Beranda blog Halaman 40

Ciceri Memanggil: Tuntut Adili Jokowi dan Mosi Tak Percaya Rezim Prabowo – Gibran

0

Serang, lpmsigma.com – Aliansi Ciceri Memanggil menggelar aksi protes di Lampu Merah Ciceri tepatnya di depan kantor Bawaslu Provinsi Banten. Aksi ini ditujukan untuk mengkritisi 10 tahun kepemimpinan Presiden Jokowi serta menyampaikan aspirasi mosi tidak kepercayaan terhadap Presiden dan Wakil Presiden terpilih Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming, Rabu (16/10).

Faisal selaku koordinator lapangan aksi, menyatakan bahwa pergantian Presiden ini tidak lebih dari sekadar mengganti figur, tanpa ada perubahan yang signifikan dalam arah kebijakan. Menurutnya, kepemimpinan baru hanya akan melanjutkan pola yang sama seperti sebelumnya.

“Ini seperti hanya mengganti kepala, tapi tubuhnya tetap sama. Tidak ada perubahan nyata yang ditawarkan, kebijakan akan tetap berjalan seperti yang sudah-sudah,” ujar Faisal.

Ia juga menyoroti bahwa kepemimpinan Prabowo akan berpotensi meneruskan praktik diskriminasi dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang terjadi selama masa pemerintahan Jokowi. Ia juga berpendapat, Prabowo adalah bagian dari kelompok oligarki yang mempengaruhi arah kebijakan negara.

“Dengan Prabowo yang sudah jelas menyatakan keberlanjutan kebijakan sebelumnya, saya yakin diskriminasi dan pelanggaran HAM akan terus terjadi, karena dia sendiri adalah bagian dari oligarki,” tambahnya.

Sementara itu, Andika, salah satu peserta aksi menegaskan bahwa masyarakat sudah jenuh dengan berbagai bentuk diskriminasi yang berlangsung selama satu dekade terakhir. Baginya, tindakan Jokowi selama 10 tahun terakhir menunjukkan ketidakpedulian terhadap hak-hak rakyat.

“Sudah 10 tahun rakyat diperlakukan tidak adil, pelanggaran HAM terus terjadi, diskriminasi semakin menjadi-jadi. Masyarakat sudah muak,” ucapnya.

Ia juga menutup dengan menyatakan kekhawatirannya bahwa lima tahun ke depan, di bawah kepemimpinan Prabowo tidak akan berbeda dengan masa pemerintahan Jokowi. Menurutnya, jika kebijakan yang sama diterapkan maka pergantian Presiden menjadi tak berarti.

“Kalau nanti 5 tahun ke depan sama saja seperti sekarang, ya buat apa ganti presiden? Apa bedanya?” tutupnya.

Reporter: Najib
Editor: Dhuyuf

Kewirausahaan Mahasiswa Ciptakan Lapangan Kerja Tersendiri

0

Perkuliahan merupakan investasi masa depan yang baik, dimana kita mengembangkan dan mengeksplor diri kita untuk menemukan jati diri yang sesungguhnya. Di dunia perkuliahan banyak sekali tempat mengembangkan keterampilan, bisa dari organisasi, event kampus, kursus, wirausaha, hoby dan masih banyak lagi. Dari hal itu kita bisa memanage waktu dan bisa menyeimbangkan perkuliahan dengan kegiatan lainnya. Akan tetapi, belakangan ini banyak mahasiswa yang mengembangkan keterampilan dirinya melalui interprenuer atau wirausaha.

Di lansir dari buku yang berjudul “Edurpreneurship” yang di tulis oleh Andrew Shandy Utama, bahwasanya wirausahawan atau enterpreneurship adalah seseorang yang memiliki usaha dan mempunyai penghasilan sendiri sehingga tidak menggantungkan diri nya pada orang lain, seorang wirausaha berperan secara internal maupun eksternal. secara internal wirausaha berperan dalam mengurangi ketergantungan terhadap orang lain, meningkatkan kepercayaan diri dan juga meningkatkan daya beli pelakunya, sedangakan secara eksternal wirausaha berperan dalam menyediakan lapangan kerja sendiri.

Oleh sebab itu, banyak mahasiswa yang tertarik akan kewirausahaan dalam mengembangkan diri maupun manambah relasi ataupu pengalaman, di karenakan sangat menguntungkan terutama bisa mendapatkan penghasilan sendiri dan juga bisa mengasah skil atau kemampuan dalam bidang usaha, apalagi mahasiswa sebagai generasi muda harus menjadi pelopor dan menumbuhkan ide kewirausahaan. Sehingga bisa membuka lapangan pekerjaaan, dengan begitu bisa meminimalisir pengangguran yang ada dilingkungan sekitar. Dikarenakan, di Indonesia banyak sekali lulusan sarjana yang kesulitan dalam mencari pekerjaan dan menetukan kehidupannya dalam masa yang akan datang.

Berikut merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi minat mahasiswa dalam berwirausaha, antara lain:

1. Pendapatan
Pendapatan yang di hasilkan oleh seseorang baik berupa uang ataupu barang, karena dari berwirausaha seseorang akan mendapatkan penghasilannya sendiri, baik untuk memenuhi kebutuhan hidupnya ataupun memenuhi keinginan pribadi. Dari pendapatan bisa menumbuhkan minat seseorang untuk mau berwirausaha dan dari hal tersebut seseorang bisa mempunyai pengahasilan sendiri. Akan tetapi, pendapatan tidak bisa kita prediksi, karena hal tersebut tidak menentu bisa menjadi tinggi dan juga rendah . Apalagi seseorang yang memang berstatus mahasiswa, menjadi wirausahawan pasti sangat membantu dalam perekonomiannya.

2. Lingkungan keluarga
Keluarga merupakan tempat bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, hal ini yang memberikan pengaruh terbentuknya kepribadian seseorang, seorang wirausaha pasti tidak jauh dari dukungan orang tua, karena jika orang tua mendukung maka akan mepengaruhi minat anak untuk berwirausaha dan apabila orang tua tidak mendukung, maka tidak akan muncul minat untuk berwirausaha. Biasanya seseoranng akan memilih menjadi wirausaha karna terinspirasi dari orang tuanya sendiri, maka dari keluarga bisa menumbuhkan minat seseorang untuk mau berwirausaha karena faktor dari dukungan orang tua.

3. Lingkungan masyarakat
Lingkungan masyarakat merupakan tempat berinterksinya mahasiswa, dengan dukungan masyarakat mahasiswa dapat menumbuhkan minatnya untuk berwirausaha, tetapi bisa juga sebaliknya karena dukungan masyarakat tidak sepenuhnya menginspirasi. Tetapi, tumbuhnya minat mahasiswa dalam berwirausaha karena melihat orang sekitarnya, dan bisa mendapatkan penghasilan sendiri, dari situlah seseorang akan terpengaruh untuk bisa berwirausaha.

4. Pendidikan kewirausahaan
Pendidikan selama perkuliahan merupakan bekal seseorang untuk berwirausaha, pendidikan juga bisa membentuk kepribadian seseorang untuk menjadi lebih kuat dari berbagai masalah kewirausahaan, karena dari kuatnya kepribadian seseorang dapat menjadi modal dalam berwirausaha. Dari mempelajari kewirausahaan kita bisa mengetahui tentang bagaimana menjalankan usaha yang baik dan juga bisa memperoleh keuntungan.

5. Motivasi
Motivasi juga bisa menjadi pacuan seseorang dalam menumbuhkan minat berwirausaha, karna seseorang yang berstatus mahasiswa tidak mudah dalam berwirausaha, baik dalam membagi waktu apalagi dengan tugas kuliah yang tiap harinya menumpuk, jadi dengan adanya motivasi tersebut kita terdorong untuk menjadi pengusaha.
Jadi dari berbagai faktor di atas, kita sebagai mahasiswa bebas untuk mengeksplor diri untuk berwirausaha karena dari hal tersebut kita bisa memperoleh berbagai macam keuntungan dan juga meringankan beban orang tua dalam hal perekonomian.

Penulis : Mg_Marifatus sofiyah
Editor : Enjat

FKJMU Bekali Mahasiswa dengan Kepemimpinan Berintegritas

0

Serang, lpmsigma.com – Forum Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (FKJMU), bekali mahasiswa kepemimpinan yang berintegritas dengan melibatkan seluruh penerima beasiswa KJMU. Acara tersebut berlangsung di Aula Fakultas Dakwah lantai tiga, pada Jumat (11/10).

Fajri, Ketua Umum FKJMU Angkatan 2022, dalam sambutannya menyampaikan bahwa seminar kepemimpinan ini merupakan program utama FKJMU dan pertama kali dilaksanakan secara offline.

“Program Seminar ini sebelumnya dilakukan secara online dari kepengurusan 2020-2021. Diharapkan, ke depannya penerima KJMU dapat membekali diri untuk memimpin dirinya maupun lingkungan sekitar,” ujarnya.

Selanjutnya, Dedi Setiawan, pemateri dalam acara tersebut, menjelaskan bahwa konsep kepemimpinan sering kali menimbulkan paradigma negatif. Namun, pemimpin sejati adalah cerminan anggotanya, yang harus memiliki integritas dan profesionalisme dalam menjalankan tugas.

“Kepemimpinan dan senioritas bukanlah dua hal yang berada dalam paradigma yang sama.Seorang pemimpin yang baik tidak ditentukan oleh lamanya waktu atau status senioritas, melainkan oleh integritas dan profesionalisme yang mereka tunjukkan dalam menghadapi tantangan dan mengambil keputusan,” jelas Dedi.

Ia juga menekankan pentingnya evaluasi dan introspeksi dalam kepemimpinan, terutama ketika dihadapkan dengan risiko. Menurutnya, seorang pemimpin harus mampu menyesuaikan diri dengan ekspektasi dan melibatkan anggotanya dalam menghadapi tantangan bersama.

“Ada kalanya seorang pemimpin tidak selalu berada dalam kondisi optimis, karena hal ini merupakan bagian dari penyesuaian terhadap ekspektasi. Dengan usaha yang berkesinambungan, pemimpin dapat melakukan evaluasi dan introspeksi diri, sehingga hasilnya bisa diimplementasikan ke lingkungan sekitar melalui diskusi yang membawa dampak positif,” tambahnya.

Reporter : Naila
Editor : Nazna

Terebang Gede sebagai Simbol Budaya dan Dakwah di Kabupaten Serang

0

Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kabupaten Serang ke-498 tahun, tentu tak kalah penting untuk menyoroti Terebang Gede. Seni tradisional yang telah menjadi media dakwah Islam dan tak luput menjadi sebuah entitas budaya masyarakat kabupaten Serang. Terebang Gede merupakan seni musik yang menggunakan alat musik gendang besar bernama “Terebang”.

Kesenian ini muncul pada abad ke-16, ketika penyebaran Islam di Pulau Jawa khususnya di wilayah Banten yang dilakukan melalui pendekatan budaya sesuai dengan kondisi masyarakat saat ini.

Asal usul Terebang Gede berkaitan erat dengan masa Kesultanan Banten, yang didirikan oleh Sultan Maulana Hasanuddin. Kesenian ini digunakan sebagai sarana untuk menyebarkan nilai-nilai Islam di kalangan masyarakat. Dalam pertunjukannya, alat musik ini diiringi oleh syair-syair bernuansa Islami, seperti shalawat dan dzikir.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh M. Ali dan M. T. Alim Penelitian “Peran Seni Dalam Penyebaran Dakwah Islam di Banten” dalam Jurnal Penelitian Budaya, Terebang Gede berfungsi untuk mendidik masyarakat mengenai nilai-nilai Islam dan memperkuat persatuan di antara warga.

Alat musik yang digunakan dalam Terebang Gede terbuat dari bahan kayu dan kulit hewan, dengan gendang besar yang menghasilkan suara khas. Proses pembuatannya melibatkan teknik tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Kualitas suara yang dihasilkan menjadi faktor penting dalam penampilan kesenian ini sering dipertunjukkan dalam acara-acara keagamaan dan festival budaya di Banten.

Sebagaimana dijelaskan oleh Dr. K. S. Raharjo dalam bukunya “Kesenian Tradisional Banten” pemerintah daerah telah berupaya mendukung pelestarian Terebang Gede sebagai warisan budaya tak benda.

Seiring dengan perkembangan zaman, Terebang Gede terus beradaptasi dan tetap lestari di Kabupaten Serang. Generasi muda menunjukkan minat untuk mempelajari dan melestarikannya, dengan menciptakan koneksi antara masa lalu dan masa kini.

Dr. A. W. Hidayat dalam Banten: Sebuah Kajian Budaya dan Sejarah menyatakan bahwa Terebang Gede berfungsi sebagai penghubung antara dua zaman, menjaga warisan budaya sambil tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Pemerintah Kabupaten Serang juga aktif melakukan upaya pelestarian seni ini. Contohnya, dengan mengadakan festival budaya yang menampilkan Terebang Gede sebagai atraksi utama. Festival ini tidak hanya menjadi ajang pertunjukan, tetapi juga sebagai wadah edukasi untuk masyarakat dan generasi muda tentang pentingnya kesenian ini. Selain itu, pemerintah bekerja sama dengan berbagai komunitas seni untuk mengadakan pelatihan dan workshop, seperti yang diadakan pada tanggal 27 September 2024 lalu, di Desa Waringinkurung.

Melalui kegiatan ini, diharapkan seni Terebang Gede juga tidak hanya tetap hidup, tetapi juga berkembang dalam konteks sosial yang lebih luas. Dengan demikian, Terebang Gede dapat terus menjadi simbol identitas budaya dan sarana penyebaran nilai-nilai Islam yang penting bagi masyarakat di Kabupaten Serang. Oleh karena itu, dalam memperingati seni ini kita tidak hanya melestarikan warisan budaya, tetapi juga memperkuat jalinan spiritual dan sosial dalam masyarakat.

Penulis: Naila
Editor: Dhuyuf

Demonstrasi Ampera di KP3B, Soroti Persoalan APBD Provinsi dan Ketidakadilan Sosial 

0

Serang, lpmsigma.com – Aliansi Mahasiswa dan Pemuda untuk Rakyat (Ampera) menggelar aksi demonstrasi di depan Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B), dengan tuntutan keadilan dan perubahan signifikan terkait pengelolaan anggaran dan kondisi sosial masyarakat, pada Jum’at (4/10).

Syahrizal, Humas aksi ini, menjelaskan bahwa demonstrasi ini lahir dari rasa frustrasi terhadap situasi politik dan sosial yang dialami oleh Provinsi Banten selama 24 tahun sejak terbentuknya provinsi tersebut.

“Kawan-kawan ingat perjuangan di tahun 2000, provinsi ini jauh dari cita-citanya. APBD tahun ini sebesar 604 miliar, tetapi itu bukan dari hasil peningkatan sumber daya alam yang dikelola untuk masyarakat,” ujar Syahrizal.

Syahrizal juga menyebut bahwa partisipasi pendidikan di Banten masih rendah, dengan angka 59% yang menunjukkan adanya jurang yang signifikan dalam sistem pendidikan provinsi tersebut.

“Sebagian besar anggaran berasal dari penjualan tanah oleh elit korporasi, sehingga masyarakat kesulitan mendapatkan hak-haknya seperti pendidikan dan kesejahteraan, ironis mengingat Banten dikenal sebagai daerah agraris, tetapi mengalami kemerosotan yang parah,” tambahnya.

Di tempat yang sama, Guntur, Ketua demonstrasi Ampera, menyoroti adanya kegagalan pemerintah provinsi dalam menangani isu-isu mendasar seperti kemiskinan, pengangguran, dan infrastruktur yang memadai.

“Reformasi birokrasi yang dijanjikan Wahidin Halim hingga kini belum terlaksana. Ada indikasi program-program fiktif yang dilakukan, sementara pembangunan yang dijanjikan hanya menghasilkan lebih banyak kerusakan lingkungan,” tegas Guntur.

Guntur juga menekankan, bahwa kerusakan lingkungan di pesisir pantai Banten terus berlangsung akibat praktik-praktik oligarki dan investasi swasta yang tidak terkendali. Selain itu, sektor pendidikan yang menjadi salah satu fokus Ampera dianggap belum mampu menciptakan kesadaran kritis dan ruang-ruang pekerjaan yang inovatif bagi masyarakat Banten.

“Ampera menuntut agar pemerintah lebih bertanggung jawab dalam mengelola anggaran dan memperbaiki berbagai persoalan mendasar yang dihadapi Provinsi Banten. Masyarakat Banten marah, 24 tahun bukan waktu yang sebentar, tetapi kemiskinan, pengangguran, dan ketidakadilan masih merajalela,” tutupnya.

Reporter: Lydia
Editor: Nazna

HUT Banten ke-24 Tahun: Kilas Balik Perjuangan Banten Menjadi Provinsi  

0

Kilas balik perjalanan sejarah perjuangan masyarakat Banten untuk mendirikan Provinsi, memiliki perjuangan yang panjang dan berliku-liku. Beragam tantangan dari segala penentangan terus dilewati, hingga pada hari ini, tepatnya pada tanggal 4 Oktober 2024 menjadi deklarasi hari lahirnya Provinsi Banten yang ke-24 tahun.

Menurut Yoyo Mulyana dalam bukunya yang berjudul “Meretas Kemandirian Perjuangan Panjang Rakyat Banten Menuju Provinsi”. Sejarah perjuangan ini dimulai pada tahun 1950-an. Pada saat itu, sistem pemerintahan dikelola berdasarkan sistem parlementer dengan kabinet dan menteri-menteri yang bertanggung jawab pada parlemen. Tahun ini menjadi tahun yang sering dirujuk sebagai masa krisis, lesu, impasse, dan kegelapan.

Kancah perpolitikan tak teratur, hukum dan aturan progresif sulit berjalan dengan sempurna serta perekonomian rakyat yang terus menerus tidak mengalami perubahan. Tahun ini pula awal ditetapkan nya keresidenan Banten menjadi bagian dari Jawa Barat dan Jawa Barat ditetapkan sebagai provinsi.

Hingga, sampailah tiga tahun kemudian pada tahun 1953 masyarakat Banten merasa tertinggal dalam bidang pendidikan, keagamaan, ekonomi dan sosial politik. Maka, untuk pertama kalinya muncul keinginan masyarakat Banten untuk meningkatkan status wilayah dari keresidenan menjadi provinsi sendiri dan memisahkan diri dari Jawa Barat. Keinginan ini muncul berkaitan dengan diberikannya status Daerah Istimewa Yogyakarta (DI Yogyakarta) dan munculnya tuntutan yang sama dari Aceh.

Masyarakat Banten merasa bahwa Banten juga memiliki banyak keistimewaan serta mampu melawan atas tuntutan para penjajah. Bahkan dalam buku “Catatan Masa Lalu Banten” yang ditulis oleh Halwany Michrob dan A. Mujahid Chudary menjelaskan, pada tahun 1949 saat di blokade Belanda pada masa pemerintahan Hindia Belanda, Banten mampu berdiri sendiri sampai mengeluarkan mata uang tersendiri.

Menyikapi hal tersebut para tokoh masyarakat dan pemuda Banten kala itu mulai membuat strategi. Berbagai pengajuan mendapatkan penolakan sepanjang masa orde baru yang dipimpin oleh pemerintahan Soeharto kala itu, yang mana sistem pemerintahannyapun bersifat otoriter.

Hingga, pada era pasca reformasi saat kepemimpinan Abdurrahman Wahid (GusDur), saat itu sistem demokrasi mulai terbuka dan kebebasan dalam mengemukakan pendapat. Momentum ini tidak disia-siakan oleh masyarakat Banten untuk meneruskan perjuangan yang semula terhenti pada masa Habibie karena pesta demokrasi dan krisis moneter melanda Indonesia.

Masyarakat Banten mulai menyusun kembali perjuangan dengan kekuatan terorganisir, terstruktur dan matang. Sehingga dibentuklah gerakan perubahan di antaranya, GPRI (Gerakan Pemuda Reformasi Indonesia), FPB (Front Pemuda Banten), Fosglang (Forum Silaturahini Warga Pandeglang) Formatang (Forum Silaturahmi Masyarakat Tangerang) SKPPB (Sub-Komite Pembentukan Provinsi Banten), KPPB (Komite Pembentukan Provinsi Banten) dan Pokja-PPB (Kelompok Kerja Pembentukan Provinsi Banten).

Tak hanya sampai disitu, berbagai daerah juga turut serta membentuk forum dan berbagai kelompok untuk mengaktulisasikan perannya dalam pembentukan Provinsi Banten, para pemuda dan mahasiswa di daerah Banten maupun mahasiswa Banten yang sedang menimba ilmu di luar Banten masuk ke dalam sebuah forum perjuangan seperti Keluarga Mahasiswa Lebak (Kumala), Keluarga Mahasiswa Tirtayasa (Kamayasa), Keluarga Mahasiswa Pandegelang (Kumandang), Keluarga Mahasiswa Banten (KMB) dan Ikatan Keluarga Mahasiswa Banten (IKMB). Organisasi-organisasi tersebut masuk kedalam sebuah forum yang bernama Forum Mahasiswa Banten (Forban)

Seiring bergulirnya reformasi berimplikasi terhadap perubahan sistem perpolitikan Indonesia, salah satunya desentralisasi kekuasaan. Hingga sampailah pada puncak kejayaan fenomenal pada tanggal 4 Oktober 2000 saat puluhan ribu masyarakat Banten datang ke Gedung DPR RI untuk pengesahan RUU Provinsi Banten sebagai Provinsi yang mandiri.

Akhirnya, masyarakat Banten pun sepakat tanggal 4 Oktober 2000 dideklarasikan sebagai Hari Jadi Provinsi Banten yang saat itu dipimpin oleh Bapak H. D. Munandar sebagai Gubernur dan Ibu H. Ratu Atut Chosiyah, SE sebagai wakil Gubernur. Terbentuknya Provinsi Banten bagaikan napak tilas kejayaan Banten di masa lampau.

Adapun tokoh-tokoh yang terlibat dalam perjuangan menjadikan Banten sebagai Provinsi, diantaranya: Uwes Qorni, pembentuk KPPB. Hasan Alaydrus, tokoh masyarakat berpengaruh di Lebak. TB. Tryana Sam’un, pengusaha yang berpengaruh di Banten. Tihami & Aly Yahya, pemikir, penggerak, serta konseptor dengan merancang usulan pembentukan provinsi Banten. Irsyad Djuwaeli, politisi dan pendiri Pokja PBB. Perjuangan ini pun tak lepas dari peran para kyai, santri dan masyarakat Banten kala itu.

Oleh karena itu, pada usia Banten yang ke-24 tahun ini mari kita sebagai masyarakat Banten terus berjuang dan berusaha memajukan kesejahteraan provinsi Banten untuk menghargai perjuangan para jawara (sebutan pahlawan bagi masyarakat Banten) kala itu. Provinsi Banten lahir dengan penuh perjuangan, untuk itu kita para generasi selanjutnya patut untuk mengetahui dan mengenang perjuangan-perjuangan masyarakat Banten terdahulu.

Penulis: Tiara
Editor: Nazna

Boy Candra Bagikan Tips Menulis bagi Generasi Muda di Perpusda Banten 

0

Serang, lpmsigma.com – Perpustakaan Daerah (Perpusda) Provinsi Banten mengadakan kegiatan Library: Level Up Your Life guna memperingati HUT Banten ke-24, yang berlangsung dari tanggal 30 September hingga 5 Oktober 2024. Acara ini dihadiri oleh beberapa penulis buku terbaik, salah satunya Boy Candra, Senin (30/09).

Nisa, selaku penanggung jawab kegiatan mengatakan, makna Library: Level Up Your Life digunakan sebagai nama kegiatan dikarenakan perpustakaan dapat meningkatkan level kehidupan.

“Diartikan nama acara ini yaitu perpustakaan dapat meningkatkan kehidupan kamu, kita ingin mereka datang ke perpustakaan dapat membuat kehidupan mereka lebih baik dan berkualitas,” ucapnya.

Boy Candra, penulis ternama Indonesia, yang turut hadir sebagai narasumber Talk show, menuturkan bahwa anak muda harus banyak baca untuk berkarya.

“Sebagai anak muda harus banyak membaca sebelum berkarya, dan harus banyak riset terutama dalam literasi. Membaca buku juga dapat menambah kosa-kata didalam otak kalian,” tuturnya.

Boy Candra, juga mengatakan untuk menjaga mood ketika menulis yakni harus fokus seperti tidak mengobrol minimal dalam waktu 2 jam dan menggunakan metode belajar dari diri masing-masing.

“Ketika menulis, kalian harus fokus menulis dalam artian tidak ngobrol minimal 2 jam. Menjaga mood kalian ketika menulis, harus bisa menulis dengan cara metode belajar kalian sendiri, mungkin bisa menulis sambil denger musik, atau sambil minum kopi,” tambahnya.

Di tempat yang sama, Caca, salah satu pengunjung, mengungkapkan bahwa Ia tertarik untuk mengikuti acara ini karena banyak penulis terkenal datang untuk bedah buku yang sebelumnya tidak pernah Ia temui.

“Saya sangat tertarik dengan acara ini karena kegiatannya seru, dan juga banyak penulis terkenal yang datang yang sebelumnya tidak pernah bertemu, terutama Boy Candra,” ungkap Caca.

Menurut Caca, acara ini sangat memotivasi bagi mereka yang belum melek soal literasi karena di Indonesia sendiri krisis literasi.

“Karena saat ini di Indonesia krisis literasi, acara ini sangat memotivasi bagi mereka yang belum melek soal literasi. Acara ini juga memotivasi bagi kita yang suka menulis, kita bisa tahu bagaimana cara menulis dengan baik, dan juga dapat self Improvement untuk anak muda,” tutupnya.

Penulis: Mg_Mela
Editor: Nazna

Peristiwa G30S PKI 1965: Pembantaian Tragis Tokoh Perwira Tinggi Indonesia 

0

Pada tahun 1965, telah terjadi peristiwa gerakan 30 September yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia atau sering disebut G30S PKI yang merupakan salah satu sejarah kelam di Indonesia. Pada peristiwa ini, terjadinya pembunuhan yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI), terhadap perwira tinggi militer Indonesia yang bertujuan untuk menggulingkan pemerintahan Presiden Soekarno dan mengubah Indonesia agar menjadi negara komunis.

Dikutip dari Jurnal “Kontroversi Keterlibatan Soeharto Dalam Penumpasan G30S/PKI 1965” yang ditulis oleh Andrianto, menjelaskan bahwa Gerakan G30S PKI dimulai pada kamis malam, tanggal 30 September – 1 Oktober 1965 pukul 03.00, yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Untung dan menunjuk Lettu Dul Arief untuk menjadi ketua pelaksana penculikan.

Diantara para perwira tinggi Republik Indonesia, yang berhasil pasukan G30S PKI culik dan bunuh ialah: Jendral Ahmad Yani, Jendral Soeprapto, Jendral S.Parman, Jendral M.T. Haryono, Jendral D.I Panjaitan, Jendral Sutoyo Siswomiharjo yang langsung dimasukan ke sumur tua.

Pasukan ini juga berusaha untuk menculik Jendral A.H. Nasution. Akan tetapi, usaha mereka gagal dikenakan Jendral A.H. Nasution berhasil lolos dari kepungan. Namun, putri Jendral A.H. Nasution bernama Ade Irma Suryani Nasution dan Letnan Piere Tendean selaku ajudan Jendral turut menjadi korban.

Akibat dari peristiwa itu banyak petinggi Angkatan Darat(AD) yang tidak diketahui keberadaannya. Setelah menerima laporan akan hal itu Soeharto memberi kesimpulan bahwasanya para perwira tinggi itu telah diculik dan dibunuh, lalu Soeharto langsung mengambil alih pimpinan AD dan menindaklanjuti hal itu.

Pada tanggal 1 Oktober 1965, Soeharto menyuruh Kolonel Sarwo Edhi Wibowo untuk merebut kembali gedung RRI dan Pusat Telekomunikasi. Setelah itu mengumumkan bahwa telah terjadi perebutan kekuasaan oleh pasukan G30S PKI.

Setelah dilakukannya operasi pada tanggal 2 Oktober 1965, dengan petunjuk Polisi Sukitman yang berhasil lolos dari penculikan, akhirnya berhasil menemukan lokasi jenazah para perwira di sumur tua yang disebut Lubang Buaya.

Kemudian, pada tanggal 4 Oktober 1965, dilakukannya pengangkatan jenazah tersebut dan keesokan harinya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Para perwira yang gugur akibat pemberontakan ini pun diberi penghargaan dengan sebutan Pahlawan Revolusi.

Penulis: Dhuyuf
Editor: Salma

iPusnas: Perpustakaan Digital Teman Belajar Mahasiswa 

0

iPusnas adalah aplikasi perpustakaan digital yang dibuat untuk mempermudah akses buku dan referensi bagi mahasiswa. Dengan iPusnas pengguna dapat mengakses ribuan buku elektronik, jurnal, dan sumber akademik lainnya tanpa harus mengunjungi perpustakaan fisik.

Aplikasi ini menawarkan kemudahan dalam mencari, membaca, dan mengunduh materi yang dibutuhkan untuk mendukung kegiatan akademik. iPusnas juga mendukung mahasiswa dalam menemukan informasi yang tepat dan, membantu mereka menghemat waktu.

Dikutip dari jurnal “Kajian Literatur: Implementasi Perputakaan Digital di perguruan Tinggi” oleh Katrin Setio Devi, Perpustakaan digital merupakan layanan perpustakaan yang bergantung pada teknologi informasi, di mana hampir setiap tahap pengembangannya diiringi oleh perubahan teknologi. Pengembangan perpustakaan digital secara langsung terkait dengan kemajuan teknologi informasi, terutama teknologi Internet, yang berperan penting dalam mendukung operasional dan fungsinya.

Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut upaya untuk mempertahankan keberadaan perpustakaan digital. Perpustakaan digital berperan sebagai gerbang utama dalam mengakses berbagai sumber informasi, sehingga keberadaannya semakin penting di era sekarang ini.

Selain kemudahan yang bisa diakses dimana saja, iPusnas juga berperan dalam meningkatkan kualitas akademik mahasiswa. Dengan koleksi materi yang sudah terverifikas, mahasiswa dapat memperluas wawasan mereka dan ngambil topik-topik yang relevan dengan studi mereka.

Dengan ini iPusnas tidak hanya mendukung akses yang memudahkan untuk mencari informasi tetapi juga memfasilitasi proses belajar yang lebih mendalam dan terstruktur, mendukung keberhasilan akademik mahasiswa secara keseluruhan.

Penulis: Mg_Najwaul
Editor: Lydia

UKM KSR PMI UIN Banten Lakukan Peduli Aksi di Desa Cisitu

0

Serang, lpmsigma.com – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Korps Sukarela Palang Merah Indonesia (KSR PMI) Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten, melaksanakan kegiatan Pendidikan Kemasyarakatan Kader Relawan (PKKR) di Kampung Kalapa, Desa Cisitu, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Serang. Kegiatan ini berlangsung selama sepuluh hari dari 13 hingga 22 September 2024.

Ketua Umum UKM KSR PMI UIN SMH Banten, Ahmad Sudrajat, menyatakan bahwa PKKR ini merupakan wadah pembelajaran bagi anggota muda untuk mengaplikasikan ilmu dan keterampilan dalam membantu masyarakat.

“Tujuan kegiatan ini adalah sebagai wujud Tri Dharma Perguruan Tinggi dan sebagai sarana pembelajaran pengabdian kepada masyarakat, khususnya di Kampung Kalapa, Desa Cisitu,” ujarnya, pada Sabtu (21/09).

Ahmad juga menambahkan, bahwa peran UKM KSR PMI UIN SMH Banten dalam kegiatan ini bukan hanya sebagai relawan, tetapi juga sebagai peneliti yang mencari akar permasalahan yang dihadapi masyarakat.

“Kami membantu masyarakat menanggulangi permasalahan mereka dengan sosialisasi, penyuluhan, dan edukasi. Program yang akan dilaksanakan mencakup sosialisasi tentang bullying dan kekerasan seksual di SDN Cisitu, serta penyuluhan mengenai stunting,” tambahnya.

Di tempat yang sama, Arsa, Ketua RT Kampung Kalapa, mengungkapkan bahwa masyarakat setempat sangat antusias dan ramah dalam menyambut kedatangan para peserta PKKR.

“Respon masyarakat Kampung Kalapa sangat baik dan ramah. Mereka menerima mahasiswa dengan senang hati untuk tinggal selama kegiatan berlangsung,” ungkap Arsa.

Menurut Arsa, dukungan dari pemerintah desa, RT, RW, Posyandu, serta guru-guru sekolah dasar dan madrasah juga sangat positif. Arsa berharap kegiatan ini dapat memberikan pembelajaran dan manfaat bagi masyarakat.

“Dukungan dari semua pihak begitu positif, dan kami berharap kehadiran mahasiswa UKM KSR PMI ini bisa memberikan ilmu dan manfaat bagi masyarakat, serta menjadi pengalaman berharga bagi mereka di masa depan,” tutupnya.

Reporter : Lydia
Editor : Nazna