Beranda blog Halaman 5

KPUM-U Dinilai Lambat dalam Sosialisasi PUM

0

Serang, lpmsigma.com – Pelaksanaan Pemilihan Umum Mahasiswa (PUM) Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin (UIN SMH) Banten mulai menuai kritik, terkait kurangnya sosialisasi dari Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa Universitas (KPUM-U), Minggu (01/03/26).

Dzikri, Ketua Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Adab (KPUM FUDA) menerangkan, KPU Fakultas belum menerima bimbingan teknis terkait aplikasi SIPUMA.

“Kami pun sebagai KPU-F belum melaksanakan bimtek untuk aplikasi SIPUMA,” terangnya, saat diwawancarai melalui WhatsApp. Pada Minggu (01/03/26).

Ia menambahkan, KPUM-U dinilai kurang matang dalam mempersiapkan pembahasan peraturan teknis pelaksanaan.

“Pada rapat awal dengan KPUM-U memang dilakukan secara offline, tapi hanya sebatas temu sapa. Saat pembahasan hal-hal penting seperti PKPU, justru ingin dilakukan secara online, padahal kami sudah berusaha meminjam tempat agar bisa rapat tatap muka,” tambahnya.

Disisi lain, Nana, mahasiswa Fakultas Dakwah, mengaku tidak mengetahui bagaimana sistematika pelaksanaan PUM.

“Kalo dari saya sendiri, gatau konsep KPU itu sendiri bagaimana, apalagi saya mahasiswa baru,” ujarnya, saat diwawancarai melalui WhatsApp. Pada Minggu (01/03/26).

Ia berharap, seluruh mahasiswa UIN SMH Banten mengetahui informasi PUM, sehingga mereka bisa ikut andil dalam pesta demokrasi.

“Berharap, bisa menyebar informasi lebih luas. Informasi yang di kirim pun, tidak meluas. Hanya segelintir orang saja,” tutupnya.

Reporter: Ahmad
Editor: Indah

Perubahan Timeline PUM Tuai Sorotan

0

Serang, lpmsigma.com – Berita acara yang dikeluarkan oleh Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa tingkat Universitas (KPUM-U), Nomor: 026/02/B/SEK-KPUM-U/UIN-SMHB/II/2026, tentang perubahan timeline Pemilihan Umum Mahasiswa (PUM) online, menuai kontradiksi.

Ketua Umum Senat Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Adab (Sema FUDA), Taosyekh, menilai timeline PUM yang baru tidak dipersiapkan dengan matang.

Timeline PUM terlalu mepet. Sedangkan, mereka harus mempersiapkan PKPU dan sosialisasi PKPU,” ujarnya, saat diwawancarai melalui WhatsApp. Pada Sabtu (28/02/26).

Ia juga menambahkan, PUM tahun ini hanya dipresentasikan sebagai pemenuhan kewajiban formalitas, bukan sebagai representasi demokrasi.

“Sepertinya yang penting terlaksana dan selesai, tanpa mempertimbangkan rentang estimasi waktu,” tambahnya.

Dengan alasan yang sama, Adma, selaku mahasiswa Fakultas Dakwah (Fada), menjelaskan dampak terhadap linimasa PUM yang dinilai imbas terhadap hasil yang kurang maksimal.

Timeline yang terburu-buru, itu bikin sosialisasi ga maksimal. Banyak mahasiswa yang enggak tahu tentang tahapan calon, bisa jadi juga banyak mahasiswa yang golput,” ujarnya, saat diwawancarai melalui WhatsApp. Pada Sabtu (28/02/26).

Ia menyarankan, penyelenggara PUM sebaiknya jangan terlalu tergesa-gesa dalam membuat timeline.

“Jangan terburu-buru. Lebih baik dimatengin dulu segala persiapannya,” tutupnya.

Reporter: Ahmad
Editor: Indah

Tentang Sabar di Tengah Kesibukan Bulan Ramadan

0

Journaling Edisi Ramadan

Meski sudah berpuasa selama seminggu, hari ini rasanya berbeda. Sejak matahari terbit sampai menjelang senja, waktuku penuh dengan berbagai aktivitas.

Pagi itu, tepat pukul 08.30, aku berangkat ke kantor Banten TV untuk liputan bersama para crew dan teman-teman BAKAT. Begitu sampai, aku langsung diajak masuk ke mobil untuk berangkat ke kantor DPRD Provinsi Banten. Kami akan meliput Dialog Publik dan Liputan Khusus.

Saat pertama kali masuk ke ruangan Wakil Ketua DPRD Banten, aku dan teman-teman saling berbisik, “Wah, ruangannya megah banget ya. Rapi, wangi, barang-barangnya juga pasti mahal.” Padahal kita gak pernah tahu, mereka membeli ini semua menggunakan uang rakyat yang mana.

Tak lama kemudian, acara Dialog Publik pun dimulai. Kami mendengarkan setiap jawaban yang disampaikan oleh Pak Wakil, mulai dari soal ekonomi yang naik-turun, infrastruktur yang belum merata, sampai rencana mudik tahun ini. Waktu terasa cepat sekali, dan acara pun berakhir. Kami segera pindah ke aula rapat untuk meliput sidang paripurna penyampaian hasil reses pimpinan dan anggota DPRD Provinsi Banten, masa persidangan ke-II tahun sidang 2025–2026.

Saat sidang berlangsung, aku mendapat tugas menulis hard news. Bukan hal baru sebenarnya, tapi kali ini rasanya lain. Membuat berita untuk Banten TV terasa jauh lebih menantang daripada di organisasi pers kampus. Aku tetap berusaha sebaik mungkin, mencoba belajar dari setiap hal baru yang datang.

Begitu laporan selesai disampaikan, aku bersama Kak Riki dan Kak Doni langsung berlari ke depan aula untuk mewawancarai Wakil Gubernur dan Ketua DPRD. Ini pertama kalinya aku mewawancarai orang-orang penting, dan rasanya gugup luar biasa. Tapi rasa takut itu akhirnya bisa aku kalahkan.

Setelah wawancara selesai, aku langsung menggarap naskah karena tenggat pengumpulan tulisan adalah pukul lima sore. Begitu tugas di Banten TV selesai, aku berpindah ke Masjid Ats-Tsauroh, Kota Serang, untuk tugas berikutnya: membuat video reportase. Di sana aku bertemu teman-teman redaksi SiGMA. Senang rasanya, karena kami bisa bukber setelah sekian lama.

Di area festival bazar Ramadan, suasananya ramai. Banyak pedagang menjual berbagai makanan dan minuman, dari yang ringan sampai berat. Saat azan magrib terdengar, kami pun langsung berbuka dengan makanan yang kami beli. Satu tegukan air yang masuk ke tenggorokan rasanya luar biasa nikmat. Ternyata, rasa haus selama puasa jauh lebih berat daripada rasa lapar.

Disitu aku tersadar, puasa bukan perihal soal menahan makan dan minum, tapi juga tentang belajar sabar. Sabar menunggu waktu berbuka, sabar menjalani hari yang padat, sabar menghadapi segala rasa lelah. Aku jadi teringat sebuah hadis yang pernah kupelajari waktu tsanawiyah: As-shabru yu’iinu ‘ala kulli ‘amalin, yang artinya “Kesabaran menolong segala pekerjaan.”

Hadis itu benar-benar terasa maknanya hari ini. Walau tubuh lelah, aku belajar bahwa kesabaran bisa membuat segalanya lebih ringan. Karena pada akhirnya, kesabaran bukan sekadar menahan diri, tapi juga bentuk cinta kita kepada Allah SWT.

Penulis: Diroya
Editor: Frida

Durasi Puasa Tak Sama di Setiap Negara, Kok Bisa?

0

Bulan Ramadan selalu menjadi momen istimewa yang paling dinanti umat Muslim di seluruh dunia. Meski dijalani secara bersamaan, durasi waktu puasa ternyata berbeda di tiap negara. Perbedaan ini disebabkan oleh letak geografis masing-masing wilayah di Bumi. Kemiringan sumbu Bumi sekitar 23,4° saat mengelilingi Matahari membuat panjang siang dan malam tidak sama di setiap tempat.

Dilansir dari Al Jazeera (2026), melalui laporan Mohammed Haddad, negara-negara yang letaknya semakin jauh dari garis khatulistiwa mengalami perbedaan panjang siang dan malam yang lebih ekstrem sepanjang tahun. Data tersebut juga diperkuat oleh penjelasan dari NASA, bahwa posisi Bumi terhadap Matahari sangat memengaruhi durasi sinar matahari di tiap wilayah.

Di negara-negara Eropa Utara seperti Norwegia, Swedia, Finlandia, Islandia, Rusia, Kanada, dan Greenland, siang bisa berlangsung sangat lama. Saat musim panas, waktu puasa bisa mencapai 18–20 jam, sementara di musim dingin hanya sekitar 12–13 jam.

Sebaliknya, negara-negara di belahan Bumi Selatan seperti Cili, Selandia Baru, dan Afrika Selatan mengalami pola sebaliknya. Di awal Ramadan, durasi puasa bisa sekitar 14–15 jam, kemudian berangsur lebih pendek seiring perubahan posisi Matahari.

Di kawasan Timur Tengah seperti Arab Saudi, Mesir, dan Uni Emirat Arab, durasi puasa cenderung stabil di kisaran 12–13 jam. Letaknya yang tidak jauh dari garis khatulistiwa membuat perbedaan siang dan malam tidak terlalu signifikan.

Sementara di Asia Tenggara yaitu termasuk Indonesia, Thailand, dan Malaysia. Durasi puasa relatif konstan di angka 12–13 jam. Posisi geografisnya yang dekat dengan garis khatulistiwa membuat waktu siang dan malam hampir seimbang sepanjang tahun.

Perbedaan durasi puasa di berbagai negara menunjukkan betapa luas dan beragamnya kondisi geografis Bumi. Ada yang berpuasa lebih lama, ada yang lebih singkat. Namun, makna Ramadan tetap sama bagi setiap Muslim, yaitu meningkatkan keimanan, melatih kesabaran, serta mempererat kebersamaan dan kepedulian antarsesama.

Penulis: Saroh
Editor: Frida

Bazar Ramadan di Masjid Ats-Tsauroh Menjadi Magnet Ekonomi dan Sosial Warga

0

Serang, lpmsigma.com – Suasana khas Ramadan terasa di Masjid Agung Ats-Tsauroh dengan hadirnya Bazar Syi’ar Ramadan. Kegiatan yang diinisiasi oleh Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) ini, selalu dipadati pengunjung setiap sore. Selain memeriahkan bulan suci, bazar juga menjadi berkah tersendiri bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Kamis (26/2/26).

Sekitar 150 stan makanan dan minuman turut meramaikan bazar. Mulai dari kudapan ringan, hingga hidangan utama, menjadi daya tarik bagi para pengunjung. Bazar ini tidak hanya menjadi ajang berburu takjil, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang cukup besar bagi pedagang lokal.

Salah satu pedagang, Ana,

mengungkapkan bahwa pendapatannya selama berjualan di bazar meningkat dibandingkan hari-hari biasa.

“Alhamdulillah, lumayan banget hasilnya jualan di sini, bisa naik dua kali lipat kalau di bazar,” ungkapnya.

Namun, Ana menambahkan bahwa minat pedagang untuk berjualan di area ini, sangat tinggi sehingga proses pendaftarannya cukup kompetitif.

“Daftarnya melalui DKM, tapi memang harus war (rebutan). H-1 dibuka saja sudah habis karena memang ada kuotanya,” tambahnya.

Selain pedagang, antusiasme juga datang dari para pengunjung. Arus kedatangan warga mulai meningkat sejak pukul 16.30 WIB, dan kawasan bazar semakin padat menjelang waktu Magrib.

Salah satu pengunjung, Diah, mengatakan bahwa keberadaan bazar, sangat membantu karena pilihan makanan dan minumannya beragam.

“Saya merasa antusias karena banyak banget stan UMKM yang bisa dilihat-lihat dan dibeli, jadi tidak bosan memilih makanannya,” katanya.

Ia juga berharap kegiatan seperti ini terus dipertahankan, karena memberikan manfaat dua arah, baik bagi masyarakat yang mencari takjil maupun bagi para pedagang lokal.

“Sangat bagus, buat UMKM jadi ada wadahnya, dan bagi pengunjung bisa jadi destinasi seru untuk cari takjil saat berbuka,” harapnya.

Reporter: Hida
Editor: Frida

Sunnah Berbuka dengan Kurma dan Manfaat Kesehatannya

0

Ramadan identik dengan meja penuh makanan. Gorengan ada, es manis ada, yang viral-viral juga ikut meramaikan.

Tapi di antara semua itu, ada satu yang sederhana, yaitu kurma.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, disebutkan bahwa Rasulullah biasa berbuka dengan ruthab (kurma basah). Jika tidak ada, beliau makan kurma kering. Dan jika tidak ada juga, beliau cukup minum air. Riwayat ini bisa ditemukan dalam Sunan Abu Dawud dan Jami’ at-Tirmidzi.

Kelihatannya begitu sederhana. Tapi ternyata masuk akal juga, jika dilihat dari sisi kesehatan.

Setelah seharian menahan lapar dan haus, tubuh kita sebenarnya nggak siap langsung “dihantam” makanan berat. Lambung kosong, gula darah turun. Yang dibutuhkan itu sesuatu yang ringan, tapi bisa secara cepat mengembalikan energi.

Berdasarkan data komposisi pangan dari United States Department of Agriculture (USDA), kandungan karbohidrat dalam kurma didominasi oleh gula alami seperti glukosa dan fruktosa, yang relatif lebih cepat dimanfaatkan tubuh sebagai sumber energi.

Selain manis, kurma juga mengandung serat dan mineral seperti kalium. Itu membantu tubuh beradaptasi lagi setelah puasa seharian.

Kalau kurma nggak ada? Air mineral tetap pilihan paling aman. Yang paling terpenting, jangan langsung berlebihan di awal.

Akhirnya, sunnah ini bukan cuma hanya sekadar tradisi. Ada hikmah yang terasa sederhana, tapi logis. Kadang yang paling baik memang bukan yang paling ramai di meja, tapi yang paling tepat untuk tubuh.

Penulis: Umi
Editor: Ayunda

Tiga Puluh Hari Mengetuk Pintu Langit

0

Bagian Awal: Kembalinya Harapan di Tengah Kehilangan

Matahari telah lama tenggelam ketika aku berdiri di dekat jendela kontrakan yang berhadapan langsung dengan jalanan. Langit malam yang gelap, karena bintang enggan hadir, menemani sepiku. Aku menatap jalanan itu dengan sendu, membiarkan pikiranku tenggelam dalam kesedihan yang tak pernah kuterima.

Kehilangan pekerjaan secara mendadak, tumpukan tagihan yang menggunung, serta membayangkan tatapan kecewa dari orang-orang tersayang menjadi melodi sumbang, yang menemaniku setiap hari. Aku merasa seperti debu yang berterbangan di jalan, ada, namun tak seorang pun mau melihatnya.

Suara klakson dari kejauhan sesekali memecah lamunanku, mengingatkan bahwa kota ini terus berdenyut, tanpa peduli ada satu nyawa yang sedang terpuruk dalam rasa sepinya. Aku memegang kusen jendela yang kayunya mulai lapuk, sementara mataku mengikuti siluet orang-orang berlalu-lalang di bawah lampu jalan.

Namaku Rendra. Aku berusia dua puluh tujuh tahun, dan hidupku terasa seperti sedang menonton film yang salah. Film tentang kegagalan yang tak pernah ada di benakku, akan menjadi kenyataan.

Dua bulan yang lalu, aku masih menjadi karyawan di sebuah kantor administrasi pabrik di pinggiran Jakarta. Gaji yang setidaknya cukup untuk bertahan, kontrakan kecil yang hanya kuhuni sendiri, dan harapan yang cukup untuk bermimpi. Lalu datanglah PHK tanpa aba-aba, seperti tamu yang tak diundang, yang merusak pesta, sehingga membuat semua yang direncanakan gagal.

Setelah menghabiskan waktu kurang lebih satu jam, menatap jalanan yang semakin sepi, akhirnya aku melangkah pergi dari depan jendela. Kakiku terasa berat, seperti membawa beban tak kasatmata. Aku duduk di tepi kasur. Tak lama, ponselku bergetar. Ternyata pesan dari ibu.

“Rendra, bagaimana kabarmu?”

“Alhamdulillah, Bu, aku baik-baik saja. Ibu bagaimana kabarnya?” Tak mungkin aku menjelaskan apa yang terjadi pada ibuku.

Pesan itu menggantung di layar ponselku. Cahayanya terasa menyilaukan di tengah kamarku yang remang. Aku menarik napas panjang. Hatiku terasa remuk. Kebohongan yang baru saja ku katakan, terasa seperti batu besar yang menyumbat dadaku. Di sini aku, seorang yang hampir terusir dari kontrakan, sedang berpura-pura baik-baik saja di depan wanita yang kusayang.

“Ibu sehat, Nak. Syukurlah kalau kamu baik. Pesan ibu, kamu jangan lupa jaga kesehatan, ya. Sebentar lagi sudah masuk bulan puasa. Kalau ada rezeki lebih, jangan lupa sedekah, ya, Nak. Itu yang akan menolong kita nantinya.”

Aku terdiam. Jariku kaku di atas papan ketik. Sedekah? Untuk makan besok saja aku harus memutar otak berkali-kali. Bagaimana aku bisa memberi orang lain? Namun kalimat ibu seolah tamparan lembut yang menyadarkanku. Selama ini aku hanya sibuk mengemis pada keadaan, meratapi pintu-pintu yang tertutup. Aku lupa bahwa ada Dzat Allah yang menggenggam kunci segala pintu.

Tak lama setelah itu, terdengar suara ketukan di pintu. Ternyata Pak RT, membawa kantong plastik putih.

“Ren, tadi istri saya masak lebih. Katanya buat kamu juga,” ujarnya dengan senyum kecil.

Aku sempat tertegun. “Wah, terima kasih banyak, Pak.”

Pak RT menepuk pundakku pelan. “Sama-sama, Ren. Oh iya, kamu masih kerja di pabrik itu? Kok sore-sore sering di rumah?”

Aku menelan ludah, mencari alasan. “Lagi…, lagi ambil cuti, Pak.”

“Oalah, ya sudah. Tapi jangan kelamaan cuti ya, Ren. Kota ini enggak ramah sama orang yang berhenti jalan,” katanya sambil tertawa kecil, lalu berpamitan.
“Mari, Ren. Selamat menjalankan ibadah puasa, ya!”
“Iya, Pak. Mari.”

Aku menutup pintu dan menatap kantong plastik itu. Ternyata di dalamnya ada beras, telur, gula, dan minyak. Di saat aku merasa seperti debu yang tak terlihat, Allah mengirimkan Pak RT yang melihatku.

“Baru saja aku meragukan-Mu,” bisikku lirih, “tapi Kau jawab keraguanku secepat ini.”

Malam itu, di kamar yang biasanya berisi keluhan, aku membuka kantong plastik itu sekali lagi. Ada rasa hangat yang pelan-pelan menyingkirkan sesakku. Pandanganku lalu tertuju pada buku catatan kusam, di atas meja, buku lama yang dulu sering kubawa ke pengajian. Kubuka halamannya satu per satu.

“Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi)

Kubalik lagi satu halaman.
“Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang itu sedikit pun.” (HR. Tirmidzi)

Aku terdiam lama. Mungkin ini caranya Allah memanggilku kembali.
Malam itu aku berjanji, Ramadan ini aku ingin mencoba melakukan satu kebaikan kecil setiap hari, meski mungkin tak ada yang tahu.

Penulis: Hida
Editor: Frida

Satu Tahun Kepemimpinan, Massa Aksi Desak Pemprov Penuhi Hak Dasar

0

Serang, lpmsigma.com – Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Komunitas Soedirman30, menggelar aksi evaluasi satu tahun kepemimpinan Gubernur Banten Andra Soni dan Wakilnya Dimyati, menyampaikan kritik terhadap capaian pembangunan di sektor kesehatan, pendidikan, infrastruktur, serta sosial ekonomi. Senin (23/02/26).

Dalam pernyataan resminya, massa aksi menyebut pembangunan yang dijalankan masih berorientasi pada proyek, dan belum menyentuh akar ketimpangan sosial.

Mereka menyoroti sektor kesehatan, termasuk belum terpenuhinya standar tujuh dokter spesialis di seluruh RSUD milik provinsi. Mereka juga menyinggung masih adanya 32,81 persen puskesmas yang belum lengkap tenaga kesehatan, serta 73 persen puskesmas pembantu yang kekurangan perawat dan bidan.

Di sektor pendidikan dan ekonomi, massa aksi tersebut meminta transparansi data penerima Program Sekolah Gratis per kabupaten/kota, serta peningkatan rata-rata lama sekolah, khususnya di daerah Lebak dan Pandeglang. Mereka juga menyoroti angka kemiskinan 5,51 persen dan tingkat pengangguran terbuka 6,63 persen yang masih menempatkan Banten pada posisi empat tertinggi nasional.

Koordinator Umum, Tarpi, menegaskan pembangunan tidak boleh hanya berorientasi pada data statistik.

“Ini bukan hanya soal angka dan hitung-hitungan statistik, akan tetapi setiap jengkal permasalahan di Provinsi Banten harus dientaskan secara menyeluruh dan kesejahteraan rakyat Banten harus merata, bukan hanya bisa dinikmati di wilayah perkotaan saja,” tegasnya.

Ia menambahkan, massa aksi ini akan terus mengawal kebijakan pemerintah daerah.

“Tentunya ini bukanlah akhir, ke depannya Komunitas Soedirman 30 akan terus melakukan aksi demonstrasi, ketika kaki telah jauh melangkah pantang surut mundur ke belakang,” tutupnya.

Adapun 5 Tuntuntan sebagai berikut:
1. Membuka data pembangunan secara transparan,
2. Memprioritaskan pemenuhan hak dasar rakyat di sektor kesehatan dan pendidikan,
3. Menghentikan tumpang tindih kewenangan pembangunan infrastruktur,
4. Memastikan pembangunan infrastruktur berpihak pada wilayah tertinggal, khususnya Banten selatan,
5. Menjalankan kebijakan penciptaan lapangan kerja dan pengentasan kemiskinan yang berkeadilan.

Reporter: Indah
Editor: Ahmad

Inilah Alasan Ramadan Menjadi Bulan yang Istimewa

0

Setiap tahun, umat Muslim di seluruh dunia menyambut datangnya bulan Ramadan dengan penuh suka cita. Bulan kesembilan dalam kalender Hijriah ini selalu dinanti karena keistimewaannya yang tak dimiliki bulan lain. Ramadan hadir sebagai bulan penuh keberkahan yang menyentuh dimensi spiritual, moral, dan sosial umat Islam.

Ramadan dikenal sebagai syahrun mubarakun (bulan penuh berkah) dan syahrun azhim (bulan agung). Dalam banyak riwayat disebutkan, saat Ramadan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Keistimewaan ini bukan hanya karena turunnya Al-Qur’an, tetapi juga karena Ramadan menjadi momentum penyucian jiwa dan pembentukan pribadi yang lebih baik.

Menurut jurnal Ramadhan Bulan yang Mulia karya Cindy Dikara dkk., Ramadan adalah madrasah rohani yang mendidik umat untuk sabar, ikhlas, dan peduli terhadap sesama. Pandangan ini sejalan dengan penjelasan para ulama bahwa Ramadan melatih manusia mengendalikan hawa nafsu dan menumbuhkan empati sosial melalui ibadah dan kepedulian.

Secara etimologis, kata “Ramadan” berasal dari ramidha yang berarti panas terik. Menurut Ibnu Mandzur, makna ini melambangkan proses pembakaran dosa dan pelunakan hati yang keras. Karena itu, Ramadan dipandang sebagai masa pemurnian diri agar hati manusia kembali bersih dan lembut.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 185 bahwa Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk dan pembeda antara yang hak dan batil. Dalam Tafsir Ibn Katsir dijelaskan, Allah memuliakan Ramadan karena menjadi waktu turunnya wahyu, bahkan kitab-kitab samawi lain juga diturunkan pada bulan ini.

Sejarah Islam mencatat peristiwa besar di bulan Ramadan, seperti Perang Badar dan pembebasan Kota Makkah. Kedua peristiwa ini menunjukkan bahwa Ramadan bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga bulan kemenangan dan pembentukan peradaban Islam. Di dalamnya juga terdapat malam Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan, sebagai anugerah istimewa bagi umat Nabi Muhammad SAW.

Dalam hadis qudsi disebutkan, “Setiap amalan anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Ayat lain menegaskan, “Diwajibkan atas kamu berpuasa agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah: 183). Kedua teks ini menegaskan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar, melainkan latihan spiritual untuk membentuk ketakwaan.

Ramadan akhirnya menjadi momen pembinaan rohani sekaligus sosial. Melalui puasa, zakat, dan sedekah, umat belajar memahami penderitaan sesama. Inilah hakikat Ramadan, ini bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi kesempatan memperbaiki diri, membersihkan hati, dan meneguhkan kembali ketakwaan.

Penulis: Delis
Editor: Frida

Insiden Kecelakaan Soroti Minimnya Standar Keamanan Kampus

0

Serang, lpmsigma.com – Standar keamanan fasilitas di lingkungan Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten dipertanyakan, setelah terjadi kecelakaan lalu lintas di area belakang Gedung Fakultas Ushuluddin dan Adab (FUDA), Kamis (12/02/26).

Korban bernama Nafila, menduga kecelakaan terjadi akibat kelalaian seorang pegawai FUDA, yang mengendarai sepeda motor tidak sesuai tata kelola lalu lintas kampus.

“Pegawai UIN yang tabrakan sama saya ini mau pulang. Dia juga ngebut. Jalannya searah sama saya,” ujarnya saat diwawancarai melalui WhatsApp, Minggu (22/02/26).

Nafila juga menyampaikan kekecewaannya, karena hingga kini belum ada komunikasi lanjutan, dari pihak yang terlibat dalam insiden tersebut.

“Orang yang bersangkutan tidak ada itikad baik. Minimal minta maaf,” tambahnya.

Sorotan terhadap insiden ini tidak hanya tertuju pada pengendara, tetapi juga pada fasilitas keamanan kampus. Majdi, mahasiswa FUDA, menilai masih banyak aspek keamanan yang perlu dibenahi.

“Tidak ada marka jalan. Bahkan, rute juga kurang jelas dan CCTV pun mati,” ujarnya saat diwawancarai, Senin (23/02/26).

Ia mendesak pihak kampus, agar segera memperbaiki standar keamanan, termasuk memperbaiki CCTV dan melengkapi rambu lalu lintas di lingkungan kampus.

“Berikan fasilitas terbaik untuk mahasiswa di ranah kampus,” tutupnya.

Reporter: Ahmad
Editor: Indah