Beranda blog Halaman 3

Abadi dengan Cinta, Abadi dengan Kebenaran

0

Alif Muhamad Rifda, salah satu tahanan politik Kota Serang, pasca demonstrasi Agustus.

Di balik jeruji besi, cahaya yang selalu melambat masuk menumbuhkan cakrawala pemikiran. Biarlah surat saya menjadi jembatan yang merambat masuk, melintasi jeruji, dan sebagai detak jantung perjalanan yang dalam tiap baris kalimatnya tercermin kesaksian dari saya, masyarakat kecil yang memilih setia pada nurani meski harus dibayar dengan kebebasan.

Saya bukan tokoh atau yang ditokohkan, dan juga bukan seorang pahlawan. Saya hanya rakyat biasa, rakyat kecil yang tidak punya apa-apa, tidak punya kuasa ataupun harta berlimpah.

Rasanya tidak adil saya ditangkap, karena para pemerintah dan aparatlah yang membuat ulah melalui kebijakan pemerintah yang merugikan rakyat, sampai kesewenang-wenangan aparat melakukan kekerasan, bahkan sampai kematian. Berapa banyak pejabat yang terjerat kasus korupsi dengan nilai yang sangat fantastis, tetapi mereka kebal hukum.

IMG 20260327 062136

Saya hanya masyarakat kecil yang mengikuti hati nurani dan melakukan aksi demonstrasi yang berujung ricuh, karena rasa marah dan muak terhadap pemerintah dan aparat. Karena itu, saya ditangkap.

Dan saya merasa tidak adil sekali. Mereka yang merampas hak rakyat, mereka yang membunuh rakyat, mereka yang memiskinkan rakyat, sedangkan saya dihukum karena melakukan protes terhadap kebejatan mereka. Saya merasa ini tidak sebanding dengan apa yang telah mereka perbuat.

Kawan, jangan takut dengan apa yang menimpa kami. Itu bisa menimpa kalian juga. Jika ketidakadilan terus dinormalisasi, maka teruslah bersolidaritas dan terus bersuara, bersuara tentang kebenaran.

Surat ini ditulis di hari Lebaran. Sedih yang sangat memuncak dan air mata yang terus berlinang di saat suara takbir terus bergema.

Kronologis Konflik hingga Pembubaran terhadap KPUM-U dan Bawaslu

0

Panitia Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa Universitas (KPUM-U) dan Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten, dibubarkan oleh Wakil Rektor (Warek) III, selaku Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilihan Umum Mahasiswa (DKPPUM), pada Jum’at (6 Maret 2026) karena dinilai adanya pelanggaran kode etik oleh panitia KPUM-U dan Bawaslu.

Kamis (26 Februari 2026):
– Pada pukul 17.00 WIB: KPUM-U menerbitkan Berita Acara (BA) tentang perubahan timeline PUM

Selasa (3 Maret 2026):
– 14.05 WIB: Pada grup WhatsApp penyelenggara PUM, KPUM-U akan menyelenggarakan pleno untuk memperpanjang pendaftaran hingga Rabu. Karena, minimnya partisipan calon dari Fakultas dan Universitas.
– 17.00 WIB: KPUM-U resmi memperpanjang pendaftaran hingga Rabu.

Rabu (4 Maret 2026):
– 13.02 WIB: KPUM-U mencoba menghubungi Warek III melalui WhatsApp, untuk meminta perpanjangan waktu.
– 14.55 WIB: KPUM-U kembali menghubungi Warek III, menginformasikan terkait tak terdapat partisipan terhadap calon di Dema-U dan Sema-U.
– Sekitar pukul 3 sore, pesan dari KPUM-U pada pukul 14.55 WIB, hanya dibaca tanpa respon oleh Warek III.
– Setelah pesan itu dibaca tanpa respon oleh Warek III, KPUM-U mengklaim menyelenggarakan pleno untuk perpanjangan pendaftaran hingga Kamis.
– 17:05 WIB: Warek III menginformasikan terhadap KPUM-U melalui WhatsApp, untuk menutup perpanjangan pendaftaran, sesuai dengan BA sampai hari Rabu pukul 5 sore.
– 17.07 WIB: Ketua KPUM-U memberitahukan di grup penyelenggara PUM, pendaftaran diundur hingga Kamis pukul 5 sore.
– 19.00 WIB: KPUM-U mengunggah BA hasil pleno untuk memperpanjang waktu pendaftaran, hingga hari Kamis pukul 17.00 WIB melalui cerita di Instagram.

Kamis (5 Maret 2026):
– 03.12 WIB: Ketua KPUM-U mendapatkan pesan WhatsApp dari Warek III, berisikan anggaran PUM akan dihentikan. Karena, memperpanjang waktu pendaftaran.
– 13.17 WIB: Penggugat (Alvin Kurnia) menginformasikan terhadap LPM SiGMA, bahwa sekret KPUM-U dan Bawaslu kosong dan sepi.
– 14.00 WIB: Terjadi Pertemuan antara penggugat dengan dengan ketua KPUM-U untuk mempertanyakan perpanjangan pendaftaran.
– Sekitar pukul 5 sore, KPUM-U bertemu dengan Warek III.
– 19.00 WIB: Gugatan tertulis resmi diajukan, dengan tujuan BA soal perpanjangan pendaftaran harus dibatalkan.
– Malam hari: Warek III menyimpulkan, gugatan tersebut merupakan pelanggaran kode etik, termasuk pengakuan dari Bawaslu bahwa, ketua Bawaslu tidak menandatangani BA perpanjangan tersebut.

Jum’at (6 Maret 2026)
– 11.24 WIB: Warek III memberikan sanksi melalui WhatsApp terhadap KPUM-U, untuk tidak memverifikasi pendaftar di gelombang kedua (pada hari Kamis).
– 15.22 WIB: Secara tidak resmi, KPUM-U dan Bawaslu diberhentikan oleh Warek III selaku DKPPUM, melalui pesan WhatsApp.
– 15.22 WIB: Warek III selaku DKPPUM akan membuat surat resmi pemberhentian KPUM-U dan Bawaslu.
– 19.31 WIB: Bawaslu menanggapi melalui chat WhatsApp untuk meminta surat resminya. Karena, ingin mengeluarkan surat keputusan sengketa.
– 21.02 WIB: Warek III menolak permintaan Bawaslu, karena keputusan nya sudah mutlak, walaupun dibuat tanpa Kop surat resmi.

Pada hari Rabu sekitar jam 3 sore KPUM-U mengaku menyelenggarakan pleno untuk perpanjangan pendaftaran hingga Kamis. Akan tetapi, pengakuan tersebut dibantah oleh penggugat, karena alasan yang tidak logis.

Tim LPM SiGMA mencoba menghubungi ketua KPUM-U untuk meminta bukti dokumentasi soal pleno, akan tetapi ketua KPUM-U mengaku tidak mendokumentasikan pleno tersebut.

Tim LPM SiGMA juga menghubungi beberapa ketua KPUM-F untuk menanyakan soal pleno di hari Rabu. Akan tetapi, KPUM-F mengaku tidak ada info soal pleno di hari Rabu.

Pada akhirnya, KPUM-U menjelaskan pleno di hari Selasa dan Rabu, yang hanya dilaksanakan oleh KPUM-U saja.

Di Balik THR: Dari Masyumi ke perjuangan Buruh kiri

0

Di media sosial, pembahasan mengenai sejarah Tunjangan Hari Raya (THR) masih jarang dikupas secara mendalam. Padahal, kebijakan ini tidak hadir secara tiba-tiba. THR lahir dari proses panjang perjuangan buruh, bukan sekadar “hadiah” dari sistem kapitalisme.

Pada 1949, kondisi ekonomi buruh di Indonesia, terutama menjelang hari raya, sangat memprihatinkan. Banyak pekerja kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, termasuk untuk merayakan Lebaran. Situasi ini kemudian mendorong munculnya tuntutan kolektif, dari berbagai organisasi buruh.

Salah satu aktor penting dalam perjuangan tersebut adalah Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI). Organisasi yang berdiri pada 29 November 1946 di Yogyakarta ini menjadi kekuatan besar dalam gerakan buruh di Indonesia.

Mengutip buku Politik Perburuhan Era Demokrasi Liberal 1950-an (2015), SOBSI secara aktif mendesak pemerintah untuk menetapkan kebijakan THR. Dalam berbagai forum, mereka menuntut agar perusahaan memberikan tunjangan kepada buruh, khususnya menjelang hari raya, dengan besaran yang layak, bahkan hingga satu bulan gaji.

Secara ideologis, SOBSI memiliki kedekatan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), dan banyak anggotanya berasal dari kalangan tersebut. Hal ini membuat gerakan buruh saat itu sangat dipengaruhi oleh gagasan keadilan sosial, terutama dalam hal kesejahteraan pekerja.

Tekanan dari buruh yang terus menguat mendorong negara untuk merespons. Pada awal 1951, dalam masa pemerintahan Perdana Menteri Soekiman Wirjosandjojo dari Partai Masyumi, kebijakan Tunjangan Hari Raya mulai dicetuskan sebagai bagian dari respons terhadap tuntutan buruh.

Pada tahap awal, kebijakan tersebut mewajibkan perusahaan memberikan tunjangan, kepada pekerja dengan besaran sekitar setengah bulan gaji.

Pada masa kepemimpinan Soekarno, tuntutan buruh tersebut kemudian semakin diakomodasi, sebagai bagian dari upaya meredam konflik sosial, sekaligus menjaga stabilitas politik.

Memasuki masa Orde Baru, kebijakan THR semakin dilembagakan dan menjadi praktik yang lebih mapan dalam dunia kerja. Hingga akhirnya, THR berkembang menjadi hak normatif pekerja, yang diatur dalam berbagai regulasi ketenagakerjaan, seperti yang dikenal saat ini.

Sejarah THR menunjukkan bahwa hak ini lahir dari perjuangan panjang buruh. THR bukan sekadar kebijakan administratif, melainkan hasil dari dinamika sosial dan politik yang memperjuangkan keadilan ekonomi bagi pekerja.

Penulis: Ilyas
Editor: Frida

Tiga Puluh Hari Mengetuk Pintu Langit

0

Bagian terakhir: Kala Takbir Berkumandang, Janji-Nya Tak Pernah Ingkar

Memasuki malam ke-28 Ramadan, masjid dipenuhi oleh orang-orang yang ingin menjemput keberkahan. Aku masih sibuk mencatat data asnaf ketika seorang pria paruh baya dengan pakaian lusuh masuk dengan langkah ragu. Di tangannya tergenggam karpet tua yang digulung rapi.

“Permisi, Nak. Apa di sini menerima zakat mal dalam bentuk barang berharga?” tanyanya lirih.

Aku segera bangkit dan menyambutnya dengan senyum hangat.
“Biasanya dalam bentuk uang atau beras, Pak. Tapi silakan duduk dulu. Mungkin saya bisa bantu.”

Pria itu memperkenalkan diri sebagai Pak Salim. Dengan suara bergetar, ia bercerita bahwa ia ingin berzakat, tetapi tidak memiliki uang tunai. Upahnya sebagai buruh panggul habis untuk pengobatan istrinya yang sakit menahun. Satu-satunya yang ia miliki hanyalah karpet peninggalan orang tuanya yang masih layak jual.

“Saya malu, Nak. Tapi saya ingin merasakan nikmatnya memberi di akhir Ramadan ini. Hanya ini harta berharga yang saya punya,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Aku tertegun. Di saat aku merasa sudah banyak berkorban dengan sisa tabunganku tempo hari, Pak Salim justru ingin memberikan harta terakhirnya. Pemandangan itu seakan menyadarkanku tentang arti ketulusan yang sebenarnya.

“Pak Salim, simpan saja karpet ini. Niat Bapak sudah Allah catat,” kataku pelan.

Tanpa ragu, kuambil sebagian isi amplop pemberian Pak Haji beberapa hari lalu dan kumasukkan ke dalam kotak zakat atas nama Pak Salim.

Pak Salim menatapku penuh keheranan.
“Kenapa kamu melakukan ini, Nak?”

Aku tersenyum.
“Pak, Rasulullah pernah bersabda, ‘Sedekah tidak akan mengurangi harta. Allah akan menambah kemuliaan bagi orang yang memberi maaf, dan mengangkat derajat orang yang merendahkan diri karena-Nya.'”

Pak Salim memelukku erat. Isaknya pecah, diiringi doa-doa tulus yang meluncur dari bibirnya. Doa yang terasa begitu dalam, seolah menembus langit.

Dua malam berlalu dengan cepat.

Akhirnya, senja terakhir Ramadan pun tiba. Matahari perlahan tenggelam, meninggalkan semburat jingga di langit. Dari menara masjid, suara bedug mulai terdengar, disusul gema takbir yang menggetarkan hati.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…”

Dadaku bergetar. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh juga.

Di tengah gema takbir, Pak Haji menghampiriku di serambi masjid. Ia menepuk bahuku dan menatapku dalam.

“Rendra, kerja kerasmu selama sepuluh hari ini luar biasa. Semua rapi dan transparan. Tapi yang paling saya ingat adalah caramu melayani orang, seperti Pak Salim waktu itu.”

“Alhamdulillah, semua berkat bimbingan Bapak,” jawabku pelan.

Pak Haji kemudian duduk di sampingku.
“Begini, Nak. Saya memiliki yayasan sosial dan unit usaha yang sedang berkembang. Saya membutuhkan seseorang yang bukan hanya mampu mengelola administrasi, tetapi juga memiliki kejujuran dan kepedulian. Setelah melihatmu, saya yakin kamu orangnya.”

Aku terdiam. Jantungku berdegup kencang. Tawaran ini terasa seperti jawaban atas segala kegelisahan yang pernah kurasakan.

“Pak Haji serius? Saya merasa masih banyak kekurangan,” ucapku ragu.

Pak Haji tersenyum.
“Allah yang memantaskanmu, Nak. Terimalah. Mulai setelah lebaran nanti, kamu bisa bergabung dengan kami.”

Tenggorokanku tercekat. Rasa syukur memenuhi dada.

Aku teringat firman Allah,
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
(QS. At-Talaq: 2–3)

Malam semakin larut, tetapi semangat di masjid justru semakin terasa hangat. Pak Haji menyerahkan sebuah bungkusan berisi bingkisan lebaran dan sisa upah yang dijanjikannya.

“Terima kasih, Rendra. Besok adalah hari kemenangan. Rayakan bersama keluargamu dengan hati yang lapang,” ujarnya tulus.

Dalam perjalanan menuju kontrakan, gema takbir terus bersahutan di langit malam. Aku menengadah dan berbisik pelan,
“Terima kasih, ya Allah, atas cahaya di sepuluh malam terakhir ini.”

Esok, matahari Syawal akan terbit, membawa harapan baru. Dan aku kini benar-benar percaya, pertolongan Allah selalu datang, bahkan dari arah yang tidak pernah kita sangka.

Penulis: Hida
Editor: Frida

AMUK Banten Salurkan Kue Lebaran sebagai Bentuk Solidaritas untuk Tapol

0

Serang, lpmsigma.com – Aliansi Massa Untuk Keadilan (AMUK) Banten menyalurkan bingkisan kue dan makanan kepada sembilan tahanan politik (tapol), pasca aksi Agustus 2025 di Kota Serang yang hingga kini masih ditahan di Polresta Serang Kota, Kamis (19/03/26).

Kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka menyambut Idulfitri 1447 Hijriah, sekaligus sebagai bentuk solidaritas terhadap 11 orang yang berstatus tersangka dalam kasus tersebut.

AMUK Banten menyebut, aksi ini merupakan bentuk dukungan moral bagi para tapol yang tidak dapat merayakan Lebaran bersama keluarga.

“Kami ingin menunjukkan bahwa para tapol tidak sendiri, terutama di momen Lebaran yang seharusnya dirayakan bersama keluarga,” kata AMUK Banten dalam keterangan tertulisnya.

Selain itu, AMUK menilai penahanan terhadap peserta aksi merupakan bentuk pelanggaran terhadap hak kebebasan berekspresi dan berpendapat.

“Menyampaikan pendapat di ruang publik adalah hak warga negara, bukan tindakan kriminal,” ujarnya.

AMUK juga menyoroti lamanya proses hukum yang telah berjalan sekitar tiga bulan tanpa kepastian, yang dinilai berdampak pada kondisi psikologis para tapol.

“Ketidakpastian ini tidak hanya berdampak secara hukum, tetapi juga menekan kondisi mental para tapol dan keluarga mereka,” lanjutnya.

Atas hal tersebut, AMUK mendesak Kepolisian Resor Kota Serang dan Kejaksaan Negeri Serang, untuk segera melimpahkan berkas perkara, agar para tersangka memperoleh kepastian hukum.

AMUK juga mengajak seluruh elemen masyarakat, untuk turut bersolidaritas terhadap para tahanan politik, yang dinilai mengalami kriminalisasi akibat menyampaikan pendapat di ruang publik.

Reporter: Frida
Editor: Indah

Mengapa Harga Pangan Selalu Naik Menjelang Ramadan dan Lebaran?

0

Setiap kali mendekati hari-hari besar keagamaan, seperti Ramadan, Idul Fitri, Idul Adha, dan sebagainya, harga komoditas pasar cenderung naik. Hal ini disebabkan oleh kurangnya stok pangan, terjadinya kekeringan, serangan hama, distribusi yang tidak merata, hingga penimbunan barang oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

Kenaikan harga kebutuhan pokok biasanya disertai dengan inflasi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan Indonesia sebesar 3,55% year-on-year (y-on-y) pada Januari 2026 tergolong menengah-tinggi dan merupakan yang tertinggi sejak Mei 2023.

Meskipun lebih rendah dari perkiraan awal (3,8%), angka ini melampaui sasaran target bank sentral 2,5% ± 1% (1,5%–3,5%). Kondisi tersebut berpotensi menekan daya beli masyarakat, khususnya kelompok berpendapatan rendah, serta membatasi ruang penurunan suku bunga.

Dalam Jurnal Sahmiyya berjudul Analisis Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok Menjelang Bulan Ramadhan di Pasar Induk Kajen karya Shafiyya Zahra dkk., disebutkan bahwa seharusnya pada bulan Ramadan konsumsi barang-barang pokok berkurang. Namun, hal ini tidak terjadi di Indonesia karena permintaan terhadap barang-barang pokok justru terus meningkat menjelang bulan suci tersebut.

Fenomena ini menghasilkan suatu kejanggalan di pasar, di mana prinsip permintaan dan penawaran berfungsi secara maksimal. Di satu sisi, terjadi gangguan pasokan akibat faktor alam dan distribusi. Di sisi lain, psikologi masyarakat dalam mengonsumsi cenderung lebih impulsif dalam rangka menyiapkan hari besar keagamaan.

Permintaan yang tinggi tanpa dukungan kelancaran distribusi barang dapat menyebabkan tekanan inflasi yang cukup besar. Jika tidak segera ditangani melalui kebijakan untuk menjaga stabilitas harga atau intervensi pasar, kondisi ini akan memperlebar jurang ketidaksetaraan ekonomi.

Menurut working paper Bank Indonesia mengenai pengaruh hari besar terhadap komoditas utama inflasi di Indonesia, peningkatan harga selama bulan Ramadan dipengaruhi oleh perubahan kebiasaan konsumsi masyarakat.

Secara umum, harga yang cenderung meningkat adalah barang kebutuhan utama, terutama yang berkaitan dengan makanan. Perubahan pola konsumsi selama bulan Ramadan juga berkaitan dengan preferensi masyarakat yang sering berbeda karena faktor kepraktisan dan ketahanan bahan makanan yang akan dikonsumsi.

Di sisi lain, menurut seorang dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Ma’mun Nawawi, dalam teori ekonomi terdapat perbedaan signifikan antara hukum permintaan yang bersifat negatif dan teori positif mengenai dinamika pasar.

Hukum permintaan menjelaskan bahwa saat harga suatu produk meningkat, maka jumlah permintaan akan menurun, begitu juga sebaliknya. Interaksi terbalik ini menjadikan harga sebagai faktor utama yang memengaruhi perilaku konsumen. Namun, dalam teori positif permintaan, fokusnya adalah bagaimana permintaan dapat berdampak pada harga.

Situasi ini sering muncul menjelang perayaan besar seperti Lebaran, ketika lonjakan permintaan justru menyebabkan harga meningkat karena produsen atau penjual berusaha memanfaatkan keadaan untuk meningkatkan keuntungan, bahkan terkadang melalui praktik monopoli.

Untuk bisa mengatasi fluktuasi harga tersebut, konsumen perlu menjadi pembeli yang bijak dengan melakukan penelitian harga atau membandingkan penawaran dari berbagai penjual agar tidak mengalami kerugian. Walaupun konsumen biasanya masih membeli barang kebutuhan saat harga tinggi karena sifat mendesak, keadaan ini tidak akan bertahan lama.

Harga barang di pasar pada akhirnya akan alami penurunan ketika masyarakat mencapai titik jenuh dan tingkat kebutuhan terhadap barang-barang tersebut berkurang, yang akan mengguncang keseimbangan pasar mengikuti rendahnya minat pembeli.

Penulis: Diroya
Editor: Frida

Malam yang Lebih Panjang dari Seribu Mimpi

0

Pernahkah kau membayangkan
seribu bulan berlipat dalam satu malam?
Itulah dia, malam yang tak pernah menua.
Malam ketika Al-Qur’an pertama kali
turun menyapa bumi,
mengetuk hati seorang hamba di Gua Hira.

Ramadan selalu menyembunyikannya
di sepuluh malam terakhir.
Ia datang tanpa suara.
Tidak ada pawai, tidak ada gemuruh.
Namun malaikat turun beriringan,
membawa kedamaian yang lebih lembut
dari embun di ujung daun.

Pada malam seperti ini
doa-doa terasa lebih dekat ke langit.
Seolah Allah membuka pintu-Nya lebar-lebar
bagi siapa saja yang mengetuk.

Lailatul Qadar,
engkau seperti rahasia langit
yang hanya ditemukan o

leh mereka
yang setia terjaga di sajadah.

Jika suatu malam hatimu tiba-tiba lunak,
seperti kapas yang disentuh embun,
dan air mata jatuh tanpa sebab,
mungkin malam itu sedang lewat
di dekatmu.

Peganglah ia erat-erat.

Sebab satu malam di sisinya
lebih berharga dari seribu bulan kehidupan.
Dan di sanalah seorang hamba
pulang dengan satu bisikan pelan:

Ya Rabb, aku pulang.

Penulis: Delis
Editor: Frida

PUM UIN Banten Dilanjutkan Setelah Lebaran

0

Serang, lpmsigma.com – Pemilihan Umum Mahasiswa (PUM) UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten akan dilanjutkan setelah Hari Raya Idulfitri. Keputusan tersebut muncul setelah pembubaran Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa Universitas (KPUM-U) dan Badan Pengawas Pemilu Mahasiswa (Bawaslu) oleh Wakil Rektor III, selaku pihak yang bertindak sebagai Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilihan Umum Mahasiswa (DKPPUM), Senin (16/03/26).

Wakil Rektor III sekaligus Ketua DKPPUM, Dedi Sunardi, mengatakan pelaksanaan PUM 2026 akan dilanjutkan kembali setelah Lebaran.

“Insyaallah PUM akan dilanjutkan setelah Lebaran,” ujarnya saat diwawancarai melalui WhatsApp.

Menurutnya, terdapat sejumlah syarat administrasi yang perlu dilengkapi sebelum tahapan pemilu kembali berjalan. Salah satunya pembaruan Surat Keputusan (SK) Senat Mahasiswa Universitas (Sema-U).

“Ada beberapa syarat administrasi yang harus dilengkapi. SK Sema yang berakhir pada 13 Maret akan diperbarui,” ujarnya.

Selain itu, ia turut mengungkapkan bahwa sejumlah aturan juga akan direvisi. Senat Mahasiswa Universitas (Sema-U), nantinya akan membentuk kembali panitia penyelenggara baru setelah Idulfitri.

“Setelah Lebaran, senat mahasiswa akan membentuk kembali panitia penyelenggara dan merevisi beberapa aturan. Saya tekankan, mereka harus tertib administrasi,” ungkapnya.

Reporter: Ahmad
Editor: Indah

Tiga Puluh Hari Mengetuk Pintu Langit

0

Cerbung Edisi Ramadan

Bagian Tiga: Cahaya di Sepuluh Malam Terakhir Ramadan

Hari-hari terus berlalu. Tabunganku benar-benar habis, tak tersisa sedikit pun. Namun anehnya, hatiku tidak lagi dipenuhi kekhawatiran. Setiap kali perutku keroncongan, bayangan senyum orang-orang yang pernah kubantu justru menjadi energi yang menguatkan langkahku.

Malam ini, setelah salat tarawih, aku duduk termenung di selasar masjid. Aku menatap langit yang bertabur bintang, sebagian tertutup awan tipis. Angin malam berembus pelan, membawa lantunan ayat suci Al-Qur’an dari dalam masjid.

Tiba-tiba pundakku ditepuk perlahan. Aku menoleh dan melihat Pak Haji, ketua pengurus masjid yang biasanya jarang terlihat.

“Rendra, belum pulang? Kok melamun saja di sini?” sapa Pak Haji sambil duduk di sampingku.

Aku tersenyum tipis, berusaha menutupi kegelisahan di hati.

“Ah, tidak apa-apa, Pak Haji. Saya hanya sedang menikmati angin malam sambil mendengarkan lantunan ayat suci dari dalam masjid.”

Pak Haji menatapku beberapa saat, seolah sedang memikirkan sesuatu.

“Maaf kalau saya lancang bertanya, Ren. Apa kamu masih bekerja di kantor administrasi?”

Aku yang semula menatap ke depan langsung menoleh kepadanya.

“Tidak apa-apa, Pak. Kebetulan saya sudah tidak bekerja di sana lagi,” jawabku dengan nada pelan.

Pak Haji mengangguk perlahan, lalu berkata dengan suara tenang.

“Begini, Nak. Kami di kepengurusan masjid sedang kewalahan mengurus administrasi zakat dan bantuan sosial untuk sepuluh malam terakhir Ramadan. Saya teringat kamu. Kamu bersedia membantu?”

Aku terkejut. Tawaran itu datang begitu tiba-tiba. Namun ketika melihat senyum hangat Pak Haji, keraguan di hatiku perlahan menghilang.

“Saya bersedia, Pak Haji. InsyaAllah saya siap membantu,” jawabku mantap.

Pak Haji tampak lega. Ia merogoh saku bajunya lalu mengeluarkan sebuah amplop cokelat kecil dan menyelipkannya ke tanganku.

“Ini titipan dari pengurus masjid. Anggap saja uang saku di awal supaya kamu lebih semangat. Sisanya nanti setelah tugasmu selesai di malam takbiran.”

Tanganku gemetar saat menerima amplop itu.

“Tapi, Pak Haji, ini terlalu banyak untuk sekadar membantu administrasi,” kataku ragu.

Pak Haji tertawa kecil sambil menepuk bahuku.

“Jangan sungkan, Rendra. Rezeki itu punya jalannya sendiri. Kamu sudah banyak membantu orang lain dengan tulus. Sekarang biarkan Allah membalasnya melalui tangan kami.”

Aku terdiam. Tenggorokanku terasa tercekat oleh rasa syukur. Ternyata benar, ketika kita membantu orang lain, Allah selalu membuka jalan untuk membantu kita.

Dalam perjalanan pulang, aku kembali teringat sebuah hadis yang pernah kudengar beberapa hari lalu.

“Barangsiapa melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, maka Allah akan melapangkan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan orang yang kesulitan, maka Allah akan memudahkan baginya urusan di dunia dan akhirat.”
(HR. Muslim No. 2699)

Malam itu, di bawah langit yang temaram, aku pulang dengan langkah yang lebih ringan. Senyum kecil terukir di bibirku. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hatiku benar-benar merasa tenang.

Penulis: Hida
Editor: Frida

Pesan Kordum FSOE UIN Banten dari Balik Jeruji

0

Serang, lpmsigma.com – Berbulan-bulan berlalu, Koordinator Umum (Kordum) Forum Silaturahmi Organisasi Eksternal (FSOE) UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Alif, masih menjadi tahanan aparat kepolisian, pasca demonstrasi yang dilakukannya pada bulan Agustus lalu, Sabtu (14/03/26).

Tanpa alat komunikasi yang memadai, ia tetap memberikan kabar lewat secarik kertas, pada orang terdekat yang ia percayai.

Dalam surat yang ia tulis pada Rabu, 25 Februari 2026, dari balik jeruji dan ruang sempit yang gelap, Alif menuliskan harapan. Ia meyakini pikirannya tak bisa dibatasi.

“Segala perjalanan serta lika-liku yang sudah saya lalui, sampai hari ini Rabu 25 Februari 2026, saya menulis surat ini dari balik jeruji besi, ruang sempit dan gelap yang membatasi tubuh kami tetapi tidak pernah mampu membatasi pikiran dan keyakinan kami,” tulisnya pada sebuah kertas dengan pena yang diisi tinta penuh keyakinan.

Bulan terus berlalu, tanpa kabar dan penuh rindu, ia turut menuliskan pesan untuk kedua orang tua yang disayanginya. Pesan penuh maaf dituliskannya, karena mungkin tahun ini ia tidak merayakan idul fitri dengan orang tuanya.

“Untuk yang aku sayangi ayah ibu kabarnya gimana? Semoga selalu sehat dan baik ya, maaf Alif belum bisa pulang dan nanti belum bisa lebaran di rumah, ayah sama ibu sabar ya:),” tulisnya pada surat dan diakhiri sebuah emote icon senyum yang mungkin sebagai harapan, semoga ayah dan ibunya bisa tetap tersenyum membaca kabar darinya.

Selain itu, ia turut menginformasikan keadaan yang tengah ia alami saat ini. Keadaan yang pastinya tak pernah ia inginkan, namun harus ia lawan dengan fisik yang kuat meski batinnya seakan mulai semakin sesak.

IMG 20260315 060818

“Alhamdulillah aku baik dari segi fisik, tapi batinku sangatlah sedih tidak bisa bercengkerama ria dengan kawan² apalagi orangtuaku. Disaat puasa mungkin sampai lebaran tiba, aku hanya ditemani sepi & gelap.

Tapi aku percaya, jeruji besi tidak akan pernah lebih kuat dari kebenaran dan aku penuh rasa tanya, apa iya kita bisa ditangkap karena mencintai negeri ini dan berharap kemanusiaan dan keadilan terwujud?,” ungkapnya pada secarik kertas dengan penuh tanya dan sepi yang menemani.

Pesan demi pesan ia sampaikan untuk kawan seperjuangannya, berharap agar mereka tidak berhenti menyuarakan yang dirasa benar, karena menurutnya suara-suara itu denyut terakhir yang sedang diuji.

IMG 20260315 060845

“Kepada saudaraku kawan seperjuangan
Jangan pernah berhenti bersuara karena suara kalian denyut terakhir yang sedang diuji, jika suara itu dibungkam maka yang tersisa hanyalah ketakutan,” ungkapnya di balik jeruji.

Tibalah kita dipesan terakhir yang disampaikannya, pesan pilu dari ia yang kini masih mencari keadilan, dan tetap percaya dengan segala keteguhan.

“Di balik jeruji besi, tinta berubah menjadi darah dan air mata, merangkai manifesto tentang keteguhan yang tak kunjung usai,” tutupnya pada kertas yang ia tulis dengan penuh harap dan keteguhan.

Sebelumnya, Alif diamankan aparat kepolisian pada 27 Desember 2025 sekitar pukul 01.00 dini hari. Delapan anggota kepolisian dari Polresta Serang mendatangi kediamannya di Tangerang Selatan untuk meminta keterangan sebagai saksi. Namun sejak saat itu, ia tak kunjung kembali ke rumah hingga kini.

Reporter: Nabel
Editor: Indah