghapus dahaga,
bukan kemasan yang menjaga hidup,
melainkan air tak tampak, tapi begitu berharga.

Warna hanyalah selubung,
Sebuah tanda yang diciptakan tangan,
Bukan asal, bukan hakikat,
Hanya ilusi permainan mata dan hati.

Jadi, jangan tertipu warna semata,
Lihat lebih dalam, pahami makna,
Sebab air tetaplah kehidupan,
Tak peduli warna di ujung yang menutup.

Manusia hanya sibuk memilih rupa,
baru menyadari terlambat sudah,
bahwa kehidupan tak ditentukan oleh warna.

Penulis: Ayunda
Editor: Enjat

Cahaya Ramadan di Pinggir Jalan

0

Aku menatap Elang yang masih menunduk, tangannya mencengkeram bajunya yang lusuh. Kata-katanya tadi masih terngiang di kepalaku. “Kalau aku mati, apakah aku akan bertemu ibu lagi?”

Dada ini terasa sesak. Aku ingin mengatakan bahwa dia tidak akan mati. Aku ingin meyakinkannya bahwa dunia ini masih memiliki tempat untuk kami. Tapi, bagaimana aku bisa berkata seperti itu, kalau aku sendiri tidak yakin?

Azan maghrib masih berkumandang dari kejauhan. Aku menarik napas panjang, lalu berdiri. “Ayo, Elang kita cari masjid,” kataku.

Elang menatapku ragu. “Untuk apa?”

“Aku ingin salat”

Aku sendiri tidak ingat kapan terakhir kali aku benar-benar bersujud dengan khusyuk. Namun, malam ini, aku ingin berbicara dengan-Nya. Mungkin, hanya itu satu-satunya tempat aku bisa mengadu tanpa takut diusir atau ditendang.

Kami berjalan ke masjid kecil di ujung jalan. Lampunya temaram, hanya ada beberapa orang yang salat berjamaah. Aku dan Elang mengambil wudu di keran luar, merasakan air dingin mengalir di kulit kami. Setelahnya, kami masuk dan ikut salat.

Saat sujud terakhir, aku terdiam lama. Aku ingin berdoa, tapi entah mengapa dadaku begitu sesak. Hanya ada satu kalimat yang sanggup keluar dari bibirku, “Ya Allah, jangan tinggalkan kami.”

Selesai salat, aku melihat Elang tertidur di pojokan masjid. Wajahnya terlihat lebih damai, meskipun tubuhnya masih ringkih. Aku duduk di sampingnya, membiarkan punggungku bersandar ke dinding.

Saat itulah seorang lelaki tua dengan jenggot putih menghampiri kami.

“Kalian anak jalanan?” tanyanya lembut.

Aku mendongak kaget. Ah, bapak itu, bapak dengan gerobak yang memberi nasi pekan lalu. Aku menelan ludah tersenyum kaku, lalu mengangguk.

Lelaki itu tersenyum. “Kalian lapar? Saya ada kurma dan roti.”

Mataku melebar. Lelaki itu lalu mengeluarkan beberapa butir kurma dan sepotong roti dari kantongnya. Aku membangunkan Elang pelan, lalu kami menyantap makanan itu dengan lahap.

“Kalian tahu, Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang tidak menyayangi manusia, maka Allah tidak akan menyayanginya.” (HR. Bukhari & Muslim). Lelaki tua itu menatap kami lembut. “Allah tidak akan meninggalkan kalian, Nak. Bersabarlah.”

Aku terdiam. Kata-kata bapak itu selalu menenangkan, tapi juga menyakitkan bagiku. Aku sudah bersabar, lalu kapan semuanya akan berubah?

“Apa kalian punya keluarga?” tanyanya.

Aku menggeleng. “Saya tidak tahu… Elang juga tidak punya siapa-siapa.”

Lelaki itu menghela napas. “Maukah kalian ikut ke rumah saya?”

Aku dan Elang berpandangan. Tawaran itu terdengar seperti mimpi. Setelah bertahun-tahun hidup di jalanan, kini ada seseorang yang menawarkan tempat untuk pulang?

Tapi, apakah kami berhak menerimanya?

Bersambung…….

Penulis: Frida
Editor: Enjat

Tips Ampuh! Bebas Mabuk Kendaraan Saat Mudik

0

Mudik sebentar lagi! Selain kemacetan, mabuk kendaraan juga jadi tantangan yang bikin perjalanan terasa menyiksa. Pusing, mual, keringat dingin, bahkan muntah bisa menyerang kapan saja, terutama saat perjalanan panjang dan macet parah.

Mabuk perjalanan bukan cuma soal perut yang lemah, tapi terjadi karena sistem keseimbangan tubuh yang “bingung”. Otak menerima sinyal berbeda dari mata dan telinga bagian dalam, menyebabkan rasa tidak nyaman hingga mual. Biar perjalanan tetap nyaman, coba beberapa trik berikut!

1. Pilih Posisi Duduk yang Minim Guncangan

Posisi duduk sangat mempengaruhi risiko mabuk kendaraan. Jika naik mobil atau bus, duduk di bagian depan lebih stabil dibanding kursi belakang yang lebih sering mengalami guncangan. Di kapal, bagian tengah cenderung lebih tenang dibanding sisi tepi. Sementara di pesawat, duduk dekat sayap bisa mengurangi efek turbulensi.

Selain itu, usahakan melihat ke luar jendela dan fokus pada objek yang jauh, seperti garis jalan atau cakrawala.

2. Hindari Kebiasaan yang Bisa Menyebabkan Mual

Beberapa hal yang sebaiknya dihindari saat perjalanan:

Menatap layar HP atau membaca terlalu lama membuat otak semakin bingung dengan sinyal dari mata dan sistem keseimbangan tubuh.
Makan berlebihan sebelum berangkat menyebabkan perut penuh sehingga lebih rentan mual.
Menghirup bau menyengat, seperti bau bensin, parfum kuat, atau makanan berminyak bisa mempercepat rasa mual.

Jika mulai merasa tidak nyaman, segera alihkan fokus ke luar dan ambil napas dalam untuk membantu tubuh menyesuaikan diri

3. Makanan yang Bisa Mencegah Mabuk Perjalanan

Ubi Jalar, berdasarkan penelitian dalam Environmental Science, ubi jalar kaya kalium yang membantu mengurangi stres dan menjaga keseimbangan cairan tubuh, sehingga dapat mencegah mabuk perjalanan.

Jahe, menurut buku “Jahe, Rimpang dengan Sejuta Khasiat” oleh Sutrisno Koswara menyebutkan bahwa gingerol dalam jahe memiliki efek menenangkan pada lambung dan efektif meredakan mual. Minum wedang jahe sebelum berangkat bisa jadi solusi alami yang mudah dilakukan.

Air Putih, dehidrasi memperparah gejala mabuk kendaraan seperti pusing dan mual. Pastikan tetap minum yang cukup, terutama saat menghadapi kemacetan panjang yang membuat tubuh cepat lelah.

4. Atur Pernapasan dan Gunakan Aromaterapi

Ketika mulai merasa tidak nyaman, lakukan teknik pernapasan sederhana:

Tarik napas dalam → tahan 3 detik → hembuskan perlahan melalui mulut.

Teknik ini membantu merilekskan tubuh dan mengurangi stres. Menghirup aromaterapi seperti peppermint atau lemon juga bisa membantu menenangkan perut dan meredakan rasa mual.

5. Berhenti Sejenak dan Istirahat Saat Dibutuhkan

Mudik sering kali diwarnai kemacetan panjang, yang membuat tubuh terus-menerus terjebak dalam posisi duduk. Jika memungkinkan, sempatkan berhenti sejenak untuk berjalan, meregangkan tubuh, atau sekadar menghirup udara segar.

Bagi yang naik kendaraan umum, sesekali ubah posisi duduk untuk melancarkan sirkulasi darah dan mencegah tubuh terasa kaku.

Mudik Nyaman Tanpa Mabuk Kendaraan!

Mabuk perjalanan bisa jadi tantangan besar saat mudik, terutama di tengah kemacetan panjang. Tapi dengan persiapan yang tepat, kamu bisa menikmati perjalanan dengan lebih nyaman.

Jangan biarkan mabuk kendaraan merusak momen berharga saat pulang ke kampung halaman. Coba terapkan trik ini, tetap rileks, dan nikmati perjalanan dengan nyaman!

Penulis : Davina
Editor : Naila

Luncurkan Buku Ke-10, Mahasiswa KPI Angkat Budaya Baduy

0

Serang, lpmsigma.com – Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah (FADA) UIN SMH Banten, luncurkan karya buku antologi ke-10 dengan mengangkat tema “Eksplorasi Budaya Baduy Luar: Dari Sejarah, Tradisi, dan Pesona Desa Adat” di Cafe Waroeng Kamcur, Kamis, (20/03)

Buku ini ditulis oleh mahasiswa KPI yang mengambil kelas peminatan penulisan feature. Acara ini dihadiri langsung oleh TB Nurwahyu selaku Ketua Prodi, serta Helmy Faizi selaku Wakil Dekan III.

Dalam sambutannya, Helmy mengapresiasi karya para mahasiswa KPI sekaligus memberikan beberapa catatan dalam segi penulisan.

“Bukan kali pertamanya mahasiswa KPI melaunching buku, karena tidak ada yang sia-sia dari menulis. Oleh karena itu, dalam menulis banyak yang harus diperhatikan, dari segi diksi, penulisan, typo dan lain sebagainya. Satu huruf saja typo, itu mengurangi reputasi kita sebagai seorang penulis,” katanya.

Ditempat yang sama, TB Nurwahyu turut menunjukkan rasa bangganya terhadap mahasiswa KPI

“Untuk kesekian kalinya saya merasa bangga dan bahagia dengan terbitnya buku-buku karya mahasiswa KPI yang ke-10. Buku ini pun bukan karya yang terakhir, tetapi adik-adik KPI lain juga akan turut serta launching buku lagi,” tuturnya.

Selan itu, Sobirin selaku dosen mata kuliah feature mengatakan bahwa buku-buku ini akan disebar luaskan ke perpustakaan daerah dan kampus

“Nanti akan disebar luaskan ke perpustakaan-perpustakaan daerah serta akan disediakan juga dikampus,” ucapnya.

Ditempat lain, Alifia salah satu penulis buku mengungkapkan rasa harunya pada karya tulis pertamanya.

“Karya buku ini pertamakalinya bagi saya dan mungkin bagi beberapa teman lainnya. Meskipun dalam proses penggarapan buku ini memang tidak mudah terutama dari segi riset, penulisan, dan penataan diksi cukup menjadi tantangan. Tapi, dengan melihat buku ini secara fisik rasanya tantangan itu terbayarkan,” tutupnya.

Reporter: Tiara
Editor: Enjat