Beranda blog Halaman 37

Father Quota, Peran Ayah Demi Keluarga

0

Dalam perayaan Hari Ayah Sedunia, kita diajak untuk merenungkan dampak besar yang bisa dihasilkan ketika ayah turut serta dalam pengasuhan anak. Kebijakan father’s quota atau cuti khusus bagi ayah yang tidak bisa dialihkan kepada ibu, merupakan salah satu cara yang terbukti mendorong keseimbangan peran orang tua.

Di negara-negara yang telah menerapkan kebijakan ini, peran ayah dalam pengasuhan menjadi lebih nyata dan berdampak pada keharmonisan keluarga secara keseluruhan.

Contohnya di Swedia, studi dari National Bureau of Economic Research (2022), menemukan bahwa penerapan father quota berhasil mengurangi kunjungan medis pascapersalinan ibu sebesar 5% dan menurunkan penggunaan antibiotik hingga 3%. Data ini menunjukkan bahwa keterlibatan ayah dalam merawat anak berdampak positif terhadap kesehatan dan kesejahteraan ibu menjadi lebih terjaga.

Kebijakan serupa di Norwegia, memberikan efek jangka panjang dalam partisipasi kerja perempuan yang meningkat hingga 2% dalam sepuluh tahun. Selain itu, tingkat ketidakhadiran kerja pada ibu berkurang sekitar 10%, mengindikasikan bahwa beban pengasuhan yang lebih seimbang memberikan ruang bagi ibu untuk berkembang dalam kariernya.

Di Quebec, Kanada, cuti ayah lima minggu yang diberikan oleh Quebec Parental Insurance Program (QPIP) mendorong keterlibatan jangka panjang ayah dalam pengasuhan. Penelitian yang dilakukan oleh Patnaik pada 2018, menemukan bahwa cuti khusus ini tidak hanya mengurangi kelelahan ibu tetapi juga meningkatkan stabilitas hubungan pasangan dengan tanggung jawab pengasuhan yang lebih merata.

Namun, di Indonesia, father quota belum diimplementasikan sebagai kebijakan nasional. Melihat dampak positif dari negara-negara yang telah sukses menerapkannya, kebijakan ini memiliki potensi besar untuk memperkuat peran ayah dalam keluarga. Dengan demikian, tanggung jawab pengasuhan dapat lebih seimbang, mengurangi tekanan pada ibu, serta mendukung partisipasi perempuan di tempat kerja.

Semoga momentum Hari Ayah Sedunia ini dapat menginspirasi Indonesia untuk mempertimbangkan langkah-langkah konkret demi terciptanya keseimbangan peran dalam keluarga serta kesejahteraan yang lebih baik bagi semua anggotanya.

Penulis: Naila
Editor: Dhuyuf

UKM FORMASI Kembali Adakan POM yang Ke-25 sebagai Agenda Tahunan

0

Serang, lpmsigma.com – Pekan Olahraga Mahasiswa (POM) ke-25, kembali dilaksanakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Federasi Olahraga Mahasiswa (FORMASI) UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Kegiatan ini dimulai pada tanggal 11 hingga 21 November 2024, Senin (11/11).

Alwan, selaku Ketua Pelaksana, kegiatan POM menjelaskan bahwa kegiatan ini diikuti oleh 26 jurusan yang ada di UIN SMH Banten, dengan delapan cabang olahraga yang dilombakan.

“Kegiatan POM pada tahun 2024 ini untuk peserta lombanya berasal dari 26 jurusan yang ada di UIN SMH Banten. Tahun ini juga kita menyediakan delapan cabang olahraga yang dilombakan untuk menunjang kegiatan POM ini,” jelasnya.

Ia juga menambahkan, bahwa pada POM tahun ini terdapat penambahan cabang olahraga yang baru pertama kali dihadirkan pada tahun 2024 ini.

“Pada POM 2024 ini kita untuk pertama kalinya menghadirkan e-sport ke dalam salah satu cabang olahraga kita. Cabang olahraga e-sport ini hanya terdiri dari satu game saja yaitu, mobile legends. Antusiasme yang membludak juga menjadi salah satu alasan kenapa cabang olahraga ini akhirnya kita hadirkan pada POM tahun ini,” tambahnya.

Di tempat yang sama, Didi, selaku Ketua Umum Formasi, menjelaskan bahwa terdapat beberapa perbedaan dari pelaksanaan POM tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya.

“Sebenarnya untuk perbedaan itu ada di fasilitas dan tempatnya saja, di tahun kemarin kita masih kekurangan tempat sehingga masih harus menyewa lapangan dari luar kampus. Alhamdulillah saat ini fasilitas yang dimiliki oleh kampus sudah cukup memadai, jadi semua kegiatan perlombaan akan di adakan di dalam kampus nantinya,” ucapnya.

Ia juga berharap agar nantinya para atlet yang akan mengikuti kegiatan POM ini tidak ragu dalam menunjukan bakat di bidangnya masing-masing.

“Saya harap semoga para peserta bisa menunjukan bakat di bidangnya masing-masing dengan sangat berani, karena perlombaan ini akan diadakan sampai sepuluh hari kedepan, semoga mereka mampu bertahan hingga akhir dan menjadi juara,” tutupnya.

Reporter: Nabel
Editor: Nazna

Tumbuh dan Menjadi: Album Baru Banda Neira Setelah Vakum Sekian Lama

0

Banda Neira akhirnya kembali merilis lagu terbarunya pada 29 Oktober 2024 lalu, setelah dinyatakan bubar pada 2016 silam. Comeback Banda Neira adalah hal yang sangat dinantikan oleh banyak pendengarnya. Lagu-lagu yang menenangkan adalah salah satu ciri khas yang dimiliki Banda Neira.

Lagu “Tak Apa Akui Lelah” merupakan lagu pertama yang dirilis oleh Banda Neira pada 29 Oktober lalu. Saat ini Banda Neira telah rampung merilis Full Album miliknya yang berjudul Tumbuh Dan Menjadi, pada 1 November 2024.

Meskipun tidak lagi bersama dengan Rara Sekar, para pendengarnya tetap menyambut dengan hangat dan penuh antusias pada comeback kali ini. Selain merilis album terbaru, Banda Neira juga memperkenalkan Sasha sebagai vokalis terbarunya sekaligus pengganti Rara yang dulu menjadi vokalis Banda Neira.

Perilisan album kali ini disebut sebagai babak baru yang akan di tempuh oleh Banda Neira. Banyak kalimat afirmasi positif yang terdapat dari dalam lagu-lagu pada album kali ini. Tumbuh Dan Menjadi merupakan album yang digadang-gadang sebagai penutup dan pembuka jalan Banda Neira menuju fase yang baru.

Pada lagunya yang berjudul Tak Apa Akui Lelah terdapat lirik yang berbunyi “tak apa akui lelah, perlu sejenak beri waktu tuk diri sendiri, tak apa ambil jeda akui ini bukan perkara menang dan kalah” ini menyadarkan kita bahwa tidak apa-apa untuk merasa tidak baik-baik saja dan tidak apa-apa untuk mengambil jeda karena kita perlu memberi waktu untuk diri sendiri, hidup bukanlah perlombaan yang harus di berikan predikat menang dan kalah.

Lagu pertama yang dirilis oleh Banda Neira tersebut saat ini sudah diputar oleh 100.000 pendengar lebih di Spotify. Melalui lagu Tak Apa Akui Lelah ini Banda Neira mengisyaratkan bahwa babak baru segera akan di mulai, Album “Tumbuh dan Menjadi” merupakan awal dari perjalanan yang akan di tempuh oleh Ananda Badudu dan Shasa melalui Banda Neira.

Penulis: Nabel
Editor: Nazna

Pertempuran Surabaya: Sejarah Dibalik Peringatan Hari Pahlawan

0

Pertempuran Surabaya merupakan salah satu peristiwa paling bersejarah bagi Indonesia yang terjadi pada tanggal 10 November 1945. Saat itu, rakyat Surabaya berjuang hingga rela gugur demi melawan tentara Sekutu yang ingin berusaha mengambil alih kota Surabaya setelah Indonesia dinyatakan merdeka.

Setelah kekalahan Jepang pada akhir Perang Dunia II, Indonesia segera memproklamasikan kemerdekaannya. Namun, pasukan Sekutu juga membawa tentara Inggris dan Belanda atau dikenal dengan NICA (Netherlands Indies Civil Administration), datang ke Indonesia dengan tujuan mengembalikan kekuasaan Belanda.

Hal ini memicu perlawanan besar dari rakyat Indonesia, terutama di Surabaya. Mereka tidak ingin kembali dijajah setelah meraih kemerdekaan dan siap bertempur demi mempertahankan kebebasan yang baru diperoleh.

Dalam buku “Peran Surabaya Dalam Revolusi Nasional” karya Moehkardi menjelaskan, bahwa pertempuran di Surabaya dipicu karena masuknya pasukan Sekutu, yang terdiri dari tentara Inggris dan Belanda (NICA), memasuki Surabaya pada 25 Oktober 1945 untuk mengamankan tawanan perang dan melucuti senjata Jepang.

Pada 27 Oktober 1945, NICA yang dipimpin oleh Brigadir Jenderal Aubertin Walter Sothern Mallaby memasuki kota Surabaya untuk mendirikan pos pertahanan, menyerbu penjara untuk membebaskan tawanan perang dan meminta rakyat Indonesia menyerahkan senjata.

Tuntutan ini ditolak dengan tegas oleh Indonesia. Hingga Pada 28 Oktober 1945, pasukan Indonesia yang dipimpin Bung Tomo melancarkan serangan terhadap pos-pos Sekutu dan berhasil merebut tempat-tempat terpenting.

Ketegangan Pertempuran di Surabaya memuncak ketika Brigadir Jenderal Mallaby, tewas dalam insiden baku tembak pada 30 Oktober 1945. Peristiwa ini membuat Inggris marah dan memberikan ultimatum kepada rakyat Surabaya pada 10 November 1945.

Dalam ultimatum itu, Inggris menuntut Indonesia agar seluruh senjata diserahkan dan menghentikan perlawanan rakyat Indonesia kepada tentara Inggris. Jika ultimatum tersebut tidak dipatuhi, tentara AFNEI dan administrasi NICA mengancam akan menyerang Kota Surabaya dari darat, laut dan udara. Namun, rakyat Surabaya menolak ultimatum tersebut dan memilih untuk melawan dengan tekad yang kuat.

Pada pagi hari tanggal 10 November, Inggris memulai serangan besar-besaran dengan menggunakan persenjataan canggih, termasuk pesawat tempur, tank, dan kapal perang. Meskipun hanya bersenjatakan alat sederhana, rakyat Surabaya bertempur dengan keberanian luar biasa. Tokoh pejuang seperti Bung Tomo memainkan peran penting dengan membakar semangat rakyat melalui pidato-pidato yang menggugah perlawanan rakyat.

Pertempuran ini berlangsung selama tiga minggu dengan korban jiwa yang sangat besar. Meski pada akhirnya kota Surabaya jatuh ke tangan Inggris, semangat perlawanan yang ditunjukkan rakyat kota ini menjadi inspirasi bagi perjuangan kemerdekaan di seluruh Indonesia. Pertempuran Surabaya memberikan pesan kuat bahwa rakyat Indonesia siap mengorbankan diri demi mempertahankan kemerdekaannya.

Menurut buku yang berjudul “Sejarah Nasional Indonesia” karya Sartono Kartodirdjo, peristiwa 10 November diakui sebagai titik penting yang menggambarkan keberanian bangsa Indonesia dalam melawan kekuatan asing demi mempertahankan kemerdekaan. Bagi banyak sejarawan, pertempuran ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia tidak akan mudah menyerah dalam menghadapi kekuatan penjajah asing.

Setiap tanggal 10 November, Indonesia memperingati Hari Pahlawan sebagai penghormatan terhadap perjuangan dan pengorbanan para pejuang yang gugur dalam pertempuran ini. Hari Pahlawan menjadi simbol dari keberanian, semangat juang dan cinta tanah air.

Pertempuran Surabaya mengajarkan bahwa kemerdekaan bukanlah sebuah hadiah, melainkan hasil dari perjuangan panjang yang membutuhkan pengorbanan besar dari para pahlawan bangsa.

Penulis: Frida
Editor: Dhuyuf

LPM SiGMA Perkenalkan Jurnalistik dan Broadcasting Melalui Program Goes to School

0

Serang, lpmsigma.com – Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) SiGMA UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, mengadakan program Goes to School, yang bertujuan untuk memperkenalkan bidang jurnalistik dan juga broadcasting ke salah satu sekolah yaitu MTs Al-Khairiyah Darussalam Pipitan yang dihadiri sebanyak 30 siswa, pada Sabtu (09/11).

Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian acara dari Milad LPM SiGMA ke-34, dengan mengusung tema “Suara Pelajar Suara Masa Depan: Berani Bicara Lewat Media”, yang memiliki harapan agar para siswa-siswi berani dalam menyuarakan aspirasinya melalui media dengan berbekal ilmu kejurnalistikan dan broadcasting.

Jaka, selaku Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum, menjelaskan program goes to school ini baru pertama kali dilaksanakan di sekolah mereka. Para siswa dan guru pun memberikan respon positif terhadap kegiatan tersebut.

“Respon anak-anak terhadap kegiatan sangat bagus karena ini juga pertama kalinya, bahkan para guru pun penasaran untuk mempelajari seputar jurnalistik, cuma terkendala ruangan yang tidak memadai jadi hanya anak-anak yang bisa belajar,” jelas Jaka.

Ia juga berharap, agar program ini bisa terus berlanjut dan juga bekerjasama dengan baik untuk kedepannya.

“Diharapkan untuk selanjutnya bisa memperbanyak kuotanya agar para guru pun bisa ikut, supaya dapat belajar bersama,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Inayah, selaku siswi MTs Al Khairiyah Darussalam Pipitan, menuturkan adanya kegiatan ini mampu mengasah kemampuan serta menambah wawasan di bidang public speaking agar lebih baik berbicara didepan umum.

“Dengan adanya program ini bisa lebih banyak belajar, terutama di bidang public speaking karena saya berminat untuk memperdalam pada bagian broadcasting terutama untuk jadi MC,” tuturnya.

Selain itu Arkana, selaku siswa MTs Al Khairiyah Darussalam Pipitan, juga menyampaikan, adanya kegiatan ini membantu dalam menerapkan ilmu yang telah diberikan, serta bisa mencoba mengasah skill terutama di bidang video editor.

“Saya sangat senang dengan adanya program ini, karena saya tertarik untuk mempelajari dan menerapkan ilmu yang sudah di berikan terutama dibidang video editor,” tutupnya.

Reporter: Ayunda
Editor: Nazna

Bangunkan Jiwa Kepemimpinan Mahasiswa, DEMA FTK Gelar PPKM 2024

0

Serang, lpmsigma.com – Dalam membangun jiwa kepemimpinan mahasiswa, Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (DEMA FTK) menggelar kegiatan Pelatihan Pengembangan Kepemimpinan Mahasiswa (PPKM), yang berlangsung selama dua hari mulai tanggal 8-9 November, bertempat di aula Auditorium lantai tiga Gedung A FTK, Jum’at (08/11).

Pada kegiatan ini, Ahmad Nuri, selaku Sekretaris DPRD Kota Serang, mengatakan dalam sambutannya agar mahasiswa tidak hanya fokus terhadap akademik saja, tetapi harus mampu dalam berorganisasi.

“Menjadi seorang mahasiswa bukan hanya mengurusi kegiatan akademis, yang tidak mampu menyelesaikan problem dirinya sendiri tetapi menjadi mahasiswa harus bergerak dalam berorganisasi,” ujarnya.

Kemudian ia juga menambahkan, terdapat tiga fungsi mahasiswa yaitu pendidikan, agent off change, serta iron stock, hingga bagaimana menjadi kepemimpinan yang inklusif.

“Tiga fungsi mahasiswa adalah diantaranya pendidikan, agent off change, serta iron stock dan kepemimpinan inklusif adalah mampu menggabungkan serta mengkolaborasikan antara akademisi dan mind of analisinya,” tambahnya.

Selain itu, Muhamad Marjuki selaku ketua Dema FTK, menuturkan bahwa tujuan diadakannya kegiatan PPKM ini memberikan edukasi serta pemahaman agar tenaga pendidik bisa berfikir kritis.

“Perlu kita analisis bahwa pendidikan hari ini sangat memperihatinkan, mulai dari kebijakan, formula, kesejahteraan guru dan mulai dari kurikulum segala hal aspek yang berkaitan dengan pendidikan. DEMA FTK memberikan edukasi atau pemahaman agar tenaga pendidikan dapat berfikir kritis menghadapi peluang dan tantangan di lembaga pendidikan itu sendiri,” ujar Marjuki.

Reporter: Dhuyuf
Editor: Salma

Kesenjangan Generasi: Mengapa Banyak Gen Z Kehilangan Pekerjaan ?

0

Fenomena banyaknya Generasi Z atau Zoomers yang dipecat oleh suatu perusahaan, seringkali mencerminkan perbedaan mendasar antara nilai-nilai generasi ini dan ekspektasi perusahaan. Dilansir dari Detik finance, laporan dari platform konsultasi pendidikan dan karier, intelligent, mengungkapkan bahwa 60% perusahaan yang disurvei telah memecat lulusan Universitas baru yang direkrut pada tahun ini.

Apakah Gen Z, yang umumnya memiliki keterampilan teknologi tinggi, sering kali dianggap kurang dalam keterampilan komunikasi interpersonal serta motivasi yang dinilai penting dalam lingkungan kerja ?

Menurut artikel National Library of Medicine, pada tahun 1998. Generasi ini juga menekankan keseimbangan hidup dan pekerjaan, lebih memilih fleksibilitas dalam jam kerja dan opsi bekerja dari rumah. Ketika perusahaan tidak mampu memenuhi harapan ini, banyak dari mereka yang merasa tidak termotivasi, hingga menyebabkan sering kali berujung pada pemecatan.

Selain itu, Gen Z memiliki gaya komunikasi yang lebih santai dan informal, yang kadang dapat disalah artikan sebagai ketidakprofesionalan oleh generasi yang lebih tua.

Perbedaan ini menggarisbawahi bahwa kesenjangan pandangan tentang etika kerja dan gaya komunikasi yang dianggap pantas. Namun, Gen Z dikenal sebagai generasi pertama yang tumbuh sepenuhnya di era digital, dengan akses ke smartphone, media sosial dan internet sejak usia muda. Alhasil, mereka sering disebut sebagai digital natives dan lebih nyaman dengan teknologi dibanding generasi sebelumnya.

Sebagian perusahaan memandang bahwasanya Gen Z kurang menunjukkan profesionalisme, disiplin, atau kesesuaian keterampilan. Akibatnya, banyak karyawan muda ini kehilangan pekerjaan karena dianggap tidak memenuhi standar yang diinginkan.

Apakah ini yang menjadi alasan mengapa banyak karyawan muda dapat kehilangan pekerjaan karena dianggap tidak memenuhi standar yang diinginkan?

Perusahaan sebenarnya dapat memanfaatkan potensi besar Gen Z saat ini, dengan beradaptasi terhadap kebutuhan generasi ini. Menciptakan lingkungan kerja yang lebih fleksibel, memberikan umpan balik yang konstruktif dan mendorong komunikasi yang terbuka dapat membantu menarik dan mempertahankan talenta muda.

Pada akhirnya, masalah ini bukan hanya soal kesesuaian individu dengan peran. tetapi juga tantangan dalam menyatukan harapan berbeda untuk menciptakan lingkungan kerja yang harmonis.

Penulis: Davina
Editor: Dhuyuf

Bintang Kecil, Cahaya Negeri

0

Di sebuah desa kecil yang dikelilingi pegunungan hijau, hiduplah seorang anak yang bernama Joko. Sejak kecil, ia selalu tertarik dengan cerita pemimpin hebat yang mampu mengubah nasib rakyatnya.

Joko sering mendengar kisah tersebut dari kakeknya yang bercerita di malam hari. Setiap kali mendengar cerita itu Joko membayangkan dirinya berdiri di podium besar dengan mengenakan jas dan menyampaikan pidato yang bisa menginspirasi banyak orang.

“Aku ingin menjadi presiden,” bisiknya dalam hati, bertekad suatu saat nanti.

Joko tumbuh menjadi anak yang cerdas. Ia selalu membantu tetangganya yang membutuhkan, seperti ketika ia membantu Bu Dini ‘penjual sayur’ mengangkut barang dagangannya.

“Joko, tolong kamu pindahkan barang itu ke dalam rumah,” ucap bu Dini.

“Baik bu,” jawab Joko.

Setelah Joko menyelesaikan pekerjaannya, ia pun kembali ke rumah, kemudian ia mulai menulis impiannya di sebuah buku kecil yang selalu dibawanya.

Suatu hari, Joko mengikuti lomba pidato di sekolah, tanpa sengaja Joko bertemu dengan lawan lainnya yang bernama Bimo. Bimo sendiri sangat tidak menyukai bila Joko mengikuti perlombaan pidato tersebut.

“Mana mungkin kamu jadi pemenang Jok,” ucap Bimo lawannya.

“Udah jangan dengerin perkataan Bimo Jok, kamu pasti bisa kok menang lomba ini,” tutur Adit, sahabat karib Joko.

Akan tetapi Joko tidak ambil pusing akan hal itu. Ia memilih tema pidato berjudul “Harapan untuk Masa Depan”. Dengan penuh semangat, ia menceritakan impian dan harapannya ke depan.

“Jika saya menjadi presiden, saya akan membangun sekolah yang lebih baik dan memastikan semua anak bisa belajar dengan nyaman,” ucapnya dengan percaya diri.

Banyak guru dan teman-teman Joko mengapresiasi penampilan Joko, mereka tidak menyangka akan pidato yang disampaikan oleh Joko. Pidato Joko pun mampu menggetarkan hati para juri dan penonton.

“Itu dia murid kebanggaan sekolah kita,” ucap salah seorang guru.

Joko tidak menyangka ketika namanya diumumkan sebagai pemenang, Joko merasa seolah mimpinya semakin dekat untuk menjadi seorang presiden.

Setelah perlombaan, Joko mulai lebih aktif untuk mengikuti kegiatan lainnya. Joko mendirikan kelompok kecil yang dinamakan “Mimpi Bersama” sebuah kelompok yang didirikan untuk berkumpul dengan teman-teman lainnya.

Suatu sore, saat Joko duduk di halaman rumahnya, ia melihat sekelompok anak-anak bermain di lapangan yang kotor dan penuh sampah. Ia merasa miris dan bertekad untuk mengubah keadaan itu. Bersama dengan teman-temannya, Joko mengadakan kegiatan bersih-bersih.

Mereka membersihkan lapangan, menanam pohon dan menghiasnya agar lebih indah. Warga desa pun ikut berpartisipasi dan dalam waktu singkat, lapangan itu berubah menjadi tempat bermain yang nyaman.

Berita tentang “Mimpi Bersama” dan aksi-aksi Joko mulai tersebar. Banyak orang dewasa mendukungnya hingga kepala desa pun memberikan pujian ketika melihat semua itu, Joko semakin yakin bahwa mimpi besarnya bukan sekadar angan-angan.

Bertahun-tahun berlalu, Joko terus belajar dan berjuang. Ketika ia beranjak remaja, ia kembali mencalonkan diri untuk menjadi ketua OSIS. Dalam kampanyenya, Joko berbicara tentang pentingnya kepemimpinan yang baik dan bagaimana agar setiap suara dapat di dengar.

Joko terpilih sebagai ketua OSIS. Ia pun melaksanakan berbagai program yang bermanfaat bagi siswa, seperti seminar tentang kepemimpinan dan penggalangan dana untuk kegiatan sosial. Ia terus menginspirasi teman-temannya untuk ikut berkontribusi pada perubahan.

Suatu hari, saat berkunjung ke sekolah dasar di desa tetangga, Joko bertemu seorang anak kecil yang terlihat cemas. Anak itu bercerita bahwa ia ingin belajar, tetapi keluarganya tidak mampu membeli buku. Joko teringat akan impiannya dan bertekad untuk melakukan sesuatu.

Ia pulang dan segera mengorganisir penggalangan dana di sekolahnya. Hasilnya pun Joko dapat membeli buku-buku dan alat tulis untuk anak-anak di sekolah dasar tersebut. Melihat senyum di wajah anak-anak itu membuat hatinya bergetar. Ia tahu bahwa mimpinya untuk menjadi Presiden adalah untuk memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang sama.

Suatu malam, saat Joko berdiri di teras rumahnya, ia menatap bintang-bintang. Ia tahu bahwa perjalanan menuju cita-cita masih panjang, tetapi dengan setiap langkah kecil, ia semakin dekat. Dalam hatinya ia berjanji akan terus berjuang, bukan hanya untuk dirinya, tetapi untuk semua orang yang memiliki mimpi.

Mimpinya untuk menjadi presiden bukan lagi sekadar khayalan, tetapi sebuah harapan yang akan diwujudkan. Joko memahami bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang berani bermimpi dan berjuang demi orang lain.

Penulis: Ayunda
Editor: Nazna

Gaya Hidup Sedentary dan Pengaruhnya bagi Kesehatan

0

Gaya hidup sedentary mungkin masih menjadi istilah yang cukup asing didengar, tapi ternyata gaya hidup ini adalah contoh gaya hidup tidak sehat yang biasa dilakukan oleh banyak masyarakat terutama pada kalangan anak muda. Gaya hidup yang tidak banyak melakukan aktifitas dan lebih condong pada prilaku bermalas-malasan ini banyak memiliki pengaruh negatif jika terus dilakukan dan menjadi kebiasaan.

Mengutip dari Jurnal karya Evi Wulandari, “Pengaruh Pola Hidup Sedentari terhadap Tingginya Tekanan Darah pada Lansia Kelurahan Jambangan”, menjelaskan bahwa Pola hidup sedentary didefinisikan sebagai gaya hidup yang melakukan sedikit aktivitas fisik dan tidak memenuhi standar aktivitas fisik karena lebih banyak melakukan aktivitas yang tidak membutuhkan banyak energi, seperti menonton televisi, mengakses internet dan berbicara.

Menurut penelitian pada jurnal di atas menyebutkan bahwa seseorang yang menjalani gaya hidup sedentary biasanya tidak melakukan banyak aktivitas fisik dan biasanya duduk atau berbaring sepanjang hari, bahkan saat tidur. Pola hidup sedentary dikategorikan tinggi jika durasi >35 jam per minggu, sedang jika 21-35 jam per minggu, dan rendah jika <21 jam/minggu.

Pola hidup yang tidak sehat ini dapat menyebabkan berbagai macam jenis penyakit yang dapat di timbulkan karena kurangnya kegiatan fisik. Adapun beberapa contoh penyakit yang dapat di sebabkan oleh gaya hidup sedentary yaitu: obesitas, stroke, tingginya tekanan darah, diabetes mellitus, penyakit jantung dan kanker.

Untuk menghindari gaya hidup sedentary ini kita di harapkan untuk bisa mulai melakukan olahraga agar melatih fisik kita untuk terus bergerak. Adapun kegiatan olahraga yang bisa di lakukan yaitu dengan cara lari, bersepeda, berenang, bermain bola dan aktifikas kegiatan fisik lainnya.

Penulis: Nabel
Editor: Nazna

Momentum Awal Mula Lagu “Indonesia Raya” Dinyanyikan

0

Sumpah Pemuda merupakan sebuah peristiwa penting dalam sejarah perjuangan Indonesia menuju kemerdekaan. Peristiwa ini berlangsung pada 28 Oktober 1928 dalam Kongres Pemuda II di Jakarta, yang dihadiri oleh berbagai organisasi pemuda dari berbagai daerah dengan latar belakang yang beragam, seperti Jong Java, Jong Sumatra, Jong Ambon dan Jong Celebes.

Pada Kongres Pemuda II juga menjadi momentum bersejarah, karena pada saat itu lagu “Indonesia Raya” karya Wage Rudolf Soepratman diputar dan diperkenalkan kepada para pemuda untuk pertama kalinya.

Menurut Ditjen Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, dalam bukunya yang berjudul “Lagu Kebangsaan Indonesia Raya” karya Bambang Soelarto dan kawan-kawan menyebutkan, Soegondo Djojopoespito, selaku ketua Kongres Pemuda II, awalnya mengizinkan Soepratman untuk memainkan lagu “Indonesia Raya.” Namun, setelah membaca liriknya, ia merasa ragu dan khawatir karena Kongres saat itu berada di bawah pengawasan pemerintah kolonial Belanda.

Dengan akhirnya, setelah mempertimbangkan, Soegondo menyetujui pemutaran lagu “Indonesia Raya” dengan satu syarat bahwasanya lagu tersebut hanya boleh dibawakan secara instrumental tanpa lirik. Kemudian, Soepratman memainkan lagu tersebut menggunakan biola dengan mengganti lirik “Merdeka-Merdeka” menjadi “Mulia-Mulia” untuk menghindari konflik dengan pihak Belanda.

Lagu “Indonesia Raya” yang dimainkan secara instrumental, memiliki arti yang mendalam bagi para pemuda dan peserta Kongres. Meskipun tanpa lirik, melodi yang dinyanyikan oleh Wage Rudolf Soepratman pada akhirnya untuk berhasil membangkitkan semangat kebangsaan dan aspirasi kemerdekaan. Lagu ini menjadi simbol persatuan bagi pemuda dari berbagai suku, agama dan latar belakang yang hadir dalam kongres tersebut.

Kongres Pemuda II pun ditutup dengan ikrar Sumpah Pemuda yang merupakan deklarasi penting dimana mereka berjanji untuk satu tanah air, satu bangsa dan menjunjung bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia. Ikrar ini menegaskan bahwa perjuangan untuk kemerdekaan harus berlandaskan rasa persatuan dan kesatuan di tengah beragam perbedaan yang ada.

Penulis: Frida
Editor: Dhuyuf