Beranda blog Halaman 45

Koalisi Mahasiswa Aksi Gelar Tuntut DPR Sepakati Putusan MK

0

Serang, lpmsigma.com – Aliansi Mahasiswa Pemuda untuk Rakyat (AMPERA) menggelar aksi demonstrasi untuk menekan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) agar segera menyepakati putusan Mahkamah Konstitusi (MK). Dalam aksi ini, mereka juga menuntut pencabutan UU Cipta Kerja (CIPTAKER) dan Peraturan Kemendikbud Nomor 2 Tahun 2024 yang berlokasi di Simpang Ciceri, Serang, pada Kamis (22/08).

Bento, salah satu Koordinator Lapangan AMPERA, menegaskan bahwa DPR harus segera menyepakati putusan MK, serta mencabut UU CIPTAKER beserta turunannya.

“Kami menuntut DPR untuk segera menyepakati putusan MK. Kami juga menuntut pencabutan UU CIPTAKER dan Peraturan Kemendikbud Nomor 2 Tahun 2024,” ujarnya.

Bento juga menjelaskan, bahwa aksi ini adalah reaksi spontan dari rakyat atas putusan MK yang baru saja diterbitkan.

“Aksi ini adalah aksi reaksioner dan merupakan mandat dari rakyat,” tambahnya.

Sementara itu, Rifki, salah satu peserta aksi, menyatakan bahwa demonstrasi akan terus berlanjut jika pemerintah tidak merespons tuntutan mereka.

“Aksi ini akan berlanjut selama pemerintah tidak memberikan tanggapan atau respon terhadap tuntutan kami,” pungkasnya.

Reporter: Najib
Editor: Nazna

OSPEK: Membangun atau Meruntuhkan Karakter Mahasiswa Baru?

0

Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (OSPEK) merupakan ritual tahunan yang diadakan oleh hampir semua perguruan tinggi di Indonesia. Di UIN SMH Banten sendiri dikenal dengan PBAK (Pengenalan Budaya Akademik Kampus) yang tiap tahunnya dilaksanakan pada waktu mendekati jadwal perkuliahan semester ganjil dimulai.

Bagi mahasiswa baru, OSPEK adalah gerbang pertama mereka dalam dunia perkuliahan, yang diharapkan dapat membantu mereka beradaptasi dengan lingkungan baru, baik dari segi akademis maupun sosial. Namun, di balik tujuan mulianya, OSPEK sering kali menjadi momok menakutkan bagi mahasiswa baru. Jadi, apakah OSPEK benar-benar memberikan manfaat yang signifikan, atau justru lebih banyak membawa dampak negatif?

Pertama, kita harus mengakui bahwa OSPEK memiliki potensi positif. Kegiatan ini bisa menjadi sarana untuk membangun rasa kebersamaan dan solidaritas di antara mahasiswa baru. Melalui kegiatan kelompok, permainan, dan diskusi, mahasiswa dapat saling mengenal dan membentuk jaringan pertemanan yang akan sangat bermanfaat selama masa perkuliahan. Selain itu, pengenalan terhadap budaya akademik dan kehidupan kampus yang diberikan oleh senior atau dosen dapat menjadi bekal penting bagi mahasiswa baru dalam menjalani kehidupan kuliah yang penuh tantangan.

Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa OSPEK juga sering kali disalahgunakan. Di beberapa kampus, OSPEK justru menjadi ajang pembuktian kekuasaan oleh senior terhadap mahasiswa baru sebagai juniornya. Alih-alih memberikan bimbingan yang membangun, beberapa senior memilih menggunakan cara-cara intimidatif, seperti perploncoan dan kekerasan verbal, hingga pemburuan kader untuk kepentingan organisasi dengan cara yang tidak etis.

Hal itu justru meruntuhkan kepercayaan diri mahasiswa baru dan berdampak pada persepsi yang mereka terima saat awal memasuki kampus. Tentunya itu bertentangan dengan tujuan awal OSPEK, yaitu untuk membantu mahasiswa baru beradaptasi dan merasa nyaman di lingkungan kampus.

Selain itu, OSPEK yang berlebihan dalam menuntut fisik dan mental mahasiswa baru juga bisa berdampak negatif. Tugas-tugas yang tidak relevan dengan akademik, serta tekanan untuk mengikuti kegiatan yang tidak jelas manfaatnya, sering kali membuat mahasiswa baru merasa terbebani. Akibatnya, bukan rasa antusiasme yang tumbuh, melainkan rasa ketakutan dan kecemasan. OSPEK seharusnya menjadi pengalaman yang menyenangkan dan mendidik, bukan malah menjadi sumber stres bagi mahasiswa baru.

Di UIN SMH Banten, masih terlihat beberapa kebiasaan buruk dari senior yang terjadi pada mahasiswa baru sehingga menimbulkan beberapa kekacauan, meski tentu pihak panitia pelaksana PBAK telah berupaya mengubah budaya buruk OSPEK yang kental akan senioritas tersebut menjadi lebih harmonis seperti layaknya tema yang diusung, yaitu “Moderat Berbudi, Cerdas Berprestasi.”

Maka, sebagai penutup, OSPEK memang memiliki peran penting dalam membantu mahasiswa baru beradaptasi dengan kehidupan kampus. Namun, pelaksanaannya perlu dievaluasi dan diperbaiki agar benar-benar memberikan manfaat yang diharapkan.

OSPEK seharusnya menjadi momen yang membangun karakter mahasiswa baru, bukan malah meruntuhkannya. Dengan pendekatan yang lebih humanis dan edukatif, OSPEK dapat menjadi fondasi awal yang kuat bagi mahasiswa baru untuk meraih kesuksesan di dunia perkuliahan dan kehidupan selanjutnya.

Bagaimana dengan kamu mahasiswa baru? Siapkah kamu menjalani ospek?

Penulis: Naila
Editor: Nazna

FKBM KIP-K Tanggapi Statement yang Dikeluarkan Ketua Dema-U

0

Serang, lpmsigma.com – Forum Keluarga Besar Mahasiswa KIP Kuliah (FKBM KIP-K) memberikan tanggapan terhadap pernyataan Ketua Dema Universitas, Bagas Yulianto, yang menyebutkan bahwa program KIP Kuliah akan ditiadakan pada tahun ini dalam acara diskusi publik yang diselenggarakan pada Senin lalu. (19/08)

Sekretaris Jenderal FKBM KIP-K, Taosyekh Nawawi, Ia mengungkapkan bahwa pada pertemuan dengan Kepala Bagian Akademik Kemahasiswaan yang berlangsung pada Jumat (16/08), Kabag Akademik, didampingi oleh Humas Dahlia, menegaskan bahwa program KIP Kuliah masih akan tetap ada di tahun ini.

“Saat saya dan Dahlia bertemu dengan Kepala Akademik pada 16 Agustus, beliau mengonfirmasi bahwa beasiswa KIP-K akan tetap ada di tahun ini,” ujar Taosyekh kepada kru SiGMA, Selasa (20/08).

Selain itu, ia juga menyebutkan bahwa kuota KIP-K untuk mahasiswa baru tahun ini tetap sama dengan tahun lalu, yakni 450 mahasiswa.

“Kuota KIP-K untuk mahasiswa baru tahun ini tetap 450, sama seperti tahun ajaran sebelumnya,” tambahnya.

Ketua FKBM KIP-K, Muhamad Anwar, juga menambahkan bahwa pendaftaran KIP-K akan dibuka setelah masa perkuliahan dimulai.

“Pendaftaran KIP-K akan dimulai ketika kegiatan belajar mengajar sudah aktif kembali,” tutup Anwar.

Reporter: Najib
Editor: Nazna

Hati-hati! Motivasi Bisa Menjadi Hal yang Toxic

0

Setiap orang pasti mempunyai reaksi yang berbeda-beda terhadap motivasi. Ada yang merasa lebih semangat dan ada juga yang merasa terbebani. Fenomena dalam satu dekade terakhir masyarakat mengalami informasi yang sangat cepat melalui sosial media sehingga banyak sekali informasi baik diri pribadi orang ataupun dalam media publik.

Ternyata informasi yang mudah diakses juga membuat diri manusia menjadi melupakan hakikat manusia sendiri, sehingga terbatas melakukan sesuatu yang biasa dilakukan dalam hidupnya. Misalnya, tidak semua orang beruntung seperti menjadi anak presiden ataupun menjadi anak dari pengusaha besar.

Dalam buku The Subtle Art of Not Giving a Fck oleh Mark Manson, dijelaskan bagaimana motivasi dapat menjadi racun, dikatakan bahwa motivasi dapat berupaya untuk memperbaiki diri atau hidup yang justru memperkuat perasaan yang menimbulkan pikiran yang tidak sesuai harapan.

Ketika terlalu fokus dengan sesuatu yang diinginkan, kita semakin merasa kekurangan. Ironisnya, obsesi untuk memperbaiki diri ini justru membuat kita merasa lebih buruk.

Manson, menyoroti bahwa motivasi yang berlebihan bisa menjadi racun, karena membuat kita terus-menerus mengejar kesempurnaan, dan yang membuat seseorang merasa tidak pernah cukup baik. Bukannya memperbaiki hidup, justru menjadikan kita semakin tidak puas dengan diri sendiri, serta kehidupan kita menambah beban mental yang tidak sehat.

Motivasi bisa berubah menjadi racun, ketika keinginan untuk terus memperbaiki diri berubah jadi obsesi yang tidak sehat. Saat seseorang terlalu fokus pada suatu tujuan, seperti ingin lebih sukses atau lebih bahagia, mereka sering kali terjebak dalam lingkaran keinginan yang tidak pernah berakhir.

Alih-alih mencapai kebahagiaan, mereka akan semakin merasa bahwa apa yang mereka punya saat ini tidak cukup. Hal ini menimbulkan ketidakpuasan yang berkelanjutan, setiap pencapaian tidak membawa kebahagiaan yang diharapkan.

Selain itu, motivasi yang berlebihan juga bisa memperburuk kesejahteraan. Dikarenakan, ia menanamkan rasa tidak percaya diri dan ketidakpuasan yang konstan. Orang yang terus berusaha “menjadi lebih baik” justru merasa semakin tertekan oleh standar yang mereka buat sendiri.

Tekanan ini bukan hanya merusak kebahagiaan pribadi, tetapi juga bisa merusak hubungan dengan orang lain, karena mereka mulai memproyeksikan harapan yang tidak realistis. Akibatnya, motivasi yang seharusnya membangun, itu menjadi racun yang merusak kesejahteraan dan kebahagiaan secara keseluruhan.

Di dunia maya, motivasi bisa jadi racun ketika orang-orang berbagi standar kesuksesan atau kebahagiaan yang tidak realistis. Kemudian, mempengaruhi cara pandang orang lain terhadap diri mereka sendiri. Di media sosial, motivasi sering dipromosikan lewat kutipan inspirasional, pencapaian pribadi atau gaya hidup yang terlihat sempurna.

Selanjutnya, bagi banyak orang yang melihat hal ini secara terus-menerus bisa menjadikan mereka merasa iri, tidak puas dan merasa tidak cukup baik, karena merasa harus memenuhi standar yang sama atau bahkan lebih tinggi. Hal ini menyebabkan tekanan sosial yang tidak sehat, dimana orang merasa terpaksa untuk selalu tampil sempurna dan mencapai kesuksesan yang sama, tanpa mempertimbangkan realitas hidup mereka sendiri.

Motivasi yang dibagikan secara berlebihan di dunia maya juga bisa menyebabkan toxic positivity, dimana seseorang merasa harus selalu berpikir positif. Disaat seseorang mengalami kesulitan atau kegagalan, dorongan untuk “tetap positif” atau “terus meningkatkan diri” bisa bikin perasaan mereka malah makin buruk, karena merasa tidak boleh sedih atau kecewa. Hal tersebut dapat menyebabkan individu yang merasa gagal atau tidak sesuai standar jadi terisolasi yang menciptakan lingkungan online lebih banyak menekan dari pada mendukung.

Mark Manson menawarkan pendekatan yang lebih realistis terhadap hidup, dimana kita diajak untuk menerima kenyataan bahwa hidup penuh dengan kesulitan dan kegagalan. Dari pada berusaha menghindari semua masalah. Manson menyarankan untuk memilih mana yang benar-benar layak diperjuangkan.

Manson juga menekankan, pentingnya memilih nilai-nilai yang bermakna dari pada mengejar kebahagiaan dan kesuksesan yang dangkal. Ia mengkritik budaya yang terlalu fokus pada pencapaian eksternal dan mengajak pembaca untuk fokus pada integritas, tanggung jawab dan penerimaan diri.

Buku ini juga mengajak kita untuk menerima keterbatasan diri, serta berhenti mencoba mengendalikan segalanya. Dengan melepaskan tekanan untuk selalu tampil sempurna, kita bisa lebih fokus pada hal-hal yang benar-benar penting dan mencapai kedamaian batin.

Penulis: Najib
Editor: Dhuyuf

KIP Kuliah Terancam, DEMA U Adakan Diskusi Publik

0

Serang, lpmsigma.com – Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA-U) UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, mengadakan acara diskusi publik dengan mengusung tema “Mengeksplorasi Dampak Potensial dan Menyeimbangkan Keadilan terkait UKT guna Keberlanjutan Pendidikan di UIN SMH Banten,” yang berlangsung di Pusat kegiatan Mahasiswa (PUSGIWA) pada Senin, (19/08).

Bagas Yulianto, selaku Ketua DEMA U sebagai pemantik mengatakan bahwa proposal yang diajukan oleh Kementrian Agama (Kemenag)
untuk mempertahankan KIP Kuliah ditolak oleh Kementerian Keuangan.

“Proposal dari Kemenag ditolak oleh Kemenkeu,” tambahnya.

Ia juga menambahkan, bahwa perihal soal Kartu Indonesia Pintar (KIP) untuk tahun depan, bahwa KIP ini sedang menjadi pertanyaan apakah di tahun ini ada atau tidak.

“Kemenag mengeluarkan statement KIP tahun ini di tiadakan, karena sudah diajukan ke Kementrian Keuangan tetapi tidak di ACC,” tambahnya.

Di tempat yang sama, Muhammad Husein selaku Ketua Departemen Internal DEMA U, mengatakan harapannya bahwa yang akan bertanggung jawab untuk menyampaikan aspirasi dari mahasiswa untuk keberlangsungan mahasiswa sendiri.

“Kita Dema Fakultas (DEMA F) bersinergi menangani permasalahan ini bukan untuk individu seorang, permasalahan ini bukan untuk kepentingan kelompok tapi permasalahan ini permasalahan kita bersama,” katanya.

Reporter: Mg_Davina
Editor: Dhuyuf

Mengenang Kisah Tragis Densus 88 dalam Film Sayap-Sayap Patah

0

Sayap-sayap patah merupakan sebuah film yang diangkat dari kisah nyata. Film ini disutradarai oleh Rudy Soedjarwo, menceritakan tentang kerusuhan yang terjadi di Lapas Markas Komando Korps Brigade Mobil (Mako Brimob) Kelapa Dua, Cimanggis, Depok, Jawa Barat pada tanggal 8-10 Mei 2018.

Judul film ini diambil dari istilah yang pertama kali populer digunakan dalam novel karya penyair Kahlil Gibran yaitu Sayap-Sayap Patah. Film tersebut menggambarkan tentang luka bahwa tanah air pernah berduka atas peristiwa tersebut dan mampu membuat siapapun rapuh juga bersedih ketika mengingat dan melihat peristiwa yang terjadi kala itu.

Film ini diawali dengan mengisahkan sepasang kekasih suami istri yang diperankan oleh Nicholas Saputra sebagai Adji dan Ariel Tatum sebagai Nani yang hidup bahagia dan sedang menanti kelahiran sang anak. Namun, Adji sang suami sebagai personel kepolisian Detasemen Khusus 88 (Densus 88) mengharuskan nya untuk tetap menjalankan tugas disaat masa kehamilan sang istri.

Puncak utama film ini menceritakan kerusuhan yang terjadi pada malam hari tanggal 8 Mei 2018, ketika para terorisme menyerbu Mako Brimob dan beradu mulut dengan para petugas dikarenakan sebuah kiriman makanan dari seorang keluarga tahanan. Yang mana seharusnya menurut prosedur, kiriman apapun yang diberikan sebelum sampai kepada penerima wajib diperiksa terlebih dahulu oleh petugas.

Saat itu, suasana adu mulut semakin mencekam, bertambah ketika 155 narapidana kasus terorisme membobol penjara dan menyandera beberapa anggota polisi salah satunya Adji selama 36 jam. Lima polisi yang disandera mengalami penyiksaan yang menyebabkan luka sekujur tubuh. Kejadian itupun merenggut lima nyawa anggota polisi begitupun Adji menjadi salah satu korbannya.

Namun, menurut kisah nyatanya lima anggota polisi densus 88 yang tewas yaitu Bribda Syukron Fadli, Ipda Yudi Rospuji, Briptu Fandy Bripka Denny, dan Bripda Wahyu Catur Pamungkas.

Peristiwa itu tentu menjadi suatu pukulan bagi pihak kepolisian juga keluarganya, kesedihan melanda seluruh negeri dan tak pernah terlupakan kala itu. Dengan demikian, film ini bukan hanya menyuguhkan sebuah hiburan, tetapi memberikan kita banyak pembelajaran khususnya untuk anak muda guna meningkatkan patriotisme dan deradikalisasi juga tentang bahaya nya terorisme dan mengajarkan kepada kita agar tidak terpedaya dengan terorisme. Kisah ini dapat menjadikan kita agar lebih berhati-hati lagi dalam segala hal, dan menjaga diri dari perbuatan yang tidak baik.

Penulis: Mg_Bella
Editor: Tiara

Sambut HUT RI ke-79, PEMKOT Serang Gelar Pawai Obor

0

Serang, lpmsigma.com – Dalam rangka menyambut HUT RI yang ke-79, Pemerintah Kota Serang menggelar pawai obor bersama masyarakat Serang. Acara ini juga diwarnai oleh penampilan memukau dari marching band Gita Surosowan Banten, barisan pasukan militer, hingga siswa-siswi dari berbagai sekolah di Kota Serang yang turut serta membawa obor. Acara ini dimulai pukul 19.00 WIB, di Alun-alun Kota Serang pada Jum’at (16/8).

Putri, salah satu warga Kota Serang, mengatakan bahwa ia merasa senang saat melihat pawai obor yang sedang berlangsung, dikarenakan banyaknya orang yang datang menjadikan suasana lebih meriah.

“Saya selalu senang setiap kali melihat pawai obor, ditambah banyak orang yang melihat terasa lebih meriah,” ucapnya.

Di tempat yang sama, Widya Sri Retno, salah satu anggota marching band Gita Surosowan Banten, mengungkapkan bahwasanya ia merasa bangga, karena sudah mengikuti acara ini ke sembilan kalinya sejak 2013 lalu, meskipun sempat vakum saat pandemi.

“Senang sekali bisa kembali memeriahkan pawai obor ini, karena saya sudah ikut acara ini sembilan kali sejak 2013, meski sempat vakum pandemi,” ujarnya.

Ia juga berharap agar kegiatan seperti ini, bisa menumbuhkan rasa nasionalisme, dikarenakan kita semuanya mengetahui bahwa kemerdekaan itu sulit diraih, hingga banyak pertumpahan darah dari pahlawan bangsa.

“Harapannya, semoga dari hal-hal kecil seperti ini bisa menumbuhkan rasa nasionalisme, karena kita tahu bahwa kemerdekaan itu sulit diraih, banyak darah pahlawan yang tumpah untuk itu,” tutupnya.

Reporter: Mg_Riva
Editor: Dhuyuf

Pemaksaan dan Pelarangan Mengenakan Jilbab Adalah Pelanggaran HAM

0

Akhir-akhir ini, adanya isu pelarangan mengenakan jilbab bagi anggota Paskibraka oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), menjadi topik perbincangan yang hangat. Dalam konteks negara demokrasi, kebebasan berekspresi adalah salah satu hak asasi manusia(HAM) yang paling fundamental dan menjadi pilar utama sistem demokrasi. Tindakan melarang atau memaksa seseorang terkait pilihan berbusana, khususnya jilbab, dapat dianggap sebagai pelanggaran serius terhadap HAM.

Alexis de Tocqueville, dalam bukunya “Democracy in America,” menekankan bahwa kebebasan berekspresi adalah komponen esensial dari demokrasi yang sehat. Kebebasan ini harus menjadi hak setiap individu dalam bernegara, termasuk dalam hal pilihan berbusana yang mencerminkan keyakinan pribadi.

Sejak tahun 2002, anggota Paskibraka tidak lagi diwajibkan untuk tidak memakai hijab. Tahun tersebut menjadi momen bersejarah ketika Amelia Ivonila Ilahude, perwakilan dari Aceh, yang menjadi pelopor Paskibraka di Istana Negara yang mengenakan hijab. Sejak saat itu, penggunaan hijab oleh anggota Paskibraka menjadi hal yang diperbolehkan.

Sila kedua Pancasila, “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab,” memiliki kaitan erat dengan HAM. Sila ini menekankan pentingnya memperlakukan setiap individu dengan adil, menghormati martabat manusia dan memastikan bahwa setiap orang diperlakukan secara manusiawi tanpa diskriminasi. Prinsip ini menggarisbawahi penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan, yang merupakan inti dari prinsip-prinsip HAM.

Pancasila juga menjamin kebebasan hak pribadi setiap individu. Setiap tindakan pemaksaan dapat dikenai Pasal 335 KUHP, yang mengatur tentang “perbuatan tidak menyenangkan” atau “pemaksaan” yang dilakukan seseorang terhadap orang lain. Apabila seseorang dengan sengaja memaksa orang lain untuk melakukan, tidak melakukan, atau membiarkan sesuatu yang bertentangan dengan kehendaknya, dapat dikenai hukuman pidana.

Langkah-Langkah jika menjadi korban pemaksaan adalah dengan mengumpulkan bukti-bukti relevan, seperti saksi, rekaman atau dokumen yang menunjukkan adanya pemaksaan. Bukti ini akan memperkuat laporan Anda dan membantu pihak berwenang dalam melakukan investigasi. Jika pemaksaan disertai dengan ancaman atau kekerasan, segera catat detail kejadian tersebut.

Setelah bukti terkumpul, laporkan kasus tersebut ke kepolisian. Laporan dapat dilakukan dengan datang langsung ke kantor polisi terdekat atau melalui layanan pengaduan online jika tersedia. Saat melapor, pastikan untuk memberikan keterangan yang jelas dan kronologis kejadian, serta menyerahkan bukti yang telah dikumpulkan. Penting juga untuk mencatat nomor laporan yang diberikan oleh polisi sebagai referensi untuk tindak lanjut.

Setelah laporan diterima, pihak kepolisian akan melakukan penyelidikan lebih lanjut. Sebagai pelapor atau korban, Anda memiliki hak untuk mendapatkan informasi mengenai perkembangan kasus. Jika diperlukan, Anda juga bisa meminta perlindungan hukum atau pendampingan dari lembaga bantuan hukum atau organisasi yang bergerak di bidang HAM.

Penulis: Najib
Editor: Dhuyuf

Tunas Kelapa Sebagai Simbol Filosofis Pramuka

0

Hari Pramuka selalu menjadi momen istimewa bagi seluruh anggota Pramuka di Indonesia. Dalam suasana penuh semangat dan kebersamaan ini, kita tidak hanya mengenang perjuangan para pendahulu yang telah membentuk Gerakan Pramuka, tetapi juga merenungkan makna dan simbol-simbol yang menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas kita, salah satunya adalah Tunas Kelapa.

Tunas Kelapa yang dikenal sebagai lambang Pramuka, bukan sekadar gambar sederhana. Simbol ini memiliki makna mendalam dan berasal dari filosofi yang kuat. Namun, bagaimana sebenarnya asal usul Tunas Kelapa menjadi simbol Pramuka?

Sejarah penggunaan Tunas Kelapa sebagai simbol Pramuka dimulai pada tahun 1961. Saat itu, Presiden Soekarno melantik Gerakan Pramuka sebagai organisasi resmi kepanduan di Indonesia. Sejak awal, Gerakan Pramuka membutuhkan simbol yang bisa mewakili nilai-nilai kepramukaan dan mencerminkan karakter bangsa Indonesia. Pilihan jatuh pada Tunas Kelapa, yang kemudian diresmikan sebagai lambang resmi Pramuka pada tanggal 14 Agustus 1961, bertepatan dengan Hari Pramuka. Lambang ini dirancang oleh Soenardjo Atmodipurwo, dan telah menjadi identitas resmi dari organisasi Pramuka di Indonesia.

Mengapa Tunas Kelapa? Ternyata, pohon kelapa memiliki banyak keistimewaan yang relevan dengan tujuan Gerakan Pramuka. Tunas kelapa, yang menggambarkan calon pohon kelapa, melambangkan generasi muda yang terus bertumbuh, siap menghadapi tantangan, dan memberikan manfaat bagi sekitarnya.

Pohon kelapa dikenal sebagai pohon yang serba guna, mulai dari akar, batang, daun, hingga buahnya, semuanya bermanfaat bagi kehidupan manusia. Ini menggambarkan semangat Pramuka yang siap berkontribusi dalam berbagai aspek kehidupan, dengan kemampuan dan potensi yang dimiliki.

Selain itu, pohon kelapa dapat tumbuh di berbagai kondisi tanah dan cuaca, menunjukkan ketangguhan, fleksibilitas, dan adaptabilitas. Nilai-nilai ini juga sejalan dengan semangat kepramukaan yang menekankan keberanian, keuletan, dan kemampuan beradaptasi dalam berbagai situasi.

Tunas Kelapa sebagai simbol juga memiliki makna bahwa setiap anggota Pramuka diharapkan menjadi generasi penerus yang kuat, penuh semangat, dan selalu siap sedia untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara. Lambang ini mengingatkan kita bahwa Pramuka bukan hanya tentang kegiatan di alam terbuka, tetapi juga tentang pembentukan karakter yang kuat, mandiri, dan bermanfaat bagi orang lain.

Dalam peringatan Hari Pramuka kali ini, mari kita renungkan kembali makna Tunas Kelapa sebagai simbol Pramuka. Semoga kita semua, sebagai bagian dari Gerakan Pramuka, dapat terus tumbuh dan berkembang, seperti tunas kelapa yang menjelma menjadi pohon yang kokoh dan bermanfaat bagi banyak orang. Selamat Hari Pramuka!

Penulis: Naila
Editor: Nazna

Pentingnya Literasi, KKN 81 UIN Banten Mendirikan Taman Baca Masyarakat

0

Serang, lpmsigma.com – Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) 81 UIN SMH Banten Desa Cipadang Kecamatan Cileles, Mendirikan Taman Baca Masyarakat (TBM) yang terletak di aula Masjid Al Ikhlas, Taman Baca Masyarakat ini, diresmikan langsung oleh Kepala Desa Cipadang pada, Selasa (13/09).

Adam Musolih, Kepala Desa Cipadang menyampaikan, Taman Baca Masyarakat ini akan menjadi faktor penunjang bagi para siswa sekolah karena ada beberapa sekolah yang tidak memiliki perpustakaan.

“Alhamdulillah dengan adanya Taman Baca Masyarakat ini tentunya akan menjadi faktor pendukung bagi para siswa dan guru, karena ada beberapa sekolah di Desa Cipadang ini yang belum memiliki perpustakaan, dan semoga dengan adanya ini bisa bermanfaat,” sambutnya.

Koordinator Desa KKN 81 UIN Banten, Anan Subandi Menyampaikan pentingnya literasi bagi masyarakat terkhusus kepada kalangan muda seiring dengan perkembangan zaman.

“Di era sekarang, edukasi literasi kepada masyarakat khususnya kalangan muda tentu menjadi isu yang sangat penting, oleh karenanya kami dari KKN 81 mendirikan Taman Baca Masyarakat, diperuntukkan kepada seluruh masyarakat desa Cipadang,” sambutnya.

Di tempat yang sama, Deni Firmansyah selaku tokoh masyarakat Desa Cipadang menyambut baik dengan adanya Taman Baca Masyarakat ini, selain bermanfaat bagi masyarakat, TBM ini juga akan menjadi wadah bagi anak anak sekolah untuk menanamkan literasi.

“Saya berterima kasih kepada adik adik mahasiswa yang telah mendirikan Taman Baca Masyarakat ini, semoga kegiatan ini terus berlanjut dan diisi oleh kegiatan yang positif bagi masyarakat khususnya anak anak sekolah untuk menanamkan literasi sejak dini,” tutupnya.

Reporter: Aldi