Beranda blog Halaman 28

Sering Skip Makan? Jangan kira itu Melatihmu untuk Kuat Berpuasa!

0

Banyak orang mengira bahwa sering melewatkan waktu makan bisa membuat tubuh lebih terbiasa menahan lapar, sehingga lebih mudah menjalani puasa. Namun, anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Melewatkan makan tanpa pola yang jelas justru dapat berdampak buruk pada kesehatan dan tidak menjamin seseorang lebih kuat menghadapi puasa.

Sebaliknya, mereka yang memiliki pola makan teratur justru lebih siap berpuasa, baik secara fisik maupun mental. Hal ini berkaitan dengan bagaimana tubuh beradaptasi terhadap pola asupan energi serta cara otak merespons rasa lapar. Untuk memahami lebih dalam, mari kita lihat perbedaannya dari sudut pandang ilmiah dan psikologis.

Puasa adalah kondisi menahan makan dan minum dengan jadwal yang jelas. Seseorang yang berpuasa memiliki waktu sahur sebagai sumber energi dan berbuka sebagai momen mengisi kembali nutrisi yang hilang. Tubuh pun beradaptasi dengan pola ini dan bekerja secara efisien dalam mengelola energi.

Sementara itu, skip makan terjadi tanpa pola yang teratur. Kadang seseorang melewatkan sarapan, kadang melewatkan makan siang, atau bahkan tidak makan seharian tanpa ada pengganti yang jelas. Ketidakteraturan ini membuat tubuh bingung dalam mengatur energi, bukan justru melatihnya untuk lebih kuat menahan lapar.

Secara metabolisme, tubuh yang terbiasa melewatkan makan tanpa pola yang jelas cenderung lebih sulit beradaptasi dengan puasa. Pola energi yang tidak stabil membuat tubuh lebih cepat merasa lemas atau pusing saat berpuasa, karena sebelumnya tidak terbiasa dengan jeda makan yang panjang dalam kondisi yang terstruktur.

Pernahkah merasa lebih mudah lapar ketika sadar bahwa sedang berpuasa, dibanding ketika sedang sibuk dan tidak sempat makan? Hal ini terjadi karena otak merespons rasa lapar secara berbeda dalam dua kondisi ini.

Saat seseorang berpuasa, ia sadar bahwa dirinya sedang menahan lapar untuk tujuan tertentu. Kesadaran ini membuat tubuh lebih siap menghadapi rasa lapar, sehingga otak tidak memicu stres berlebihan. Penelitian dalam jurnal Frontiers in Psychology menunjukkan bahwa ketika seseorang memiliki kontrol diri dan niat yang jelas dalam menahan lapar, otak lebih mudah beradaptasi.

Sebaliknya, ketika seseorang terbiasa melewatkan makan secara tidak teratur, otak tidak bisa merespon dengan jelas. Kadang rasa lapar datang tiba-tiba, dan tubuh tidak siap mengatasinya. Studi dalam jurnal Neuroscience & Biobehavioral Reviews menunjukkan bahwa kebiasaan skip makan dapat meningkatkan produksi hormon stres kortisol, yang justru membuat seseorang lebih rentan mengalami kelaparan mendadak. Kondisi ini sering kali menyebabkan seseorang makan dalam jumlah berlebihan ketika akhirnya mendapatkan makanan, yang tentu saja bukan kondisi yang ideal saat menjalani puasa.

Saat seseorang berpuasa, tubuh menggunakan cadangan energi dari glikogen dan lemak secara bertahap. Karena ada pola makan yang jelas, yaitu sahur dan berbuka, tubuh memahami kapan harus menghemat energi dan kapan harus menggunakannya. Dengan ritme yang teratur, energi pun bisa terjaga lebih stabil sepanjang hari.

Namun, jika seseorang terbiasa melewatkan makan tanpa aturan, tubuh mengalami fluktuasi energi yang tidak stabil. Akibatnya, mereka lebih cepat merasa lemas karena tubuh tidak memiliki pola penyimpanan energi yang terstruktur. Selain itu, fokus dan konsentrasi bisa menurun karena otak tidak terbiasa mendapatkan asupan glukosa yang cukup di waktu-waktu tertentu.

Kondisi ini juga sering menyebabkan lonjakan nafsu makan yang tinggi saat berbuka. Karena tubuh menganggap makanan sebagai “kesempatan langka” untuk mendapatkan energi kembali, seseorang yang terbiasa skip makan, berisiko makan secara berlebihan saat berbuka, yang dapat mengganggu sistem metabolisme. Studi dalam Journal of Nutrition and Metabolism menyebutkan bahwa orang yang sering melewatkan makan cenderung memiliki kadar gula darah yang lebih tidak stabil. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko lemas, pusing, dan gangguan metabolisme saat berpuasa dibanding mereka yang memiliki pola makan yang lebih teratur.

Banyak yang mengira bahwa mereka yang terbiasa makan banyak akan lebih sulit berpuasa, sementara mereka yang sering melewatkan makan akan lebih kuat menahan lapar. Kenyataannya, mereka yang memiliki pola makan teratur justru lebih mudah beradaptasi dengan puasa.

Tubuh mereka sudah terbiasa dengan ritme yang stabil dalam menyerap dan menggunakan energi. Selain itu, mereka juga tidak mengalami lonjakan hormon stres akibat kebiasaan melewatkan makan. Metabolisme mereka lebih teratur, sehingga energi bisa dikelola dengan lebih baik selama puasa.

Sebaliknya, orang yang sering melewatkan makan cenderung lebih cepat merasa lemas dan sulit menahan lapar saat berpuasa. Tubuh mereka tidak terbiasa dengan pola energi yang jelas, sehingga ketika harus menghadapi puasa dengan jeda makan yang panjang, mereka justru merasa lebih sulit untuk beradaptasi.

Meskipun melewatkan makan terdengar mirip dengan puasa, dampaknya pada tubuh sangat berbeda. Skip makan adalah kebiasaan yang tidak sehat dan tidak terstruktur, yang justru bisa menyebabkan stres serta gangguan metabolisme.

Jika selama ini berpikir bahwa sering melewatkan makan bisa menjadi latihan untuk berpuasa, sebaiknya ubah pola pikir tersebut. Justru, makan dengan pola yang baik sebelum Ramadhan akan lebih membantu tubuh dalam menjalani puasa dengan lebih lancar dan bertenaga.

Puasa adalah aktivitas yang terencana dan memiliki banyak manfaat bagi tubuh. Sementara itu, kebiasaan skip makan hanya akan membuat pola energi tubuh berantakan dan berisiko bagi kesehatan. Mereka yang memiliki pola makan teratur lebih siap menghadapi puasa dibanding mereka yang sering melewatkan makan.

Jadi, mulai sekarang, jaga pola makan dengan baik agar tubuh siap menjalani puasa dengan lebih kuat dan sehat!

Penulis: Indah
Editor: Naila

Tim Takjil vs Tim Makan Berat, Mana yang Kamu Banget?

0

Setiap Ramadan, perdebatan antara Tim Takjil dan Tim Makan Berat selalu mencuri perhatian. Dua kelompok ini punya cara berbeda dalam menikmati waktu berbuka. Tim Takjil lebih memilih makanan ringan seperti kolak, es buah, atau gorengan sebelum beranjak ke hidangan utama setelah shalat magrib. Sebaliknya, Tim Makan Berat langsung menyantap nasi dan lauk pauk tanpa basa-basi.

Diantara keduanya, mana yang kamu banget?

Momen buka bersama (bukber) sering menjadi ajang bagi kedua tim ini untuk mempertahankan pilihan mereka.

Bagi Tim Takjil, pilihan mereka bukan tanpa alasan. Mengawali berbuka dengan kurma, kolak, atau minuman manis dipercaya dapat mengembalikan energi dengan cepat setelah seharian menahan lapar dan haus. Selain itu, kebiasaan ini juga mengikuti sunah Rasulullah SAW. Sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Abu Daud:

“Biasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka dengan ruthab (kurma muda) sebelum shalat Maghrib. Jika tidak ada ruthab, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma matang), dan jika tidak ada tamr, beliau meneguk beberapa teguk air.”

Sementara itu, Tim Makan Berat lebih memilih langsung menyantap hidangan utama seperti nasi dengan lauk pauk. Menurut mereka, setelah lebih dari 12 jam berpuasa, tubuh membutuhkan asupan makanan yang lebih mengenyangkan agar kembali bertenaga.

Namun, apakah langsung makan berat saat perut kosong ketika setelah berpuasa itu baik untuk kesehatan?

Menurut Jurnal Pengaruh Puasa Ramadhan pada Beberapa Kondisi Kesehatan yang di tulis M. Adi Firmansyah, mengonsumsi makanan berat secara langsung dapat membebani sistem pencernaan. Setelah berpuasa, kadar gula darah cenderung rendah, dan mengonsumsi makanan berat secara tiba-tiba bisa menyebabkan lonjakan gula darah yang drastis.

Simpanan glikogen akan berkurang dan rendahnya kadar insulin plasma memicu pelepasan asam lemak dari sel adiposit. Oksidasi asam lemak ini menghasilkan keton sebagai bahan bakar metabolisme oleh otot rangka, otot ini bisa membuat tubuh terasa lemas dan mengantuk setelah makan.

Selain itu, perut yang kosong dalam waktu lama juga perlu beradaptasi sebelum menerima makanan berat, agar tidak mengalami gangguan pencernaan seperti kembung atau nyeri perut.

Sebaliknya, berbuka dengan makanan ringan yang mengandung gula alami dapat membantu tubuh beradaptasi lebih baik sebelum menerima hidangan utama. Itulah sebabnya banyak yang menyarankan berbuka dengan kurma atau minuman manis, lalu memberikan jeda dengan shalat magrib sebelum makan besar.

Jadi, bagaimana SiGMAnia? Apakah kamu lebih suka berbuka dengan yang ringan, atau langsung menyantap hidangan utama? Apapun pilihannya, yang terpenting adalah menjaga pola makan yang sehat agar tubuh tetap fit selama bulan Ramadan!

Penulis: Davina
Editor : Lydia

Tax Goes To Faculty 2025, FEBI UIN SMH Banten Perluas Jangkauan

0

Serang, lpmsigma.com Tax Center Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten, kembali menyelenggarakan program Tax Goes To Faculty 2025. Kegiatan ini berlangsung selama lima hari, mulai 3 hingga 8 Maret 2025, yang bertempat di berbagai gedung fakultas. Selasa (04/03).

Sebagai lembaga di lingkungan perguruan tinggi yang berada di bawah naungan Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Tax Center memiliki peran penting dalam kajian, pendidikan, pelatihan, serta sosialisasi perpajakan bagi mahasiswa dan masyarakat.

Uldiana Sari, anggota RENJANI (Relawan Pajak untuk Negeri) UIN SMH Banten, menyebut bahwa Tax Goes To Faculty telah menjadi agenda tahunan dengan tujuan untuk memperluas jangkauan Tax Center.

“Kegiatan ini rutin kami adakan sejak tiga tahun lalu. Tujuannya adalah memperluas jangkauan Tax Center agar tidak hanya dikenal di FEBI, tetapi juga di fakultas lain bahkan masyarakat luas,” ujarnya.

Lebih lanjut, Uldiana juga berharap ke depannya keanggotaan Tax Center dapat diperluas, tidak hanya terbatas pada mahasiswa FEBI, tetapi juga melibatkan mahasiswa dari berbagai fakultas serta masyarakat.

“Kami ingin Tax Center lebih inklusif, seperti universitas lain di Banten yang memiliki keanggotaan lintas fakultas bahkan masyarakat, sehingga manfaatnya bisa dirasakan lebih luas,” tambahnya.

Dede Sudirja, tenaga pendidik Program Studi Perbankan Syariah, mengapresiasi peran anggota Tax Center dalam membantu Wajib Pajak (WP) memahami dan memenuhi kewajiban perpajakannya.

“Saya sering menggunakan aplikasi DJP dan sangat terbantu oleh pendampingan dari teman-teman Tax Center,” tutupnya.

Dengan adanya program ini, diharapkan kesadaran perpajakan di kalangan mahasiswa dan masyarakat semakin meningkat.

Reporter: Essa Alvira
Editor: Naila

 

Prosedur Melamar Pekerjaan di Indonesia, Mempermudah atau Mempersulit Rakyat?

0

Di era digital yang serba mudah, seharusnya proses melamar kerja menjadi lebih mudah dan efisien. Namun, realita nya di Indonesia justru terbalik, hingga saat ini prosedur melamar kerja atau rekrutmen masih berbelit dan tidak efektif. Apakah sistem yang ada benar-benar bertujuan untuk menyeleksi kandidat terbaik, atau justru semakin mempersulit bagi pencari kerja?

Hingga kini, masih banyak perusahaan menerapkan proses melamar kerja yang panjang dan bertele-tele, dengan tumpukan dokumen administratif yang tidak relevan serta budaya “orang dalam” yang masih kuat. Ironisnya, sistem ini terus berulang tanpa ada perubahan yang signifikan, pada akhirnya angka pengangguran di Indonesia semakin tinggi.

Alih-alih berfokus pada keterampilan dan pengalaman, banyak perusahaan lebih mengutamakan kelengkapan administratif yang sering kali tidak berkaitan langsung dengan pekerjaan yang dilamar.

Bahkan, beberapa perusahaan mencantumkan persyaratan yang tidak masuk akal, seperti batasan usia, tinggi badan, atau status pernikahan, yang seolah-olah menjadi faktor penentu kelayakan seseorang untuk bekerja. Padahal, kriteria semacam ini sering kali tidak relevan dengan pekerjaan yang dilakukan seorang pelamar.

Mengutip dari jurnal berjudul “Peran Rekrutmen dan Seleksi SDM Terhadap Kualitas Lembaga,” karya Tengku Darmansah dkk., proses rekrutmen dan seleksi yang tidak efektif dapat berdampak negatif karena tidak hanya membuang waktu, tetapi juga menghambat perusahaan dalam mendapatkan kandidat yang berkualitas.

Salah satu contoh nyata dari ketidakefisienan sistem rekrutmen di Indonesia adalah keharusan melampirkan berbagai dokumen administratif sejak awal, seperti fotokopi KTP, KK, SKCK, surat keterangan sehat, dan pas foto dalam berbagai ukuran. Hal ini berbeda dengan negara maju, seperti Amerika dan negara-negara di Eropa, dokumen ini baru diminta setelah seseorang dinyatakan diterima, ini menunjukkan bahwa sistem rekrutmen di Indonesia masih birokratis dan kurang efisien.

Selain birokrasi yang berbelit, praktik nepotisme dan jalur “orang dalam” masih menjadi fenomena yang mengakar dalam sistem melamar kerja di Indonesia. Tidak jarang, lowongan kerja hanya dijadikan formalitas karena posisi tersebut sebenarnya sudah disiapkan untuk seseorang yang memiliki koneksi dengan pihak internal perusahaan.

Akibatnya, banyak pelamar yang berkompeten tersingkir hanya karena tidak memiliki akses “orang dalam” atau koneksi. Dampaknya tidak hanya merugikan pencari kerja yang memenuhi kualifikasi, tetapi juga menurunkan produktivitas perusahaan, karena tenaga kerja yang direkrut melalui jalur koneksi belum tentu memiliki kompetensi yang baik.

Di tengah sistem rekrutmen yang kompleks dan tidak transparan, muncul pula fenomena penipuan berkedok lowongan kerja. Maraknya penipuan berkedok rekrutmen kerja ini semakin meresahkan masyarakat. Modus yang sering digunakan adalah meminta calon pelamar untuk membayar sejumlah biaya administrasi dengan janji akan diterima bekerja.

Namun pada nyatanya, pelamar tidak mendapatkan kejelasan mengenai status lamaran mereka, bahkan sering kali tidak mendapatkan pekerjaan yang dijanjikan. Hal ini semakin memperburuk keadaan, karena bukan hanya prosedur yang sudah berbelit, tetapi juga banyak pelamar yang akhirnya menjadi korban penipuan.

Yang lebih memprihatinkan, banyak perusahaan tidak memberikan kejelasan mengenai status lamaran setelah seleksi berlangsung. Tidak sedikit pelamar yang harus menunggu berbulan-bulan tanpa adanya informasi apa pun. Akibat kurangnya transparansi ini, membuat proses rekrutmen menjadi semakin melelahkan dan penuh ketidakpastian bagi para pencari kerja.

Jika Indonesia benar-benar ingin menciptakan tenaga kerja yang lebih kompetitif dan adil, reformasi sistem rekrutmen seharusnya menjadi prioritas. Administrasi yang tidak perlu sebaiknya dikurangi, seleksi semestinya lebih berbasis keterampilan dan pengalaman, serta transparansi dalam proses penerimaan harus diperbaiki agar tidak mempersulit rakyatnya di Negeri sendiri.

Penulis: Frida
Editor: Lydia

Unik! Mesir Jadikan Fanoos Sebagai Simbol Perayaan Ramadhan

0

Ramadhan merupakan salah satu momentum yang selalu di nantikan oleh umat muslim di seluruh penjuru dunia. Ada banyak tradisi unik yang dilakukan umat muslim untuk menyambut bulan yang penuh berkah ini.

Sebagai umat muslim, kita pasti sudah tidak asing lagi dengan lentera ramadhan. Tapi, tahukah SiGMAnia dari mana asalnya tradisi unik ini? Mari kita bahas!

Di lansir dari nu.online, masyarakat Mesir biasanya menggunakan Fanous (fanuus) yang biasa disebut lentera ramadhan sebagai simbol perayaan tradisi unik turun temurun yang digunakan untuk menyambut bulan suci ramadhan. Dengan pancaran cahaya yang warna warni, lampu ini melambangkan persatuan dan kegembiraan sepanjang bulan suci.

Tradisi unik ini mulanya dilakukan ketika orang Mesir menyambut Khilafah Al-Muizz Lidinillah pada zaman dinasti Fatimiyah. Saat itu, Khilafah Al-Muizz tiba di Kairo – Mesir pada saat hari pertama di bulan Ramadhan.

Selain itu, karena kurangnya penerangan, Fanoos juga digunakan oleh masyarakat mesir kuno sebagai alat penerangan khusus untuk pergi ke masjid saat malam tiba.

Fanoos/lentera dulunya hanya berisikan lilin atau minyak dan sumbu. Tetapi, seiring berjalannya waktu lampu ini sudah mengalami modernisasi dalam perubahan bentuknya sesuai dengan perkembangan zaman yang ada.

Seiring berjalannya waktu, masyarakat mesir berbondong-bondong membeli dekorasi berupa lentera atau yang dalam bahasa arab disebut “Fanoos” sebagai salah satu perayaan untuk menyambut bulan ramadhan dan masih terus dilaksanakan hingga sekarang.

Saat ini, Fanoos sudah semakin mendunia, bukan hanya di Mesir. Tetapi, terdapat juga di negara-negara islam bagian asia dan arab, sebagai simbol menyambutan ramadhan.

SiGMAnia, saat ini kalian tidak perlu lagi ke Mesir atau luar negeri untuk melihat lampu tersebut, karena sekarang lampu ini sudah digunakan sebagai salah satu benda dekorasi karena keindahannya. Dekorasi lampu ini sudah bisa kalian temukan di tempat-tempat umum seperti restoran, hotel, mall, jalan, dan lainnya.

Penulis: Nabel
Editor: Lydia

Fakta Menarik tentang Kolak, Takjil Manis Yang Dipengaruhi oleh Budaya Arab

0

Kolak merupakan salah satu hidangan khas Indonesia yang selalu hadir saat bulan Ramadan. Rasanya yang manis dengan kuah santan yang gurih membuatnya menjadi takjil favorit banyak orang. Namun, tahukah kamu bahwa kolak memiliki sejarah dan filosofi yang unik? Yuk, simak beberapa fakta menarik tentang kolak!

Faktanya, meskipun kolak sangat identik dengan kuliner Nusantara, ternyata keberadaan kolak dipengaruhi oleh budaya Arab. Menurut sejarawan dan penulis buku Jejak Rasa Nusantara ” Sejarah Makanan Indonesia,” Fadly Rahman, Hidangan ini dibawa oleh para pedagang dan penyebar agama Islam dari Timur Tengah.

Di negara Timur Tengah, makanan serupa kolak menggunakan bahan dasar kurma, susu, dan madu. Saat tiba di Indonesia, kolak diadaptasi dengan bahan-bahan lokal seperti pisang, ubi, dan singkong, serta menggunakan santan dan gula merah untuk menciptakan cita rasa khas.

Kolak bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga memiliki sejarah dalam penyebaran Islam di Indonesia. Pada masa lampau, para ulama menggunakan kolak sebagai simbol dakwah. Kolak sering disajikan di bulan Sya’ban, satu bulan sebelum Ramadan, sebagai bentuk ajakan untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Nama “kolak” juga berasal dari bahasa Arab, yaitu “Khalik”, yang berarti Sang Pencipta atau Tuhan. Hal ini dikaitkan dengan filosofi makanan ini yang mengajak orang untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan.

Melansir dari artikel situs sejarah Historia, Arkeolog Dwi Cahyono, pisang kepok yang sering digunakan dalam kolak berhubungan dengan bahasa jawa “kapok,” yang artinya jera. Kata kapok disebut melambangkan ajakan untuk bertobat dan tidak mengulangi kesalahan.

Setiap bahan dalam kolak juga memiliki makna filosofis tersendiri. Seperti ubi atau telo pendem, menggambarkan ajakan untuk mengubur kesalahan dan memperbanyak amal baik. Sedangkan santan melambangkan keseimbangan hidup, mengingatkan manusia untuk selalu menjaga harmoni dalam menjalani kehidupan. Masyarakat Jawa percaya bahwa menyantap kolak saat Ramadan bukan sekadar menikmati hidangan manis, tetapi juga sebagai bentuk introspeksi dan peningkatan ibadah.

Kolak tidak hanya terdiri dari pisang dan ubi. Di berbagai daerah Indonesia, ada banyak variasi kolak yang unik, seperti kolak biji salak, kolak durian, dan kolak labu kuning yang sering ditemukan di daerah Sumatra.

Setiap daerah memiliki cara sendiri dalam mengolah kolak, tetapi semuanya tetap mempertahankan cita rasa manis dan gurih yang khas.

Itulah beberapa fakta menarik tentang kolak yang mungkin belum banyak diketahui. Sekarang, setiap kali menikmati kolak, kamu bisa mengingat sejarah dan filosofi unik di balik hidangan manis ini!

Penulis: Frida
Editor: Enjat

Julukan Unik ‘Bakwan’ di Berbagai Daerah

0

Di Indonesia, Ramadhan tidak hanya identik dengan suasana keagamaan dan kebersamaan, tetapi juga dengan beragam hidangan serta kuliner khas yang berbeda di setiap daerah. Salah satu makanan yang sering muncul saat berbuka puasa adalah bakwan.

Bakwan, salah satu gorengan yang sangat digemari oleh masyarakat Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Dengan bahan-bahan sederhana, bakwan memiliki cita rasa gurih dan renyah, menjadikannya pilihan favorit saat berkumpul bersama keluarga atau teman.

Bakwan berasal dari Tiongkok, dan kata “bakwan” sendiri berasal dari bahasa Cina. “Bak” berarti daging, sementara “wan” berarti bola. Jadi, bakwan dapat diartikan sebagai bola daging. Awalnya, bakwan terbuat dari daging dan tepung, namun seiring waktu, bahan-bahannya diganti dengan bahan yang lebih mudah didapat, seperti sayuran.

Namun, nama “bakwan” tidak digunakan secara seragam di seluruh daerah Indonesia. Menariknya, makanan ini memiliki berbagai sebutan di setiap daerah. Fenomena ini menunjukkan betapa kekayaan bahasa daerah di Indonesia berpengaruh pada identitas makanan lokal. Tidak hanya sekadar nama, tetapi juga sebagai simbol keberagaman budaya masyarakat.

Selain itu, penelitian yang ditulis oleh Rahmawati dalam jurnal “Eksplorasi Ragam Kuliner Tradisional Indonesia: Studi Kasus Penamaan Makanan Daerah” menyebutkan bahwa variasi penamaan makanan tradisional menjadi representasi identitas lokal yang diwariskan turun-temurun melalui bahasa dan tradisi lisan.

Berikut adalah ragam penyebutan bakwan di berbagai daerah:

1. Bala-bala

Bala-bala adalah nama lain untuk bakwan yang biasa digunakan oleh masyarakat Sunda, khususnya di Bandung dan wilayah Jawa Barat. Kata “bala-bala” berasal dari bahasa Sunda yang berarti “berantakan” atau “tidak rapi”, merujuk pada bentuk dan isian bala-bala yang tidak beratur.

2. Ote-ote

Ote-ote adalah sebutan bakwan sayur yang berasal dari bahasa Tionghoa, khususnya dari kota Fuzhou, Provinsi Fujian, China. Nama ini digunakan di daerah Jawa Timur, seperti Surabaya dan Sidoarjo. Mengutip dari buku “Kuliner Khas Tionghoa di Indonesia” oleh Nicholas Melodysky, ote-ote dibawa ke Indonesia oleh keluarga Tionghoa yang berprofesi sebagai pedagang.

3. Weci atau Heci

Weci adalah nama lokal untuk makanan gorengan khas Jawa Timur, khususnya di daerah Malang dan Madiun, yang berasal dari kata “bakwan”.

4. Pia-pia

Pia-pia adalah sebutan untuk bakwan sayur yang dikenal di daerah Jawa Timur, khususnya Ponorogo dan sekitarnya. Selain itu, pia-pia juga digunakan untuk menyebut bakwan di daerah Blora dan Pati, Jawa Tengah. Berbeda dengan bakwan atau bala-bala, pia-pia memiliki tekstur khas yang lembut, sedikit tebal, dan tidak terlalu berminyak.

5. Badak

Badak adalah sebutan unik untuk bakwan sayur yang terdapat di daerah Semarang dan Pekalongan. Nama ini merujuk pada bentuk bakwan yang besar, mirip dengan bentuk binatang badak yang tampak besar dan kuat.

Bagi banyak orang, kuliner Indonesia saat Ramadhan sangat kaya akan perbedaan. Meskipun bakwan memiliki nama yang berbeda di setiap daerah, rasa nikmatnya tetap tidak berubah.

Sebaliknya, hal ini justru semakin memperkaya pengalaman kuliner yang menggambarkan kekayaan budaya Indonesia yang sangat beragam, membuat hidangan tersebut menjadi lebih istimewa dan selalu ditunggu-tunggu saat bulan puasa.

Penulis: Ayunda
Editor: Lydia

5 Rekomendasi Menu Buka Puasa Sehat dan Bergizi, Dijamin Lezat

0

Bulan Ramadan adalah waktu yang penuh berkah bagi umat Islam di seluruh dunia. Salah satu momen yang paling dinantikan adalah buka puasa setelah seharian penuh menahan lapar dan dahaga. Namun, memilih menu buka puasa yang sehat dan lezat sangat penting agar tubuh tetap bugar dan ibadah tetap lancar.

Setelah seharian berpuasa, tubuh memerlukan makanan yang tidak hanya enak tetapi juga bernutrisi. Memilih hidangan berbuka yang sederhana namun sehat dapat membantu menjaga stamina, mencegah gangguan pencernaan, dan memastikan tubuh tetap kuat selama Ramadhan.

Ada banyak pilihan menu berbuka yang sehat dan mudah dibuat. Tak perlu masakan yang rumit, hidangan sederhana dengan bahan-bahan khas Indonesia pun bisa menjadi opsi yang lezat dan menyehatkan. Menu ini juga praktis untuk dimasak sendiri di rumah. Berikut beberapa rekomendasi menu buka puasa sederhana dan sehat :

1. Kurma dan Air Putih
Kurma merupakan sumber gula alami yang cepat mengembalikan energi tubuh. Dikutip dari buku Kurma khasiat dan olahannya yang di tulis oleh Suyanti Satuhu, pilihan kurma sebagai makanan sehat di bulan puasa ternyata dapat di buktikan secara ilmiah. Kalori tinggi dan kandungan gulanya yang mudah dicerna membuat kurma dapat mengatasi kekurangan kalori akibat penggunaan energi saat beraktivitas di bulan puasa. Sementara air putih membantu menghidrasi tubuh setelah seharian berpuasa.

2. Air Kelapa Muda
Air kelapa muda bisa menjadi pilihan minuman alami yang menyegarkan sekaligus menyehatkan saat berbuka puasa. Kandungan elektrolitnya, seperti kalium dan natrium, membantu menggantikan cairan yang hilang selama puasa. Air kelapa muda memiliki efek menenangkan pada lambung, sehingga aman dikonsumsi setelah seharian berpuasa.

3. Sup Hangat
Sup ayam, sup sayur, atau sup kacang merah adalah pilihan yang tepat untuk menghangatkan tubuh dan memberikan nutrisi yang dibutuhkan. Pilihlah sup yang rendah garam dan lemak.

4. Salad buah dan Sayur
Menurut jurnal pengabdian masyarakat Indonesia yang ditulis oleh Ilham Nazaruddin, Salad buah merupakan sejenis makanan yang terdiri dari campuran buah-buahan, susu, mayones, keju dan lainnya. Salad buah dikategorikan sebagai makanan sehat karena dari komposisinya yang terdiri dari buah-buahan atau salad sayur dengan tambahan protein seperti ayam atau tahu.

5. Bubur kacang hijau
Bubur kacang hijau adalah hidangan manis yang kaya akan serat, protein, dan zat besi. Bisa ditambahkan sedikit santan atau susu rendah lemak untuk rasa yang lebih lezat.

Dengan memilih menu buka puasa yang sehat, SiGMAnia tidak hanya menjaga kesehatan tubuh, tetapi juga mendukung kelancaran ibadah selama bulan Ramadan. Yuk, mulai biasakan berbuka dengan yang lebih sehat dan bernutrisi agar tetap bugar dan semangat dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Selamat menjalankan ibadah puasa, SiGMAnia!

Penulis : Davina
Editor : Lydia

Mengenal Takjil: Tradisi Berbuka Puasa

0

Tradisi berbuka puasa dengan takjil sudah menjadi bagian yang tidak bisa terpisahkan dari budaya masyarakat muslim di Indonesia. Istilah “takjil” seringkali digunakan untuk merujuk pada makanan atau minuman ringan yang disajikan ketika berbuka puasa. Namun, di balik tradisi ini, terdapat sejarah panjang yang menunjukan perkembangan makna serta nilai sosial dari takjil.

Kata “takjil” berasal dari bahasa Arab “ta’jil” yang berarti “menyegerakan” atau “mempercepat”. Dalam konteks puasa, istilah ini merujuk pada anjuran untuk menyegerakan berbuka puasa ketika matahari terbenam, sebagaimana dianjurkan dalam hadis Nabi Muhammad SAW ”Manusia masih terhitung dalam kebaikan selama ia menyegerakan berbuka”(HR.Bukhari dan Muslim). Penggunaan istilah ini mempertegas pentingnya menyegerakan berbuka sebagai bagian dari ibadah Ramadhan.

Namun, seiring berjalannya waktu, makna takjil mengalami perluasan. Di Indonesia, takjil lebih sering diartikan sebagai makanan atau minuman ringan yang disajikan ketika berbuka puasa. Pergeseran makna ini menunjukkan bagaimana bahasa dan budaya lokal saling mepengaruhi dalam membentuk tradisi keagamaan.

Tradisi takjil di Indonesia mempunyai akar sejarah yang panjang. Snouck Hurgronje dalam karyanya De Atjehers (1893) mencatat bahwa masyarakat Aceh telah melaksanakan tradisi berbuka puasa bersama di masjid dengan menyajikan bubur pedas atau “ie bu peudah”. Tradisi ini menunjukan bahwa praktik menyediakan makanan berbuka sudah menjadi bagian dari budaya Muslim di Nusantara sedari lama.

Di Jawa, peran Wali Songo dalam menyebarkan Islam turut memperkuat tradisi takjil. Wali songo menggunakan momen berbuka puasa sebagai sarana dakwah dengan menyajikan makanan khas setempat, seperti kolak dan jenang. Praktik ini bukan hanya memperkenalkan ajaran islam, tetapi juga sebagai cara mempererat hubungan sosial di antara masyarakat.

Selain mempunyai dimensi religius, tradisi takjil juga berfungsi sebagai sarana pemersatu masyarakat. Penelitian dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung menunjukan bahwa berbagi takjil saat bulan Ramadhan memperkuat solidaritas sosial dan semangat gotong royong di masyarakat. Tradisi ini tidak hanya melibatkan keluarga, tetapi juga komunitas masjid, organisasi sosial, dan kelompok pemuda.

Takjil juga menjadi simbol kepedulian sosial. Kegiatan berbagi takjil gratis untuk kaum dhuafa dan musafir menunjukkan nilai-nilai kemanusiaan yang terkandung dalam ajaran Islam. Hal ini sejalan dengan konsep “hablum minannas” atau hubungan baik antar sesama manusia dalam islam.

Berkembangnya zaman, tradisi takjil mengalami adaptasi sesuai dengan dinamika sosial serta teknologi. Di era digital, banyak komunitas serta organisasi yang menggunakan platform online untuk menggalang dana dan mengorganisir pendistribusian takjil. Penelitian yang dilakukan Rizki dkk, menunjukkan bahwa media sosial memainkan peran penting dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan sosial selama bulan Ramadhan.

Selain itu, variasi takjil semakin beragam dengan inovasi-inovasi kuliner yang memadukan cita rasa tradisional dan modern. Meskipun demikian, esensi takjil sebagai simbol kebersamaan dan kepedulian sosial tetap terjaga.

Penulis: Paiz
Editor: Lydia

Funfact! Ternyata Takjil bukan Makanan Tapi Waktu dan Momentum?

0

Selama bulan Ramadan, kata “takjil” sering kita dengar dan identik dengan makanan ringan yang diburu saat sore hari menuju waktu berbuka puasa, “berburu takjil” kebanyakan orang begitu menyebutnya.

Namun, ternyata arti kata “takjil” sebenarnya jauh dari konteks penggunaan makna kata tersebut yang kerap kali kita gunakan. Ternyata, “takjil” tidak berkaitan langsung dengan makanan loh, melainkan pada waktu dan momentum saat berbuka puasa!

Mari kita cek faktanya!

Kata takjil berasal dari bahasa Arab yakni ‘ajjala-yu’ajjilu-ta’jiilun yang berarti menyegerakan. Oleh karena itu, takjil sebenarnya merujuk pada momen atau waktu untuk menyegerakan berbuka puasa, setelah seharian menjalankan ibadah puasa dengan menahan lapar dan dahaga. Selain itu, dalam jurnal “Cultural and Social Dynamics in Ramadan” yang diteliti oleh Laila membahas tentang transformasi konsep takjil dalam tradisi ramadhan, ia menjelaskan takjil lebih dari sekedar makanan melainkan simbol dari waktu yang dimanfaatkan untuk refleksi dan pertemuan sosial selama bulan puasa.

Gak heran ni SiGMAnia, pada bulan Ramadan takjil menjadi sebuah tradisi yang menyatukan berbagai kalangan. Di banyak tempat, momen takjil diisi dengan berbagi makanan kepada mereka yang membutuhkan. Tak jarang, masyarakat menyelenggarakan acara buka bersama di masjid, panti asuhan, hingga tempat-tempat umum untuk menciptakan ikatan sosial yang erat di antara umat Muslim dalam momentum bulan suci ini.

Lebih dari itu, takjil mengingatkan umat Islam akan pentingnya menghargai waktu berbuka yang tepat setelah seharian berpuasa menjadi momen penuh syukur dan kedamaian. Sebuah momentum untuk bersyukur atas kesehatan, rezeki, dan kehidupan yang diberikan. Bahkan dibanyak komunitas, momentum takjil digunakan untuk saling berbagi bersama, ini membuktikan bahwa takjil bagian dari momentum sosial yang menumbuhkan rasa empati dan solidaritas.

Ketika adzan maghrib berkumandang, itu adalah titik peralihan yang menyatukan umat dalam satu waktu, memperkuat rasa kebersamaan dalam keluarga dan komunitas. Penelitian yang diterbitkan dalam studi Budaya Islam menyebutkan bahwa takjil bukan hanya tentang makanan melainkan tentang momen penting dan waktu berbuka yang menjadi simbol awal bagi umat untuk memperbaharui energi.

Jadi, takjil bukan hanya makanan manis atau segar yang disiapkan untuk berbuka ya SiGMAnia tetapi sebuah simbol waktu dan momentum untuk menyegerakan berbuka puasa yang penuh makna bagi umat Islam di seluruh dunia.

Penulis: Ayunda
Editor: Tiara