Serang, lpmsigma.com – Setelah keluarnya Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 361 tahun 2020, tentang tugas pedoman program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah pada Perguruan Tinggi Keagamaan, yang mewajibkan perguruan tinggi melakukan pembinaan akademik dan non akademik kepada mahasiswa penerima KIP Kuliah, Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten menggagas kampung santri dilingkungan Ciceri Jaya, Sumur Pecung.
Ketua Pelaksana Kampung Santri Tatu Raudhatul Hasanah mengatakan, adanya program kampung santri merupakan respon terhadap KMA Nomor 361 tahun 2020 dan jawaban atas keresahan para Wakil Dekan III bidang kemahasiswaan ihwal pemerataan pembinaan non akademik mahasiswa.
“Program ini jawaban atas keresahan para Wadek dan respon terkait keputusan menteri agama,” ujar Tatu, panggilan akrabnya. Rabu (04/11)
Tatu juga menuturkan, akan ada sebelas asrama kampung santri yang bekerjasama langsung dengan pemilik kost dilingkungan Ciceri. Selain itu, 105 peserta santriwati yang sudah mendaftar pun dibebaskan dalam pemilihan tempat asrama sesuai kemampuan, karena fasilitas dan harga sewa kost berbeda.
“Kita bekerja sama langsung dengan pemilik kost dan membebaskan santriwati memilih asrama sesuai kemampuan,”tuturnya.
Senada dengan Tatu, Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Efi Syarifudin, merespon terkait hadirnya program kampung santri. Ia mengatakan, kampung santri sebagai inovasi positif membangun komunitas mahasiswa Islam yang berbaur langsung dengan masyarakat.
“Sangat menarik dengan pengajaran yang tematis untuk memperkuat bidang akademik para santri,” respon Efi kepada Kru magang SiGMA.
Serang, lpmsigma.com | Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten mengaku kecewa lantaran Gubernur Banten Wahidin Halim dan Walikota Serang Syafruddin batal hadir dalam acara Seminar Pendidikan.
Kekecewaan disampaikan langsung Ketua DEMA Universitas Ade Riyad saat diwawancarai kru magang SiGMA, Rabu (04/11).
“Mereka itu Gubernur dan Wali Kota sudah mengabari saya dari jauh-jauh hari, tapi entah kenapa hari ini pada ngebatalin,” ucapnya.
Seminar terbuka yang semestinya dihadiri oleh tiga pemateri dari Gubernur Banten, Wali Kota Serang dan Wakil Rektor III UIN SMH Banten, namun hanya dihadiri oleh Wakil Rektor III yakni Wawan Wahyudin. . Hal ini memicu kekecewaan dari 100 peserta yang hadir termasuk tamu undangan. . “Gubernur Banten tidak ada perwakilan dan baru ngabarin jam 10 pagi. Kalau Wali Kota Serang perwakilannya Kepala Dinas Pendidikan tapi tidak ada kabar juga,” ujar Ade Riyad saat diwawancarai kru magang SiGMA di Aula Sedzeli Hasan. . Ditempat yang sama, Ketua Pelaksana Sobirin juga ikut menanggapi terkait ketidakhadiran para pemantik luar. . “Tadinya acaranya tanggal 28 Oktober, tapi ini diundur jadi tanggal 4, karena adanya cuti bersama. Selain itu belum adanya kesiapan dari DEMA-U. Niatnya sih acara ini mau di adakan lagi, karena kan kita liat pendidikan di Banten kurang memadai,” tuturnya.
Serang, lpmsigma.com | Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama Wawan Wahyudin mengatakan, ada beberapa tantangan dalam melaksanakan pembelajaran dimasa pandemi. Akan tetapi tantangan harus dijadikan peluang untuk sebuah perubahan. . Hal tersebut disampaikan dalam acara diskusi publik yang diselenggarakan oleh Dewan Mahasiswa Universitas (Dema-U) UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten di Aula Sadzeli Hasan Lt.2, Rabu (4/11). . “Tantangan adalah peluang untuk sebuah perubahan. Jadi santai saja, apapun yang terjadi pasti Terjadilah,” Ujarnya. . Menurutnya Indonesia ini Negara yang sangat luas, untuk menerapkan sistem pendidikan daring tidaklah mudah. Tantangan pertama dalam pembelajaran daring adalah terbatasnya akses internet dibeberapa wilayah di Indonesia.
“Jangankan internet, masih ada daerah di Indonesia yang listrik saja belum tersentuh, hal ini menjadikan pendidikan secara daring menjadi tidak maksimal,” Imbuhnya.
Disamping itu, minimnya fasilitas yang dimiliki siswa menjadi kendala utama dalam proses pembelajaran Dalam Jaringan (Daring). . “Kendala dalam pembelajaran daring tak hanya dari tugas dan pekerjaaan rumah yang membebani siswa. Masih banyak siswa yang tidak memiliki handphone,” Tuturnya. . Senada dengan Warek III, Wakil Ketua Dewan Mahasiswa Fakultas (DEMA-F) Tarbiyah dan Keguruan Fara Apriyanti menyatakan, Tantangan dalam proses pembelajaran secara Daring terbatasnya gawai yang dimiliki Guru dan siswa. . “Tantangan dalam melaksanakan pembelajaran secara daring, masih banyak guru dan siswa yang mempunyai keterbatasan dari sisi akses internet maupun pemanfaatan gawai yang dimiliki. Kemandirian siswa dalam belajar dirumah pun tidak sepenuhnya dilakukan dengan baik,” Terangnya. . Selanjutnya, ia memberikan apresiasi kepada DEMA-U yang telah memfasilitasi ruang untuk berdiskusi. Semoga dilain waktu kita dapat berdiskusi langsung dengan Gubernur Banten dan Walikota Serang. [Mg. Zahra/Nada/SiGMA]
Sohibudin Ardiansyah (20), sosok laki-laki yang bertempat tinggal di Desa Malangsari, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Lebak, Banten, sejak kecil ia sudah dididik keagamaan oleh orangtuanya. Hingga, ia memperoleh banyak kejuaran di tinggkat Provinsi. Pada tahun 2020 ini Bray panggilan akrabnya, dalam Lomba Qiroatul Kutub MTQ Provinsi Banten, ia berhasil mendapat Juara Ke-2. Qiroatul Kutub merupakan pelajaran yang mengajarkan bagaimana seorang murid bisa membaca kitab gundul.
Tentu dalam memperoleh itu semua pasti melalui proses yang panjang. Berawal sejak tahun 20.. tepatnya kelas 4 Sekolah Dasar (SD), ia sudah memasuki Pondok Pesantren RiyadhulMubtadiin yang bertempat di Cipanas, Lebak, Banten. Bahkan hingga saat ini ia menjadi Mahasiswa di Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten, SohibudinMasih berada di lingkungan Pondok Pesantren.
Sohibudin mempunyai hobi membaca kitab-kitab kuning untuk menambah wawasan hukum dan melatih diri tentang penerapan Ilmu Nahwu Shorof pada kitab. Ketika waktu luang ia sering mengisinya dengan berbagai kegiatan positif, namun kebanyakan waktu luangnya disempatkan untuk Muroja’ah kitab-kitab Nahwu Shorof seperti Hijrijurumiyah, Nadzhom maksud, Aliyah dan Ibnu Malik. Ia mempunyai prinsip seperti hadist nabi yaitu “uthlubul ilma minal mahdi ilal lahdi” tunggulah ilmu dari mulai buaian hingga kelianglahat. “saya selalu niatkan untuk berjihad dan berbagi ilmu dengan yang lain tanpa ada dalam hati niat untuk mengungguli orang lain” ungkapnya.
Perjalanan Karir
Sohibudin memulai karir kitabnya ketika kelas 2 Madrasah Tsanawiyah (MTS) yang setara dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP), ia pernah mengikuti lomba tingkat Kecamatan yang berada di daerah Lebak. “saya pernah ikut lomba tingkat kecamatan di daerah saya ketika kelas 2 MTS dengan kitab Riyadhul Badiah dan mendapatkan juara pertama, pokonya setiap tahun selalu ikut event QiroatulKutub” Jelas Sohibudin, dalam wawancara melalui whatsapp, rabu, 4 november 2020.
Kejuaran lain yang berhasil Sohibudin raih yaitu, lomba Kompetisi Sains Madrasah (KSM) yang diadakan oleh Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Lebak Rangkasbitung pada tahun 2017 dan mendapatkan Juara Ketiga, Selanjutnya KSM yang diadakan di MAN 2 Lebak, Tingkat Kabupaten yang ada di Bayah pada tahun 2018. Puncaknya ia mendapatkan Juara Pertama yaitu ditingkat provinsi pada tahun 2018 yang diadakan di MAN 1 Kabupaten Serang.
Ketika ingin berproses raihlah proses itu secara tinggi, raihlah impian secara tinggi supaya kita itu semangat untuk meraihnya. Dan yang terpenting ketika kita berproses, jika kita sudah mencapai impian kita hilangkan rasa ingin dan hilangkan rasa akan dalam artian jangan menjadi orang yang perasa namun tetap rendahkan hati rendahkan diri. Jangan merasa semuanya itu milik kita, jangan merasa kita itu yang paling pintar, jangan merasa kita yang paling segalanya. Ketika ingin meraih sesuatu raihlah dengan rasa ikhlas penuh dengan ketawaduan niscaya Insyaallah impian kita akan tercapai. [Mg.Tya/SiGMA]
Siang ini akan menjadi hari yang bersejarah dalam hidup seorang gadis yang bernama Sicilia, ia Mahasiswa di salah satu Universitas yang ada di Indonesia.
“Sic, kantin yuk!” Ajak Mira teman dekatnya.
“Duluan Mir, gua ada urusan bentar,” jawabnya cepat.
“Mau kemana lu?” Tanya Mira.
“Kebelet,” jawab Sicilia asal.
“Kebelet pipis apa nikah?” celetuk Risa yang sendari tadi berdiri di ambang pintu menunggu teman-temannya.
“Dua-duanya oke, biar jadi paket komplit, enak,” jawab Sicila terkekeh.
“Bener nih ditinggal?” Mira memastikan.
“Iya Mir, sorry ya!”
Setelah pundak temannya tak terlihat lagi Sicila segera keluar kelas, hari ini ia akan bertemu dengan orang yang selama ini ia cintai.
“Sic,” satu pesan mendarat dari On-Gia.
“Iya bentar lagi dijalan,” balasnya cepat.
“Takutnya kamu amnesia atau phobia.” Sicilia tersenyum saat membaca jawaban pesan dari On-Gia “Tidak akan mungkin, Gi,” gumanya dalam hati.
Ia sedikit berlari karena tak sabar akan perjumpaan langka itu, sampai-sampai ia menabrak salah satu mahasiswa,”Bruuu….k.”
“Eh sorry!!” Ucap Sicilia kelapakan.
“Kalo jalan pake mata dong!!” Lelaki berkacamata itu menatap tajam ke arah Sicilia.
“Iya maaf ya, mataku sudah buta karenanya, hehe…” Sicilia berkata pelan seperti berbisik pada dirinya sendiri, tapi ternyata suaranya tetap terdengar oleh pemilik buku itu.
“Udah salah, ngebucin lagi,” bentaknya.
“Eeeee… beneran maaf banget, aku gak sengaja, serius!”Ucap Sicilia, ia menempelkan kedua tangannya seperti orang yang sedang memohon.
Dengan cepat, Sicilia mengumpulkan buku-buku yang beserakan di lantai lalu memberikan buku itu pada lelaki yang berdiri mematung di hadapannya. Sicilia tersenyum kecut dan meninggalkan lelaki itu, ia tetap berlari sambil mengangkat jari telunjuk dan tengah dengan menggambarkan huruf V dalam arti mengajak damai.
Setelah menuruni puluhan anak tangga karena lift sedang bermasalah, lalu menerbos beberapa lorong bangunan akhirnya ia sampai di Taman Belakang Kampus (TBP), tempat favorit lelaki yang akan ia temui karena TBP tempat paling aman untuk mengasingkan diri dari hiruk pikuknya dunia kampus. Sicilia gugup saat ia yakin bahwa lelaki itu benar-benar manusia yang selama ini ia cintai. Ia diam sejenak, menarik nafas dalam-dalam lalu menatap lelaki itu dari kejuhan, hati Sicilia bagaikan drumband yang sedang di pukul dag dig dug, detak jantungnya pun tak teratur. Ketika kekuatannya sudah terkumpul, iamelangkahkan kaki mendekati seorang lelaki yang sedang duduk dengan beberapa judul buku.
“Hey, selamat….” Sicila belum selesai merangkai kalimat yang akan di ucapkan, namun lelaki yang berambut ikal itu dengan cepat melanjutkan kalimatnya.
“….Selamat datang,” sambung Gian, Sicilia tersipu malu.
“Gimana kabarnya?” Tanya Sicilia.
“Duduk aja belum udah nanya kabar, rajin banget,” ucap Gian tanpa memandang ke arah Sicilia.
“Ah dasar Gian selalu saja aneh,” Sicilia menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya tepat saat ia duduk di samping Gian. “Kenapa kamu selalu aneh, Gi?” tanyanya.
“Kenapa aku harus gak aneh, Sic?” bukannya menjawab, Gian malah balik bertanya membuat Sicila salah tingkah dibuatnya.
“Tuhan, jika pertemuan ini hanya akan membuat rumit pikiran dan hidupku dengan semua perkataan dan tingkah laku Gian, lebih baik aku tak di pertemukan meskipun rindu ini nyata adanya,” Sicilia tertunduk, bergumandalam hati.
Saat Gian menyadari Sicilia diam, akhirnya ia pun menjawab dengan nada bicara yang datar seperti memberi penjelasan “Sic, kalo gak aneh bukan aku.”
“Kalo bukan kamu berarti gak aneh,” timpal Sicilia.
“Nah, itu tahu,” jelas Gian.
Siang itu cuaca sangat bagus, langit biru yang dihiasi dengan gumpalan awan nan indah semakin mempercantik keadaan alam. Dua makhluk ciptaan Tuhan terdiam, keduanya pura-pura fokus dengan buku yang kini mereka baca. Raga mereka memang sedang berdampingan namun pikirannya nan jauh disana menjelajahi dunia masing-masing. Sicilia dihantui bayangkan masa lalu, Gian membayangkan kehidupan di masa depan.
“Gi,” ucap Sicila pelan, matanya masih tertuju pada buku.
“Aku disini,” jawab Gian sama pelannya.
“Tumben….” Sicilia seperti ingin mengatakan sesuatu.
”Kenapa?” tanya Gian, sedikit memalingkan wajah pada Sicilia.
”Es batunya udah meleleh ya, Gi?” Sicilia bertanya dengan sangat hati-hati.
“Mugkin iya, mungkin enggak,” jelas Gian.
“Oh, gitu,” Sicilia mengangguk-angguk. Anggukan menghargai meski sejujurnya itu tanda tak faham.
Semesta kembali sunyi, mengajak mereka diam. Diam-diam Gian memperhatikan rambut Sicilia yang sesekali terterpa angin. “Dia, tak cantik!” tegas Gian dalam hati.Diam-diam juga Sicilia berguman “Gian, am under your spell.”
“Sudah jam satu, Sic.” Gian yang sendari tadi diam berupaya membuyarkan lamunan Sicilia, sekaligus mengingatkan.
“Iya, aku punya jam kok,” jawab Sicila sambil memperlihatkan jam perak yang ia kenakan di tangan kanannya.
“Mau masuk?” tanyanya.
“Apa lanjut ngobrol?” Sicilia balik bertanya dengan santai.
“Wah… udah berani bolos ya,” ucap Gian terkekeh.
“Diajarin kamu,” Sicilia membela.
“Perempuan selalu benar,” sindir Gian yang pandangannya kembali berpura-pura fokus pada buku yang tebalnya sekitar 500 halaman itu.
“Bagi para lelaki yang kehabisan akal,” Sicila menimpali sindiran Gian.
“Nyindir?” tanya Gian.
“Kamu merasa?” Sicilia tak kehabisan kata untuk menyekak perkataan Gian.
Gian diam, Sicilia juga sama, hening dalam keramaian. Mereka tidak tahu keheningan itu pertanda kebahagiaan atau malah salah satu cara menyapa kesedihan. Mahasiswa satu persatu kembali ke kelasnya masing-masing. Hanya tersisa mereka berdua di taman belakang perpustakaan.
“Sic, kenapa kamu mau diajak ketemu?” tanya Gian tiba-tiba.
“Kenapa kamu malah ngajak? Timpal Sicilia.
“Kamu sekarang suka membalik-balikan ya.” Gian terkekeh.
“Asal tidak membalikan perasaan pada tempat yang salah, hahaha…” Sicilia tertawa lepas, seakan dia puas dengan apa yang telah ia ucapkan.
“Dasar bucin, kebanyakan makan micin,” Kata Gian sambil tersenyum kecut.
“Dari dulu dong,” jawab Sicilia bangga, namun ia langsung diam saat sadar suaranya begitu keras.
“Dulu, aku gak tau kalo dulu,” sanggah Gian.
“Iya, hanya aku dan Tuhan yang tau,” Sicilia menimpali.
#DULU
Empat tahun lalu, di pusat kota, di salah satu SMA terkenal, Sicilia melanjutkan Sekolah. Meski hanya SMA dan terdengar biasa saja tapi banyak sekali siswa pendatang yang berjodoh dengan sekolah itu, tak terkecuali dengan Gian. Lelaki unik dan cenderung aneh, ia hobi menghabiskan waktunya dengan memikirkan dan melakukan sesuatu yang tidak pernah terbesit di pikiran orang lain. Terlihat sangat introvert meski aslinya ia layak disebut ekstrovert karena meskipun cover sikapnya yang pendiam, diam-diam ia seorang provokator yang mampu membuat teman-temannya tunduk. Jika sudah berbuat ulah, tak satupun mampu merendam kelakuan buruknya itu.
Pernah suatu hari ia berencana memutuskan tali yang ada pada tiang bendera, dan tak disangka idenya berhasil berkat bantuan teman-temannya. Alasannya sangat simpel, ia tak ingin ikut upacara bendera, yang menurutnya membosankan. Selain itu, ia juga pernah menentang guru Matematika bersama beberapa temannya, guru itu sangat marah dan puncaknya menangis lalu mengadu pada kepala sekolah.
Mereka semua dipanggil, Gian sebagai provokator mendapat perlakuan yang paling kasar dari kepala sekolah dan guru Matematika dengan penuh kejengkelan menatap sinis ke arahnya, lalu berkata “Gian, orang seperti kamu tidak akan sukses!” Mendengar ucapan gurunya, Gian melontarkan kata “sejak kapan kalian jadi Tuhan?” lalu ia meninggalkan tempat itu tanpa menunggu jawaban.
Keesokan paginya, Raju memberikan secarik kertas pada Gian “Rangkum buku Matematika 1 buku fulllllllllllll tanpa cacat, tanpa kelewat!!!!!!”
“Dari siapa, Ju?” tanya Gian.
“Bu, Sri,” jawab Raju, singkat.
Sepulang sekolah, tak biasanya Gian duduk di depan kelas 10, di dalam kelas sana ada bu Sri. Saat anak-anak berhamburan keluar, ia menyusup masuk dan menemui bu Sri, ia meminta maaf atas kesalahan yang telah ia perbuat. Dengan senang hati bu Sri memaafkannya.
“Bu, apa benar saya harus merangkum buku Matematika setebal itu?” tanya Gian sambil memperlihatkan buku dengan tebal sekitar 600 halaman.
“Iya, Gi,” tegas bu Sri.
”Apakah hukuman Allah untuk orang yang telah bertobat tetap sama?” tanya Gian lagi, Bu Sri cukup lama terdiam saat mendengar pertanyaan Gian yang tak pernah terbesit dipikirannya.
“Baiklah Gian, Ibu mengerti maksud kamu, silahkan kamu rangkum 1 BAB saja,” jelas bu Sri sambil terkekeh.
“Nah… begitu dong, terimakasih, bu.” Gian tersenyum, senyum yang jarang sekali diperlihatkan kepada khalayak banyak.
“Oiya Bu, jangan bilang-bilang ke yang lain kalo saya menemui ibu. ini rahasia kita, janji ya, bu!” ucap Gian dengan wajah serius, Bu Sri hanya tersenyum dan mengangguk.
“Saya pamit,” ucap Gian, menyalami dan meninggalkan Bu Sri.
“Anak aneh,” guman bu Sri sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Begitulah Gian, di hadapan semua orang ia selalu menunjukan segala keburukannya. Dengan sangat sengaja ia juga sering menentang kebijakan kepala sekolah atau beberapa guru yang tidak sependapat dengannya, seperti kasus yang tadi. Selain menemui gurunya langsung, biasanya ia juga mengirim tulisan dalam bentuk kertas yang isinya adalah sebuah kritikan, lalu ia akan menempelkannya di Mading Mamluk yang berada di area sekolah dengan menitipkan kepada siapa saja yang ia temui.
Dibalik semua kelakuan buruknya, lelaki yang terkenal pendiam itu diam-diam juga berupaya sekeras tenaga menyimpan semua kebaikan yang ia lakukan. Gian ternyata sangat rajin belajar bahkan setara dengan manusia kutu buku diluaran sana. Selain itu ia juga pandai membaca Qur’an bahkan pernah menjadi juara MTQ tingkat Provinsi. ia sering mengikuti kajian dan termasuk salah satu siswa yang sangat cerdas bahkan melebihi beberapa guru yang ada disana. Gian menguasai berbagai macam ilmu, kecuali yang berhubungan dengan hitung-hitungan.
Sikap Gian yang seperti itu jarang sekali diketahui oleh orang-orang disekitarnya, kecuali oleh mereka yang ingin mengenalnya lebih dalam, termasuk Sicilia.
Sicilia jatuh hati padanya saat ia tau jika Gian seorang kutu buku, dan Sicilia dibuat menjadi kutu buku karenanya, meski tanpa kata dan aba-aba. Kemanapun Gian pergi, buku tak pernah lepas dari genggamannya.
Suatu hari Gian ditanya oelh salah satu temannya “Gian, kenapa kamu selalu bawa buku?”
“Kenapa saya harus menjawab pertanyaan kamu?” Jawab Gian santai, membalikan pertanyaan.
Orang yang bertanya itu hanya menggelengkan kepala lalu pergi begitu saja, sepertinya ia sudah faham dengan sikap dan sifat yang melekat pada diri Gian.
Beberapa perempuan yang mengenal Gian lebih dalam akan selalu jatuh hati padanya, termasuk Sicilia yang amat terkenal sangat mencintainya. Meskipun Gian bersikap dingin, sepertinya ia akan terus yakin jika ia akan mampu mersanding dengannya.
Dimanapun, Sicilia hanya berbicara tentang kebaikan Gian, terutama pada teman sekelasnya. Entah itu benar nyatanya atau ia sulap keburukannya menjadi kebaikan.
“Sic, gak ada topik gitu selain Gian? Gian lagi, Gian terus, Gian… Gian. Gian… jangan-jangan kamu suka dia?” grutu Amey teman sebangkunya.
“Engga kok biasa aja, kenapa emang?” sanggah Sicilia.
“Sering banget gitu,” timpal Amey yang mulai terlihat kesal.
“Eh Mey, dari pada kita ngomongin kejelekan orang, lebih baik kebaikannya. Iya gak?” jawab Sicilia, menunggu persetujuan.
“Sic, kamu tau gak kalo dia sering banget dapet hukuman?” tanya Amey lagi
“Tau dong, dan kamu harus tau tidak semua yang dihukum itu salah,” Sicilia bersikukuh membela Gian.
“Dan orang yang jatuh cinta selalu dibutakan,” celetuk Lala yang tiba-tiba ikut nimbrung.
“Kamu beneran suka dia?” Tanya Amey dengan sangat polos.
“Gak, biasa aja kata aku juga, cuma dia tuh unik.”
“Mana ada maling ngaku, iya gak?” Lala semakin memojokan Sicilia, lalu mereka tertawa.
Semakin hari, perihal Sicilia mencintai Gian semakin ramai dibicarakan, bahkan sampai ke telinga beberapa guru muda. Tak sedikit orang yang dengan sengaja mengatakan hal itu langsung di depan Gian, namun ia tak pernah peduli. Gian juga tau jika beberapa guru seringsekali menyinggungnya dan ia malah menunjukan rasa kesal yang amat dalam.
Sebetulnya, Gian dan Sicilia sering chat lewat Massager, namun untuk berbincang secara langsung hanya terjadi sekitar 4-5 kali saja dalam kurun waktu 3 tahun, itu pun dalam keadaan urgent. Oleh karena itu, pertemuan hari ini sangat spesial bagi seorang Sicilia.
#Sekarang
“Gi, kamu masih ingat gak kalo dulu pernah mutusin tali di tiang bendera biar gak jadi upacara?” tanya Sicila, sedikit mengenang masa sekolahnya.
Gian terkejut, “Dari mana kamu tau?”
“Aku tau semua tentangmu,” jelas Sicilia.
“Dasar kepo,” ucap Gian, datar.
“Itu dulu, kepo itu wajar bagi mereka yang sedang dilanda ci….”
“….Cicak-cikcak di dinding,” potong Gian mengalihkan, Sicilia tertawa.
“Eh kamu sadar gak, kalo dulu kamu itu aneh?” tanyaSicilia.
“Oke masih joking nih, ya.” Ucap Sicilia dengan nada yang sedikit kesal.
“Mau serius?” tanya Gian, menatap Sicilia.
“Kenapa harus serius, kalo becanda lebih mencairkan suasana,” jawab Sicilia.
“Nah, pinter!” Gian memuji sekaligus merendahkan Sicilia.
“Gi, tapi aku beneran heran, kenapa dulu banyak perempuan yang suka sama kamu dan kamu selalu dibanggakan banyak orang sebetulnya sih oleh diriku juga. Pedahal aku tau kalo kamu biasa saja, malah cenderung brutal, kenapa, Gi?” tanya SIicilia.
“Aku lebih heran,” jawabnya simpel dan datar.
“Apalagi kalo kamu sudah menentang kepala sekolah, kadang aku tak habis pikir kenapa orang secerdas kamu bisa melakukan itu,” kini obrolan mereka mulai mencair.
“Sebetulnya aku juga heran sama kamu, kenapa setiap kali tali ditarik, kamu selalu ngulur?” Gian terkekeh.
“Karena kalo pendek gak asik,” Jawab Sicilia asal, mereka diam sejenak.
“Sicilia, aku ingin bertanya,” Ucap Gian dengan sangat serius.
“Nanya aja, feel free kok,” Sicilia mempersilahkan.
“Kenapa kalo aku narik kamu selalu ngulur?” tanya Gian dengan nada yang sangat lembut.
“Kan sudah aku jawab, kalo pendek gak asik.”
“Sicilia, aku serius!”
Lelaki yang bernama Gian itu menatap tajam ke arah Sicilia, ia menutup buku yang sendari tadi ia baca, seakan menunggu jawaban yang akan Sicila berikan. Sicilia tertunduk, ia kesal kenapa harus dalam situasi seperti ini Gian bertanya tentang hal itu. Memori tentang masa kelam kembali memenuhi pikirannya.
“Jelasin dulu maksudnya!” pinta Sicilia.
“Sic, aku tahu kamu engga bodoh,” tegas Gian, Sicilia semakin diam, terlalu sakit untuk di ingat.
“Sic, aku tanya loh,” Gian menepuk pundak Sicilia dengan buku.
“Gian, siapa yang mampu menghindar dari cinta?” Sicila balik bertanya. Namun Gian tetap diam karena ia tau Sicila akan melanjutkan perkataannya.
“Dulu, kacamataku buta akan semua keburukanmu, aku hanya memakai kacamata kebaikan tentang dirimu. Dulu aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Tapi, sekarang aku tidak begitu yakin bahwa itu adalah cinta…” Sicilia menghela nafas “…Karena dulu aku hanya ingin kamu jadi milikku, tanpa peduli kebahagiaanmu, tanpa berpikir perasaanmu. Menurutmu apa itu cinta?” tanya Sicilia.
Gian terdiam mencerna kata demi kata yang Sicilia ucapkan.
“Makasih udah mau jujur,” kata Gian sambil tersenyum.
“Jujur doang gak repot kok,” jawab Sicilia lega.
“Sicilia, mungkin ini bukan berita atau informasi penting, tapi sepertinya aku harus mengucapkan hal ini,” sepanjang yang Sicilia tau baru kali ini Gian memperlihatkan mimik sangat serius ketika akanberbicara.
“Sejak dulu, aku tau kalo kamu suka aku, temankubanyak yang ngasih kode dan tak sedikit juga yang bilang langsung. Aku peka, aku tahu bahkan aku juga faham,tapi aku selalu diam seakan telingaku tuli, seakan pandanganku buta, but actually I feel what you feel…” Gian menghela nafas panjang “…Sicilia, mungkin kamu harus tau, dulu aku punya mood sendiri yang seolah-olah aku sendiri aja gak bisa ngaturnya, sampai akhirnya aku menjauh, aku gak mau buat goresan di lembaran orang lain, apalagi terlalu dalam. Betapa sangat pecundangnya aku jika membuat goresan pada hati seorang wanita hanya karena mood dalam diriku. Sic, intinya waktu itu aku gamau kamu sakit hati karena aku,” jelas Gian.
#Dulu
Malam itu udara tak begitu dingin, tapi badan Siciliamenggigil hebat. Ia yang kala itu tinggal di kosan meminta salah satu temannya untuk datang ke kamar.
“What happen, Sic?” ucap Rere sambil membuka pintu.
“Tau nih dingin, kayanya masuk angin,” jawab Sicilia.
“Gila emang, pake acara masukin angin segala.”
“Emangnya ini mau gua, aneh lu,” Sicilia mendumel.
“Ini apaan?” Tanya Rere, mengambil selembar kertassambil sibuk mengunyah keripik.
“Kertas,” jawab Sicilia sengan malas.
“Gua juga tau kali, ya maksud gua ini kertas surat buat siapa? Kok pake tinta merah gini???” tanya Rere dengan kesal.
“Bisa baca, kan?” Singgung Sicilia.
“Dasar lu ya, lagi sakit juga masih bisa ngatain gitu.”
“Gak usah banyak tanya makanya.”
Rere sahabat kecil Sicilia. Hanya saja saat duduk di bangku SMA mereka beda kelas karena mengambil periodi yang berbeda.
“Ini gilaaaa……….” teriak Rere.
“Re, malem! Mulutmu itu gak bisa di kontrol,” Kedua tangan Sicillila menutup rapat mulut Rere yang masih mengaga.
“Sakit, boi!!” ucap Rere sambil berusaha melepaskan tangan Sicilia.
“Lu sih….”
“Haha sorry alias maaf,” Rere mengangkat dua jarinya dengan membentuk huruf V.
“Beliin obat dong,” pinta Sicilia.
“Obat? Gak usah. Gua tau lu sakit bukan karena demam, tapi lu sakit karena terlalu mengharapkan si Gian itu kan?” sindir Rere.
“Apaan sih? Cepetan beliin obat, pengen tidur nih,” Sicilia mulai kesal dengan kelakuan Rere.
“Mata lu sembab, kayanya lu abis nangis ya?” Goda Rere.
“Rere……..” Sicila memeluk perempuan yang bernama Rere itu, ia menangis sesegukan.
“Yah nangis, cemen lu kaya bukan Sicilia tralalalalalala aja,” Rere berusaha menghibur sahabat kecilnya itu.
“Re, kali ini gua beneran suka, gak main-main,” ucap Sicilia dalam tangis.
“Ya lu gitu, Gian sebaliknya, susah Sic, realita emang gak seindah khayalan kita.”
Mendengar penjelasan Rere, tangis Sicilia semakin pecah. Selang beberapa menit ia berusaha tegar kembali sebagaimana biasanya.
“Gamalu nangis?” Tanya Rere memojokan.
“Hahaha, jahat lu Re….” Satu bantal terbang dan mendarat di wajah Rere.
“Jijik banget gua, sejak gua kenal lu di bangku TK, baru kali ini deh gua liat lu kaya manusia asing di depan gua,” ucap Rere dengan heran.
“Iya Re, lu juga harus tau, baru kali ini gua bener-bener suka sama orang,” jelasnya.
#Sekarang
“Bagus Gi, kamu mengambil jalan yang tepat. Andai saja kamu mengambil jalan yang lain, mungkin aku semakin terpuruk karenamu.” Sicilia berusaha tersenyum, pedahal ia diam-diam menahan tangis yang sebentar lagi akan tumpah.
“Ya, begitu,” ucap Gian.
“Dulu, aku pernah demam gara-gara kesal dengan semua sikap kamu, badanku menggigil, Aku menulis panjang dengan linang air mata dan hanya Rere yang tau tentang hal itu,” ucap Sicilia sambil mengenang kejadian pahit itu, sebetulnya ia sudah mengubur semua kenangan itu, namun keadaan memaksanya untuk menggali kembali.
“Nah, baru segitu sudah tergores, gimana kalo lebih dalam, iya kan?” tanya Gian.
“Iya, Gi.”
Sicilia tersenyum mendengar semua penjelasan itu, ternyata selama ini cintanya tidak bertepuk sebelah tangan, hanya saja orang yang ia cintai takut melukai hatinya, bukankah itu lebih baik?
“Kamu mau kemana?” Tanya Gian saat melihat Sicilia beranjak dari duduknya.
“Ke kelas,” jawanya polos.
“Lima menit lagi keluar,” Gian mengingatkan.
“Iya kah?” tanya Sicilia.
“Udah, duduk lagi!” pinta Gian.
“Eh, tapi itu…”
“Apa?” tanya Gian.
“Tasku,” jelas Sicilia.
“Minta tolong Mira aja,” kata Gian.
“Haha iya, ide bagus,” timpal Sicilia.
Sicilila segera fokus ke layar hape, mencari kontak Mira dan segera mengirimkan pesan.
“Sic,” ucap Gian yang kini sudah kembali berdansa dengan bukunya.
“Baik,”
“Kamu masih suka aku?” tanya Gian.
“Kalo iya, kenapa? Kalo enggak, kenapa?” Sicilia balik bertanya.
“Jawab dulu pertanyaanku bukan balik bertanya, ga sopan itu.” Gian menyimpan bukunya kedalam tas.
“Haha, iya,” jawab Sicilia.
“Iya apa?” tanya Gian.
“Apa aja yang perlu di iyakan,” jawab Sicilia.
“Iya suka kan?” tanya Gian, memastikan.
“Iya,” Jawab Sicilia dengan santai.
“Alhamdulillah,” ucap Gian sambil mengelus dadanya.
“Kenapa emang Gi?” kini bagian Sicilia yang bertanya.
“Aku juga suka kamu dari dulu, dan sekarang waktu yang tepat untuk mengutarakannya,” jelas Gian.
“Suka doang, repot banget sih,” ucap Sicilia dengan raut wajah santai meski dalam hatinya tak ada kesantaian sedikit pun. Ingin sekali rasanya segera ketemu Rere dan menceritakan tentang semua itu.
“Kita menjalin hubungan yang lebih serius ya,” ajak Gian.
“Aku sih….” Sicilia mencari kalimat yang tepat.
“Sic….” ucap Gian lembut.
“Sic….” ucap Gian mendekat.
“Sic….” ucap Gian menunggu jawaban. Namun Sicilia masih diam, ia tertunduk.
“Sicilila, bagaimana???” tanya Gian.
“Gian, dengarkan aku baik-baik untuk kali ini saja,” pinta Sicilia, ia menatap tajam wajah Gian “Gi, mencintai bukan untuk saling memiliki, belajarlah untuk sampai pada puncak cinta yaitu ikhlas, kabahagiaan orang yang kita cinta lebih penting dari pada status itu sendiri. Aku mencintaimu, dulu, sekarang dan mungkin sampai masa yang akan datang, tapi aku tak bisa menjalin hubungan serius denganmu karena aku dan kamu akan tetap menjadi diri masing-masing meski dalam kategori kita. Kecuali takdir kita memang berjodoh dan itu sekenarionya sudah Tuhan siapkan.” Jelas Sicilia.
Gian terdiam lesu, hatinya patah, sepatah-patahnya, Meski begitu, ia masih mampu memberikan senyuman pada Siclia, senyuman yang selama ini Sicilia tunggu.
“Terimakasih Sic, kamu baik, “ ucap Gian, menahan air mata yang akan tumpah.
“Kamu juga, Gi,” Sicilia lalu pamit untuk pulang.
(Puncak cinta itu ikhlas, cinta itu Rahwana pada Sinta, Umbu pada kekasihnya seperti bulan pada malam).
Fransiskus Xaverius Seda Seso, atau yang akrab dipanggil dengan nama Frandy aktif sebagai Ketua Pemuda Katolik Serang. Frandy bercerita bahwa hingga kini jemaat Katolik di Cilegon kesulitan mendirikan gereja yang dapat dijadikan tempat ibadah.
Meskipun, disampaikan Frandy, stasi Cilegon memiliki gedung serba guna yang digunakan jemaat. Gedung serba guna yang sudah memiliki izin mendirikan bangunan (IMB) itu berada tepat di Sekolah Mardiana, Kecamatan Jombang.
“Gedung itu untuk kegiatan keagamaan, masyarakat sekitar ngelarang dijadikan gereja,” tambahnya.
Penolakan keras dari masyarakat terhadap pendirian gereja Katolik mungkin bisa jadi gambaran pembenaran hasil survey yang dilakukan oleh Setara Institute, seperti dilansir dari tempo.co, yang menyebutkan bahwa Kota Cilegon adalah kota paling intoleran di urutan ke-empat seluruh Indonesia. Ini tentu saja bukan peringkat yang mambanggakan mengingat masyarakat Cilegon sejatinya sangat beragam dengan agama dan suku berbeda. Apalagi kondisinya sebagai kota industri, Cilegon kerap kedatangan pendatang dari mana saja.
Bagi Frandy ada indikasi historis sejarah yang memengaruhi mengapa sikap masyarakat sulit menerima keberadaan masyarakat beda agama di Cilegon. Diceritakan bahwa dulu sekali pernah ada perjanjian antar-ulama di sana. Tujuan perjanjian itu adalah selain umat Islam, tidak diperbolehkan masyarakat lain mendirikan rumah ibadah di Cilegon.
“Perjanjiannya sudah berlangsung selama puluhan tahun hingga sekarang ini. Masyarakat banyak yang meyakininya,” imbuh pemuda kelahiran dari tanah Flores yang kini tinggal di Banten.
Hingga kini Frandy sampaikan bahwa umat Katolik di Cilegon masih kesulitan mendirikan rumah ibadah dikarenakan penolakan masyarakat sekitar. Bahkan menurutnya pemerintah Kota Cilegon juga tidak mampu memediasi antara kebutuhan akan rumah ibadah dengan masyarakat sekitar.
“Diupayakan secara persuasif tapi masyarakat masih menolak, tidak menerima perbedaan,” sahutnya.
Kota Cilegon sendiri memiliki populasi jemaat Katolik paling banyak di wilayah Banten Barat dengan total kurang lebih 3.000 jiwa. Namun, hingga kini kegiatan keagamaan mereka selalu dilakukan di gedung serba guna bekas sebuahsekolah.
“Sebenarnya untuk Stasi Cilegon melihat infratruktur, jumlah umat dan bangunan sudah siap dijadikan Paroki, namun masyarakat menolak, tidak memperbolehkan ada pendirian rumah ibadah,” cerita Frandy.
Padahal kalau melihat jauh ke dalam sejarah, keberadaan umat Katolik di Banten sebenarnya sudah ada sejak 1930. Hal ini dapat dilihat dari keberadaan gereja Katolik yang sudah ada di sisi lain Banten, Rangkasbitung dan Serang.
Apa yang dialami umat Katolik dengan terkendalanya pembangunan gereja mereka, kondisi yang berbeda terjadi di selatan Banten, yaitu Rangkasbitung. Romo Toto nurbeus Trisapto bercerita banyak tentang bahwa di Rangkasbitung ada sebuah gereja Katolik yang sudah berdiri dan memiliki izin. Pun interaksi dengan masyarakat sekitar terjalin dengan baik.
“Interaksinya hingga sekarang harmonis, masih guyub sejak ratusan tahun lalu hingga sekarang,” tambahnya.
Ditambahkan Romo Toto dulu jemaat gereja adalah pendatang yang bekerja di wilayah tersebut. Kini banyak jemaat yang terlibat dalam pekerjaan sosial untuk kemanusiaan di Rangkasbitung. Seperti turut membantu dalam pembangunan rumah sakit dan memberikan pelayanan kesehatan.
“Hal ini yang membuat jadi masyarakat saling berbaur, masyarakat di luar jemaat juga menerima dengan baik. Tetap menjaga nilai-nilai kebhinekaan lah hingga saat ini,” sahutnya.
Menjaga kerukunan antarumat beragama dan bermasyarakat, itulah yang selalu diupayakan oleh Ferdinand, jemaat Gereja Kristen Indonesia (GKI) Serang. Dikarenakan keaktifannya tersebut ia kerap terlibat dalam pembangunan gereja Katolik di wilayah itu, termasuk pembangunan gereja di Cilegon.
Ferdinand menceritakan bahwa kesulitan membangun rumah ibadah juga dirasakan oleh umat Protestan di Cilegon. Disampaikannya hingga ini masyarakat di Cilegon sulit menerima kehadiran umat Kristiani. Dulu sudah pernah dilakukan koordinasi dengan masyarakat sekitar untuk rencana pembangunan gereja.
“Sudah ngobrol, koordinasi, namun ada yang provokasi jadinya rencananya dibatalkan karena alasan perizinan, padahal sudah koordinasi dengan pemkot juga,” tambahnya.
Kondisi tersebut terjadi hingga pada hari ini dan upaya-upaya guna menumbuhkan nilai keberagaman di tengah masyarakat masih terus digencarkan oleh Ferdinand melalui gerakan keberagaman bersama komunitas Gusdurian Banten.
“Ya, saya kemana ajah masuk bareng temen-temen Gusdurian, ini bagian upaya saya untuk mewujudkan makna Bhineka Tunggal Ika yang sesungguhnya,” ujar kang Ferdinand penuh harap.
Sementara itu, Director Human Rights Working Group (HRWG) Daniel Awirga, melihat kondisi masyarakat Cilegon saat ini dikarenakan dipicu oleh peraturan yang tertuang dalam Surat Keterangan Bersama (SKB) 3 Menteri soal pendirian rumah ibadah.
Bagi Aigra, peraturan itu sendiri diskriminatif dan tidak memberikan hak untuk melakukan peribadatan bagi seluruh pemeluk agama. Dalam kasus yang terjadi di Kota Cilegon, hal tersebut bisa dilihat bahwa untuk mendirikan rumah ibadah membutuhkan izin dari kelompok yang sama-sama masyarakat.
Awigra menjelaskan, secara terminology, izin itu dilakukan atas dasar kegiatan tersebut tidak boleh dilakukan, maka dari itu harus ada izin. Sedangkan soal melakukan kegiatan keagaman itu hak tiap penganut agama yang diberikan secara penuh oleh negara. Artinya SKB 3 Menteri tidak menjamin kebebasan beragama dan beribadah seluruh warga.
“Izin itu kalau secara terminolgi, itu kan sesuatu yang gak boleh kemudian dia minta izin baru dikasih izin, jadi isi peraturan SKB tiga menteri itu adalah sarang atau pun musuh bersama dari sulitnya mendirikan rumah ibadah,” jelasnya.
Dengan melihat kondisi kehidupan bermasyarakat berbeda agama di Cilegon dan Banten secara keseluruhan, Frandy berharapagar pemerintah daerah dapat menjembatani dan memediasi kebutuhan seluruh masyarakat umat beragama. Pemerintah juga harus mensosialisasikan tentang nilai-nilai keberagaman dengan turun langsung ke masyarakat dan melibatkan organisasi lintas agama supaya nilai-nilai kemajemukan dapat diterima.
“Untuk anak-anak muda, semoga dapat menebar kesejukan dengan karya-karya yang dibuat, untuk menciptkan toleransi antar umat beragama,” pintanya.
Hal ini juga diamini oleh Ferdinand. Menurutnya penolakan pembangunan tempat ibadah yang terjadi di Cilegon bukan hanya dialami oleh umat Kristen, tetapi umat Budha juga mengalami hal yang sama.
“Hadirlah pemerintah untuk merepresentasikan makna kebergaman supaya semua warga negara bisa terjamin hak untuk melakukan peribadatannya,” harap Ferdinand menutup pembicaraan.
***
Tulisan ini bagian dari program Workshop Pers Mahasiswa yang digelar Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) kerja sama dengan Friedrich-Naumann-Stiftung für die Freiheit (FNF) dan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.
Serang, lpmsigma.com | Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten memberlakukan pembatasan di sektor pelayanan perpustakaan. pembatasan ini dilakukan guna mengurangi resiko penularan Covid-19. (03/11)
Staf perpustakaan UIN SMH Banten Imam, mengatakan, pembatasan perpustakaan ini direkomendasikan oleh pihak kampus dimulai sejak bulan Juni lalu sampai pandemi berakhir.
“Sebenarnya perpustakaan UIN SMH Banten ini dibuka, tetapi pelayanannya terbatas terutama untuk peminjaman buku dan hanya melayani pengembalian buku, pembuatan bebas pustaka serta pemberian skripsi,” ujarnya.
Salah satu mahasiswa jurusan Ekonomi Syariah, Usep mengaku merasa kesulitan dengan adanya pembatasan di perpustakaan ini terutama untuk peminjaman buku.
“Sudah semester tujuh, mau nyusun skripsi, mau minjem buku jadi susah, terkecuali perpustakaan ini memberi fasilitas online, tapi agak susah juga sih karena akan banyak kendalanya seperti kuota, jaringan dan lain-lain,” ujar Usep mahasiswa semester 7, saat di wawancarai oleh kru SiGMA.
Selain itu, Usep berharap semoga perpustakaan tetap dibuka seperti biasa dengan mematuhi protokol kesehatan.
“Kedepannya cepet dibuka seperti biasa, tapi tetap pakai protokol kesehatan aja,” ujar Usep.
Serang, lpmsigma.com | Usai merenovasi atap Masjid Kampus, UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten kembali memperbaiki gedung Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Kepala Sub Bagian Rumah Tangga dan Barang Milik Negara Teguh Santoso, menuturkan, proyeksi renovasi gedung diperkirakan memakan waktu hingga satu bulan. “Perkiraan akhir bulan November sudah selasi,” tuturnya.
.
Berdasarkan pantauan lpmsigma.com, terlihat progres dalam pembangunan gedung dan fasilitas kampus kini semakin membaik. Namun berbeda saat melihat bangunan toilet yang terletak di samping UKM.
Setidaknya ada empat ruang toilet dengan kondisi tidak terawat. Dalam hal ini Teguh Santosa menuturkan, untuk sekarang hanya memperbaiki bagian atap gedung UKM dahulu.
“Hanya atap gedung yang di renovasi,” tutur Teguh kepada kru magang LPM SiGMA.
Salah satu mahasiswa Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam Faisal marasa kurang nyaman ketika menggunakan toilet tersebut. “Kurang nyaman, karena air yang kurang bersih dan keran air yang tidak berfungsi,” ungkap Faisal
Senada dengan Faisal, Ketua Forum Silaturahmi Unit Kegiatan Mahasiswa (FSU), Inayatullah atau biasa akrab disapa Fiktor menuturkan, perlu adanya renovasi toilet, karena toilet itu merupakan suatu kebutuhan dan cerminan dari lingkungan hidup yang sehat.
“Toilet UKM sudah rusak dan terbengkalai, perlu adanya renovasi. karena toilet itu merupakan salah satu kebutuhan mahasiswa,” ucap Inayatullah.
Ia juga menjelaskan, adanya toilet di UKM ini memang merupakan fasilitas penting yang disediakan oleh pihak kampus tetapi adanya fasilitas tersebut tidak ditunjang dengan baik. sehingga toilet yang sudah disediakan oleh kampus tidak dapat terpakai dengan seutuhnya karena keadaanya yang sudah tidak layak pakai.
“Fasilitas disediakan tapi tidak ditunjang dengan fasilitas yang baik, itu yang membuat anak UKM tidak memakai toilet itu,” ujarnya.
Selain itu, Fiktor juga menyayangkan sikap pihak lembaga yang kurang responsif terhadap kondisi toilet mahasiswa, khususnya toilet yang ada di UKM.
“Itu hal yg urgen, harus di renovasi karena kebutuhan dasar manusia, untuk anggaran ada atau tidak menurut saya itu tidak membutuhkan anggaran yang banyak. Untuk keseluruhan kampus UIN ini memang kurang dalam fasilitas toilet. Disitu ada tanggung jawab dari rektorat dengan merawat secara berkala yang membuat toilet itu bisa dipakai dengan baik,” ucap Fiktor.
“Tataran pergaulan antara para tokoh berbagai macam agama di Banten sangatlah baik.” Kalimat itu terucap oleh Romo Toto Nubertus Trisapto saat membuka pembicaraan mengenai keberagaman. Ini merupakan kali pertama saya mengikuti pelatihan Serikat Jurnalisme Keberagaman (SEJUK), dan dilakukan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini pelatihan dilaksanakan secara online, dan kita bertemu virtual melalui Zoom Meeting. Begitu pula dengan para narasumber, kami bertegur sapa dan berbincang dengan memanfaatkan teknologi digital, ada yang menggunakan handphone, laptop ataupun PC (personal computer). Romo Toto sebagai narasumber pada testimoni sesi Katolik mengatakan bahwa mengenai agama minoritas yang berada dilingkungan mayoritas Muslim, tidak membuatnya merasa terkucil atau mendapati sindiran. Justru yang ia rasakan adalah sebaliknya, ia mendapatkan teman ngobrol dan teman makan dengan beragam agama, dan itu sangatlah menyenangkan. “Jika sudah makan dan ngobrol bareng, kita tidak lagi menyinggung soal agama,” ujar bapak berusia 51 tahun ini sambil mengangkat kedua sudut bibir, tersenyum di depan kamera. Namun Romo Toto menambahkan, tentu bukan menjadi hal yang tak mungkin jika timbul masalah antar agama. Masalah memang selalu ada di berbagai aspek manapun, apalagi terkait agama yang sensitif jika dipersoalkan. Berbicara melalui mikrofon handphone, Romo Toto menjelaskan bagaimana mengatasi masalah yang sering timbul. “Masalah memang pasti ada, tapi selalu dapat diselesaikan. (Menyelesaikannya) harus dengan kata bijak, jangan pakai emosi,” katanya. Sejauh yang ia alami, kalaupun ada masalah tidak sampai terjadi meruncing ke ranah pribadi. Romo Toto juga bercerita bagaimana kehidupannya pada saat remaja, menjadi mahasiswa yang bertempat tinggal menyewa tempat tinggal bersama teman beragamnya. Ia mengaku bahwa tidak pernah mempunya kamar kontrakan sendiri, paling sedikitnya berdua, dan selalu mendapatkan teman kamar dari umat Islam. “Saya sering sekali dapet roommate itu dari Muslim. Pernah dapat dari umat Kristen dan Budha hanya sekali saja, selebihnya selalu dapet orang Muslim,” ucap Toto kepada para peserta dalam Zoom Meeting yang masih setia dan antusias mendengarkan. Hidup bersama ragam agama, jelas Romo Toto, tidak menjadi masalah selama saling toleransi dan tidak membuat merasa terganggu satu sama lain. Masih dalam room Zoom, saat ditanya mengenai apa penyebab susahnya membangun rumah ibadah bagi Umat Katolik, ia menjawab bahwa ini adalah masalah yang kolot, dan belum terpecahkan bahkan sejak ia belum lahir. “Karena ini masalah bukan hanya masalah agama, ini bisa disebut masalah politik, masalah kebudayaan, ataupun kependudukan. Jadi, menurut saya ini adalah hal yang akan memakan waktu lama untuk diselesaikan. Karena ini jauh kepada pemahaman yang mengendap di masyarakat itu sendiri,” jelasnya. Di akhir, Romo Toto berpesan kepada semua umat untuk tetap Teguh kepada kepercayaannya masing-masing, akan tetapi tetap harus membuka mata untuk tetap saling tolerir. “Anda harus mempunyai Iman yang kuat dengan apa yang Anda yakini, tetapi janganlah menutup hati dan pikiran Anda dari kebaikan-kebaikan yang ada di luar Anda,” pungkasnya saat memberikan closing statement.
Seperti Pelangi, Perbedaan Itu Indah Bukan keberagaman namanya jika dalam pelatihan ini kami hanya membicarakan dari satu sisi agama saja. Pendeta Rusman Anita Sitorus yang merupakan istri dari Pendeta Markus Taeksz juga menjadi narasumber dalam pelatihan kami. Ia mengungkapkan perasaannya bagaimana ia hidup dengan beragam agama di wilayah Carita, Banten. Ia mengaku diterima dengan baik oleh warga sekitar dan tidak pernah mengalami perselisihan. Kalaupun ada, paling hanya sekedar menanyakan perizinan yang sah saja terkait kependudukannya sebagai masyarakat wilayah Carita. “Walaupun berbeda, kami tetap merasa bahwa kami diterima. Kami bisa menjadi saudara untuk mereka tanpa melihat perbedaan,” ujar Ibu Rusman Anita Sitous, istri Pendeta Markus saat diwawancarai via WhatsApp. Ia menjawabnya melalui voice note dengan nada yang sangat ramah, dan membuat saya merasa disambut dengan baik atas pertanyaan yang saya ajukan. Ibu Anita yang juga akrab dipanggil dengan sebutan Ibu Markus juga berbagi pengalaman bagaimana ia membangun tali persaudaraan dan kerukunan dengan warga sekitar. Yaitu dengan cara membuka diri agar bisa menerima mereka (umat agama lain) apa adanya, dan begitupun sebaliknya. “Melakukan kegiatan sosial juga kami lakukan, seperti contoh sederhananya suami saya melakukan kegiatan ronda malam, saya ikut bergotong royong, dan mengikuti kegiatan sosial lainnya,” jelasnya. Melalui aplikasi pengirim pesan (WhatsApp), Istri dari suami berumur 61 tahun ini juga berpesan kepada anak muda zaman sekarang agar jangan alergi terhadap keberagaman. Baik itu suku, budaya, agama, bahasa, maupun ras yang ada di Indonesia. Bahkan menurutnya, dengan adanya keberagama ini bisa menambah wawasan lebih luas lagi, bisa mempelajari kebudayaan masing-masing kepercayaannya, memperbanyak relasi dari bermacam suku, dan banyak manfaat lainnya ketika bisa hidup ditengah-tengah beragam macam umat di wilayah sekitar. “Jadi untuk anak-anak muda, jangan pernah alergi terhadap perbedaan. Karena perbedaan itu indah. Contohnya seperti Pelangi, ada banyak macam warna, begitu indahnya jika dipandang,” tutupnya dengan suara yang jika saya melihatnya ia menutup pembicaraan dengan diakhiri senyuman. Terkait kerukunan beragam agama di wilayan Banten ini, saya kembali mengutip pernyataan FKUB Lebak dari berita online dari Republika.co.id, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Lebak menjamin kerukunan umat beragama di Kabupaten Lebak, Banten berjalan baik dan kondusif. “Kami hingga kini terus menjaga dan melestarikan kerukunan umat beragama dengan penuh kedamaian,” kata Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Lebak, KH Akhmad Khudori, di Lebak, Ahad (9/1/20). Bebas Memilih, Tetap Saling Menghormati Jika sebelumnya kita sudah mengetahui bagaimana rasanya minoritas hidup ditengah-tengah mayoritas dari sudut pandang umat Katolik dan Protestan, kali ini datang dari sudut pandang Umat Buddha yang berada di wilayah Labuan, Banten. Dalam hal ini, saya menghubungi Romo Pandita Sumedho untuk menjadi narasumber. Sepanjang hidup di Labuan, kata Romo Pandita, ia tidak pernah mengalami masalah dengan umat Muslim di daerah sekitar. Justru yang ia rasakan adalah rasa harmonis dan kebersamaaan yang dimiliki, tidak pernah ada benturan antar mereka. Romo Pandita juga sempat sedikit bercerita, bahwa ia pernah mempunyai pengalaman mengantar teman Muslim yang terkena musibah ke Rumah Sakit. “Pernah salah satu teman (muslim) kami sakit, lalu kami mengantarnya ke RSUD Pandeglang. Kami juga menggalang dana untuk bantuan pengobatannya,” tulis Romo Pandita melalui pesan WhatsApp, Senin, (19/10). Tergambar oleh saya dari pesan yang disampaikan, Romo Pandita adalah orang yang sangat ramah jika kita bisa berbicara langsung dengannya. Disetiap pesan yang ia kirim, selalu menyebut nama saya didalamnya, yang menurut saya itu adalah suatu perilaku yang ramah terhadap lawan bicara. Menurutnya, sepanjang kita menaati peraturan dan menghormati budaya setempat, apapun keyakinannya itu tidak menjadi masalah. Karena dalam memilih agama, itu adalah suatu kebebasan yang tidak bisa dipaksakan (menurut umat Buddhis). Bahkan, kata Romo Pandita, jika umat Buddha ingin berpindah agama pun itu dipersilahkan. Terakhir, ia menyampaikan bahwa dalam perbedaan (keberagaman agama) yang indah ini, jangan jadikan dinding pemisah antara umat satu dengan yang lain. Tetaplah saling menghormati dan menghargai setiap keyakinan manusia. “Perbedaan itu indah, maka jangan jadikan perbedaan itu menjadi dinding pemisah diantara kita (umat beragam). Oleh sebab itu, hargai dan hormati keyakinan orang lain,” tutup Romo Pandita pada pesan teks tersebut. (Ifaz/SiGMA)
Tulisan ini bagian dari program Workshop Pers Mahasiswa yang digelar Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) kerja sama dengan Friedrich-Naumann-Stiftung für die Freiheit (FNF) dan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.
Itulah bentuk kalimat yang kerap dilontarkan kepada gadis berkulit hitam, Lia (bukan nama sebenarnya) adalah seorang siswi di salah satu SMA negeri di Pandeglang. Baginya menyesuaikan diri sebagai minoritas di sana sangat sulit. Tak jarang ia menerima pertanyaan atau omongan yang melukai hatinya.
“Seringkali menganggap agama lain itu salah serta menuduh saya dan agama saya adalah kafir,” ceritanya. Bagi Lia pertanyaan yang kerap menyudutkan dirinya juga diterima dari teman-teman di sekolahnya. Ia sering menjadi pusat perhatian karena berbeda sendiri. Ia tidak mengenakan jilbab. Apalagi teman-teman sekolahnya saat itu belum mengenal agama yang dianutnya. Berbaur dengan masyarakat yang memiliki rasa fanatik yang tinggi, tentu bukan hal yang mudah dalam melakukan berbagai aktivitas sosial. Bahkan berbagai bentuk diskriminasi sering kali ia dapatkan di lingkungan pendidikan. “Ya, mereka anggap agama mereka yang benar. Saya sering disuruh masuk Islam,” kenang Lia. Joseph (bukan nama sebenarnya) yang akrab dipanggil dengan nama Jo, juga mengalami hal yang tidak berbeda jauh dengan Lia. Sebagai minoritas dari kelompok masyarakat yang belum terbuka dengan perbedaan, Jo kerap menerima perlakuan berbeda karena agamanya berbeda dengan kebanyakan tetangganya. Pernah suatu kali rumah Jo dilempari ampas tahu oleh masyarakat sekitar. Sering juga ia menerima lelucon terhadap agama dan Tuhan yang ia yakini. “Saya sedih, gak bisa lupa kejadian itu,” ujarnya. Penolakan yang dialami oleh Lia dan Jo mungkin tak pernah dirasakan oleh Ustadz Ahmad (bukan nama sebenarnya). Terlahir sebagai mayoritas di tanah Pandeglang menjadikan dirinya sebagai orang yang menolak keberadaan agama lain selain agama yang diyakininya. Ia tak pernah membayangkan akan hidup bertetangga dengan orang berbeda agama. “Saya menolak keras ada agama selain Islam masuk lingkungan ini. Apalagi ada gereja di Pandeglang, saya menolak,” tegasnya.
Selain hidup bertetangga ia juga menolak adanya bangunan rumah ibadah lain berdiri termasuk symbol apapun dari rumah ibadah agama lain. Hal ini dikarenakan ia tidak sepakat ada orang berbeda keyakinan. “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka kita sama seperti kaum tersebut. Kalo kita mendukung masyarakat selain islam, ya sama aja kita memihak mereka. Gak akan ridho sampe kapanpun, kecuali mereka ikut kepada kita,” jelasnya kembali. Sulitnya IMB untuk Rumah Ibadah Pendeta Markus Taekz, Pendeta Gembala Sidang di Gereja Pantekosta Rahmat Carita Banten berangkat dari NTT ke Carita pada 1986. Mendirikan gereja dan hingga kini menetap di sana bersama istrinya, Rusman Anita Sitorus. Gereja yang menjadi rumah ibadah bagi mereka berdua dan puluhan jemaat gereja lainnya masih terkendala izin mendirikan bangunan (IMB) hingga hari ini. Meskipun rumah ibadah itu sudah mendapatkan izin dari Binmas Kristen Kanwil Agama Jawa Barat. Menurut Pendeta Markus, pemerintah Kabupaten Pandeglang sebenarnya mengetahui keberadaan mereka, umat Kristiani. Hanya belum ada kebijakan resmi dari pemerintah terkait IMB rumah ibadah mereka. “Pemerintah menerima keberadaan kami, hanya saja secara resmi tidak berani mengeluarkan izin atau melegalkan untuk pembangunan gereja karena berbagai tekanan,” paparnya. Hingga kini Pendeta Markus dan pihak gereja Pantekosta Rahmat Carita terus melakukan mediasi dengan pemerintah untuk mendapatkan izin resmi. Mereka sudah pernah mengajukan perizinan sesuai prosedur namun belum membuahkan hasil. Kini mereka terkendala Peraturan Bersama (Perber) Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No. 8 dan 9 tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah Dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama, Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama, dan Pendirian Rumah Ibadah. Hal ini dibenarkan oleh Ketua FKUB Pandeglang Entis Sutisna saat dikonfirmasi izin Gereja Pantekosta Rahmat Carita. Disampaikannya bahwa diperlukan 90 jemaat rumah ibadah dengan KTP setempat; dan persetujuan 60 orang warga sekitar rumah ibadah yang ditunjukkan dengan KTP untuk memproses pemberian izin rumah ibadah. Namun kurangnya jumlah jemaat yang kebanyakan berasal dari luar wilayah rumah ibadah menjadi kendala. “Dalam pemenuhan jumlahnya tidak diperbolehkan mendatangkan jemaat dari luar desa, kecamatan, dan luar kabupaten,” tegasnya. Entis sampaikan hingga kini FKUB Pandeglang belum pernah menerima usulan pendirian rumah ibadah selain Masjid. Melihat sulitnya proses perizinan yang dialami, Pendeta Markus tetap berupaya agar izin diberikan. “Kalau sekarang kendalanya peraturanya 2 menteri itu, sementara kita ada sebelum peraturan itu ada, sejak 1986. Tapi kita akan coba melalui pengacara kita, yang penting kami sudah berusaha dan yang terpenting kami tetap bebas Ibadah aja,” sahutnya. Pun hingga kini Pendeta Markus, ibu Anita dan jemaat gereja lainnya tetap berupaya agar dapat membaur dengan masyarakat sekitar. Membantu fasilitas penunjang masyarakat dengan pembuatan WC, berdonasi buku-buku untuk pesantren juga mereka lakukan. “Itu cara kami menyesuaikan diri agar diterima oleh masyarakat, dengan membantu satu sama lain dan saling mendukung,” ujar Anita. Disampaikan Entis bahwa hingga sekarang rumah ibadah non muslim yg ada data di FKUB ada 3 yakni; Labuan greja katolik, vihara budha 1 dan Carita 1 buah rumah ibadah sementara jemaat kristen protestan yg dipimpin pendeta Markus. Itu semua masih bersifat sementara, dan kalau ada rumah ibadah selain dari 3 (tiga) data di atas, seharusnya tidak boleh melakukan peribadatan. Sementara itu, Deputy Director Human Rights Working Group (HRWG) Daniel Awigra tidak sepakat terhadap penyebutan pemberian izin rumah ibadah. Menurutnya hal itu malah memperumit masyarakat minoritas di suatu daerah. Karena artinya untuk menunjukkan ekspresi keagamaan dengan mendirikan rumah ibadah, suatu kelompok agama membutuhkan persetujuan dari kelompok masyarakat agama lain. Bagi Awigra harusnya tugas Negara dalam melindungi dan memenuhi hak setiap warha Negara terutama hak untuk merasa aman saat beribadah. “Saat diserahkan kepada warga sekitar dan kemudian mempersulit agama lain, di sinilah tugasnya negara untuk memfasilitasi,” sambungnya. Terlepas dari kondisi kehidupan bermasyarakat di Pandeglang, Jo tak banyak berharap. Ia hanya ingin agar masyarakat di Kota Pandeglang dapat lebih paham dan menghargai perbedaan agama. Juga agar lebih menghormati masyarakat lain untuk beribadah sekalipun berbeda agama. Anita sendiri menekankan agar pemerintah lebih transparan terkait data umat agama Kristen di Pandeglang. Data yang ada di Badan Pusat Statistik (BPS) Pandeglang menyebutkan umat Kristen di Pandeglang hanya 53 orang, nyatanya ada lebih dari 2000 KK yang bermukim di sana. Data yang tidak sesuai dengan yang ada di lapangan akan menyebabkan misinformasi dan kesalahan persepsi. Seperti kebutuhan akan rumah ibadah yang memadai. “Saya ingin Pandeglang lebih toleran dan terbuka untuk perubahan, terutama perkembangan masyarakat. Serta harus mau mengakui keberadaan umat agama lain yang ada di Pandeglang,” harapnya.
Tulisan ini bagian dari program Workshop Pers Mahasiswa yang digelar Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) kerja sama dengan Friedrich-Naumann-Stiftung für die Freiheit (FNF) dan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.