Beranda blog Halaman 41

FORMASI UIN Banten Adakan Latihan Rutin untuk Semua Mahasiswa

0

Serang, lpmsigma.com – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Federasi Olahraga Mahasiswa (FORMASI), mengadakan latihan olahraga rutin secara terbuka bagi seluruh mahasiswa UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Kamis (19/09).

Didi Kurniawan, selaku Ketua Umum FORMASI, mengatakan latihan ini tidak hanya diperuntukkan bagi anggota FORMASI, tetapi juga terbuka bagi seluruh mahasiswa yang ingin berpartisipasi. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan minat mahasiswa di bidang olahraga.

“Sampai saat ini, kami telah menjalankan kegiatan rutin sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Beberapa anggota memiliki antusiasme tinggi dan ada juga yang kurang memiliki antusiasme saat mengikuti latihan rutin,” ucapnya.

Didi, mengatakan masih ada kekurangan fasilitas, khususnya untuk lapangan voli. Selebihnya beberapa fasilitas olahraga lainnya sudah tersedia.

“Untuk fasilitas di kampus, hanya ada satu masalah, yaitu terkait lapangan voli. Lapangan tersebut bukan milik universitas, melainkan dibangun oleh DEMA Sains pada tahun 2022 untuk keperluan turnamen voli,” katanya.

Ia menjelaskan, bahwa mereka telah beberapa kali mendatangi rektorat untuk membahas pembuatan lapangan voli.

“Beberapa kali mendatangi rektorat, baik bagian anggaran maupun bagian umum, untuk membahas pembuatan lapangan voli. Rektorat sebenarnya sudah memiliki denah lapangan tersebut, namun pembangunannya masih menunggu anggaran agar lapangan voli tersebut bisa dibangun,” jelasnya.

Berikut, jadwal rutin dan juga cabang olahraga yang ada di FORMASI:

– Bola Voli: Senin & Kamis, 15:30 – selesai (Lapangan Voli Kampus 2)

– Bola Basket: Senin & Selasa, 15:00 – selesai (Lapangan Basket Kampus 2)

– Catur: Selasa & Rabu, 13:30 – selesai (Kampus 2)

– Bulu Tangkis: Rabu & Jumat, 13:30 – selesai (Aula Pusgiwa Lt. 2)

– Sepak Bola & Futsal: Selasa & Kamis (sepak bola) dan Senin & Rabu (futsal), 15:30 – selesai (Kampus 2)

– Tenis Meja: Rabu & Jumat, 13:30 – selesai (Aula Pusgiwa Lt. 2)

Penulis: Mg_Najwaul
Editor: Nazna

FADA Kembali Terapkan Metode Lama, Pisahkan Antara KUKERTA dengan PPL

0

Serang, lpmsigma.com – Fakultas Dakwah (FADA) Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten kembali menerapkan metode lama, yaitu memisahkan antara Kuliah Kerja Nyata (KUKERTA) dengan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL). Acara pelepasan PPL yang berlangsung di kampus dua UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, dengan dihadiri oleh Wakil Rektor I, Dekan Fakultas Dakwah, Ketua Jurusan dan Dosen Pembimbing Lapangan, Rabu (18/09).

Pada acara ini dibuka langsung oleh Mufti Ali, selaku Wakil Rektor I, Ia Menyampaikan agar selama 40 hari mahasiswa dapat berusaha keras di lokasi guna mempraktekkan ilmunya dan menyerap pengetahuan empiris di lapangan untuk diterapkan di masa yang akan datang.

“Tidak cukup bekal teori di kelas, mahasiswa juga harus bijak dan low profile atau bersikap sederhana dan rendah hati untuk menyerap ilmu pengetahuan di lapangan. Tentu saja ada keharusan untuk bersikap memiliki attitude,” ucapnya.

Ia juga berpesan, jangan sampai kedatangan mahasiswa ke lapangan ini membuat tatanan harmoni kehidupan sosial menjadi destruktif. Mahasiswa juga diharapkan menjaga relasi, hubungan sosial yang baik dan bersikap sesuai kearifan lokal.

“Tidak ada pengalaman lapangan yang tidak berharga yang tidak menjadi bekal bagus untuk masa depan. Berbahagialah dengan pengalaman yang akan dialami dan jangan sampai terlewati kegiatan PPL ini untuk hal yang tidak produktif. Semoga bermanfaat bagi masyarakat, lembaga dan peradaban,” tutupnya.

Siti Annisa, selaku mahasiswa jurusan Pengembangan Masyarakat Islam, merasa kebingungan terkait PPL pada tahun ini. Ia mengatakan penempatan PPL terbilang cukup jauh.

“Saya sedikit merasa bingung ini itu PPL atau Kukerta sesi kedua, karena untuk penempatannya sendiri cukup lumayan jauh, kepikiran juga untuk masalah biaya. Tapi balik lagi, PPL ini juga kan sebagian tugas dari kuliah dan untuk menjadi bahan pelajaran bagi mahasiswa,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Bahrul Ulum selaku mahasiswa jurusan Komunikasi Penyiaran Islam, berharap kepada Dosen Pembimbing Lapangan agar bisa terjun langsung kelapangan, karena ia merasa bahwasanya mahasiswa itu belum terlalu mengetahui mengenai dunia kerja, Ia mengkhawatirkan ketika tidak ada arahan dari Dosen Pembimbing Lapangan maka situasinya akan menjadi tidak kondusif.

“Harapan saya, untuk Dosen Pembimbing Lapangan bisa lebih terjun ke anak-anak yang PPL, karena kita mahasiswa yang kebanyakan belum tahu lingkungan kerja. Kedua, yang ditakutkan kekondusifan kita ketika kita di lapangan menjadi acak-acakan,” ucapnya.

Reporter: Mg_Paiz
Editor: Dhuyuf

Paparan Pornografi di Era Digital, Begini Upaya Pencegahannya

0

Pornografi umumnya sebagai suatu perbuatan yang sangat menyimpang yang dapat memberikan dampak buruk, baik terhadap perkembangan psikologis maupun sosial. Di era digital ini, kita mudah sekali mendapatkan akses untuk mengunjungi situs yang berbahaya, salah satunya adalah situs yang menyediakan pornografi.

Dikutip dari jurnal karya Cindy Afriliani yang berjudul “Faktor Penyebab dan Dampak dari Kecanduan Pornografi di Kalangan Anak Remaja Terhadap Kehidupan Sosialnya”, dikatakan bahwa Kecanduan pornografi dapat berdampak negatif terhadap kehidupan sosial, seperti hilangnya kepercayaan diri, tertutup saat berinteraksi dengan lingkungan sosial, dan juga berisiko memiliki sikap toleran terhadap perilaku negatif sehingga anak akan beranggapan bahwa seks adalah sesuatu yang lumrah.

Dilansir dari CNN Indonesia, Pada tanggal 1 September 2024 terdapat kasus pemerkosaan dan pembuhan seorang siswi SMP berumur 13 tahun, di Palembang, Sumatra selatan. Pelakunya adalah 4 remaja dibawah umur, yang jasad korbannya ditinggalkan keempat pelaku di sebuah kuburan Cina. Berdasarkan pemeriksaan, keempat remaja ini mengaku melakukan pemerkosaan itu untuk menyalurkan hasrat mereka usai menonton video porno. Dalam kasus ekstrem ini, ketergantungan pada pornografi bisa berujung pada tindakan kejahatan seperti pemerkosaan atau bahkan pembunuhan.

Berikut beberapa cara untuk mencegah paparan pornografi melalui edukasi sedini mungkin yang dikutip dari jurnal karya Irma Rumtianing Uswatul Hanifah, berjudul “Kejahatan Pornografi : Upaya Pencegahan dan Penanggulangannya” diantaranya:

1. Menjaga komunikasi yang baik dengan Anak

Orang tua harus menciptakan lingkungan di mana anak akan merasa aman untuk berbicara tentang apa pun, termasuk pertanyaan mengenai seks. Ajarkan anak sedini mungkin untuk tidak mencari informasi dari sumber yang salah seperti internet atau lingkungan pertemanan.

2. Ajarkan Anak untuk menggunakan teknologi dengan bijak

Edukasi mengenai penggunaan teknologi secara bijak sangatlah penting. Anak-anak perlu diajarkan tentang bahaya internet dan pentingnya membatasi penggunaan media sosial yang dapat mengarah pada konten pornografi.

3. Ajarkan pendidikan moral dan agama yang kuat

Pendidikan agama yang kuat dapat membantu membentuk karakter anak yang baik sedari dini. Dengan demikian, anak akan lebih mampu dan bijak untuk menolak mengonsumsi konten negatif seperti pornografi.

4. Memperkuat peran pendidik dalam edukasi seksual

Sekolah juga memiliki tanggung jawab untuk mengajarkan pendidikan seksual yang baik dalam kurikulum sekolah. Peran pendidik untuk menyampaikan dampak negatif pornografi, serta pentingnya menjaga diri adalah hal yang penting untuk disampaikan.

Pornografi bukan hanya masalah individu, melainkan masalah sosial yang dapat berpengaruh buruk untuk seluruh lapisan masyarakat. Dengan memahami dampak negatif dan memberikan informasi yang baik, kita dapat membantu generasi muda untuk menjauh dari hal yang membahayakan ini dan menjaga masa depan mereka dari pergaulan yang merusak.

Penulis : Mg_ Nazwa
Editor : Lydia

Problematika Penyesuaian UKT Tak Kunjung Usai, KBM UIN Banten Kembali Gelar Aksi

0

Serang, lpmsigma.com – Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten, kembali menggelar aksi terkait problematika penyesuaian Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang kini tak kunjung selesai, bertempat di depan gedung Rektorat pada Selasa (17/09).

Pada Aksi ini tergabung dari beberapa Organisasi Mahasiswa (Ormawa) UIN SMH Banten, mulai dari organisasi intra maupun organisasi ekstra kampus.

Alfi, salah satu Orator pada aksi tersebut, menuturkan adanya aksi ini bertujuan untuk mendesak rektor agar mengeluarkan Surat Keterangan (SK), terkait penyesuaian biaya pendidikan yang ada di kampus.

“Karena dari beberapa aksi di minggu-minggu pasca PBAK, kita sudah mencoba untuk mendesak Rektor agar menurunkan biaya pendidikan yang menjadi invasi kebutuhan pokok mahasiswa. Oleh karena itu, lagi-lagi kami menggaungkan aksi geruduk Gedung Rektorat, dengan tujuan mendesak rektor agar mengeluarkan SK,” ujarnya.

Ia juga mengharapkan, pada akhir periode Rektor UIN SMH Banten ini mengadakan evaluasi terkait UKT, serta mengharapkan kepada lembaga agar tak hanya menjanjikan sesuatu akan tetapi, tidak merealisasikan hal tersebut.

“Kita tidak mau Rektor hanya mendengarkan, tetapi harus mengadakan evaluasi secara besar-besaran dari lembaga skema pendidikan dan penyesuaian UKT, serta tidak ingin lembaga hanya menjanjikan sesuatu tapi tidak merealisasikannya,” tuturnya.

Di tempat yang sama, Rafly, selaku demonstran pada aksi ini mengatakan bahwa aksi hari ini bukanlah aksi terakhir, dikarenakan demonstran masih terus menunggu jawaban dari pihak kampus terkait Surat Keputusan (SK).

“Aksi kali ini mungkin bukan yang terakhir, karena kami masih terus menunggu jawaban dari pihak kampus. Jadi kalo semisalnya belum ada jawaban dari pihak kampus terkait ini, mungkin kita juga akan begini lagi,” ucapnya.

Reporter: Mg_Frida
Editor: Dhuyuf

Mahasiswa Baru dan Angan-Angan Organisasi Kampus

0

Oleh: Komarudin, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam

Mayoritas mahasiswa saat ini termasuk dalam generasi Z (Gen Z). Generasi Z adalah generasi yang lahir antara tahun 1997–2012. Mereka merupakan generasi yang lahir di era kemajuan teknologi. Generasi Z dikenal sebagai penduduk asli digital yang selalu terhubung dengan internet.

Mereka menghabiskan waktu di internet untuk berinteraksi di media sosial, menjelajah internet, bermain game hingga menjalankan bisnis. Keputusan untuk tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi merupakan langkah berani yang diambil oleh Generasi Z, yang dimana banyak dari mereka juga menganggap bahwa kuliah hanya buang-buang waktu dan materi.

Kampus yang dikenal sebagai laboratorium intelektual yang banyak melahirkan tokoh-tokoh bangsa hingga para aktivis penyeimbang sistem demokrasi yang siap mengkritik pemerintah ketika mengeluarkan kebijakan yang tidak adil atau tidak berpihak pada kepentingan rakyatnya.

Dinamika pembelajaran di perkuliahan sangat “asyik dan menarik“, selain dari dosen mengajar di dalam kelas yang saat ini cenderung monoton karena minimnya interaksi diskusi dua arah yang mengasah nilai-nilai berpikir kritis, mahasiswa saat ini cenderung sekedar berkomunikasi satu arah. Ketika dosen memberi perintah maka mahasiswa mengikuti.

Terkikisnya nilai-nilai berpikir kritis mahasiswa tersebut sebenarnya bisa diantisipasi dengan adanya Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa) entah berbasis internal kampus atau eksternal. Kegiatan dalam sebuah organisasi inilah yang diharapkan menjadi tumpuan terakhir dalam merawat nilai luhur mahasiswa yang terpatri dalam Tri Darma Perguruan tinggi dan Sumpah Mahasiswa Indonesia. Forum diskusi hingga aksi demonstrasi dinilai mampu merawat kejernihan akal para punggawa penyeimbang demokrasi ini, dimana saat banyak pemuda yang antipati dengan keadaan bangsa sendiri.

Organisasi kampus yang belakangan ini sepi peminat hingga cenderung mati suri, entah secara pemikiran hingga aksi menandakan bahwa ada yang sangat harus diperbaiki secara serius dalam menjalankan roda organisasi.

Fakta di lapangan masih banyak ormawa yang belum mampu beradaptasi dengan perubahan jaman saat ini, terlebih lagi target mereka merupakan mahasiswa baru yang lahir pada era serba digital atau masa di mana orientasi pembelajaran bukan lagi kepada nilai-nilai luhur kemanusiaan, tapi berorientasi pada kepentingan materialistis individual. Era ini sudah dikatakan oleh Tan Malaka yaitu “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda“. Semua ini menjadi tantangan yang sangat berat bagi pengurus organisasi yang masih tenggelam dalam romantisme masa lalu.

Autokritik dalam sebuah organisasi sangat diperlukan untuk menghasilkan perubahan yang baik bagi individu di dalamnya, tapi hal ini terkadang masih menjadi hal yang tabu dilakukan. Dikarenakan, masih banyak oknum yang katanya aktivis terlena dengan kejayaan organisasinya di masa lampau yang cenderung tidak relevan dengan keadaan sekarang.

Ternyata masih banyak organisasi yang menggunakan cara-cara lama untuk merekrut anggota/kader (mahasiswa baru) supaya tertarik dengan organisasi kampus tersebut. Misalnya, menggunakan nama besar alumni organisasi, memberi angan-angan benefit yang kurang realistis dan bahkan menggunakan cara yang kurang etis, seperti menjelekkan organisasi satu dengan yang lain.

Banyaknya problematik ormawa yang ada, lalu timbul pertanyaan besar. Apakah masih relevan atau worth it organisasi kampus saat ini? Tentunya menurut hemat penulis, masih sangat Worth it. Apa alasannya?

1. Organisasi dapat menumbuhkan nalar berpikir kritis, dikala kelas hanya menjadi tempat CTRL + C + V.

2. Organisasi dapat menjadi tempat menambah relasi yang baik.

3. Organisasi dapat menambah ilmu pengetahuan tanpa harus berpindah fakultas.

3 alasan ini dirasa cukup untuk menjadi pertimbangan untuk bergabung menjadi mahasiswa organisatoris.

Kemudian timbul pertanyaan kembali, Organisasi seperti apa yang harusnya diikuti? Apakah yang mempunyai prestasi banyak? Apakah yang mempunyai basis anggota besar?

Pada dasarnya semua organisasi mahasiswa pasti memiliki visi misi dan tujuan yang baik untuk kemajuan kampus tercinta dan tentu anggota di dalamnya.

Jadi, sebelum memutuskan untuk bergabung alangkah eloknya sebagai seorang mahasiswa dapat menilai kapasitas dan kebutuhan pribadinya terlebih dahulu, agar dapat memilih organisasi mana yang cocok dengan hati nuraninya. Telaah dengan sesama semua organisasi yang ada, cari tahu sedetail mungkin aktivitas di dalamnya dan jangan pernah menggunakan kacamata kuda untuk mencari sebuah informasi.

“Tugas pokok intelektual adalah mempertahankan kebebasan berpikir, bukan membunuh kebebasan berpikir.” – Gus Dur

Generasi Stroberi: Dianggap Rapuh, Ternyata Paling Bisa Diandalkan

0

Generasi Z, atau yang kerap kali disebut sebagai generasi stroberi, telah lama menjadi sasaran kritik karena dianggap rapuh dan mudah menyerah ketika dihadapkan pada tekanan. Julukan ini berasal dari persepsi bahwa Gen Z terlihat menarik di luar, namun lemah di dalam. Namun, apakah stereotip ini benar-benar menggambarkan realitas generasi yang tumbuh di era digital ini?

Banyak orang menganggap Gen Z rentan terhadap kesehatan mental. Isu seperti stres, kecemasan, dan tekanan di tempat kerja sering dikaitkan dengan mereka. Pandangan ini semakin diperkuat dengan fenomena banyaknya Gen Z yang berbicara terbuka tentang kerasnya kehidupan dewasa, terutama di lingkungan kerja. Tak jarang, stigma muncul bahwa Gen Z lebih memilih menganggur daripada bekerja dan mengalami tekanan mental. Tetapi, apakah ini tanda kelemahan atau justru kesadaran yang lebih tinggi akan pentingnya kesehatan mental?

Menurut WHO (World Health Organization), kesehatan mental adalah keadaan di mana seseorang mampu mengatasi stres, produktif dalam bekerja, dan berkontribusi positif terhadap lingkungannya. Definisi ini memperjelas bahwa kesehatan mental bukan hanya tentang ketiadaan gangguan psikologis, melainkan juga tentang kemampuan seseorang untuk beradaptasi dan tetap produktif. Berdasarkan hal ini, tidak adil rasanya untuk menyematkan label “lemah” pada generasi yang justru lebih sadar dan peduli terhadap kesejahteraan mental mereka.

Generasi sebelumnya sering mengkritik Gen Z sebagai generasi yang serba instan, malas, dan tidak mau berusaha keras. Namun, perlu dicatat bahwa Gen Z tumbuh bersama dengan perkembangan teknologi yang sangat cepat. Mereka bukanlah generasi yang malas, tetapi mereka memahami bahwa teknologi bisa dimanfaatkan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan lebih efisien. Bahkan, di dunia kerja saat ini, Gen Z telah mendominasi berbagai sektor dan justru menjadi pendorong utama perubahan.

Sebagai generasi yang disebut digital native, Gen Z tumbuh dengan teknologi di tangan mereka. Ini membuat mereka lebih cakap dalam memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas, berinovasi, dan mencari solusi kreatif dalam menyelesaikan masalah. Banyak dari mereka yang terlibat dalam startup teknologi, memimpin perubahan di perusahaan, serta memanfaatkan media sosial dan platform digital untuk membangun bisnis baru. Stereotip sebagai generasi yang “lemah” seharusnya dipertimbangkan kembali, mengingat kontribusi nyata yang telah mereka berikan dalam berbagai industri.

Gen Z juga telah menunjukkan bahwa mereka tidak hanya sekadar “bisa diandalkan,” tetapi juga merupakan generasi yang tangguh. Di balik julukan stroberi, mereka menjadi pelopor modernisasi di tempat kerja, menciptakan tren baru yang lebih inklusif, efisien, dan berfokus pada keseimbangan kehidupan kerja. Keahlian mereka dalam memanfaatkan teknologi tidak hanya membantu perusahaan lebih produktif, tetapi juga membantu dalam menciptakan lingkungan kerja yang lebih adaptif dan responsif terhadap perubahan zaman.

Dalam berbagai perusahaan besar, peran Gen Z semakin terlihat dominan. Menurut data dari LinkedIn, mereka menjadi penggerak utama dalam bidang teknologi, pemasaran digital, dan bahkan kewirausahaan. Mereka membawa cara berpikir yang segar, lebih cepat beradaptasi dengan perubahan teknologi, dan menunjukkan performa kerja yang unggul. Gen Z tidak hanya mampu bekerja di bawah tekanan, tetapi juga berkontribusi dalam menciptakan lingkungan kerja yang lebih seimbang secara emosional dan mental.

Label generasi stroberi yang sering diberikan kepada Gen Z justru berlawanan dengan fakta di lapangan. Generasi ini terus membuktikan bahwa mereka dapat diandalkan dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk di dunia kerja yang penuh tekanan. Mereka adalah generasi yang berani mengedepankan kesejahteraan mental tanpa mengorbankan produktivitas. Bahkan, kesadaran mereka akan pentingnya kesehatan mental telah menjadi inspirasi bagi banyak perusahaan untuk memperhatikan kesejahteraan karyawan.

Jadi, masihkah kita menyebut Gen Z sebagai generasi yang rapuh? Dengan kontribusi mereka dalam modernisasi dunia kerja, kemampuan mereka dalam memanfaatkan teknologi, dan kesadaran tinggi akan pentingnya kesejahteraan mental, Gen Z justru menjadi generasi yang paling bisa diandalkan dalam menghadapi tantangan masa depan. Stereotip generasi stroberi yang lemah sudah seharusnya kita tinggalkan, digantikan dengan pandangan yang lebih adil terhadap potensi besar yang dimiliki generasi ini.

Penulis : Mg_Paiz
Editor : Naila

Tradisi Ngeropok Masyarakat Kampung Ciwaktulor Dalam Memperingati Maulid Nabi

0

Serang, lpmsigma.com – Masyarakat Kampung Ciwaktulor, Desa Sumur Pecung, Kecamatan Serang, peringati kelahiran Nabi Muhammad Saw atau biasa dikenal dengan maulid Nabi melalui tradisi Ngeropok, kegiatan ini digelar di lapangan terbuka Kampung Ciwaktulor, Senin (16/09).

Persiapan yang dilakukan masyarakat Ciwaktulor yaitu dengan mengeluarkan panjang (dekorasi atau hiasan) dan riungan guna untuk mendoakan dan mempererat silaturahmi di Kampung Ciwaktulor.

Taufik hidayat, selaku ketua panitia acara, menjelaskan bahwa tujuan di adakan acara ini sebagai bentuk menjaga kekompakan dan juga silaturahmi warga kampung ciwaktulor.

“Adanya acara ini agar tradisi ngeropok ciwaktulor tidak hilang seiring berjalannya waktu. Adapun panitia mengadakan acara ini dengan mengumpulkan dana dan membentuk panitia acara agar acara ini berjalan lancar,” jelasnya.

Di tempat yang sama, Jojo, salah satu warga juga mengungkapkan bangga dalam memeriahkan maulid nabi dan terkhususnya bisa menjalin silaturahmi antara warga Kampung Ciwaktulor.

“Dengan perayaan ini saya ikut bangga karna masyarakat di sini sangat antusias dalam ikut berkontribusi untuk berjalannya acara maulid nabi,” ucapnya.

Ia juga mengharapkan, dari adanya kegiatan seperti ini meskipun kecil kecilan, adat istiadat yang sudah ada tetap terjaga.

“Harapannya walaupun diadakan dengan acara yang kecil, tetapi semoga tidak menghilangkan adat istiadat yang harus di jaga sampai saat ini, dan silaturahmi di kampung ciwaktulor bisa tetap terjaga,” ujarnya.

Reporter: Mg_Marifatus Sofiyah
Editor : Nazna

Tradisi Unik Peringatan Maulid Nabi di Indonesia

0

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu momen penting bagi umat Islam di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Maulid Nabi yang jatuh pada 12 Rabiul Awal dalam kalender Hijriah, diperingati untuk menghormati kelahiran Nabi Muhammad yang membawa ajaran Islam ke seluruh dunia.

Dalam peringatan ini, umat Islam biasanya bershalawat, mengucap hamdalah, mengadakan pertemuan keluarga, menggelar jamuan makan bersama, serta menyelenggarakan acara-acara publik dan kegiatan bakti sosial.

Sejarah peringatan Maulid Nabi memiliki beberapa versi yang berkembang. Salah satunya bermula dari Dinasti Ubaid (Fatimi) di Mesir, yang mulai mengadakan perayaan pada abad ke-4 Hijriah. Dalam perjalanannya, Maulid Nabi kemudian dirayakan oleh berbagai kalangan umat Islam di seluruh dunia.

Perayaan ini juga diadopsi oleh Ahlussunnah, di mana gubernur wilayah Irbil di Irak, Sultan Abu Said Musyafar Kukabri, turut merayakannya dengan mengundang ulama, ahli tasawuf, serta memberikan hidangan dan sedekah kepada fakir miskin. Selain itu, Maulid Nabi juga dirayakan oleh Sultan Salahuddin al-Ayyubi yang bertujuan untuk membangkitkan semangat umat Islam dalam menghadapi Perang Salib.

Menurut Al-Hafid Ibnu Hajar Asqalani yaitu pengarang Syarah Shahih Bukhari yang bernama Fathul Bari’ yang dikutip oleh Sirajuddin Abbas, dalam jurnal berjudul “Akulturasi Budaya Dalam Tradisi Maulid Nabi Muhammad di Nusantara” ditulis oleh Ahmad Suriadi, mengatakan bahwa: Umat Islam dibolehkan bahkan dianjurkan agar memperingati hari-hari bersejarah, hari-hari yang dianggap besar seperti Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj dan lain-lain.

Oleh karenanya, di Indonesia, peringatan Maulid Nabi dirayakan dengan berbagai tradisi khas di berbagai daerah. Seperti tradisi Grebeg Maulud yang digelar di Yogyakarta dan Solo. Prosesi ini melibatkan arak-arakan gunungan hasil bumi yang dibawa dari Keraton Yogyakarta menuju Masjid Agung Kauman. Gunungan tersebut kemudian diperebutkan oleh masyarakat sebagai simbol berkah. Tradisi ini sudah berlangsung sejak masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono I dan biasanya diramaikan dengan acara Sekaten atau pasar malam.

Di Gresik, Jawa Timur, untuk memperingati kelahiran Nabi terdapat tradisi Angkaan Berkat, di mana warga mengisi ember-ember dengan makanan, sembako, hingga buah-buahan yang dihias dengan bunga tiruan. Perayaan ini disertai dengan pengajian di masjid, dan setelahnya berkat dibagikan kepada masyarakat sebagai bentuk kebersamaan.

Sementara itu, di Gorontalo, Walima menjadi tradisi untuk memperingati Maulid Nabi sudah ada sejak abad ke-17. Perayaan dimulai dengan zikir bersama di masjid, diikuti oleh penyajian kue tradisional seperti kolombengi dan wapili yang disusun membentuk menara masjid. Makanan ini kemudian dibagikan kepada warga sekitar.

Di Aceh, peringatan Maulid Nabi dirayakan dengan memasak kuah beulangong, sebuah hidangan khas yang terdiri dari daging sapi atau kerbau yang dimasak dalam kuali besar bersama nangka muda dan bumbu tradisional. Hidangan ini disiapkan dalam jumlah besar dan dinikmati bersama-sama oleh masyarakat di masjid atau meunasah.

Di Kudus, Jawa Tengah, juga memiliki tradisi Maulid yang dikenal dengan Ampyang Maulid. Pada perayaan ini, warga menyiapkan gunungan makanan yang dihias dengan ampyang, makanan khas Kudus, yang kemudian dibagikan kepada warga setelah acara doa bersama. Tradisi ini sempat terhenti pada 1960-an namun kembali dihidupkan pada tahun 1995 dan terus dilestarikan hingga kini.

Setiap tradisi perayaan Maulid Nabi di Indonesia mencerminkan kekayaan budaya lokal dan akulturasi dengan ajaran Islam, menunjukkan betapa besarnya penghormatan umat Islam di Indonesia terhadap kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Penulis : Lydia
Editor : Nazna

Pendidikan Tinggi sebagai Upaya Meningkatkan Status Sosial atau Kesenjangan Sosial? 

0

Fenomena kesenjangan sosial yang selaras dengan pendidikan tinggi masih menjadi topik yang relevan dan penting. Berbagai ahli dalam bidang pendidikan dan sosiologi telah memberikan definisi mengenai pendidikan, yang dianggap sebagai alat untuk mobilitas sosial. Secara umum, pendidikan tinggi dilihat sebagai sarana yang dapat membuka akses menuju status ekonomi yang lebih tinggi melalui peningkatan keterampilan, pengetahuan dan jaringan sosial.

Meskipun demikian, di berbagai negara termasuk Indonesia kesenjangan sosial dalam akses pendidikan tinggi tampaknya tetap menjadi tantangan yang sulit diatasi. Peningkatan biaya pendidikan yang terus meningkat, bersama dengan distribusi sumber daya pendidikan yang tidak merata menjadi hambatan besar bagi banyak individu terutama dari kelas ekonomi bawah untuk mendapatkan pendidikan tinggi.

Namun, penting untuk dicatat bahwa pendidikan tinggi tidak selalu membawa peningkatan ekonomi yang signifikan bagi semua lulusan. Dalam beberapa kasus, pendidikan tinggi semakin membuat nyata kesenjangan sosial. Mereka yang berasal dari latar belakang ekonomi yang kuat cenderung mendapatkan pendidikan yang lebih baik dan akses ke jaringan sosial yang lebih luas, sehingga mereka tetap unggul dalam persaingan pekerjaan dan peluang karier. Sebaliknya, lulusan dari keluarga kurang mampu mengalami kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan yang berkualitas meskipun telah menyelesaikan pendidikan tinggi.

Di Indonesia, kesenjangan ini tampak nyata dalam data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebutkan bahwa ada sekitar 871.860 lulusan S1 dan 173.846 dari diploma yang menganggur. Fenomena ini sudah ada sebelum era reformasi, di mana ketimpangan dalam akses pendidikan berkualitas terlihat antara kelas menengah atas dan kelas bawah.

Salah satu risiko yang sering dikaitkan dengan kesenjangan sosial dalam pendidikan tinggi adalah menurunnya kepercayaan terhadap institusi pendidikan itu sendiri. Jika perguruan tinggi hanya dapat diakses oleh mereka yang mampu secara finansial, maka pendidikan kehilangan fungsinya sebagai alat pemersatu dan penyetaraan.

Setelah banyak perubahan kebijakan pendidikan, beberapa program bantuan seperti beasiswa memang telah diluncurkan oleh pemerintah untuk mengatasi masalah ini. Namun, masih banyak daerah yang kurang terjangkau oleh bantuan tersebut dan ketimpangan dalam kualitas pendidikan tetap menjadi masalah serius.

Pendidikan tinggi bisa merusak esensi mobilitas ekonomi jika tidak didukung oleh sistem yang adil. Pendidikan yang seharusnya menjadi jembatan bagi seluruh lapisan masyarakat menuju kesejahteraan, malah dapat menjadi sekat yang memperkuat kesenjangan. Dalam sistem yang tidak seimbang, anak-anak dari keluarga kurang mampu mungkin merasa bahwa kuliah hanya akan menambah beban hutang tanpa jaminan pekerjaan yang baik di masa depan.

Selain itu, kesenjangan sosial dalam pendidikan tinggi juga dapat merusak tatanan masyarakat yang pluralis. Ketika hanya segelintir golongan yang mampu mendapatkan akses pendidikan berkualitas, maka dominasi kelompok tersebut dalam ekonomi dan politik akan terus berlanjut, sementara yang lainnya semakin tertinggal.

Mengakhiri atau mengurangi kesenjangan sosial dalam pendidikan tinggi membutuhkan kebijakan yang lebih inklusif, peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendidikan berkualitas untuk semua, serta komitmen untuk menyediakan sumber daya yang memadai bagi daerah-daerah yang tertinggal.

Masyarakat perlu tetap waspada bahwa kesenjangan dalam pendidikan dapat berdampak pada masa depan bangsa. Jika pendidikan tinggi hanya menjadi akses bagi mereka yang mampu secara ekonomi, maka harapan untuk mobilitas ekonomi melalui jalur pendidikan akan semakin pudar.

Penulis: Mg_Fadly
Editor: Rubbi

Bolehkan Sekali Saja Ku Menangis, Film yang diangkat dari Lagu ‘Runtuh’ Feby Putri

0

Bolehkah sekali Saja Ku Menangis merupakan film yang akan segera tayang dilayar kaca bioskop. Film yang disutradarai oleh Reka Wijaya Kusuma. Spesialnya, Prilly Latuconsina dan Umay Shahab menjadi producer dari film tersebut, dengan membawa para aktor dan aktris yang terkenal. Dalam film ini pemeran utamanya dibintangi oleh Prilly Latuconsina dan Pradikta Wicaksono. Film ini akan tayang pada 17 Oktober 2024 di XXI, Cinepolis, CGV, New Star Cineplex, dan platinum Cineplex.

Lagu dari Feby Putri yakni lagu ‘runtuh’ menjadi Original Soundtrack (OST) dari film tersebut. Film ini menceritakan kisah seorang wanita yang bernama Tari berjuang melindungi ibunya dari seorang ayah yang kasar setelah kakanya pergi dari rumah. Tari telah memendam trauma sedari ia kecil. Sehingga Tari hanya bisa menangis dan mencoba baik-baik saja.

Suatu hari Tari menemukan komunitas Support Group, yang menjadi sebuah tempat untuk melampiaskan semua yang dialami Tari. Ia tak bisa menahan lagi dan akhirnya Ia bercerita dan menjadikan komunitas tersebut rumahnya.

Dalam perjalanan Tari, Ia bertemu dengan sosok pria yang merupakan anggota Support Group. Bernama Baskara, pria yang mengalami temperamental. Lalu bagaimana kelanjutan kisah Tari? Bisakah Tari melanjutkan hidupnya yang penuh haru itu? Ayo saksikan film Bolehkah Sekali Saja Ku Menangis.

Secara garis besar makna yang bisa diambil dari cerita film ini ialah rumah menjadi tempat yang paling nyaman buat kita pulang. Karena di sana kita bisa merasakan kasih sayang seorang ibu dan sayangnya seorang ayah

Dari film ini kita bisa belajar soal psikologis seseorang, mental seseorang tidak selalu baik, ada kalanya kita runtuh, dan ada kalanya kita tidak baik-baik saja. Ternyata bagi mereka yang butuhkan adalah rumah yang seperti penjara untuk mereka. Orang tua yang kita anggap orang yang paling penyayang ternyata bisa menghancurkan mental seorang anaknya.

Penulis: Mg_Mela
Editor: Salma