BerandaHealth and LifestyleMemelihara Inner Child Dalam Diri

Memelihara Inner Child Dalam Diri

Banyak orang tidak menyadari bahwasannya mereka tumbuh dengan inner child yang terluka. Ketika seseorang tumbuh dewasa dengan inner child yang terluka, hal tersebut dapat mempengaruhi sifat atau kepribadian seseorang ketika dewasa nanti.

Dosen Psikologi Fakultas Dakwah UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, A.M Fahrurrozi mengatakan Inner Child adalah bagian dari kepribadian yang dipengaruhi oleh masa kecil, terutama pada masa anak-anak yang usianya dibawah 5 tahun. Usia tersebut merupakan masa yang paling rawan kondisi kejiwaan anak terluka, ketika anak tidak mendapatkan stimulus yang selayaknya didapatkan. Seorang anak belum mampu mengelola perasaannya sehingga membuat perasaannya tidak terselesaikan dan tidak menemukan solusi, dan hal ini lah yang menjadi inner child dimasa depan.

ā€¯Misalnya ketika kecil diasuh dengan asuhan yang otoriter, maka kemudian pengalaman yang pahit dimasa kecil itu, terbawa hingga sekarang dan itulah yang menjadi bagian didalam diri kita sekarang artinya itu bagian diri kita yang masih kecil,” jelasnya

Penyebab Inner Child

Ia pun menjelaskan bahwasannya inner child disebabkan oleh lingkungan keluarga dan keadaan sosial yang mungkin tanpa disadari membuat anak terluka. Seseorang dengan Inner child, mempunyai sifat pemberontak, pendendam, menarik diri dari lingkungan sosial, rendah diri, penakut, tidak bisa mengembangkan potensinya, mudah marah dan sifat kekanakan yang mendominasi.

“Misalnya, ketika anak sering disuguhkan oleh pemandangan orang tua yang sering marah-marah, membentak dan seterusnya hal ini akan menyebabkan jiwa seseorang menjadi kecil, dia akan ketakutan dan bisa jadi berakibat menjadi pribadi yang minder, rendah diri atau si anak ketika itu ada kemarahan yang tidak terselesaikan dan berakibat memiliki pribadi yang pemberontak, pendendam. Dulu dimasa kecil ketika anak berbicara dibentak, pada akhirnya menjadi pribadi yang tidak berani untuk menampilkan potensinya karena takut disalahkan dan itu bisa jadi tidak disadari oleh seseorang,” jelasnya

Inner child memiliki tingkatan-tingakatannya sendiri dan berbahaya minimal kepada diri sendiri. Karena tidak bisa mengembangkan potensinya yang berdampak pada masa depan dan dapat berbahaya bagi orang lain misalnya anti sosial.

Saat kita mengalami trauma di masa kecil, luka batin yang diciptakan akibat trauma tersebut harus disembuhkan. Namun, seringkali luka batin akibat trauma ini tidak dihiraukan. Mungkin karena dulu kita tak memiliki orang yang membantu untuk sembuh, luka tersebut akan terbawa hingga dewasa. Hingga menyebabkan trauma atau masalah di kehidupan kita saat ini.  

Selama kita tumbuh menjadi dewasa, banyak sekali situasi atau peristiwa yang sangat mungkin menyakiti inner child, misalnya:

Pelecehan seksual

Kehilangan orang yang disayangi

Bullying

KDRT

Penyalahgunaan obat terlarang

Penyakit mental anggota keluarga, dsb

Bagaimana Pengaruh Rasa Sakit Inner Child Pada Kehidupan saat Dewasa?

Jika luka akibat trauma saat inner child belum sembuh dan kita tidak memiliki seorang yang membantu untuk sembuh dari luka tersebut, maka luka tersebut akan mempengaruhi beberapa perilaku kita saat dewasa, misalnya:

Menyalahkan diri sendiri

Merugikan diri sendiri

Menyakiti diri sendiri

Berperilaku Pasif-Agresif

Seringkali melakukan kekerasan

Dan berikut adalah hal yang dapat lakukan untuk memelihara inner child kita:

Pertama, kenali diri sendiri. Setiap orang mempunyai kepribadian yang berbeda kita harus mengenali diri kita sendri. Ketika berinteraksi dengan orang lain, orang tertentu akan mengalami hambatan seperti tidak nyaman dan merasa takut, khawatir dan tidak percaya diri. Ini adalah salah satu tanda adanya persoalan dalam diri kita. Setelah menyadari bagaimana perasaan kita, kemudian lihat kembali masa lalu kita. Kita harus mencoba memahami masa lalu, menerima dan mengikhlaskan apa yang telah terjadi sebagai salah satu perjalanan hidup kita.

Kedua, selftalk (berbicara kepada diri kita sendiri) berikan kalimat-kalimat dukungan kepada inner child kita, misalnya seperti masa lalu tidak perlu disesali tetapi jadikan masa lalu sebagai dasar untuk kita melangkah kedepannya. Hal ini penting agar kita memiliki kekuatan untuk mengikhlaskan masa lalu.

Ketiga, meditasi (menenangkan diri kita) beribadah kepada tuhan, mendengarkan lagu yang membuat kita tenang dan berdamai dengan diri sendiri. Hal ini karena orang yang berdamai dengan dirinya akan lebih mudah untuk menerima masa lalu.

Keempat, minta bantuan professional seperti Psikologi dan orang yang dianggap bisa dimintai bantuan seperti teman dan lain lain. [Mg.Dea/Nada/SiGMA]

- Advertisment -

BACA JUGA