Beranda blog Halaman 23

Hari Pendidikan Nasional: Pendidikan Bermutu untuk Investasi Peradaban

0

SiGMANia bahwasannya tepat pada tanggal 2 Mei ini, kita diperingati oleh Hari Pendidikan Nasional. Bukan sekadar seremoni rutin, hari ini merupakan sebuah panggilan jiwa untuk merenungkan pondasi kemajuan bangsa dan pendidikan. Seperti yang diungkapkan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia dalam pidatonya, Hari Pendidikan Nasional kali ini diberi tema “Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”. Tema tersebut bertujuan, bahwa sebagai warga negara kita harus sadar akan tanggung jawab kolektif, dalam membangun masa depan melalui pendidikan yang berkualitas dan merata.

Lebih dari sekadar pemenuhan hak asasi yang diamanatkan konstitusi, pendidikan merupakan investasi peradaban yang paling fundamental. Ia adalah suluh yang menerangi kegelapan, jembatan yang menghubungkan potensi dengan aktualisasi diri, dan pupuk yang menyuburkan benih-benih kemajuan bangsa. Pendidikan yang bermutu tidak hanya menghasilkan individu-individu yang cerdas secara akademis, tetapi juga insan yang berkarakter kuat, berakhlak mulia, serta memiliki kesadaran akan identitas kebangsaannya.

Garis besar pidato Menteri dengan jelas menyoroti bahwa mewujudkan pendidikan yang berkualitas bukanlah tugas yang dapat dipikul sendiri oleh pemerintah. Esensi “partisipasi semesta” menjadi kunci adanya ajakan inklusif kepada seluruh elemen bangsa untuk terlibat aktif dalam ekosistem pendidikan. Orang tua sebagai madrasah pertama bagi anak-anak, guru sebagai garda terdepan pembentuk karakter dan ilmu, masyarakat sipil dengan inovasi dan gagasan segar, hingga dunia usaha yang dapat berkontribusi dalam penyediaan sumber daya dan relevansi pendidikan dengan kebutuhan industri.

Penegasan bahwa Presiden Prabowo menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama memberikan angin segar dan harapan baru. Komitmen politik yang kuat di tingkat tertinggi adalah modal penting untuk menggerakkan perubahan yang signifikan. Namun, komitmen ini harus diterjemahkan menjadi kebijakan yang konkret, alokasi anggaran yang memadai, dan implementasi yang efektif hingga ke pelosok negeri. Pemerataan akses pendidikan, terutama bagi mereka yang berada di wilayah terpencil dan kurang beruntung, harus menjadi fokus utama. Kesenjangan pendidikan adalah luka yang dapat menghambat potensi besar bangsa.

Pendidikan karakter yang ditekankan dalam pidato bukanlah sekadar slogan. Ia adalah ruh dari pendidikan yang sesungguhnya. Di tengah arus globalisasi dan tantangan zaman yang semakin kompleks, pembentukan karakter yang kuat menjadi benteng pertahanan nilai-nilai luhur bangsa. Pendidikan harus mampu menanamkan nilai-nilai Pancasila, etika, moral, dan semangat gotong royong dalam diri setiap anak bangsa. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya mencetak individu yang pintar, tetapi juga individu yang bijak dan bertanggung jawab.

Peringatan Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi momentum refleksi yang mendalam bagi kita semua. Sudahkah kita, sebagai bagian dari “semesta” pendidikan, memberikan kontribusi yang optimal? Sudahkah kita memastikan bahwa setiap anak bangsa memiliki kesempatan yang sama untuk meraih pendidikan yang berkualitas?

Penulis: Ayunda
Editor: Lydia

Ingin Raih Pendidikan, Segelintir Anak Tumbuh di Trotoar

0

Hari Pendidikan Nasional semestinya dirayakan sebagai penegasan hak dasar setiap warga negara: hak untuk belajar, tumbuh, dan bermimpi. Namun, di Kota Serang, perayaan ini terasa getir. Di balik deretan angka dan bangunan sekolah yang tercatat rapi di laporan, masih ada ratusan anak yang menyandarkan masa depan pada relawan dan bukan pada negara.

Setiap sore, di salah satu sudut kota, sekelompok anak duduk bersila di atas trotoar. Buku-buku bacaan dan alat tulis seadanya terhampar di depan mereka. Bukan di ruang kelas berdinding papan tulis, melainkan di jalanan berdebu. Sekolah Pinggir Jalan, begitu mereka menamainya. Sebuah ruang darurat yang dibentuk komunitas relawan demi menjawab kebutuhan paling mendasar yang gagal dipenuhi negara yakni pendidikan.

Data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Serang mencatat lonjakan angka putus sekolah dari 122 anak pada 2023 menjadi 1.752 anak di 2024. Bukan sekadar statistik, tapi alarm kegagalan sistemik. Kota Serang memang punya lebih dari 900 sekolah. Tapi kenyataannya, bahwa Sekolah Pinggir Jalan tumbuh dan diminati, menunjukkan bahwa krisisnya bukan pada jumlah sekolah, melainkan pada akses dan keadilan.

Anak-anak itu tidak menolak sekolah formal. Mereka ditolak oleh sistem. Pendidikan yang dijanjikan inklusif, justru jadi milik segelintir yang mampu secara geografis, sosial, dan ekonomi. Sisanya terlempar oleh kemiskinan struktural dan sistem pendidikan yang tak pernah benar-benar menyapa mereka.

Pemerintah daerah seharusnya merasa malu, ketika relawan harus mengambil alih peran yang semestinya menjadi tanggung jawab negara. Anak-anak yang belajar di bawah pohon atau alas seadanya bukanlah kisah inspiratif. Melainkan itu adalah sedikit potret kelalaian. Ketika negara abai, solidaritas sipil memang mengisi kekosongan, tapi itu bukan justifikasi untuk melepas tanggung jawab.

Pendidikan bukan slogan tahunan. Ia adalah janji konstitusi. Maka ketika anak-anak harus menggantungkan harapan pada kegiatan sukarela, itu karena negara gagal menjamin hak mereka. Bukan hanya ironi, melainkan bentuk pengkhianatan terhadap amanat Undang-Undang Dasar.

Pemerintah Kota Serang tidak cukup hanya mencatat jumlah sekolah yang dibangun. Jauh lebih esensial daripada itu ialah, berapa anak yang diselamatkan dari putus sekolah? Berapa yang merasa aman dan nyaman di ruang belajar? Serta, berapa yang tak lagi bergantung pada relawan untuk belajar mengenal huruf dan angka?

Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi pengingat, bahwa di pinggir jalan Kota Serang, ada anak-anak yang diam-diam bertanya “kemana negara?”.

Penulis : Naila
Editor: Lydia

Suryani Menjadi Satu-Satunya Perempuan Pendaftar Bakal Calon Rektor UIN SMH Banten

0

Serang, lpmsigma.com – Dari sembilan nama pendaftar calon Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten, terdapat hanya satu calon perempuan. Hal ini disampaikan oleh Ketua Panitia Pelaksana Pemilihan Rektor yakni Masykur, pada Kamis (01/05).

Ia menyampaikan bahwa hanya satu perempuan dan mengapresiasi atas keberanian calon perempuan yang mencalonkan diri sebagai Rektor, mengingat belum pernah ada perempuan yang maju dalam bursa pemilihan Rektor sebelumnya.

“Saya sangat senang dan mengapresiasi kepada bakal calon Rektor perempuan karena selama ini belum pernah ada perempuan yang mencalonkan,” ucapnya.

Ia juga menuturkan bahwa pihak panitia secara aktif memberikan motivasi kepada para guru besar perempuan untuk turut serta mencalonkan diri.

“Saya sebagai panitia telah memberi motivasi kepada Guru Besar perempuan dan alhamdulillah ada satu yang mencalonkan,” imbuhnya.

Suryani, selaku bakal calon Rektor UIN Banten menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasinya terhadap panitia pemilihan.

“Saya mengapresiasi tim panitia pelaksana seleksi pemilihan bakal calon Rektor UIN SMH Banten yang telah membuka akses bagi saya untuk berpartisipasi dalam tahapan seleksi,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa keterlibatannya dalam pemilihan rektor kali ini merupakan bagian dari semangat untuk mewujudkan pemikiran tokoh emansipasi, R.A. Kartini.

“Saya semangat mewujudkan ide dan pemikiran Kartini. Perempuan memiliki hak untuk mengaktualisasikan potensi dirinya dalam konteks responsif gender dan menjadikan ajang ini sebagai silaturahmi akademik agar lebih dikenal luas oleh seluruh civitas akademika UIN SMH Banten,” tutupnya.

Reporter: Nabila Alsabila

Penjaringan Calon Rektor Ditutup, Berikut Nama-Nama Pendaftar

0

Serang, lpmsigma.com – Pendaftaran bakal calon rektor hari ini resmi di tutup pukul 16.00 WIB, Rabu (30/4). Hal itu diungkapkan oleh Masykur selaku ketua panitia pelaksana pemilihan rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten.

Ia juga mengatakan pada penjaringan kali ini, ada sembilan guru besar yang mencalonkan pada konsestasi pemilihan rektor kali ini. Nama-nama bakal calon antara lain:

1. Prof. Dr. H. Muhammad Ishom, M.A
2. Prof. Yanwar Pribadi, Ph.D
3. Prof. Dr. H. Naf’an Tarihoran, M.Hum
4. Prof. H. Wasehudin, M.SI
5. Prof. Dr. H.E. Syarifudin, M.Pd
6. Prof. H. Mufti Ali, Ph.D
7. Prof. Dr. H. Hidayatullah, M.Pd
8. Prof. Dr. Suryani, M.Si
9. Prof. Dr. Budi Sudrajat, M.A

Masykur, selaku ketua pelaksana menyampaikan bahwa pendaftaran dan penyerahan berkas terakhir hari ini pada tanggal 30 April pukul 16.00 WIB.

“Terakhir penerimaan berkas pencalonan hari ini pukul empat sore, menyesuaikan dengan jam kerja” ucapnya.

Ia juga menambahkan, bahwa pendaftaran bakal calon rektor kali ini mengalami penambahan, yaitu ada sembilan guru besar yang mendaftar di bandingkan tahun-tahun sebelum nya hanya tiga.

“Pada pendaftaran kali ini mengalami peningkatan, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” tambahnya.

Reporter: Enjat

Sukatani Mengguncang Lagi Lewat “Tumbal Proyek”: Dentuman Marah dari Tanah Purbalingga

0

Di negeri yang rakus membangun jalan tol, gedung bertingkat, dan tambang batu bara, nyawa manusia sering kali tidak lebih berharga dari selembar surat kontrak.

Pernyataan itu bukan sekadar retorika itulah realitas yang ditelanjangi habis-habisan oleh Sukatani dalam lagu terbaru mereka, “Tumbal Proyek.”

Duo asal Purbalingga ini seolah memukul gong keras di tengah pesta peresmian proyek nasional. Mereka tidak peduli berapa banyak pejabat yang tersinggung, berapa banyak investor yang tutup telinga. Lewat “Tumbal Proyek,” Sukatani menyerang jantung munafik pembangunan, pengorbanan manusia yang dianggap normal, bahkan halal, demi mengejar angka pertumbuhan ekonomi.

“Tumbal Proyek” memotret bagaimana kematian buruh proyek dari pekerja jalan tol, tambang batu bara, sampai proyek jembatan sering kali dianggap sebagai “resiko biasa.”
Ketika seseorang tertimbun tanah longsor atau jatuh dari ketinggian, berita itu hanya muncul sekilas di media, sebelum akhirnya dilupakan. Tidak ada investigasi serius. Tidak ada pertanggungjawaban sistematis. Dan lebih buruk lagi, tidak ada perasaan bersalah.

Dalam liriknya yang pendek tapi brutal, Sukatani membongkar nalar sesat itu. Mereka menyebut korban proyek pembangunan sebagai “tumbal” istilah yang mengerikan, tapi sangat akurat.
Seolah-olah, untuk membangun satu kilometer jalan, negara butuh mengorbankan satu dua nyawa. Dan semua orang, dari pejabat sampai rakyat biasa, seolah diajarkan untuk menerima itu sebagai “hal wajar” dari kemajuan.

Sukatani tidak menawarkan narasi heroik atau romantisasi perjuangan. Yang mereka suguhkan adalah potret telanjang tentang betapa murahnya nyawa manusia di negeri ini.

Secara musikal, “Tumbal Proyek” adalah ledakan marah yang tidak berusaha terdengar ramah.
Dentuman drum terasa seperti detak jantung orang-orang yang menunggu giliran dikorbankan. Gitar bergerak seperti sirine ambulans yang tak pernah cukup cepat. Bass menghantam keras, menciptakan rasa panik yang konstan dari awal hingga akhir.

Sukatani dengan cerdas menjaga struktur musik mereka tetap minimalis dan mentah, tanpa pretensi teknikalitas berlebihan. Mereka lebih memilih membangun atmosfer sesak, penuh rasa frustasi.

Ini bukan musik untuk pesta. Ini musik untuk demonstrasi jalanan. Ini musik untuk mengiringi berita tentang crane ambruk yang hanya dikomentari dengan satu kata basi “mohon maaf.”

Dalam produksi lagu ini, Sukatani tetap mempertahankan kemandirian penuh. Mereka menulis, mengaransemen, merekam, dan memproduksi sendiri materi mereka, hanya dibantu Cipoy untuk urusan mixing dan mastering.
Hasilnya adalah suara yang kasar, jujur, dan yang paling penting tidak terdengar seperti kompromi.

Tidak hanya lewat audio, Sukatani juga memperkuat kritik mereka lewat visual.
Mereka menggandeng Gindring Waste, ilustrator jalanan dari Magelang, untuk menggarap artwork “Tumbal Proyek.”

Ilustrasi Gindring penuh dengan sosok-sosok manusia yang diperlakukan seperti sampah konstruksi tubuh-tubuh patah di antara tiang-tiang beton, wajah-wajah yang dikubur hidup-hidup di bawah fondasi jalan tol.
Bukan sekadar gambar serem, visual ini adalah peringatan keras, setiap proyek megah yang kita banggakan, mungkin saja berdiri di atas tulang belulang orang-orang yang tak sempat kita kenal.

“Tumbal Proyek” berani karena satu hal, ia menunjuk langsung pada kemunafikan kolektif kita.
Bukan hanya pejabat yang disindir, tapi juga kita semua masyarakat yang dengan gampangnya memuja pembangunan tanpa pernah bertanya siapa yang dibayar paling mahal.

Lagu ini tidak menawarkan solusi. Sukatani tidak mencoba jadi nabi atau penyelamat. Mereka hanya membuka luka itu lebar-lebar dan memaksa kita untuk melihat.
Apakah kita akan menutup mata dan kembali merayakan proyek baru minggu depan? Atau kita akhirnya mau bertanya, berapa banyak orang lagi yang harus mati demi foto seremoni gunting pita?

Itu keputusan kita, tapi lewat “Tumbal Proyek”, Sukatani sudah melakukan bagian mereka berteriak, ketika semua orang lain memilih diam.

Di era ketika musik banyak digunakan untuk eskapisme manis, “Tumbal Proyek” justru jadi alarm brutal.
Ia membuktikan bahwa musik tetap bisa menjadi alat politik, alat kritik, alat perlawanan.

Sukatani tidak menawarkan kenyamanan. Mereka menawarkan kemarahan, kejujuran, dan rasa tidak puas yang sangat perlu dihidupkan kembali dalam masyarakat yang mulai kebal terhadap kekejaman.

Karena pada akhirnya, pertanyaan yang dilontarkan “Tumbal Proyek” bukan cuma soal proyek jalan tol atau tambang batu bara.
Pertanyaan itu lebih dalam, seberapa murah harga hidup manusia di negeri ini?

Dan ketika lagu itu selesai, mungkin kita semua harus mulai merasa malu, bukan bangga.

Penulis: Najib

Dalam Upaya Melahirkan Kehidupan yang Berkebudayaan dan Berkeadaban

0

Oleh: Adam Nuryana – Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Adab

Kebudayaan adalah ide yang bernilai dan lahir dari kerangka berfikir, lalu di terjemahkan lewat sikap di kehidupan nyata. Berbicara tentang rumah jagal raksasa, dengan sistem di tanah yang mental kekerasan maupun penindasan lebih mendarah daging, daripada berfikir dan bertindak soal kemanusiaan dan kebenaran yang lahir dari akal sehat. Memang menarik dan harus terus di lakukan, sebab suara-suara kebenaran harus di perlihatkan lewat tarian-tarian dari kealamian dan kesucian cinta.

Ada salah satu cabang filsafat bahasa yaitu hermeneutika kritik, teori ini merupakan salah satu cabang dari filsafat linguistik, yang memfokuskan teorinya untuk mengkaji dan menafsirkan kebijakan-kebijakan yang di keluarkan dan di putuskan oleh pemegang kekuasaan, untuk bagaimana kita bisa mengkritisi kebijakan yang datang dan hadir. Sebab, jika kita membuka mata dan mengaktifkan pisau analisa kita terhadap sistem, tak akan pernah ada negara yang mau berbuat baik, sebab kita semua adalah daging segar dimata penguasa, begitupun alam nya.

Eksploitasi terus berjalan, demi perut mereka entah sampai kapan, sedangkan di sisi lain, pada pendidikan khususnya universitas-universitas sudah tidak sesuai dengan tujuan awal, terlihat jelas di zaman yang serba canggih, kampus hanya mengajarkan salam, baca Power Point (PPT) dan tata cara memakai toga, jauh dari orientasi tridharma perguruan tinggi, yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian terhadap sekitar.

Dimana jalan untuk menempuh itu, jika sistem pendidikan di kita, tidak membentuk mahasiswa-mahasiswanya menjadi mahasiswa yang kritis, peka terhadap apa yang sedang terjadi dan berlangsung di sekitarnya. Tanpa kita sadari, pendidikan statis hanya melahirkan orang-orang yang bermental cuek di tengah lingkungan yang menderita.

Lalu apa artinya berfikir?

Bila kita semua sedang dalam upaya di pisahkan dari derita lingkungan oleh negara, dengan hadirnya berbagai macam peraturan yang tidak masuk akal, contoh kecil nya, di Univeraitas Islam Negri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten, terdapat gedung PUSGIWA (pusat kegiatan mahasiswa ), tapi tidak ada kegiatan apa-apa di sana, yang ada hanya kios-kios yang di sewakan dan klinik kesehatan yang tidak esensial, gedung yang di sewakan untuk kamar penginapan.

Disisi lain, ada dua fakultas yang di jadikan satu gedung, dimana letak masjid, kita sedang tidak berbicara tentang agama, tapi kita berbicara tentang simbol bahwa Universitas yang kita pijak adalah Universitas Islam, apakah mahasiswa yang ada di sana sudah terlena dengan kegiatan yang absurd? Yang setiap harinya di isi dengan ketidakjelasan, berangkat kuliah, kekantin, pulang ke kosan dan itu selalu terulang terus-menerus, tanpa merasa bosan, lalu ketika selesai kuliah hanya akan menambah angka pengangguran, sebab bingung harus apa?

Saya yakin, bahwak eksistensi kita hari ini akan melahirkan esensi kita di kemudian hari, sebab nilai angka dan ijazah yang kampus berikan sudah tak lagi berguna.

Upaya Perkuat Ketahanan Lingkungan, PKD Mapala Se-Banten Gelar Mangrove Camp II

0

Pandeglang, lpmsigma.com — Dalam rangka memperkuat ketahanan lingkungan terhadap dampak perubahan iklim dan mengatasi ancaman abrasi di wilayah pesisir, Pusat Koordinasi Mahasiswa Pencinta Alam Se-Banten, sukses menggelar kegiatan Mangrove Camp dua di Kampung Cibungur Pamagar Sari, Desa Cibungur, Kecamatan Sukaresmi, Sabtu (26/4).

Kegiatan ini diikuti oleh 200 peserta, terdiri dari Siswa Pencinta Alam dan Mahasiswa Pencinta Alam dari berbagai kabupaten atau kota di Provinsi Banten.

Acara ini bertujuan untuk membangun kesadaran generasi muda, tentang pentingnya hutan mangrove sebagai benteng alami dalam menghadapi perubahan iklim, menjaga garis pantai dari abrasi, dan melestarikan ekosistem pesisir.

Salah satu rangkaian kegiatan Mangrove Camp II adalah diskusi tematik bertajuk “Peranan Penting Mangrove dalam Ekosistem Pesisir”. Diskusi ini, mengupas peran strategis mangrove dalam mitigasi perubahan iklim melalui penyerapan karbon, melindungi daratan dari abrasi, serta menjaga keanekaragaman hayati pesisir.

Sebagai bentuk aksi nyata, dilakukan juga penanaman 5.000 bibit mangrove di sepanjang aliran Sungai Ciliman. Penanaman ini diharapkan dapat membantu memperkuat kawasan pesisir, yang rentan terhadap dampak kenaikan permukaan air laut dan cuaca ekstrem akibat perubahan iklim.

Selain itu, kegiatan Halal bihalal Organisasi Pencinta Alam Se-Banten turut menjadi bagian penting dalam acara ini. Melalui Halal bihalal ini, seluruh peserta diharapkan dapat mempererat tali silaturahmi dan memperkuat kolaborasi antar komunitas pencinta alam, untuk terus bergerak bersama dalam upaya konservasi lingkungan.

Pada kegiatan ini, Nasrullah atau akrab disapa Tamol selaku Koordinator PKD Mapala Banten, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi wadah khususnya untuk generasi muda agar lebih peduli akan lingkungan.

“Kegiatan ini merupakan bentuk nyata komitmen generasi muda Banten, dalam menghadapi tantangan perubahan iklim global. Melalui penanaman mangrove, kita tidak hanya menjaga ekosistem, tetapi juga mengamankan masa depan pesisir dari ancaman abrasi dan bencana lingkungan lainnya. Kami berharap gerakan ini terus meluas dan mendapat dukungan dari berbagai pihak,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Siti Nuraeni, salah satu peserta dari SISPALA Giri Raksa MAN 4 Pandeglang, turut membagikan kesannya dalam mengikuti acara tersebut. Ia berpendapat bahwa kegiatan tersebut memberikannya banyak ilmu dan memunculkan rasa tanggung jawab untuk lebih menjaga alam.

“Saya sangat bersyukur bisa mengikuti Mangrove Camp dua ini. Kegiatan ini memberikan saya banyak ilmu baru tentang pentingnya menjaga mangrove untuk masa depan lingkungan. Menanam langsung bibit mangrove membuat saya merasa lebih dekat dan bertanggung jawab terhadap alam. Semoga acara seperti ini terus diadakan dan lebih banyak generasi muda yang terlibat,” ungkap Siti.

Pusat Koordinasi Mahasiswa Pencinta Alam Se-Banten menegaskan bahwa kegiatan seperti Mangrove Camp II akan terus dilaksanakan secara berkelanjutan, guna memperkuat aksi konservasi lingkungan dan memperkokoh jejaring kolaborasi dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:
Pusat Koordinasi Mahasiswa Pencinta Alam Se-Banten
Ig : @pkd_mapalabanten
Wa : 08888459310 (Nasrullah “Tamol”)

Reporter: Frida
Editor: Dhuyuf

UIN SMH Banten Buka Penjaringan Bakal Calon Rektor, Berikut Alurnya!

0

Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten, tengah menjalani proses penting dalam kepemimpinan kampus, yaitu penjaringan bakal calon rektor periode 2025-2029 yang telah resmi di buka sejak tanggal 09 hingga 30 April mendatang. Proses ini bukan sekadar memilih pemimpin, akan tetapi menjadi momen strategis untuk menentukan arah kebijakan kampus, pada estafet kepemimpinan selanjutnya.

Rektor sendiri memegang peran besar dalam kebijakan kampus, termasuk sistem perkuliahan, pengembangan fasilitas, dan arah kerjasama internasional. Maka dari itu, pemilihan rektor yang tepat akan berdampak langsung ke mahasiswa, baik dari segi kualitas pendidikan maupun layanan kampus.

Adapun persyaratan bakal calon rektor merujuk pada Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 17 Tahun 2021 tentang Perubahan atas PMA Nomor 68 Tahun 2015 mengenai Pengangkatan dan Pemberhentian Rektor/Ketua PTK yang Diselenggarakan oleh Pemerintah.

Timeline tahapan penjaringan bakal calon rektor periode 2025-2029, sebagai berikut :

1. Tanggal 09 s.d 18 April 2025 (Pengumuman Penjaringan Bakal Calon Rektor)
2. Tanggal 14 s.d 30 April 2025 (Pendaftaran dan Penyerahan Berkas Bakal Calon Rektor)
3. Tanggal 2 s.d 8 Mei 2025 (Verifikasi/Seleksi Kelengkapan Berkas Bakal Calon Rektor)
4. 09 Mei 2025 (Pengumuman Hasil Verifikasi Kelengkapan Berkas Bakal Calon Rektor)
5. 14 Mei 2025 (Penyerahan Hasil Verifikasi Kelengkapan Berkas Bakal Calon Rektor)
6. 15 Mei 2025 (Penyerahan Dokumen Administrasi Bakal Calon Rektor)
7. Tanggal 16 s.d 23 Mei 2025 (Rapat Senat pemberian pertimbangan kualitatif kepada Bakal Calon Rektor)
8. Pada 26 Mei 2025 (Penyerahan dokumen administrasi dan Hasil pertimbangan kualitatif Bakal Calon Rektor oleh Senat ke Rektor)
9. Serta tanggal 27 s.d 28 Mei 2025 (Penyerahan dokumen Bakal Calon Rektor oleh Rektor ke Menteri Agama R.I.)

Proses pengangkatan Rektor UIN SMH Banten dilakukan melalui empat tahapan, yakni:
(1) penjaringan bakal calon.
(2) pemberian pertimbangan.
(3) penyeleksian.
(4) penetapan serta pengangkatan.

Nah SiGMAnia, itu tadi informasi terkait seputar penjaringan bakal calon rektor periode 2025-2029 beserta timeline pendaftaran bakal Calon Rektor 2025, tetap ikuti terus informasinya dan jangan sampai terlewat yah!

Penulis :Ayunda
Editor: Lydia

UIN Banten dan IMLA Dukung Aplikasi Al-Fatihah Berbasis AI

0

Serang, lpmsigma.com – Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten bersama Ikatan Pengajar Bahasa Arab di Indonesia (IMLA) memberi dukungan penuh terhadap Bajdah Educational, dalam mengembangkan Aplikasi Al-Fatihah berbasis kecerdasan buatan (AI). Dukungan ini disampaikan langsung dalam acara, Seminar Internasional yang bertempat di Auditorium Lantai tiga Kampus dua UIN SMH Banten, Kamis (24/4).

Kerja sama ini bertujuan untuk mendigitalisasi pembelajaran surat Al-Fatihah melalui teknologi AI, yang mencakup pelatihan pelafalan, pemahaman makna, dan pembelajaran bahasa Arab secara interaktif.

Rektor UIN SMH Banten, Wawan Wahyudin, menyatakan bahwa kolaborasi ini merupakan bagian untuk mengintegrasikan teknologi dalam pendidikan Islam dan mendorong mahasiswa untuk siap bersaing dalam skala internasional, khususnya dalam bahasa asing dan Al-Qur’an.

“Kami mendukung penuh langkah IMLA dalam menjadikan Al-Qur’an lebih mudah dipelajari, dengan pendekatan modern dan digital. Agar kampus kita ini lebih siap lagi dalam skala internasional baik dalam bahasa asing, seperti Arab dan Al-Qur’an,” ungkapnya.

Sementara itu, Khalid Ibrahim An-Namlah, selaku Ketua Dewan Pengawas Bajdah Educational, menyampaikan bahwa aplikasi Al-Fatihah ini bertujuan untuk mengajarkan dan mengoreksi bacaan surah Al-Fatihah bagi masyarakat Indonesia.

“Aplikasi Al-Fatihah ini dikembangkan dengan gratis, sebagai sarana latihan untuk menunjang kecakapan dalam pelafalan Surah Al-Fatihah dan surah lainnya, secara baik dan benar bagi masyarakat yang ada di Indonesia,” katanya via online.

Aplikasi ini juga dilengkapi dengan fitur pengenalan suara, koreksi pelafalan, serta sertifikat resmi untuk mengukur seberapa baik dan benar seseorang dalam melafalkan Al-Fatihah. Kolaborasi ini menjadi langkah baru untuk UIN SMH dalam memperkuat transformasi digital pendidikan Al-Qur’an di Indonesia.

Reporter: Frida
Editor: Lydia

Jangan Terlewat! Pendaftaran UM-PTKIN 2025 Dibuka, Berikut Alurnya

0

Pendaftaran Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negri (UM-PTKIN) 2025 resmi dibuka, sejak 22 April hingga 28 Mei 2025.

Adapun syarat pendaftarannya sebagai berikut:

1. Peserta yang berhak mendaftar adalah siswa pada Satuan Pendidikan MA/MAK/SMA/SMK/SPM/PDF/PKPPS/sederajat lulusan tahun 2023, 2024 dan 2025.
2. Peserta lulusan tahun 2023 atau 2024 wajib memiliki Ijazah/Surat Keterangan Lulus (SKL) dan Peserta lulusan tahun 2025 wajib memiliki salah satu dari Surat Keterangan Lulus (SKL)/Pengumuman Lulus/KTP/Kartu Siswa.
3. Peserta wajib memiliki:
a. Nomor Induk Siswa Nasional (NISN);
b. Email yang aktif dan dapat dihubungi;
c. Nomor WhatsApp yang aktif dan dapat dihubungi.
4. Peserta melakukan pendaftaran secara mandiri pada laman https://um.ptkin.ac.id.
5. Peserta melakukan pembayaran biaya pendaftaran melalui bank yang ditetapkan oleh Panitia Nasional. Biaya pendaftaran yang sudah dibayarkan tidak dapat ditarik kembali dengan alasan apapun.
6. Peserta memilih maksimal 3 (tiga) Program Studi pada PTKIN/PTN.
7. Peserta memilih PTKIN/PTN Titik Lokasi Ujian.
8. Pendaftaran peserta dinyatakan selesai apabila peserta telah melakukan Finalisasi Pendaftaran dan mencetak Kartu Peserta Ujian.

Timeline Tahapan UM-PTKIN 2025

1. Pendaftaran (22 April 2025 pukul 08.00 s/d 28 Mei 2025 pukul 15.00 WIB)
2. Pembayaran (22 April 2025 pukul 08.00 s/d 28 Mei 2025 pukul 23.59 WIB)
3. Cetak kartu peserta ujian (Dimulai pada 01 Mei 2025 pukul 08.00 WIB)
4. Pelaksanaan ujian (10 – 18 Juni 2025)
5. Pengumuman 30 Juni 2025

Tata Cara Pendaftaran UM-PTKIN 2025

Buat Akun
a. Kunjungi laman https://um.ptkin.ac.id. dan klik DAFTAR UM-PTKIN
b. Gunakan NISN dan Tanggal lahir untuk membuat akun. Masukkan Nomor Hp dan email (aktif). Apabila berhasil, username dan password akan dikirim melalui email.
c. Bagi pendaftar yang sebelumnya telah memiliki akun SPAN-PTKIN 2025, tidak perlu membuat akun, pendaftar bisa langsung ke tahapan login.

Login dan Mengisi Biodata
a. Kunjungi laman https: um.ptkin.ac.id. dan klik LOGIN.
b. Lakukan login dengan username/NISN dan password.
c. Mengisi biodata (pastikan semua data terisi dengan benar), selanjutnya Klik SIMPAN. Apabila berhasil maka akan mendapat INVOICE, nomor Virtual Account (VA), informasi nominal yang harus dibayarkan, dan tata cara pembayaran.

Pembayaran
a. Lakukan pembayaran melalui Bank Mandiri (ATM, Livin, Teller) atau bank lain (ATM dan Transfer) menggunakan nomor VA sesuai dengan tata cara.

Lanjutkan Pendaftaran
a. Kunjungi laman https://um.ptkin.ac.id/
b. Cek status pembayaran, apabila sudah terverifikasi, klik LANJUT.
c. Mengunggah File Pas Foto (3×4) dan Scan Ijazah (lulusan 2023 & 2024) atau Scan SKL/Pengumuman Lulus/ KTP/ Kartu Siswa (siswa/lulusan 2025)
d. Memilih program studi pada PTKIN/PTN (minimal 1, maksimal 3)
e. Memilih titik lokasi ujian (bebas, dapat memilih lokasi terdekat domisili)

Finalisasi dan Cetak Kartu
a. Pastikan kembali semua data lengkap dan benar. Apabila sudah yakin, maka klik FINALISASI (ingat, data yang sudah difinalisasi, tidak bisa diubah kembali).
b. Setelah finalisasi, muncul tombol LIHAT KARTU. Silakan klik dan lakukan cetak kartu peserta ujian (cetak kartu dapat dilakukan mulai 1 Mei 2025).

Nah SiGMAnia, itu tadi tata cara beserta timeline pendaftaran UM-PTKIN 2025, daftar sekarang dan jangan sampai terlewat yah!

Penulis: Enjat