Beranda blog Halaman 122

Seumpama Kau Jadi Aku, Bagaimana?

0

Oleh Siti Fatimatuzzahra

Lahir dari keluarga yang menyandang gelar pejabat bukan suatu hal yang istimewa bagi Griya, jika saja dulu ia diberi kesempatan untuk memilih sudah pasti ia tak akan mengambil posisi itu. Ayah Griya, Pak Huswa seorang Wali Kota, meski kedudukannya jelas berada dibawah Presiden dan Gubernur akan tetapi ia tetap dihormati oleh kalangan sekelas mereka lantaran ia hidup bergelimang harta.

Senja di ufuk barat yang bergegas menuju tempat lain diam-diam memperhatikan dua insan yang sedang duduk di kursi tua, beberapa daun gugur berbarengan dengan angin yang sesekali menerpa rambut lurus Griya serta di iringi dengan suara Behuku yang renyah, rupanya mereka sedang asik bercerita.

“Bagiku itu hal mudah, Behu,” Griya menimpal cerita Behuku yang berkeinginan keliling Indonesia. Behuku satu-satunya teman Griya yang umurnya lebih tua dua tahun darinya, mereka kenal saat menjadi volunteer di salah satu organisasi kemanusiaan.

“Sombong kali kau!” sela Behuku terkekeh dengan gayanya yang khas.

“Aku serius, kalo aku bilang ke Ayah ingin keliling Indonesia, aku yakin Ayah akan segera meminta para pelayan menyiapkan helikopter pribadi lalu terbang bersama orang yang ia percayai untuk menemaniku,” lanjut Griya, santai dengan mimik wajah yang sulit diartikan.

“Hmmm…. Masa????” ledek Behuku yang menganggap Griya sedang bergurau.

“Aku serius, tapi asal kau tau Behu, dalam kamus hidupku hal itu sangat menyebalkan sekaligus menjijikan,” ungkap Griya sambil menyeruput es teh cekek yang sering di jual di pinggir jalan.

“Bagaimana bisa Griya, kau gila kah?” Tanya Behuku sembari menempelkan telapak tangannya pada jidat Griya yang cukup lebar.

Belum sempat Griya menjawab, ia melanjutkan kalimatnya “Jangan menghayal! hahaha…” lagi-lagi Behuku meledek Griya setengah tak percaya.

“Serius Behu, ayahku pak Huswa, kau pasti tau kan?” Tanya Griya sembari meyakinkan.

“Mimpi kali kau anak muda,” timpal Behuku sambil mengelus pundak Griya layaknya seorang ibu yang iba pada anaknya.

“Lihat ini, tapi jangan bilang siapapun!” tegas Griya sambil memperlihatkan deretan foto keluarga. Disana jelas terlihat pak Huswa bersama istri dan anaknya yang paling bungsu sedang duduk di kursi, Griya dan kakak perempuannya berdiri di samping. Mereka menggunakan dresscode putih, sepertinya foto itu di ambil saat lebaran.

“Kenapa aku tak boleh bilang siapapun?” tanya Behuku, kali ini ia terkejut.

“Nanti aku cerita dan kamu akan paham,” jawab Griya singkat.

“Hmm… jangan-jangan kau tidak normal Griya, karena kalo aku jadi kau pasti sudah keliling Indonesia, terus ku coba seluruh makanan dari sabang sampai merauke,” hayal Behuku masih dengan tawa khasnya dan terus melahap keripik pisang UMKM yang di buat Ibu-ibu komplek, baginya Makan bukan lagi kebutuhan, lebih dari pada itu adalah hobi yang harus dilestarikan. Ia tak peduli berapa angka yang akan keluar saat ia menginjak timbangan, hal terpenting dalam hidup ‘ia bahagia dengan segala kesengsaraanya’.

“Behu, aku serius!” tegas Griya.

“Siapa yang sedang bercanda?” Tanya Behuku sambil menatap Griya.

“Aku mau cerita,” bola mata Griya memperlihatkan keseriusan.

“Aku mau mendengar ceritamu,” jawab Behuku dengan enteng.

“Behu,” ucap Griya dengan nada kecewa.

“Aku disini,” timpal Behuku dengan wajah menyebalkan dan selalu berhasil menggoda Griya.

“Ah, Behu!” dengus Griya mulai kesal.

“Hehe, ceritalah!” bujuk Behuku.

“Behu aku….” baru saja Griya akan memulai cerita, tiba-tiba Behuku memotong perkataanya.

“Maaf aku ingin potong dulu ucapanmu,” Behuku membetulkan rambut yang menghalangi matanya, lalu berkata “kau kan anak Wali Kota Griy, tapi kenapa kau mau jadi volunteer yang kerjaannya panas-panasan, ujan kedinginan dan kadang kena air selokan, masuk ke pelosok-pelosok tanpa di bayar?” Pertanyaan Behuku seperti sedang menginterogasi dengan wajah yang mulai serius.

“Justru dari sana aku banyak belajar,” Jawab Griya “aku belajar tentang kemanusiaan, tentang kehidupan, tentang kebersamaan dan juga tentang perjuangan,” Griya menarik napas pelan, lalu melanjutkan kalimatnya “dari sana aku paham bahwa kebahagiaan tidak selalu terkait dengan harta atau kedudukan semata, hidup butuh perjuangan bukan hanya tentang telunjuk tangan,” tuturnya.

“Orang kaya memang begitu, telunjuknya ajaib mampu membuat siapa aja tunduk, keren bukan?” ungkap Behuku menyeringai.

“Belum selesai,” sanggah Griya, menelan ludah.

“Wah maaf, aku pikir sudah, lanjut lah!” Pinta Behuku sembari memandangi anak-anak yang sedang berenang di sungai keruh yang lebih tepat di sebut selokan, sepertinya mereka hidup bahagia tanpa beban. Anak-anak itu tak pernah memikirkan apa akibat dari disahkannya Undang-undang Cipta Kerja atau bahkan tak pernah terbesit untuk berpikir bagaimana masa depan pendidikannya setelah vakum karena hadirnya virus Corona yang cukup lama menyapa.

“Behu, aku amat sangat sayang ayahku tapi tak bisa aku pungkiri kalo sering kali aku juga muak dengan perilakunya yang menganggap enteng segala kehidupan hanya karena limpahan harta dan kedudukan,” Griya tertunduk, ia mulai bercerita setelah sekian lama menyimpan rapat masalah pribadinya. Pada Behuku ia yakin ceritanya hanya akan menjadi konsumsi pribadi saja, bukan karena Behuku hobi makan, tetapi ia memang orang yang malas menceritakan cerita orang lain pada yang lain.

Behuku di buat diam dengan paparan Griya yang cukup dalam, meski sesekali terkekeh ia juga mengangguk-anggukan kepala bukti bahwa ia paham.

“Paparan yang sangat menakjubkan,” puji Behuku sambil mengelus kepala Griya layaknya guru yang bangga pada murid, saat Griya berusaha melepaskan tangannya ia pun tertawa.

Mungkin Behuku lahir saat Tuhan sedang terhibur, lalu sengaja memberikan gelar humor padanya, entah bagaimana penyerahannya yang jelas tawa sudah melekat dalam kepribadiannya. Behuku tipikal orang yang cenderung sulit memuji orang lain, apalagi jika itu memang tidak di perlukan. Ia cenderung pendiam dalam keramaian dan ramai hanya dengan beberapa orang saja, meski begitu sama sekali tak mengurangi humor yang ia miliki. Setelah keduanya terdiam, Griya mulai kembali merangkai kata.

“Behu, aku ingin melanjutkan pendidikan,” ungkap Griya dengan wajah murung, sepertinya ada sesuatu yang cukup serius yang sedang menimpa kehidupannya.

“Terus apa masalahnya? bukannya anak Wali Kota lebih mudah dengan akses-akses yang berhubungan dengan hal itu?” Tanya Behuku asal.

“Justru itu yang jadi masalah, ayah bilang aku hanya cukup menunjuk ingin kuliah dimana dan aku akan belajar di sana,” ungkap Griya.

Ia mengambil Tumbler biru yang berisikan air putih, meminumnya lalu melanjutkan pembicaraan “aku bingung kenapa pihak akademik di beberapa kampus masih saja bermain dengan ketidakjujuran, bagaimana akan melahirkan generasi yang unggul jika dari awal saja dramanya seperti itu.”

“Bukankah itu lebih baik, lebih memudahkan kau?” Tanya Behuku, berlaku bodoh.

“Behu, aku tak ingin diterima di suatu universitas hanya karena ayah, aku tak ingin mereka mengenalku karena ayah. Aku ingin mereka mengenaliku apa adanya aku, ayahku tetap ayahku tapi aku tetaplah aku, itu alasan kenapa kau tak boleh bilang pada siapapun kalo aku anak wali kota,” tegasnya.

Behuku terdiam cukup lama, menimang-nimang botol kosong lalu tersenyum “Griya, aku cemburu denganmu, aku sempat tak percaya kalo di dunia ini masih ada orang yang sepertimu, aku ingin secantik hatimu,” bisik Behuku sambil memeluk Griya.

“Aku harus gimana, Behu?” tanya Griya dalam pelukan.

“Kamu bicarakan hal ini pada ayahmu dengan model komunikasi yang terbaik,” saran Behuku dengan mimik serius, yang malah terlihat lucu.

“Aku gak berani, ayahku keras kepala,” tolak Griya mentah-mentah.

Behuku menatap tajam ke arah Griya seraya menempelkan kedua telapak tangannya tepat di pundak kiri dan kanan “Griya, seseorang pernah berkata padaku kalo komunikasi yang baik akan mampu meluluhkan hati siapapun, apalagi orang tua yang memang kaitannya dekat dengan kita, aku yakin kamu bisa!” Behuku meyakinkan Griya.

Griya terdiam mencerna kembali omongan Behuku “Aku harus berani, aku yakin dalam segala kebaikan selalu terlibat tangan Tuhan,” lirih Griya dalam hati.

“Oke Behu, aku pikir itu ide yang bagus, terima kasih atas sarannya, aku akan mencobanya,” ungkap Griya sembari beranjak pergi.

“Hati-hati di jalan!” pesan Behuku.

“Iya Behu, see you!” Griya melambaikan tangan, mengayuh sepeda dengan cepat, gelap malam akan segera menyapa bersama segala keresahannya, meski begitu Griya tetap tersenyum menyambut kedatangannya karena ia ingin segera bertemu ayah tercinta lalu mencurahkan seluruh kegelisahannya.

Pemerintah dianggap Tidak Menghargai Karya Seni

0

Serang, lpmsigma.com – Beberapa hari terakhir ini ramai berita ihwal tindakan aparat Kepolisian dan Satpol-PP yang menghapus mural bernada kritis.

Teranyar, Pemerintah melalui aparat kepolisian menghapus mural bergambar wajah Jokowi yang bertuliskan “404: Not Found” di terowongan inspeksi Tol Kunciran – Bandara Soekarno Hatta, Batuceper, Tanggerang, Banten. Kepolisian berdalih, mural tersebut telah menghina lambang negara.

Tindakan tersebut sontak menimbulkan kecaman dari beberapa Pegiat Seni di seluruh Indonesia. Tak terkecuali pegiat seni di Banten, salah satu Seniman sekaligus pegiat lingkungan, Moch Chandra menilai Pemerintah kurang bijaksana dalam menanggapi kritikan dan ekspresi masyarakat.

“Soal itu, kurang bijak, baperan dan tidak demokratis. Padahal itu bagian daripada ekspresi seni,” katanya pada kru LPM SiGMA, Jum’at (20/8).

Ia menilai Pemerintah seolah ketakutan jika ada masyarakat yang menyampaikan kritikan dan aspirasinya melalui seni. Padahal, mural menurutnya hanya bentuk ekspresi dan tidak akan membahayakan siapapun. “Seni tidak merubah keadaan sosial, ia hanya memantik,” kata Chandra

Hal Senada juga disampaikan Sabil salah satu mahasiswa pegiat Seni di UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, ia menilai tindakan penghapusan dan penangkapan terhadap pembuat mural merupakan tindakan yang tidak menghargai karya seni dan menciderai Indonesia sebagai negara demokrasi.

“Itu tindakan yang seharusnya tidak dilakukan oleh Pemerintah, tidak menghargai karya seni,” kata Sabil

Reporter: Tya
Editor: Dani

Belum Ada Tenggat Pengisian KRS

0

Serang, lpmsigma.com – Staf Pusat Teknologi Informasi dan Pangkalan Data (Pustekipad) UIN Banten, Iman Wahyudi mengatakan sampai saat ini belum ada tenggat waktu untuk pengisian Kartu Rencana Studi (KRS).

“Adapun terakhir pengisian KRS itu tanggalnya belum kita tentukan,” katanya, Senin (16/08)

Sebelumnya, beredar informasi bahwa tgl 16 Agustus adalah hari terakhir pengisian KRS online.

Menanggapi hal tersebut, Iman mengatakan ada informasi yang keliru antara pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan pengisian KRS. Ia menjelaskan bahwa tanggal 16 Agustus adalah tenggat untuk pembayaran UKT.

“Sebenarnya ada disinformasi, hari ini bukan terakhir pengisian KRS, tapi hanya terakhir pembayaran UKT,” jelasnya.

Reporter/Editor: Alfin/Vina

 

Nasib Nilai Mahasiswa yang Hilang

0

Serang, lpmsigma.com – Setelah mengalami eror sistem selama beberapa pekan, kini website UIN Banten kembali menemukan masalah baru, hampir seluruh nilai mahasiswa yang sudah menyelesaikan mata kuliahnya di semester lalu hilang. (17/08)

Hal ini berdampak pada proses pengisian Kartu Rencana Studi (KRS) yang sampai saat ini belum bisa diakses secara normal oleh mahasiswa.

Website yang berfungsi untuk memberikan kemudahan kepada civitas akademik dalam penataan dan pengelolaan data administrasi ini setiap tahunnya kerap mengalami gangguan, terlebih saat waktu pengisian KRS.

Andre Alamsyah, salah satu mahasiswa UIN SMH Banten menuturkan, gangguan pada sistem informasi akademik ini sudah jamak terjadi di setiap semester. Seharusnya pihak kampus, lanjut Andre, bisa belajar dari pengalaman terdahulu untuk memperkuat keamanan website dan menambah pegawai yang berkompeten di bidang Informasi dan Teknologi (IT).

“Harusnya pihak kampus belajar dari yang sudah-sudah, padahal gangguan seperti ini lumayan merugikan. Kalau bisa ditambah juga pegawainya, supaya lebih maksimal,” katanya

Nada yang sama juga diucapkan oleh Ari Dwi, salah satu mahasiswa jurusan Ekonomi Syariah, ia mempertanyakan nilai mata kuliahnya yang hilang, karena sampai saat ini dari pihak Jurusan hanya bisa mengakomodir nilai mahasiswa yang mempunyai KRS dan KHS. Sedangkan, ia dan beberapa temannya tidak mempunyai file KRS maupun KHS.

“Dari pihak Jurusan atau Pustekipad memang tidak ada bank data terkait nilai para mahasiswa ya? Sehingga setiap jurusan meminta KRS dan KHS ke setiap mahasiswa yang nilainya hilang,”

“Pada dasarnya asal muasal kehilangan nilai ini berangkat dari Siakad sendiri,” lanjut Ari

Menanggapi hal tersebut, Staf Pusat Teknologi Informasi dan Pangkalan Data (Pustekipad) UIN SMH Banten, Iman Wahyudi mengatakan pihaknya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk memulihkan data yang eror. Ia juga menuturkan, dalam pemulihan data tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama.

“Dengan jumlah mahasiswa yang begitu banyaknya untuk membangun kembali data yang sudah eror tidak bisa dalam jangka waktu yang sebentar,” katanya

Selain itu, ia juga mengatakan Pustekipad sudah merekomendasikan penggunaan KHS kepada jurusan untuk mempercepat penginputan data. Menurutnya, penggunaan data dari KRS lah cara yang lebih cepat untuk memulihkan data nilai mahasiswa yang hilang.

“Adapun Ketika mereka punya KHS itu akan lebih cepet, kita tidak perlu nyari lagi, jurusan tinggal menginput datanya,” jelas Iman

Terakhir, ia mengatakan mahasiswa tak perlu risau terkait nilai yang hilang, pihaknya saat ini sedang berusaha memulihkan data.

“Kita berusaha semaksimal mungkin mengembalikan data sesuai dengan haknya,”

Reporter: Tya
Editor: Dani

Website Kerap Eror, ini Penjelasan Pustekipad

0

Serang, lpmsigma.com – Pusat Teknologi Informasi dan Pangkalan Data (Pustekipad) UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten mengakui website milik UIN Banten masih lemah dalam aspek keamanan sehingga mudah diretas atau di hack.

Pegawai Pustekipad, Iman Wahyudi mengatakan, dengan adanya data mahasiswa pada website yang menghilang, pihaknya mengakui tingkat security atau keamanan website UIN Banten masih lemah.

“Ini kekurangan kita lah, maksudnya tingkat security kita perlu ditingkatkan. Kita tidak menyalahkan siapapun, kita hanya introspeksi diri untuk melakukan pembenahan,” Katanya Senin, (16/8/2021)

Selain itu, Iman juga mengungkapkan, selain keamanan website yang masih lemah, kekurangan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk mengelola website pun menjadi alasan Pustekipad kurang maksimal dalam memberikan pelayanan.

“Karena memang kita kekurangan orang kan, mau dikebut bagaimanapun kan yang namanya orang punya tenaga terbatas,” ucapnya

Dengan segala keterbatasan pengelola yang ada, Iman menceritakan kadang menggunakan waktu libur atau istirahatnya untuk terus bekerja melakukan pelayanan terhadap mahasiswa.

“Padahal kita bekerja sudah semaksimal mungkin, kadang sampe larut malam, hari minggu juga kita masih kerja di depan laptop tapi ya itu tadi, kita terbatas tenaganya,” katanya

Reporter: Dani

Penuntasan Kasus Korupsi Pengadaan Masker di Banten Cenderung Stagnan

0

Serang, lpmsigma.com – Kasus korupsi pengadaan Masker KN95 yang dilakukan oleh salah satu Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) di Banten dan dua orang pegawai PT. RAM telah mengakibatkan kerugian Negara senilai Rp1,6 Miliyar. Kini kasus tersebut masih dalam penanganan Kejati Banten.

Kendati salah satu kasus mega korupsi di Banten ini sudah masuk ke lingkungan Pengadilan Tipikor, namun penuntasan kasus korupsi yang dilakukan oleh Kejati Banten ini masih dinilai stagnan dan banyak menuai kecurigaan publik.

Koordinator Umum Komunitas Soedirman-30, Jodi mengatakan, masyarakat hari ini mempertanyakan keseriusan Kejati Banten dalam menuntaskan tiga kasus mega korupsi di Banten. Ia menilai, penuntasan kasus korupsi yang dilakukan oleh Kejati Banten cenderung landai.

“Kalau misalkan Kejati terus landai dalam penuntasan kasus korupsi di Banten, maka patut kita pertanyakan perihal netralitas kepada rakyat sebagai lembaga penegakan hukum di Banten,” katanya

Ia juga mengatakan, Kejati Banten harus independen dan menuntaskan kasus korupsi pengadaan masker secara serius sampai ke akar-akarnya.

“Seharusnya Kejati mampu menuntaskan kasus Korupsi pengadaan masker sampai ke akar-akarnya, jangan sampai ada tangan-tangan Dewa yang bermain di dalam kasus ini untuk menutupi pengungkapan tersangka baru,” ujarnya

Senada dengan Jodi, salah satu mahasiswa UIN Banten, Adi Saputra juga mengatakan, pergantian Kepala Kejaksaan di Banten tahun ini harus menjadi semangat baru Kejati dalam menuntaskan kasus korupsi.

“Kejati Banten telah berganti kepala kejaksaan yang baru dilantik tahun ini, seharusnya ini menjadi semangat baru juga bagi Kejati untuk segera menuntaskan kasus korupsi di Provinsi Banten,” ujar Adi

Reporter: Dani

100 Hari Kinerja Dema-U dan Sema-U Tuai Kritikan

0

Serang, lpmsigma.com – Menginjak 100 hari setelah dilantiknya kepengurusan, kinerja Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) dan Senat Mahasiswa (Sema) tingkat universitas tuai beberapa kritikan.

Menurut Jodi selaku ketua koordinator umum KMS 30, Undang-undang Keluarga Besar Mahasiswa (UU-KBM) yang sampai saat ini belum terbentuk dan beberapa tahun terakhir dalam pembentukannya selalu dibuat dadakan, menyebabkan chaos dalam Organisasi Mahasiswa (Ormawa) yang ada di kampus.

“Pembentukan undang-undang ini harus sesuai dengan kebutuhan mahasiswa, dan hal ini juga menjadi evaluasi bagi kita semua kenapa UU-KBM dari 2 tahun lalu dibentuk secara dadakan dan menimbulkan konflik. Maka dari itu ada baiknya kalau UU-KBM segera dibuat agar tidak menimbulkan tanda tanya bagi mahasiswa,” katanya dalam diskusi yang diadakan oleh UKM SiGMA, Rabu (4/8).

Menanggapi hal tersebut, Qaulan Syadida seorang aktivis perempuan provinsi Banten mengatakan perihal masih kurang kuatnya penyadaran tentang kekerasan seksual di kampus.

“Kita semua harus mengawal kinerja-kinerja Dema-U dan Sema-U terkait upaya apa saja yang telah dilakukan. Contohnya seperti ruang bebas literasi seksual, sudah sampai mana dan apakah ini hanya menjadi program kerja untuk memenuhi formalitas semata atau memang serius mengolah kasus kekerasan seksual yang ada di kampus,” ucapnya.

Selain itu, ketua Forum Silaturahmi Umum (FSU), Kopling menjelaskan bahwa ketua dan wakil ketua Dema-U tidak mampu mengkoordinir kinerjanya dengan baik, sehingga segala tuntutan dan aspirasi yang datang dari para mahasiswa hanya dilakukan oleh mereka berdua.

“Jadi problematika utamanya adalah ketua Dema-U dan wakilnya tidak mampu mengkoordinir kinerjanya, sehingga hanya mereka berdua yang melakukan dan mengerjakan apa-apa yang datang dari mahasiswa. Maka dari itu penting juga untuk kita supaya bisa menjadi mitra kritiknya Dema-U, agar Dema-U tetap memiliki semangat untuk menjalankan program kerjanya dan melakukan hal-hal yang harusnya mereka lakukan,” ujar Kopling.

Reporter: Alfin

Mari Berterima Kasih Kepada Sema-U Karena Sudah Jadi Pengingat Setia Kita

0

Di 100 hari kinerja Ormawa ini, sepertinya kita tak perlu terlalu jauh mengkritik mereka, karena memang belum banyak kinerja yang mereka lakukan. Dalam hal ini, cukup kita ucapkan terima kasih kepada Senat Mahasiswa UIN Banten, yang sudah susah payah menjadi alarm pengingat kita setiap bulan.

Saya adalah salah satu mahasiswa yang sangat terbantu oleh kerja-kerja Sema-U, dari kinerja mereka setiap bulan saya bisa ingat kapan harus membayar cicilan, mengambil laundryan, hingga menagih beasiswa bulanan dari orang tua. Maklum, mahasiswa seperti saya yang notabenenya adalah perantau kadang harus hidup dengan cara “gali lubang tutup lubang” hehee.

Bagi mahasiswa yang sering lupa tanggal dan bulan, saya sarankan untuk rutin melihat hasil kinerja Sema-U setiap bulannya. Apalagi untuk mahasiswa yang sering lupa harus membayar cicilan setiap bulan, semua bisa kita ingat dengan mudah cukup melihat kinerja Sema-U dari Instagram. Karena dari aktivitas mereka di Instagram kita bisa tau kapan “awal dan akhir bulan” datang.

Meski kinerja mereka masih jauh dari apa yang telah diamanatkan oleh UU KBM, rutinitas Sema-U yang memposting pamplet ucapan selamat dan kalimat terima kasih kepada bulan-bulan yang sudah kita lalui adalah satu hal yang harus kita apresiasi. Karena dari kinerja mereka itu kita bisa belajar mengikhlaskan sesuatu yang belum sempat tercapai di bulan-bulan lalu.

Selain itu, kita juga bisa belajar bagaimana mengucapkan terima kasih dan selamat datang dalam bahasa Inggris dengan baik (welcome Juli, thank you Juni). Sungguh ini adalah pelajaran yang tak bisa kita dapatkan di Ormawa kampus manapun.

Walaupun dulu saya sempat ragu dengan keseriusan dan kontribusi mereka sebagai pengurus Ormawa, dari sikap dan tindakannya yang konsisten (gak ngapa-ngapain) selama 100 hari kinerja Ormawa ini, semakin membuat saya yakin bahwa mereka adalah orang-orang yang serius dalam hal mengingatkan dan menghargai waktu (Berbaik sangka; besok mereka bisa menghargai amanah yang sedang diemban) dengan baik.

Terima kasih Sema-U, karena sudah mengajari kami indahnya menghargai waktu-waktu yang sudah kita lewati. Terlebih, sudah menjadi alarm pengingat bagi kami yang harus membayar cicilan setiap bulan. Hehe

Penulis: DM

100 Hari Kinerja Ormawa, Ketua FSU: Sema-U hanya Menjadi Ajang Gagahan

0

Serang, lpmsigma.com – Ketua Umum Forum Silaturahim UKM, Hafiz Fauzani menilai bahwa Senat Mahasiswa UIN Banten terkesan hanya menjadi tempat gagahan pengurusnya. Sehingga hal itu, menurut Hafiz, membuat kinerja Ormawa ini tidak produktif.

“Saya menilai Sema-U ini hanya menjadi ajang gagahan saja dikepengurusannya,” katanya saat diskusi umum LPM SiGMA. Rabu, (4/8)

Selain itu, ia juga menilai bahwa gelagat yang ditunjukkan oleh Ketua Sema-U seperti kebingungan dan tidak memahami terkait kerja-kerja legislasi di kampus. “Sema-U, mereka sepertinya tidak paham apa yang harus dilakukan terkait legislasi di kampus,” ujarnya.

Senada dengan Hafiz, Azis Sadam salah satu mahasiswa peserta diskusi juga mengatakan, dana besar yang sudah dikeluarkan oleh lembaga kampus untuk pemilihan umum harus dibalas dengan kinerja dan kontribusi baik mereka untuk mahasiswa lain.

“Dana PUM yang begitu banyak harus dibalas dengan kinerja yang baik untuk kepentingan mahasiswa,” kata Sadam

Reporter: Fajri

UIN Banten Lepas 2880 Mahasiswa Kukerta

0

Serang lpmsigma.com | Sebanyak 2880 mahasiswa yang mengikuti kegiatan kukerta (kuliah kerja nyata) tahun 2021 secara resmi dilepas oleh Rektor UIN Banten Wawan Wahyudin, Senin (2/8).

Dengan mengusung tema “Penguatan Vaksinasi Covid 19, Keluarga Tangguh Bencana dan Praktik Moderasi Beragama dalam Budaya Masyarakat”, acara pelepasan mahasiswa kukerta tersebut dilakukan secara hybrid, yaitu di aula rektorat dan melalui aplikasi Zoom Cloud Meeting, yang juga disiarkan secara langsung dalam channel YouTube UIN Banten.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M), Wazin menjelaskan bahwa pelaksanaan kukerta akan dilakukan mulai Senin, tanggal 2 hingga 31 Agustus 2021 secara daring dan luring terbatas.

“Kegiatan kukerta ini dilakukan secara daring dan luring terbatas, di mana daring tersebut dilakukan oleh mahasiswa dari rumahnya masing-masing, sedangkan luring terbatas hanya dilakukan di beberapa kecamatan yaitu di Kabupaten Serang, Tanara, Tirtayasa, Pontang, Petir, Cikesal dan Tanjung Teja,” jelasnya saat menyampaikan sambutan.

Sementara itu, rektor UIN Banten mengatakan bahwa pentingnya untuk berkomunikasi dengan baik demi melancarkan dan menyukseskan kegiatan kukerta tahun ini.

Ia juga berharap, mahasiswa kukerta bisa tetap tenang dan tidak gaduh, agar bisa menyelesaikan tugas dengan baik. “Mari kita saling berdoa dan terus sosialisasikan surat edaran kementrian Agama tentang moderasi beragama, mengenai perlunya memutus rantai covid ini dengan 5M dan 1D. Jangan lupa untuk ikhtiar lahiriah dan batiniah,” ujar Wawan.

Setelah dilakukannya pelepasan oleh rektor UIN Banten, selanjutnya dilakukan penyematan almamater kepada perwakilan mahasiswa kukerta yang mengikuti acara secara luring di aula rektorat, dan dilanjutkan dengan foto bersama seluruh peserta kukerta.

Reporter: Alfin