Beranda blog Halaman 52

Refleksi Hari Bumi 2024: Langkah Kecil Peduli Lingkungan untuk Bumi

0

Tanggal 22 April diperingati sebagai Hari Bumi. Peringatan ini bukan hanya tentang menghargai keindahan alam, tetapi juga mengingatkan kita akan tanggung jawab kolektif kita untuk melindungi planet ini.

Di tahun 2024, kita masih dihadapkan pada tantangan besar dalam hal lingkungan seperti pemanasan global, polusi dan kehilangan keanekaragaman hayati terus mengancam keseimbangan ekosistem kita.

Namun, peringatan Hari Bumi juga sebagai panggilan kita untuk bertindak untuk berkesempatan kesempatan bagi kita dalam merefleksikan kontribusi terhadap masalah lingkungan dan untuk mengambil langkah-langkah nyata menuju perubahan.

Peringatan Hari Bumi di tahun 2024, harus menjadi momen pendorong untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya keberlanjutan dan perlindungan lingkungan. Hal ini menjadi kesempatan bagi pemerintah, perusahaan, serta masyarakat umum untuk bersatu dalam upaya mengurangi jejak lingkungan kita dan memperjuangkan masa depan yang lebih hijau.

Melalui pendidikan, advokasi, dan tindakan nyata, kita dapat menciptakan perubahan positif yang diperlukan untuk menjaga Bumi kita tetap lestari. Peringatan Hari Bumi tidak hanya tentang satu hari dalam setahun, tetapi tentang komitmen jangka panjang kita untuk melindungi rumah kita bersama.

Berikut beberapa contoh langkah kecil yang dapat diambil untuk menghadapi kondisi lingkungan saat ini:

1. Mengurangi Penggunaan Plastik Sekali Pakai

Kita harus mengurangi penggunaan tas belanja kain, botol air minum yang dapat diisi ulang, dan menghindari produk-produk sekali pakai dapat mengurangi jumlah plastik yang masuk ke lingkungan.

2. Mendukung Energi Terbarukan

Langkah yang perlu dilakukan menggunakan energi terbarukan seperti matahari atau angin untuk listrik rumah tangga atau kendaraan dapat membantu mengurangi emisi karbon.

3. Melakukan Reboisasi

Reboisasi dilakukan dengan menanam pohon di lingkungan sekitar atau berpartisipasi dalam program penanaman pohon dapat membantu mengurangi karbon dioksida dan meningkatkan kualitas udara.

4. Menggunakan Transportasi Publik

Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat mengurangi penggunaan mobil pribadi dengan menggunakan transportasi publik, bersepeda, atau berkendara bersama dapat mengurangi emisi gas buang.

7. Menggunakan Produk Ramah Lingkungan

Memilih produk yang ramah lingkungan, seperti lampu hemat energi, peralatan elektronik berlabel Energy Star, atau produk rumah tangga yang menggunakan bahan ramah lingkungan dapat membantu mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.

Dengan mengambil langkah-langkah kecil ini, kita dapat berkontribusi secara positif untuk melindungi lingkungan dan memastikan masa depan yang lebih hijau untuk generasi mendatang.

Penulisan: Naila
Editor: Nazna

Kiat Mudik Aman dan Nyaman di Hari Raya

0

Mudik adalah tradisi tahunan di Indonesia yakni orang-orang kembali ke kampung halaman mereka untuk merayakan Hari Raya atau liburan lainnya bersama keluarga dan kerabat.

Namun, perjalanan mudik juga melibatkan risiko tertentu. Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan selama perjalanan, berikut adalah beberapa hal yang harus diperhatikan saat mudik:

1. Kondisi Kendaraan yang Prima

Sebelum memulai perjalanan, pastikan kendaraan Anda dalam kondisi prima. Periksa mesin, rem, ban, oli, dan segala hal penting lainnya. Ingatlah, keselamatan Anda dan penumpang lainnya bergantung pada kondisi kendaraan tersebut.

2. Perencanaan Rute yang Matang

Rencanakan rute perjalanan dengan matang. Hindari rute yang rawan kemacetan atau jalan yang berbahaya. Rencanakan waktu keberangkatan yang tepat agar tidak terjebak dalam padatnya lalu lintas.

3. Pengaturan Jadwal yang Efektif

Jangan meremehkan waktu perjalanan Anda. Jadwalkan istirahat yang cukup untuk menghindari kelelahan berlebihan. Rotasi pengemudi jika diperlukan untuk menjaga konsentrasi dan keselamatan di jalan.

4. Kesiapan Finansial yang Memadai

Pastikan Anda membawa cukup uang tunai dan kartu pembayaran lainnya untuk kebutuhan darurat dan pengeluaran di perjalanan. Jangan lupa menyimpan sebagian kecil uang tunai sebagai persiapan darurat.

5. Penjagaan Keamanan Barang

Jangan biarkan barang berharga terlihat di dalam kendaraan. Pastikan barang-barang berharga Anda diamankan dengan baik. Jika perlu, gunakan penguncian tambahan untuk koper atau tas Anda.

6. Pemantauan Kondisi Cuaca dan Lalu Lintas

Pantau perkembangan cuaca dan kondisi lalu lintas secara berkala. Siapkan diri Anda dengan informasi terkini untuk mengambil tindakan yang tepat jika terjadi perubahan cuaca atau keadaan jalan.

7. Protokol Kesehatan dan Kebersihan

Tetap patuhi protokol kesehatan dan kebersihan saat melakukan perjalanan. Gunakan masker, jaga jarak fisik, dan bawa hand sanitizer untuk menjaga kesehatan Anda dan orang-orang di sekitar Anda.

8. Kesiapan Darurat

Siapkan perlengkapan darurat seperti ban cadangan, alat pertolongan pertama, dan pakaian cadangan untuk mengatasi situasi darurat di jalan. Jangan lupa untuk membawa nomor darurat yang penting.

Mudik sebagai momen yang penuh dengan kebahagiaan dan kebersamaan bersama keluarga. Namun, dengan memperhatikan hal-hal di atas, Anda dapat menjadikan perjalanan mudik Anda lebih aman, lancar, dan berkesan.

Selamat mudik!

Penulis: Naila
Editor: Nazna

Bagian 4 : Ketika Maaf Mempererat Tali Cinta Keluarga

0

Nasya telah sampai di kontrakan, saat itu juga ia bergegas langsung membagikan ketupat pada tetangga-tetangganya sesuai dengan intruksi bi Jum.

“Pahala berbagi makanan kepada orang yang berpuasa sama dengan pahala yang berpuasa. Saya dapat pahala, begitu pula Bi Jum yang memberikan ini kepada saya untuk dibagikan,” batinnya.

Nasya tersenyum puas melihat senyum dan ucapan terima kasih dari tetangga nya saat menerima ketupat yang ia bagikan. Di antara tetangga nya, ada seorang perempuan usianya sekitar empat puluh tahunan duduk di depan teras sambil menjaga anak kembarnya yang masih mungil nan lucu.

“Bu Ning, ini untukmu,” ucap Nasya ramah sambil menyerahkan satu ikat ketupat kepada Bu Ning, yang mungkin juga sedang menanti suaminya pulang bersama anak-anaknya.

Bu Ning tersenyum lebar. “Terima kasih, Nasya, semoga Allah memberkahi rizkimu.”

Senyum Nasya semakin merekah mendengar doa yang diucapkan Bu Ning. Lebih banyak doa yang diucapkan semakin mudah untuk tembus pada telinga Tuhan. Hal itu membuatnya menghaturkan rasa syukur, karena ia percaya bahwa setiap doa yang tulus akan sampai kepada Tuhan.

Nasya masuk ke dalam kontrakan, ia merasa lelah dan kemudian merebahkan tubuh di atas tempat tidur mungilnya. Sambil menyaksikan langit-langit yang ia hiasi dengan lukisan asal dari cat yang ia buat. Dengan tangan yang masih menggenggam seikat ketupat lainnya.

“Bi Jum pasti senang jika tahu ketupat ini dibagikan dengan baik,” gumam Nasya.

Tak lama setelahnya, ponsel nasya berdering menunjukkan tanda notifikasi. Rupanya itu pesan dari Mamah.

“Kabar Mamah baik, Nasya kapan pulang? Mamah juga rindu, semua disini merindukan Nasya. Opung telah satu bulan meninggal, Nasya tau?” pesan dari Mamah melalui aplikasi WhatsApp.

“Innalillahi, mengapa tidak ada yang mengabari Nasya?” balas Nasya.

“Rasya telah mencoba untuk menghubungi Nasya, tapi tidak bisa. Dengan melihat pesan ini Mamah jadi tau kenapa Aa gak bisa hubungi Nasya, sejak kapan Nasya ganti nomor?” pesan dari Mamah.

“Oh iya, maaf yah Mah, Nasya lupa ngabarin kalau Nasya ganti nomor. Udah hampir satu tahun.”

Percakapan pesan itu berakhir begitu Mamah mengirimkan kata-kata yang mengharukan,

“Tahun ini Nasya pulang yah, mamah mau lihat Nasya. Kalau Nasya tidak pulang, entah apa kita bisa bertemu lagi nanti. Selama Mamah masih sehat, Mamah ingin terus melihat wajah Nasya. Sesekali memeluk walau tidak sesering dulu saat Nasya dan Aa masih kecil.”

Nasya lantas mengirimkan emoticon penuh cinta.

Hari-hari telah berlalu dengan begitu cepatnya, libur cuti idul fitri pun sudah dimulai. Nasya mericuhkan kontrakannya dengan berbagai macam pakaian yang hendak ia masukkan ke dalam koper, serta bingkisan-bingkisan yang menutup hampir ke seluruh lantai. Di sisi lain, Rona ada di tempat itu dengan membantu Nasya untuk merapihkan apa yang hendak dibawa pulang.

“Cuti berapa hari, Sya?” tanya Rona.

“Cuma dua minggu doang, Tante. Nanti juga seminggu setelah lebaran, balik lagi ke kota,” jawab Nasya dengan terus melipat pakaian.

“Jangan lama-lama yah! Sepi nih kontrakan tante, semua pada mudik” kata Rona melihat Nasya dengan tatapan tajam.

“Siap Tante!”

Nasya merenung sejenak, ia merasakan kehangatan suasana Ramadhan masih menyelimuti hati meski hari raya akan tiba. Senyum-senyum tetangga yang menerima ketupatnya kemarin masih terbayang di pikirannya, memberikan rasa bahagia yang tak akan pernah dilupakan.

Saat tengah bersiap untuk pulang kampung, Nasya merasa ada rasa haru campur bahagia. Dimana ia merindukan sekecil momen Ramadhan di kontrakannya, momen-momen sederhana yang penuh makna. Namun, kerinduannya akan pulang kampung juga tidak bisa ia tunda. Nasya telah menanti pertemuan ini sejak satu tahun yang lalu, bertemu dengan keluarga, sahabat-sahabat lama, dan tentu saja merindukan lezatnya hidangan buatan mamah pada hari raya.

“Sudah selesai, Sya?” tanya Rona sambil menatap koper yang hampir penuh.

“Sudah, Tante. Terima kasih banyak ya sudah membantu,” ucap Nasya sambil tersenyum.

“Tidak apa-apa, sayang. Ingat, jangan lupa datang lagi setelah lebaran ya. Nanti tante sedih di sini,” goda Rona pada Nasya.

Nasya hanya tersenyum dan mengangguk. Dia tahu betul betapa Rona memperlakukannya seperti anak sendiri selama dia tinggal di kontrakan itu.

Setelah selesai, Nasya meninggalkan kontrakan itu dengan perasaan campur aduk. Dia bahagia karena akan bertemu keluarga, namun juga sedih meninggalkan rumah sederhana yang telah menjadi tempatnya menghabiskan bulan suci Ramadhan.

Di perjalanan pulang, Nasya melihat bunga-bunga yang mekar di pinggir jalan. Mereka menyerupai ketupat, mengingatkannya pada momen-momen selama Ramadhan yang indah. Dia tersenyum, yakin bahwa meski Ramadhan hampir berakhir, semangat dan kebahagiaannya akan terus mekar seperti bunga-bunga itu.

Dengan hati yang penuh syukur, Nasya melanjutkan perjalanan pulang, membawa kenangan manis Ramadhan dan harapan baru di hari lebaran yang telah tiba.

Selama hampir 8 jam perjalanan menuju kampung halaman. Pohon rindang yang menyelimuti jalanan kian membuatnya merasa tenang dan damai. Sinar matahari yang lembut menyorot pada dinding kaca bus, memberikan sentuhan hangat pada perjalanan Nasya. Sesekali, daun rindang ditiup angin sepoi-sepoi seolah menyambutnya.

Sesampainya di kampung halaman, Nasya terdiam pada satu titik. Rupanya ia tengah menanti seseorang untuk menjemputnya dari terminal ke rumah. Dari jarak sepuluh meter dalam pandangan, seorang pria melambaikan tangan dengan berteriak, “NASYA!!!” sahutnya.

Nasya tersenyum atas kedatangan laki-laki itu, ia justru tak segan-segan untuk memeluknya.

“Gimana rasanya satu tahun gak ada kabar?” celetuk pria itu membuat Nasya langsung melepaskan pelukannya.

“Gak usah langsung di ulti. Bawain nih. Berat!” Ketus Nasya dengan membiarkan barang bawaannya ditinggal bersama pria itu.

Pria itu pun tertawa kecil melihat reaksi spontan adiknya. Rasya mengambil beberapa barang bawaan Nasya dengan senang hati. Mereka berdua berjalan bersama menuju mobil yang sudah diparkir di dekat terminal.

“Maaf ya, Aa. Nasya gak bisa kabarin kalau ganti nomor, jadi gak bisa dihubungin,” ujar Nasya penuh penyesalan.

“Ah, gak masalah, Sya. Yang penting sekarang kita bisa bertemu dan kumpul-kumpul lagi,” ucap Rasya sambil tersenyum hangat. “Lagi pula nih, kata Rasulullah dalam Hadits bukhari, Iman yang paling utama adalah sabar dan pemaaf atau lapang dada,” imbuhnya.

Nasya mengangguk setuju, ia merasa lega bahwa kesalahpahaman itu bisa diselesaikan dengan mudah. Nasya merasa beruntung memiliki seorang saudara seperti pria di sampingnya, yang selalu mengerti dan menerima dirinya apa adanya walaupun terkadang cukup menyebalkan.

“Aa sih memaafkan yah, tapi gak tau tuh kalau Opung. Cucu kesayangannya gak datang di saat-saat terakhir, bahkan tidak menemani sampai pemakaman”

Nasya dengan spontan mencubit pinggang pria di sebelahnya dengan lantas berkata, “astagfirullahal’adzim, nyebelin!” kesal-rindu-amarah bercampur aduk kala itu.

Perjalanan menuju rumah berlangsung dengan penuh keceriaan, juga pertengkaran kecil yang biasa terjadi pada hubungan adik-kakak. Nasya dan Rasya saling bertukar cerita tentang apa yang telah terjadi selama setahun terakhir, tertawa bersama, kesal bersama, marah bersama dan merasa bahagia bisa bertemu serta bersama lagi di hari yang spesial ini.

Sesampainya di rumah, Nasya disambut dengan hangat oleh keluarga dan kerabat yang kebetulan sedang berkumpul kala itu. Suasana kebersamaan dan kebahagiaan memenuhi rumah, membuat Nasya merasa betul-betul pulang ke tempat yang tepat. Namun ia merasa sedikit sedih, tiadanya Opung membuatnya berpikir seakan ada yang kurang.

“Selamat datang putri cantikku,” kata Mamah sambil merentangkan tangan, seolah mengajak Nasya untuk memeluknya.

Nasya pun berlari ke arahnya, ia merasa hangat di dalam pelukan Mamah. Ia tak henti-henti mengucapkan kata maaf atas ketiada kabar tentang dirinya kepada ibu yang telah melahirkannya itu.

Pada hari raya, Nasya tak lupa merasa bersyukur bisa kembali ke rumah dan bersama keluarga tercinta di hari yang istimewa ini. Semua yang telah dia lalui selama setahun terakhir, semua momen indah dan sulit, kini menjadi sebuah kenangan yang tak akan pernah ia lupakan. Di hari yang fitri ini, Nasya merasa bahwa kebahagiaan dan cinta yang mereka bagi bersama keluarga dan kerabatnya adalah yang paling berharga dari segalanya.

Mereka semua berbondong-bondong menuju meja makan yang telah disediakan dengan hidangan lezat khas lebaran. Tawa dan cerita pun terus mengalir, mengisi ruangan dengan kehangatan dan kebahagiaan yang tak tergantikan.

Di tengah-tengah semua itu, Nasya merasa bersyukur atas segala berkat yang telah diberikan kepadanya. Dia merasa penuh cinta dan terima kasih kepada Tuhan, atas segala kebaikan dan kebahagiaan yang telah dia rasakan di hari yang istimewa ini.

Tamat.

Penulis: Lydia
Editor: Nazna

Pers Mahasiswa Kini Dapat Perlindungan Hukum 

0

Serang, lpmsigma.com – Pada tanggal 18 Maret 2024, Dewan pers bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) telah menandatangani perjanjian kerjasama tentang “Penguatan dan Perlindungan Aktivitas Jurnalistik Mahasiswa di Lingkungan Perguruan Tinggi” Jum’at, (05/04).

Perjanjian kerjasama ini bertujuan untuk menjadi landasan hukum bagi Dewan Pers Kemendikbud Ristek, dalam melakukan penguatan perlindungan aktivitas jurnalistik mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi.

Ahmad Hudori, selaku Koordinator Umum Aliansi Pers Mahasiswa Serang, menuturkan bahwa perjanjian ini sebagai momentum kemenangan bagi pers mahasiswa, dikarenakan banyaknya terjadi intimidasi dan kriminalisasi oleh pers mahasiswa.

“Setelah adanya perjanjian kerjasama ini, menjadi kemenangan kecil untuk pers mahasiswa. Dikarenakan, selama ini terjadi intimidasi dan kriminalisasi yang dirasakan oleh pers mahasiswa. Notabenenya, pelaku yaitu para aktor kampus atau pejabat kampus,” tuturnya saat diwawancarai Kru SiGMA melalui via WhatsApp.

Selain itu, ia juga memberikan harapan agar perjanjian kerjasama yang telah dibuat masif untuk disosialisasikan di kampus-kampus dan berharap Kementrian Agama turut menyusul atas perjanjian ini.

“Saya berharap perjanjian yang telah dilakukan, bisa disosialisasikan di kampus-kampus oleh dewan pers dibawah naungan Kemendikbudristek serta Kemenag dapat segera menyusul, terlebih dua kementrian tersebut menjadi penguat dan perlindungan bagi pers mahasiswa,” harapnya.

Aldi Alfian, selaku Pimpinan Umum Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) SiGMA, turut memberikan tanggapan bahwasanya penantian yang cukup lama bagi pers mahasiswa dengan adanya perjanjian kerjasama ini.

“Akhirnya, setelah sekian lama pers mahasiswa memiliki penguatan dan perlindungan untuk akitivitas jurnalistik di kampus. Setidaknya, semua sengketa pemberitaan pers mahasiswa akan ditangani seperti layaknya pers umum,” ucapnya.

Terakhir, ia juga berharap agar Kementrian Agama turut andil dalam perjanjian serupa untuk melindungi kegiatan jurnalistik di kampus.

“Harapan saya agar Kementrian Agama segera menyusul membuat perjanjian yang serupa. Apalagi kita sebagai mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), membutuhkan perlindungan hukum juga,” pungkasnya.

Reporter: Salma

Sederet Selebriti Hollywood yang Mengikuti Puasa Saat Ramadan

0

Puasa merupakan salah satu ibadah yang wajib dijalankan bagi umat muslim di seluruh dunia ketika Ramadhan tanpa terkecuali. Begitupun di kalangan selebriti Hollywood.

Walaupun tidak banyak terungkap tentang kehidupan pribadi setiap para selebriti, tak sedikit diantaranya yang mengungkapkan bahwa mereka ikut menjalankan ibadah puasa. Berikut beberapa selebriti Hollywood yang menjalankan ibadah puasa:

1. DJ Khaled
DJ Khaled merupakan salah satu bintang dunia berdarah Amerika-Palestina, yang mengakui ikut menjalankan ibadah berpuasa. Ia juga tak mengelak jika ia beberapa kali pernah tumbang akibat dehidrasi ketika sedang tampil.

2. SZA
Nama asli Solana Imani Rowe, biasa dikenal dengan SZA. Ia merupakan penyanyi R&B asal Amerika Serikat. SZA tumbuh di keluarga muslim. Ia pernah menceritakan jika pita suaranya rusak beberapa tahun lalu ketika bernyanyi saat tengah berpuasa di bulan Ramadhan.

3. Bella dan Gigi Hadid
Mereka merupakan selebriti Hollywood yang juga ikut merayakan puasa di bulan Ramadhan. Kedua putri dari Mohamed Hadid ini mengungkapkan sangat bersemangat setiap menyambut bulan Ramadhan, terbukti dari beberapa unggahan di media sosial. Mereka juga mengakui bangga menjadi muslim.

4. Halimah Aden
Model berhijab pertama yang menandatangani kontrak dengan IMD dan menghiasi dunia model internasional. Halimah mengakui bahwa saat berpuasa yang menjadi tantangan terberatnya adalah menghindari musik.

Halimah Aden mengungkapkan bahwa dirinya selama ramadhan menghindari musik, baginya tidak ada film, televisi bahkan iklan akan membuat musik, tidak masalah menurutnya. Ia menggantikan musik dengan nasheed, yang halal baginya.

Nah SiGMAniaa, itulah beberapa selebriti Hollywood yang mengikuti ibadah puasa di bulan Ramadhan. Tak peduli sesibuk apapun mereka, menjalankan ibadah tetap wajib mereka lakukan.

Penulis: Nazna
Editor: Salma

5 Cara Mendidik Anak Berpuasa Sejak Dini

0

Berpuasa saat bulan suci Ramadan merupakan hal yang wajib dilakukan bagi seluruh umat muslim. Tak menutup kemungkinan bagi anak-anak juga sudah diajarkan untuk berpuasa sejak dini.

Mengajarkan anak berpuasa berbeda dengan mewajibkannya, artinya tidak ada unsur paksaan didalamnya. Oleh karena itu, sebagai orang tua yang lebih paham, baiknya mencontohkan berpuasa yang baik kepada anak.

Simak beberapa cara agar anak mulai ikut berpuasa:

1. Memberi pemahaman tentang puasa

Mengajarkan kepada anak bahaa umat Islam setiap Ramadan harus berpuasa selama satu bulan lamanya. Puasa dilakukan untuk menahan hawa nafsu makan dan minum, dan berikan juga penjelasan puasa diawali dengan sahur dan diakhiri saat maghrib tiba.

2. Memberikan contoh kepada anak untuk terbiasa menjalankan ibadah puasa

Orang tua dapat menceritakan pengalaman yang telah dirasakan dan bagaimana menjalankan ibadah puasa. Sebagai orang tua, sebaiknya menjadikan puasa hal yang menyenangkan sehingga anak bisa menjalankan puasa dengan baik dan perlahan akan menirunya.

3. Mengajarkan anak berpuasa sesuai dengan usia yang tepat

Usia yang tepat untuk mengajarkan anak berpuasa dimulai sejak umur 6 tahun, saat usia anak mulai bisa menahan lapar dan haus. Akan tetapi, sesuaikan lagi dengan kemampuan anak dan kesiapan anak untuk berpuasa. Maka dari itu, perlu menanamkan motivasi kepada anak agar semangat dalam menjalani puasa.

4. Lakukan secara bertahap

Untuk melatih anak agar terbiasa berpuasa, lakukan secara bertahap. Pasalnya, berpuasa merupakan hal yang baru bagi anak, maka dari itu sebagai perkenalan ajarkan anak berpuasa dimulai dari setengah hari. Kemudian, jika anak sudah terbiasa menjalankan setengah hari bisa bertahap ke puasa satu hari full.

5. Lakukan kegiatan yang bermanfaat

Sebagai orang dewasa, kita dapat mengalihkan perhatian anak dari haus dan lapar, seperti main bersama, membaca buku, main dengan hewan peliharaan, belajar dan kegiatan sejenisnya.

6. Berikan pujian dan hadiah kepada anak

Berikan pujian dan hadiah kepada anak, karena mereka cenderung menyukai hadiah dan pujian ketika setelah menyelesaikan sesuatu. Maka dari itu, berilah apresiasi kepada anak, hal ini dapat membuat anak lebih bersemangat untuk berpuasa di keesokan harinya.

Perlu diingat lagi, mendidik anak untuk berpuasa butuh kesabaran dan pengertian yang besar. Dukungan yang tepat akan membantu anak menjalankan ibadah puasa yang menyenangkan.

Reporter: Ima
Editor: Nazna

Eratkan Silaturahmi Antar UKM, FSU Adakan Buka Bersama

0

Serang, lpmsigma.com – Forum Silaturahmi UKM (FSU) Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten, kembali adakan acara buka bersama yang sempat vakum dua tahun lalu. Acara ini dihadiri oleh seluruh anggota dan pengurus Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), bertempat di Pelataran UKM Kampus Satu Ciceri, Rabu (03/04).

Didi Kurniawan, selaku ketua FSU menuturkan, bahwa adanya kegiatan ini bertujuan agar semua UKM mengenal satu sama lain dan berterima kasih kepada Warek III serta pihak lembaga yang telah mendukung berlangsungnya kegiatan.

“Kegiatan ini bertujuan dapat mengenal satu sama lain antar UKM, sehingga menjadi keluarga besar dan kami berterimakasih kepada lembaga serta Warek III yang mendukung kegiatan positif ini,” ucapnya.

Kemudian, ia juga berharap diadakannya kegiatan ini tak hanya dilaksanakan di bulan Ramadhan saja tetapi dibulan lain juga mesti dilakukan.

“Semoga kegiatan ini tak hanya dalam bulan Ramadhan saja, karena masing-masing anggota UKM tetap dalam forum yang sama seperti bacakan dll”, tambahnya.

Di tempat yang sama, Anwar selaku Ketua UKM UPTQ (Unit Pengembangan Tilawatil Qur’an) mengatakan, kegiatan ini sebagai ajang tali silaturahmi antar UKM khususnya di bulan Ramadhan.

“Semoga dilakukan buka bersama seperti ini dapat memperat tali silaturahmi antar UKM, khususnya di bulan Ramadhan,” ujarnya.

Reporter: Dhuyuf
Editor: Salma

Amalan Utama Pada 10 Hari Terakhir Ramadan

0

Banyak sekali keutamaan pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan, salah satunya dengan Allah SWT memberikan kita pahala yang luar biasa hingga dapat menghapus semua dosa jika kita beribadah pada malamnya. Sepuluh malam terakhir merupakan malam yang sangat disukai oleh Rasulullah SAW.

Dalam sepuluh malam terakhir ini terjadi peristiwa yang sangat istimewa yaitu Lailatul qadar. Lailatul qadar merupakan malam yang lebih baik dari seribu bulan. Apabila seseorang melakukan sholat di malam tersebut dengan iman yang tulus, maka dosa-dosanya akan diampuni oleh Allah SWT. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

“Barang siapa yang melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar dengan penuh keimanan serta mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dikutip dari situs resmi Kemenag.co.id, berikut beberapa amalan yang dianjurkan oleh Nabi SAW, ketika 10 hari terakhir di bulan Ramadan.

1. Memperpanjang Shalat Malam

Selama 10 malam terakhir, Rasulullah SAW tidak tidur, ia menghidupkan malamnya untuk beribadah, shalat, zikir, dan berbagai aktivitas lainnya hingga waktu fajar. Seluruh anggota keluarganya mengikuti kebiasaan ini untuk sama-sama menikmati kenikmatan beribadah sepanjang malam. sebagaimana disampaikan oleh Aisyah RA,

“Rasulullah SAW biasa ketika memasuki 10 Ramadan terakhir, beliau kencangkan ikat pinggang (bersungguh-sungguh dalam ibadah), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

2. Memperbanyak Sedekah

Meningkatkan sedekah, menjadi salah satu amalan utama di 10 hari terakhir sebagai ungkapan syukur atas nikmat dipertemukan Ramadan, serta sebagai penyempurna ibadah puasa dan ibadah-ibadah individu lainnya. Karena tidaklah sempurna keimanan dan kualitas ibadah seseorang kecuali jika adanya keseimbangan antara ibadah ritual dan ibadah sosial. Sebagaimana firman Allah SWT
yang artinya:

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap, dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (Qs. As-Sajdah: 16).

Bersedekah selama 10 hari terakhir tidak hanya melibatkan zakat fitrah dan zakat mal, tetapi juga disarankan untuk memperbanyak sedekah sunnah untuk berbagi kebahagiaan dan menyediakan bekal makanan untuk dhuafa di hari raya Idul Fitri. Sedekah sunnah dapat berupa harta, makanan, pakaian, paket untuk yatim dan dhuafa, dan sebagainya.

3. I’tikaf

I’tikaf berarti berdiam di masjid dalam rangka beribadah kepada Allah SWT. Tidaklah seseorang keluar dari masjid, kecuali untuk memenuhi hajatnya sebagai manusia. I’tikaf memiliki kekhususan tempat dan aktivitas yaitu masjid dengan aktivitas ibadah mendekatkan diri kepada Allah dengan berdzikir, berdo’a, membaca Al-Quran, shalat sunnah, bershalawat, bertaubat, beristigfar, dan lainnya. I’tikaf dianjurkan setiap waktu, tetapi lebih ditekankan memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan sebagaimana penuturan Abdullah bin Umar RA,

“Rasulullah SAW beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan ramadan”. (HR. Muttafaq ‘alaih)

4. Tilawah Al Qur’an

Meningkatkan membaca Al-Qur’an menjadi salah satu ibadah utama di 10 hari terakhir Ramadan. Tidak sedikit umat Islam yang larut dalam tilawah Al-Qur’an sepanjang malam baik di masjid maupun di rumah. Tilawah Al-Qur’an adalah ibadah ringan dan memiliki keutamaan yang besar.

Tradisi mengejar khataman Al-Qur’an di akhir Ramadan menjadi kebahagiaan tersendiri bagi pribadi muslim, khususnya mereka yang setiap hari bergulat dengan aktivitas pekerjaan, sehingga khataman Al-Qur’an sebanya satu kali menjadi target realistis. Apapun bentuk motivasinya, tilawah Al-Qur’an harus lebih digiatkan di 10 hari terakhir Ramadan.

Itulah beberapa amalan penting yang di anjurkan oleh Rasulullah SAW kepada ummatnya di 10 hari terakhir bulan Ramadan. Marilah kita berlomba-lomba dalam memperbanyak pahala di penghujung Ramadan ini.

Reporter: Enjat
Editor: Duyuf

Bunga-bunga Ramadhan

0

Bagian 3 : Renungan Doa di Bulan Ramadhan

Ada suatu niat yang memutar di kepalanya

“Selamat berbuka, Mah”

Niat itu ia urungkan, kala adzan maghrib berkumandang dan Rintika berhasil meraih lengannya untuk menyegerakan dalam berbuka. Nasya meletakkan ponselnya begitu saja di atas meja. Kemudian pergi bersama Rintika menuju balkon di kantor tempatnya bekerja.

Mereka berdua meminum air jernih dengan dihadapkan sebuah langit merah jambu bercampur dengan jingga, seakan kenikmatan yang mungkin bisa saja tidak terulang.

“Yang paling saya suka di bulan Ramadhan adalah langit yang berbeda diantara bulan lainnya. Kamu ngerasa gitu gak, Rin?” Nasya bertanya dengan mulut yang penuh mengunyah gorengan.

Rintika mengangguk, ia merasa hal yang sama

“Benar, Sya. Kalau suasana malam di bulan Ramadhan juga, pasti bakal penuh banget sama bintang-bintang yang bertaburan. Seakan mereka meminta kita untuk terus memanjatkan doa-doa dari bawah sini” menatap ke arah langit dengan sebuah senyuman.

Diam sejenak, untuk menenggak ludah yang tersangkut di tenggorokannya. Kemudian melanjutkan bicara “Apalagi, dalam hadits riwayat Baihaqi, bahwasannya ada tiga doa yang paling mustajab yakni salah satunya adalah doa orang yang sedang berpuasa!” ujar Rintika.

Nasya merasakan debaran pada jantungnya, kala Rintika berkata tentang doa-doa itu. Apakah kegundahan di setiap perjalanan Nasya, sebab ia hampir tidak pernah meluapkan keluh kesah pada Tuhannya? Nasya terdiam, untuk merenungkan setiap pikirnya sambil menatap langit penuh sendu.

Melihat Nasya dengan demikian, Rintika seakan berpikir. Apa ia salah bicara?

“Sya! Kamu kenapa?” Tanya Rintika.

“Saya merasa malu pada Tuhan. Ia menampilkan langit dengan begitu indah, yang bisa kita nikmati dari bawah sini. Tapi saya lupa bersyukur. Seperti yang kamu bilang, tampilan langit yang indah seakan mencoba untuk mengingatkan kita untuk terus memanjatkan doa dari bawah sini,” ucap Nasya, dengan rasa bersalah.

Rintika tertegun, seolah mengerti apa yang Nasya rasakan “Doa-doa itu, tidak harus keluh kesah. Tapi bisa juga, ungkapan rasa syukur atas nikmat yang Tuhan beri. Seperti nafas contohnya, sederhana. Namun itu nikmat yang Tuhan beri untuk kita.”

Setelah percakapan di atas balkon itu, Nasya semakin merenungkan diri di setiap harinya. Ia juga jadi rajin sholat malam, sebelum sahur. Petunjuk dari Tuhan sangat ia butuhkan untuknya saat ini. Dengan harap, Tuhan membantu meluluhkan egonya.

“Mah, apa kabar? Nasya udah hampir setahun tidak pulang. Nasya rindu rumah, rindu mamah, rindu adik-adik. Tapi, Nasya bingung harus memulai dari mana.”

Pesan itu yang ia kirim lewat aplikasi WhatsApp, berharap ada respon baik yang dapat ia terima.

Sepulang kerja pada hari ke-15 di bulan Ramadhan, Nasya menghentikan roda motornya pada sebuah warung yang menyajikan banyak menu berbuka puasa. Tak hanya menyajikan menu, mereka juga menyajikan banyak manusia bergerombolan desak-desakan di depan menu tersebut.

“Rame, Bi!” Sahut Nasya, ia menerobos masuk ke area penjual yang tak sembarang orang bisa masuk.

“Iya, Neng. Padahal bibi cuma jual gorengan” merendah untuk meroket, itulah bi Jum. Warung kopi sebelum bulan ramadhan, kini berubah menjadi warung takjil. Bukan hanya gorengan yang ia jual, dari berbagai menu dessert seperti bubur sumsum, setup, sampai berbagai jenis kolak juga ada”.

“Maaf neng, hari ini bibi gak jualan nasi dan menu perikanan lainnya,” ucapnya merasa bersalah, padahal belum tentu itu maksud Nasya kemari

“Tapi bibi punya menu nasi bakar dengan berbagai varian isi, mau?” tawarnya.

Nasya tersenyum mendengarnya, “Saya merasa seperti ibu dewan, di ratukan!” ujarnya kepada bi Jum.

Mendengar ucapan Nasya, bi Jum juga sedikit tertawa. Nasya kemudian memesan apa yang perlu ia pesan, untuk berbuka selepas sampai di rumah petak.

“Nggak buka disini, Neng?” Tanya bi Jum, wajahnya meraup sedikit kesedihan.

“Bi Jum aja udah mau rapih-rapih untuk pulang. Terus saya buka sama siapa disini? Dengan nampan kosong ini?” Nasya merujuk pada satu nampan gorengan yang telah habis.

Lagi-lagi bi Jum tertawa, tampaknya kehadiran Nasya membuat ia bahagia.

“Hal ini yang bakal saya rindu ketika saya pulang kampung nanti. Wajah bi Jum yang ceria, juga nampan-nampan ini yang sedikit warnanya telah memudar. Atau bahkan, desain warung kopi yang minimalis nan sederhana ini”. Nasya berbicara seakan ia akan pergi dengan kurun waktu yang cukup lama.

“Bilang aja, warung kopi kampungan di tengah kota.” Skak Bi Jum.

“Tidak seperti itu, Bi Jum. Maksud Nasya tuh..” sebelum melanjutkan, bi Jum memotong apa yang dikatakan Nasya.

“Di kampung tuh banyak yang kayak gini, Neng. Justru ada yang lebih bagus!”

“Banyak, tapi yang pedagangnya ada bi Jum, kan cuma ada disini,” ucap Nasya.

Bi Jum dengan lantas memeluknya.

Sedikit ada haru dari kata yang diucap oleh gadis itu, membuat bi Jum sedikit meneteskan air pada matanya.

“Bi Jum juga bakal kangen sama, Neng. Pembeli perempuan satu-satunya bi Jum kalau bukan di bulan puasa.”

Nasya membalasnya dengan senyum, kemudian ia hendak pergi setelah dirasa cukup dengan apa yang ia dapati dari warung milik bi Jum itu.

“Neng, tunggu!” Sahut bi Jum, kala Nasya hendak menaiki motor kesayangannya itu.

“Bibi, punya sedikit kupat. Tapi cukup buat dibagiin kalau sama tetangga di kontrakan. Tapi jangan dibagiin semua! Kan biar nengnya juga makan” tanpa persetujuan, bi Jum menaruh keresek berisi kupat pada cantolan motor di bawah setang.

“Gak usah bi..” tolak Nasya ragu-ragu.

“Ah neng, ngga papa. Kebetulan bibi bikin banyak di rumah. Juga bibi lagi ngamalin satu hadits..” ucap bi Jum.

“Hadits apa bi? Awas sesat!” Celetuk Nasya.

“Nggak lah. Sahih. Dari hadits riwayat Ahmad!” Kata bi Jum dengan nada penuh kemenangan, seakan satu kebanggaan baginya mengamalkan suatu hadits di bulan penuh keberkahan ini.

“Hadits yang mana bi? Atuh hadits riwayat Ahmad mah banyak,” Nasya terus mencecar bi Jum untuk mengatakan apa hadits yang dimaksud olehnya.

“Ini loh neng, barang siapa yang memberi makan orang berpuasa, maka pahalanya sama seperti orang yang berpuasa tersebut. Jadi, pahala neng buat bibiii” ucapnya.

Mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh bi Jum, Nasya terpaksa tersenyum, “Pamit ya bi, assalamualaikum..” lantas melaju dengan motor tersebut.

Bersambung…

Penulis: Lydia
Editor: Nazna

Nuzulul Qur’an: Turunnya Kitab Suci dan Maknanya dalam Islam

0

Peristiwa Nuzulul Qur’an adalah salah satu peristiwa penting dalam sejarah umat Islam. Nuzulul Qur’an merupakan hari dimana nabi Muhammad SAW menerima Wahyu pertama kali yaitu kitab suci Al-Qur’an yang bertepatan pada 17 Ramadhan.

Secara bahasa, Nuzulul Qur’an berasal dari dua kata yaitu Nuzulul (menurunkan sesuatu dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah) dan Al-Qur’an (kitab suci umat Islam). Jadi, Nuzulul Qur’an dapat diartikan sebagai peristiwa turunnya Al-Qur’an untuk menjadi petunjuk bagi ummat. Lantas, bagaimanakah peristiwa turunnya kitab suci Al-Qur’an pertama kali?

Pertama kali Allah SWT menurunkan Al-Qur’an melalui perantara malaikat Jibril untuk disampaikan kepada nabi Muhammad SAW, ketika itu Jibril mengunjungi nabi Muhammad SAW yang sedang beribadah di gua hira.

Peristiwa Nuzulul Qur’an terjadi pada 17 Ramadhan tahun 610 Masehi, ketika itu nabi berusia 40 tahun. Saat nabi dalam keadaan tertidur lalu malaikat Jibril datang dan menyuruh nabi Muhammad untuk membaca lembaran yang diperintahkan oleh Allah SWT, dengan bunyi wahyu yang diperintahkan yaitu “Iqro” atau “Bacalah”.

Kemudian nabi Muhammad SAW mengaku bahwa ia tidak bisa membacanya, lalu Jibril pun memerintahkan kepada nabi Muhammad untuk terus membaca lagi sampai beliau bisa membacanya, sehingga menandai turunnya wahyu pertama kepada nabi yaitu surat Al-Alaq ayat 1-5 yang berbunyi:

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ١ خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ٢ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ٣ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ٤ عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ٥

Artinya, “Bacalah dengan menyebut nama tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan tuhanmu lah yang maha mulia. Yang mengajar manusia dengan pena. Dan mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya”.

Setelah peristiwa tersebut, nabi Muhammad SAW mengalami kedinginan dan gemetar di sekujur tubuhnya, hingga beliau memilih pulang dan meminta kepada istrinya yaitu Siti Khodijah untuk segera menyelimuti tubuhnya yang masih bergetar. Sebab, terjadinya peristiwa itulah kemudian Al-Qur’an diturunkan secara bertahap kepada nabi Muhammad di waktu yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan.

Al-Qur’an turun dalam dua periode yaitu periode Makkah atau sering disebut dengan ayat makkiyah, dan periode Madinah atau sering disebut dengan ayat madaniyah.

Pada periode makkiyah Wahyu Alquran yang diturunkan sebanyak 86 surat dalam kurun waktu 12 tahun 5 bulan. Sedangkan pada periode madaniyah atau setelah nabi hijrah ke Madinah wahyu Al-Qur’an diturunkan sebanyak 28 surat dalam waktu 9 tahun 9 bulan.

Dalam Alquran ayat makkiyah ini memiliki ciri-ciri ayat atau suku kata yang pendek dan mengandung peringatan bagi kaum musyrikin sedangkan ayat makkiyah juga berisikan paham tentang keimanan atau akidah Islam serta dasar ajaran agama Islam atau sering disebut tauhid.

Ciri khas ayat madaniyah yaitu ayat yang panjang dan memiliki makna yang kuat dan ayat-ayat madaniyah itu mengandung banyak penjelasan terkait hubungan antar manusia atau disebut muamalah aturan dalam kehidupan Islam, atau disebut syariat, dan hukum Islam.

Penulis: Sri
Editor: Dhuyuf